Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Totally destroyed


__ADS_3

"Apakah tuan mengenal siapa mereka berdua?"


Tanya seorang koki yang bekerja bersamanya.


"Tidak sama sekali." Pria itu melepaskan pakaian kokinya, sambil menatap mobil Rian berlalu dari restorannya.


Pria itu hanya menghela nafas panjang sambil menatap ke arah langit.


"Apa ada masalah?"


Seorang wanita muncul sambil menggendong bayi di belakang punggungnya.


"Tidak ada, semuanya baik-baik saja." Gumamnya pada wanita di belakang punggungnya.


"Aku mengingatmu saat segalanya telah terlambat, dan aku hidup dengan gadis yang menyelamatkanku saat ingatanku hilang. Bahkan aku sudah memiliki keluarga kecil bersamanya. Maafkan aku Irna."


Bisik dalam hati Fredian, pria itu mengemas beberapa mangkuk bekas pelanggan membawanya ke dapur.


"Rosa, bawa Dira masuk, di luar dingin." Fredian menyelimuti punggung wanita itu dengan selimut lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


Rosa tersenyum menatap wajah Fredian, dia masuk kembali ke dalam rumah.


Irna bersama Rian pulang menuju rumahnya, gadis itu diam sepanjang jalan menatap ke luar jendela mobilnya.


Pikirannya entah sedang berlari kemana. Rian tahu Irna mengingat kejadian saat bersama-sama dengan Fredian.


Setengah jam kemudian mereka berdua sampai di rumah. Rian memarkir mobilnya di halaman rumahnya.


Rian tidak tahu harus berkata apa padanya. Dia membuka kunci pintu rumahnya, menunggu Irna melangkah masuk ke dalam rumah.


Pandangan matanya masih terlihat kosong. Gadis itu seolah telah kehilangan jiwanya. Rian tidak sampai hati untuk mengusiknya, setelah menyelimuti tubuhnya dia bergegas keluar dari dalam kamar Irna memilih tidur di kamar lain.


"Kamu mau kemana?"


Irna tersenyum, dari sinar matanya gadis itu terlihat seolah sudah mengingat segalanya.


"Aku akan tidur di kamar lain." Rian bergegas pergi.


"Tunggu! bukankah kamu sudah menikahiku? menikahi wanita idamanmu yang bertahun-tahun kamu tunggu? lalu aku sudah berada di sini, apakah kamu akan membiarkanku sendirian?!"


Rian menghentikan langkahnya, berbalik menatap wajah Irna. Gadis itu melelehkan air matanya duduk di tepi tempat tidurnya.


"Pria itu, sudah meninggalkanku.. apakah kamu juga akan pergi? apakah aku tidak boleh mendapatkan cinta sedikit saja?! aku, apakah aku tidak pantas untuk dicintai?"


Rian berlari memeluknya, gadis itu kembali terisak di dalam pelukannya.


"Jangan pergi, jangan pergi dariku.. tetaplah di sini. Aku istrimu sekarang, aku tidak akan menolakmu lagi. Maafkan aku.. maafkan aku, aku berlari mencarinya tanpa melihat ke arahmu sama sekali. Maafkan aku telah melukai hatimu."


Rian tidak sampai hati melihat Irna terus menerus menangis.


"Aku tidak akan pergi, berhentilah menangis. Aku akan tetap menemanimu di sini."


Rian membelai rambutnya yang terurai di atas punggung gadis itu.


Rian tahu, Irna sangat terluka karena pria yang dicintainya tidak ingin mengingatnya.


Hari demi hari berlalu seperti biasanya.. Kadang kala Irna terlihat melamun seorang diri duduk di beranda rumah.


Irna kembali bekerja sebagai dokter seperti sebelumnya, dia memilih untuk merawat pasien. Gadis itu sudah mengingat segalanya.


Perlahan-lahan kekuatan fisiknya kembali pulih.


"Nira.. jangan berlari sayang!" Teriak Rian sambil mengejar gadis kecil berusia tiga tahun.


Gadis imut itu berlari ke arah Alfred menghambur memeluknya.


"Papa..." Gadis itu mencium pipi Alfred, dan di sebelahnya berdiri gadis cantik.


"Sandira.." Irna berjalan ke arah menantunya itu. Irna tersenyum lembut kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Ma, maafkan Sandira. Ada seseorang yang memaksa ikut hari ini."


