
"Dasar orang aneh." Ujar Irna lagi sambil menatap ke arah lain.
Tak lama kemudian Fredian sudah berada di lokasi pemotretan. Dia melihat pria muda di sebelah Irna, dia terus tersenyum-senyum santai di sebelah mantan istrinya itu.
"Jody Wiranata??! Jadi dia yang mengambil iklan hari ini?" Ujar Fredian dengan gusar mengusap tengkuknya.
Irna menopang dagunya dengan cuek menatap ke tengah laut, sambil mengibaskan topinya karena merasa gerah melihat pria di sebelahnya.
Tika sedang merias wajah Irna kembali, dan bersiap untuk mengambil pemotretan season kedua.
"Oke siap semuanya!" Teriak seorang kru menggunakan pengeras suara. Fredian berdiri di depan mobilnya menggunakan kacamata hitam, melambaikan tangan ke arah Irna.
Irna tersenyum ke arahnya kemudian naik ke atas panggung.
Jody menatap ke arah Irna melemparkan senyum, dia melihat Fredian sedang bersandar di depan mobilnya.
Jody melihat wajah tampan Fredian yang sudah tidak asing lagi di dunia bisnis dan di dunia hiburan, apalagi kebersamaannya dengan artis cantik Irna Damayanti semakin membuat namanya melejit setiap hari muncul di berita utama.
Fredian sosok pria yang tidak hanya tampan dan membuat para gadis tergila-gila, dia juga merupakan seseorang yang genius di bidang bisnis dan pengelolaan saham.
"Wah apa yang membuat seseorang Presdir Fredian mengunjungi pemotretan hari ini?" Tanyanya seraya berjalan mendekat ke arah Fredian berdiri.
"Aku datang khusus untuknya." Menunjuk ke arah Irna yang sedang berpose di atas panggung.
"Tapi sepertinya anda lebih banyak memberikan kesulitan padanya, saya melihat ujung bibirnya terluka ketika dia keluar dari Reshort anda beberapa waktu lalu." Ujar Jody sambil menatap sinis ke arah Fredian.
"Apa mungkin karena anda tidak bisa menjaga tangan wanita yang mengejar anda hingga membuat wajah cantik Irna terluka?!"
Tanyanya sambil memegang bahu kanan Fredian dengan tangan kanannya.
"Sepertinya itu bukan urusan anda, memangnya kenapa jika Irna dan wanita yang mengejar saya berselisih? apakah itu membawa kerugian untuk anda?" Tanya Fredian balik.
"Tentu saja karena dia sedang mengikat kontrak dengan perusahaan saya. Jadi saya berhak melindungi artis saya." Ungkapnya dengan sangat percaya diri.
Fredian merasa bakalan percuma saja berdebat dengan pria satu ini. Dia memutuskan untuk mencari Reynaldi dan duduk di sebelahnya.
"Kapan kamu sampai?" Tanya Reynaldi sambil memegang bahu Fredian.
"Baru saja, bagaimana kamu bisa mengikat kontrak dengan perusahaannya?" Tanyanya kemudian.
"Beberapa hari lalu, dia langsung menawarkan harga yang tidak main-main. Dan dia juga tidak mempertimbangkan jika mereka akan rugi jika terlanjur mengambil iklan dari perusahaan kami."
Fredian hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar penjelasan dari Reynaldi.
Akhirnya setelah dua jam berlalu mereka sudah menyelesaikan pemotretan hari itu. Hari sudah pukul enam sore saat mereka semua berkemas.
"Perusahaan kami sudah menyediakan tempat untuk menginap bagi para kru dan yang lainnya." Ujar Presdir Jody pada seluruh orang yang ada di sana di susul teriakan riuh para kru.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Reynaldi pada Fredian.
"Lumayan menyebalkan." Tandas Fredian masih menatap Irna dan para kru berkumpul.
Mereka sedang mendengarkan ulasan singkat untuk menginap di hotel yang terletak tidak jauh dari lokasi pemotretan.
"Ini kunci kamar khusus untuk anda nona Irna." Seorang pegawai hotel khusus menjemput Irna agar dia mengikutinya, tentu saja Jody yang sudah mengatur segalanya.
Fredian mengikutinya bersama kru yang lainnya menuju hotel yang sudah disiapkan olehnya.
Saat tiba di sana, mereka semua takjub dengan pemandangan yang terbentang di depan mata mereka.
Beraneka makanan dan minuman sudah tersedia di atas meja yang sangat lebar seperti sebuah pesta megah di hotel tepi pantai.
Seluruh jalan ditaburi dengan kelopak bunga mawar, aromanya semerbak ke seluruh penjuru. Seolah-olah sedang menyambut kedatangan seorang pengantin.
Irna di bawa masuk ke kamar khusus. Kamar tersebut terletak agak jauh dari kamar para kru yang lainnya. Selain bunga mawar yang bertaburan di atas kolam renang yang berada bersebelahan dengan kamarnya.
Ada meja khusus untuk makan malam romantis. Aroma lilin harum semerbak memenuhi kamarnya.
"Kenapa aku malah merasa aneh ya? mendapat kamar terpisah dengan teman-teman yang lain, dan juga aku sendirian di tempat seluas ini?!" Ujar Irna sambil menenteng mantelnya dan tas di pergelangan tangannya.
Gadis itu masih melihat ke seluruh penjuru, namun tidak menemukan siapapun ada di sana.
__ADS_1
Fredian juga sedang mencari keberadaan Irna, namun dia sedikit kesulitan karena sepertinya tiba-tiba gadis itu menghilang, dia mencoba menghubungi melalui ponselnya.
Irna menerima panggilan dari Fredian.
"Halo, iya aku berada di ruangan lain. Sepertinya agak jauh dari kamar kalian, aku juga tidak tahu ini ada di sebelah mana karena lokasinya terlalu luas."
"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Fredian.
"Iya aku baik-baik saja dan tidak ada siapapun di sini." Ujar Irna lagi sambil berdiri di tepi kolam renang yang penuh dengan taburan bunga.
Fredian merasa lega karena Irna bilang dia baik-baik saja kemudian menutup telepon.
"Siapa yang kamu telepon barusan?" Sapa Jody, dia sudah berada di belakang punggungnya entah sejak kapan.
Irna segera berbalik menatap ke arahnya, dia berdiri tepat di depannya.
"Bagaimana anda tiba-tiba berada di sini?"
"Menurutmu bagaimana aku bisa berada di sini?" Jody tidak menjawab malah balik bertanya pada Irna.
"Mungkin aku yang salah masuk." Irna segera melangkah pergi, tapi Jody dengan sengaja menghalangi langkah kakinya.
"Akh!" Irna memekik karena hampir terpeleset jatuh ke dalam kolam, jika tidak segera berpegangan pada lengan Jody.
Jody menahan pinggangnya agar tidak jatuh ke dalam air.
Pria itu tersenyum melihat begitu terkejutnya wajah Irna.
Irna ingin segera beranjak dari tempatnya berdiri, tapi Jody tak kunjung melepaskan pelukannya. Tetap menahannya dalam posisi seperti itu.
Irna sedikit merasa hawatir, gadis itu menggigit bibir bawahnya menahan perasaan yang tidak benar di dalam hatinya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? haruskah aku memilih menariknya terjun ke dalam air di belakang punggungku dan aku bisa kabur darinya? atau memilih terus seperti ini tetap tertahan di dalam pelukannya?!" Bisik Irna dalam hatinya.
"Pak Presdir? kenapa anda menahanku seperti ini? aku mungkin salah masuk kamar, jadi biarkan aku pergi." Ucap Irna di depan wajah Jody.
Wajah mereka sangat dekat hingga Irna bisa merasakan hembusan nafas pria di depannya itu.
"Kamu tidak salah kamar, kamar ini aku sediakan khusus untukmu." Bisiknya di telinga Irna.
"Tunggu! apa yang kamu lakukan? Byuuuuur!" Jody tidak menyangka jika Irna akan bertindak seberani itu.
Gadis itu segera naik ke atas kolam dia berjongkok di tepi kolam dengan nafas tersengal. Sambil tersenyum menatap Jody yang masih berada di dalam air.