Gadis itu berbicara dengan wajah takut-takut, lalu melirik ke belakang punggungnya.


"Jermy Erlando?"


Sapa Irna tersenyum melihat pria membawa tongkat berjalan terbungkuk-bungkuk.


"Kenapa? kamu terkejut melihatku sudah kakek-kakek begini?"


Tertawa renyah sambil menghambur memeluk Irna. Rian masih bercakap-cakap dengan Alfred di beranda rumah.


"Ayo ke dalam rumah, apa kamu masih menyukai kopi? atau susu hangat?" Irna menawarkan padanya.


"Kopi. Ini sangat tidak adil, kenapa kamu masih terlihat cantik dan muda? aku sudah tidak bisa mengangkat tubuhmu seperti dulu." Kelakar pria berusia lima puluh tahun itu.


Sandira terperangah mendengar kakaknya berkata demikian.


"Mama dan kakak?" Buru-buru meminum tehnya sambil menahan tawanya.


"Itu masa lalu sayang, jangan terlalu difikirkan." Irna tersenyum sambil meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja.


"Mama, Sandira mau menyiapkan makan malam dulu." Gadis itu menyerahkan Nira pada Alfred lalu berjalan menuju ke dapur.


"Kamu tidak mengajak istrimu?"


Irna tahu Jermy sudah menikah dan memiliki dua orang putra, mereka memimpin perusahaan milik pria itu. Menjadi penerus keluarga Erlando.


"Tidak, dia meninggal empat bulan yang lalu. Aku tinggal sendirian sekarang, aku begitu kesepian. Kedua putraku juga sudah memiliki kehidupan mereka masing-masing."


Pria itu menghirup kopi yang dibuatkan Irna untuknya.


"Menikahlah lagi, jika kamu ingin seorang teman!" Kelakar Irna dengan sengaja.


"Kamu pikir siapa yang mau dengan pria tua bau tanah sepertiku? hahahaha!"


Jermy tidak bisa menahan tawanya lagi mendengar kelakar dari Irna.


"Triiing! triiing!" Ponsel Irna mendadak berdering.

__ADS_1


"Aku angkat telepon dahulu." Irna bergegas menuju meja kerjanya, gadis itu melihat ke layar ponselnya.


"Dari rumah sakit? apa yang terjadi? biasanya mereka tidak menghubungiku semalam ini." Gumam Irna sambil mengambil tasnya kemudian memakai mantel tebal berwarna cokelat.


"Kamu mau kemana?"


"Rumah sakit!" Irna melambaikan tangannya pada suaminya itu.


"Aku antar!" Rian berlari menuju mobilnya.


Alfred masuk ke dalam rumah bersama Nira.


"Kita makan malam saja dahulu, mereka selalu sibuk seperti itu, berlangsung lama sudah bertahun-tahun seperti itu. Mereka itu seperti dua pasang mesin pemburu uang!"


Menggelengkan kepalanya berkali-kali. Alfred dengan cuek mengambil piring dan mulai menyendok makanan.


Jermy menggelengkan kepalanya mengikuti Alfred di sebelahnya. Sandira tersenyum melihat mereka berdua begitu kompak di meja makan.


Saat masuk ke dalam ruang UGD, Irna terkejut melihat pria berpakaian hitam sambil memegangi perutnya.


Darah merembes tanpa henti dari lukanya. Irna tertegun menatap pria itu tersenyum ke arahnya.


"Siapkan peralatannya cepat!" Teriak Irna pada beberapa perawat.


"Apakah aku perlu membantumu?" Rian melihat pria yang menolak istrinya lima tahun lalu.


"Tidak perlu, hanya luka yang perlu jahitan."


Gumam Irna sambil tersenyum menatap suaminya.


"Apakah dia sangat putus asa? lalu merobek perutnya sendiri demi ditangani oleh dokter cantik Kaila Elzana!" Teriak Rian sambil berkacak pinggang melotot ke arah Fredian.


"Apa kalian akan membiarkanku kehabisan darah dan mati di sini?"


Gumamnya lirih sambil menahan nyeri pada perutnya.


"Berbaringlah."


Perintah Irna tanpa menatap wajahnya sama sekali. Irna segera menggunting baju yang dipakainya.