"Kamu bilang kamar ini untukku, jadi tidak akan masalah jika aku mengotori kolamnya dan merusak sedikit taburan bunganya." Ujar Irna santai sekali.
Gadis itu kemudian berdiri sambil melambaikan tangannya melangkah keluar dari dalam kamar yang luas itu.
"Woaah, gadis itu sulit dipercaya! aku pikir dia akan menyukai kejutannya, tapi dia lebih memilih berendam di kolam pada saat malam sedingin ini demi melepaskan diri dari pelukanku. Byuuur!" Dengan geram Jody memukul air di depan wajahnya.
"Padahal aku sudah menyiapkan hal yang sangat sepesial untuknya, tapi sepertinya sia-sia!" Jody merangkak keluar dari kolam dan mengganti bajunya di dalam kamar dengan baju yang kering.
Pria itu masih termangu dengan kejadian yang baru saja terjadi antara dirinya dengan Irna.
Irna melangkah terhuyung-huyung dengan baju basah, dan di atas kepalanya juga rambutnya terdapat banyak sekali kelopak bunga mawar.
Tak lama kemudian dia melihat Fredian sedang berdiri sambil menyilangkan tangannya di depan pintu sebuah kamar.
Irna tidak tahu harus kemana dia menuju saat itu, yang dia tahu satu-satunya pria yang bisa membantunya saat ini adalah dia.
Irna berjalan ke arahnya, jarak antara mereka berdua tinggal dua puluh meter.
Akan tetapi tiba-tiba seorang gadis muncul dengan baju bermodel dada rendah hingga belahan dadanya terlihat.
Gadis itu menghambur memeluknya, memeluk Fredian yang sudah berada di depan matanya.
Irna merasakan dingin di sekujur tubuhnya, dia menutupi punggungnya dengan mantel yang tadi di bawanya, gadis itu mengginggil sampai giginya berantuk menimbulkan suara gemeletuk.
Fredian diam mematung dalam pelukan gadis itu, dia melihat Irna di kejauhan menatap ke arahnya.
Irna dengan wajah pucat dan rambut basah kuyup. Irna segera berbalik dan pergi meninggalkan mereka berdua sambil mengusap lengannya sendiri karena dingin.
__ADS_1
"Jangan sampai kamu menghampiriku besok! atau akan aku kubur hidup-hidup!" Gerutu Irna sangat kesal melihat pemandangan di depannya barusan.
"Apa yang kamu lakukan! lepaskan aku!" Fredian mendorong gadis itu hingga jatuh tersungkur di lantai.
Gadis itu tersenyum puas melihat Irna pergi meninggalkan Fredian.
Fredian segera menyambar jaket dan kunci mobilnya berlari mengejar Irna.
Dia tidak menemukan Irna di dalam kerumunan para kru yang sedang menikmati makanan di atas meja.
Di sisi lain Jody Wiranata tersenyum penuh kemenangan sambil menikmati segelas minuman di tangannya, melihat wajah marah Irna.
"Dasar pria sialan! awas saja kamu!" Irna terus mengumpat, dengan wajah marahnya naik ke dalam mobilnya. Dia tidak peduli lagi dengan bahaya yang mengintai di sekitarnya.
Aroma di tubuhnya telah kembali, karena dia telah tercebur ke dalam air. Dia lupa tidak menyemprotkan parfum dari Rian di tubuhnya kembali.
Setelah beberapa meter perjalanan banyak sekali sosok berterbangan mengitari mobilnya.
Irna mulai kebingungan, saat ini dia sendirian. Gadis itu terus melajukan kecepatan mobilnya menembus kegelapan malam.
Dia sudah tidak perduli dengan keselamatan dirinya sendiri. Amarah dan kekesalan di hatinya telah bercampur menjadi satu.
"Betapa sulitnya hatiku, kenapa aku tidak bisa bersabar! kenapa aku tidak bisa menerimanya, kenapa aku terus memilih pergi dan mengahadapi lukaku sendiri?!" Teriaknya sambil menambahkan kecepatan mobilnya.
Karena terhalang mahluk yang menutupi depan mobilnya, tanpa sengaja mobil Irna menabrak pembatas jalan.
"Braaaakkkkk!" Kepala Irna terbentur kemudi mobil. Darah segar mengalir dari keningnya, menambah belingsatan mahluk-mahluk berkuku runcing yang tengah menunggunya.
Beberapa dari mereka mencoba menerobos masuk dengan menghantam tubuh mereka ke kaca mobil depan.
Irna sayup-sayup membuka matanya, Rian dengan baju dokternya tersenyum sambil menangis mengangkat tubuhnya keluar dari mobil.
"Aku sudah sangat hawatir sejak kamu pergi dan bilang akan menginap. Dan akhirnya ini yang menimpamu? kenapa kamu tidak menghubungiku? kenapa kamu memaksakan diri sendiri untuk menghadapi semuanya?! kenapaaaa!?" Teriak Rian dengan sangat kencang.
"Aku belum mati, kenapa kamu seperti melihat mayatku?" Irna tersenyum sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Rian dengan telapak tangannya yang penuh dengan berdarah.
Fredian mengejar Irna dengan mobilnya, tapi dia tidak tahu di mana Irna mengemudikan mobilnya.
Dua jam kemudian dia menemukan banyak orang berkerumun. Dia melihat mobil Irna mengepulkan asap di bagian kab mobilnya.
Bagian depan mobilnya hancur menabrak pembatas jalan.
Fredian bertanya pada orang yang berkerumun di sana, mereka bilang bahwa seorang dokter yang sudah membawa pengemudinya pergi.
Rian membawa Irna masuk ke dalam mobilnya menuju NGM. Selang infus menancap di lengannya. Sekitar dua jam mereka sampai di sana. Rian menggendong tubuh basah kuyup Irna sambil berlari.
"Ada apa dokter?!" Tanya salah seorang yang sedang berjaga di klinik malam itu.
"Siapkan kamar operasi! sekarang! periksa denyut nadi, detak jantung, dan darahnya!" Teriak Rian dengan wajah penuh air mata.
"Irna jaga kesadaranmu! kamu harus tetap terjaga!" Ujar Rian masih berada di dekatnya sambil menggenggam tangan Irna.
Operasi Irna berjalan lancar, hanya saja dia masih dalam kondisi kritis dan belum sadarkan diri.
Fredian berlari masuk ke dalam NGM. Dia melihat Rian sedang memegang tangan Irna di dalam ruang ICU.
"Apakah aku akan terus hanya membuat gadis itu terluka? aku selalu membuat luka di hatinya. Aku selalu membuatnya terluka, segala hal di sekitarku hanya terus melukainya." Fredian duduk di kursi ruang tunggu menunggu Rian keluar dari ruangan.
"Apa yang terjadi?" Rian duduk di sebelahnya sambil menunggu jawaban dari Fredian.
"Dia melihat seorang wanita menghambur tiba-tiba memelukku! aku bahkan tidak tahu siapa dan darimana wanita itu berasal." Jelas Fredian sambil mengusap wajahnya dengan penuh rasa penyesalan.
"Aku tidak tahu jika hal itu membuat Irna berlari dan mengambil jalan tanpa perduli pada keselamatan dirinya sendiri, aku mengejarnya tapi tidak menemukannya." Tambahnya lagi.
"Aku tidak sengaja melihat mobil Irna di persimpangan jalan, menabrak pembatas jalan. Saat itu aku berniat menuju ke lokasi pemotretan. Kondisinya sangat buruk saat aku menemukannya banyak luka cakaran kuku tajam." Jelas Rian sambil menundukkan kepalanya air matanya masih terus menetes.
"Aku tidak bisa menjaganya dengan baik, bahkan aku membuatnya berlari ketika dia berharap aku datang menolongnya." Keluh Fredian lagi.
Rian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Menatap ke arah langit-langit ruangan bercat putih itu.
Mereka pernah duduk di sana lima tahun lalu, sama-sama menangis dan sama-sama terluka, sama-sama tidak bisa saling memiliki.
__ADS_1
Sama-sama putus asa.
Bersambung..