"Luka tusukan benda tajam? tiga kali tusukan. Jika manusia normal pasti sudah meninggal." Gumam Irna sambil membersihkan lukanya, lalu menyuntikkan cairan obat bius.


Irna mulai menjahit lukanya satu persatu, dan setengah jam kemudian baru memakaikan perban pada lukanya.


"Besok ketika nyerinya sudah mendingan kamu bisa pulang, dan mintalah keluargamu untuk mengganti perbannya sehari dua kali."


"Iya aku akan meminta Istriku menggantinya, dia ada di rumah, aku memintanya untuk tetap tinggal karena sedang hamil lima bulan."


Fredian menatap gadis kecil umur lima tahun menangis di ambang pintu kamarnya.


"Papa.." Dira mengusap air matanya di kedua pipinya yang putih dan tembem.


Irna merasa hatinya teriris pisau tajam, pedih sekali. Tapi dia juga tidak tahu bagaimana harus mengekspresikan di depan pria yang pernah mengisi hidupnya itu.


"Apakah gadis ini darah dagingmu?"


Irna memeluk gadis kecil itu dan menggendongnya.


"Maafkan aku.. Waktu itu aku tidak bisa menjelaskan semuanya."


"Hem, aku akan merawatnya di rumahku untuk sementara. Aku kesepian di rumah bersama suamiku!"


Irna dengan sengaja menekankan kata suamiku di depan Fredian, untuk menegaskan bahwa dirinya sudah tidak memiliki hubungan apapun dengannya.


"Apakah dia masih tetap tidak mau menyentuhmu? padahal kalian berdua sudah menikah!"


Fredian tidak sanggup menahan ucapannya itu.


"Kamu salah, aku sedang hamil tiga bulan sekarang!"


Irna segera melengos pergi dari hadapannya, merasa sangat kesal sekali.


"Kamu! dasar! wanita perayu! menyebalkan! Akh perutku!" Teriaknya sambil meringis memegang perutnya.


"Apakah dia sebanyak itu meniduri wanita istri barunya itu! bahkan dia hamil lagi lima bulan?" Gerutu Irna sambil menggendong gadis kecil itu menuju ruangan kerjanya.


"Siapa dia?" Tanya Rian saat melihat anak kecil dalam gendongannya.


Irna meletakkan anak kecil itu di atas pangkuan Rian. Gadis itu diam saja enggan menjawab pertanyaan Rian.


"Kenapa? kamu terlihat kesal?"


"Dia anak pasien kesayanganmu itu, bahkan istrinya sedang hamil lima bulan sekarang!" Irna menarik kedua sudut bibirnya dengan terpaksa.


"Lalu apa yang kamu katakan padanya?"


"Aku bilang padanya, kalau aku juga sedang hamil anakmu, tiga bulan!"


Irna mengisi formulir di atas meja, sambil cemberut.


"Hahahaha!" Rian melepas tawanya di depan Irna.


"Kamu menertawaiku? apakah aku seperti badut sekarang?" Keluhnya makin kesal.


"Kamu lucu sekali, ayo kita pulang."


Rian menggamit pinggangnya menuju pintu.


"Apa kamu tidak ingin memeriksa kandunganku?" Celetuknya tiba-tiba sambil menunjuk perutnya.


Rian masih tersenyum menatap wajah Irna, gadis itu sangat terlihat putus asa.


"Apakah vampir wanita benar-benar tidak bisa hamil? lalu kenapa pria vampir seenaknya menghamili istrinya?! bukankah peraturan konyol itu sangat tidak adil bagi kami kaum vampir wanita?!"


Irna mengeluh sepanjang jalan menuju parkiran, Rian menyerahkan Dira pada Irna dan mulai mengemudikan mobilnya menuju rumahnya.


Irna membuka pintu rumahnya, Jermy Erlando masih duduk membaca surat kabar di ruang tengah.


Alfred dan Sandira sudah tertidur di kamarnya.

__ADS_1


"Siapa itu?" Tanyanya pada Irna saat melihat gadis mungil dalam pelukannya.


"Putri tiriku, namanya Dira."


"Kenapa kamu mau merawatnya? apa kamu sangat gila!"


Jermy hanya bisa menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat wajah Irna.


Rian duduk di kursi ruang tengah menemani Jermy, Irna sendiri masuk ke dalam kamarnya mengajak gadis imut itu tidur.


"Dira sayang mama.." Gadis itu mencium pipinya.


"Astaga anak kecil ini, memanggilku mama?" Irna memeluknya sambil menangis, dia tidak merasa sakit hati lagi saat ini, bahkan ketika tahu itu darah daging Fredian bersama wanita lain.


Dan saat itu situasinya sangat tidak mendukung, keduanya sama-sama kehilangan ingatan. Dia tidak bisa menyalahkan Fredian sementara dirinya sendiri juga telah menikah dengan Rian.


Dua hari kemudian..


Seorang wanita dengan perut besar datang ke rumah Irna.


Dira melihat ke arahnya dan segera berlari memeluk wanita itu.


"Maafkan aku, anakku telah merepotkanmu."


"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan sama sekali. Masuklah aku akan membuatkan makanan kecil."


Irna tersenyum sambil mengusap kepala Dira.


"Tidak perlu, suamiku sudah menunggu di mobil."


Menunjuk mobil dan Fredian berada di belakang kemudi menatap wajah Irna.


"Pria brengsek!" Gumam Irna dalam hatinya.


"Ah, ya sudah lain kali saja. Jangan sungkan-sungkan mampir kesini."


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju mobilnya. Fredian segera turun dari mobilnya membukakan pintu untuknya.


Irna meremas lengannya sendiri, entah kenapa dia merasa kesal sekali.


Fredian tersenyum melihat wajah geram Irna dan menganggukkan kepalanya pura-pura menyapa.


"Kamu masih mencintainya?"


Rian sudah berdiri di belakang punggungnya sambil berbisik di telinganya.


"Hahahaha! mana mungkin?! ayo kita masuk!" Irna pura-pura tertawa dan mendahului Rian masuk kembali ke dalam rumah.


"Tapi wajahmu terlihat sangat jelas cemburu!" Rian mulai marah melihat istrinya sedang kesal.


"Oke aku tidak akan cemburu padanya, jangan marah lagi."


Irna melangkah menuju dapur mengambil segelas air putih.


Rian termenung di meja makan, memainkan ponselnya di atas meja.


"Kenapa? kamu tidak mau mempercayaiku? ya sudah aku akan pergi ke rumah sakit untuk mengurus beberapa pekerjaan."


"Kebiasaan!" Teriak Rian tiba-tiba.


Pria itu berkacak pinggang menatap tajam ke arah Irna. Menghalangi langkahnya.


"Kamu selalu melarikan diri! kamu memilih diam dan kabur! kamu selalu membohongi dirimu sendiri juga diriku!"


"Sayang? apa kamu memarahiku sekarang? berhentilah merajuk." Irna memeluk pinggangnya sambil tersenyum.


"Dia bersama wanita lain, dan aku bersamamu, apa lagi? hahahaha sungguh sebuah hubungan yang sangat ironis!"


Irna tertawa lepas sambil mengambil tasnya.


"Aku akan ke rumah sakit, aku tidak melarikan diri darimu. Kamu juga boleh mengantarkanku."


Gadis itu meletakkan kunci mobilnya di atas telapak tangan Rian, kemudian mencium pipinya.


"Oke! aku akan mengantarmu pergi, jangan tinggalkan aku lagi!"


Menarik tangan Irna kembali ke dalam pelukannya.


"Tidak akan."


Irna mengatakan dengan yakin, dia tidak akan pergi darinya.


Mereka berdua berjalan menuju mobilnya, Rian membukakan pintu mobil untuknya.


Satu minggu berikutnya..


Sepanjang malam Irna dan Rian bekerja bersama di rumah sakit. Irna kelelahan kemudian tertidur di bahu Rian.


Mereka berdua sama-sama tertidur di kursi lorong rumah sakit.


"Pasangan gila. Duk! Duk!" Gumam seseorang sambil menendang kaki kursi tempat mereka berdua terlelap. Irna mengerjapkan matanya menatap seseorang yang menendang kaki kursi tersebut.


"Aku perlu memeriksa bekas lukaku!" Ujarnya tanpa memelankan suaranya, sengaja membuat mereka berdua terbangun.


"Apa dia sudah gila? kontrol semalam ini?" Gumam Rian sambil menguap, malas-malasan bangkit dari kursinya, pria itu melangkah ke dalam ruangan.


"Kenapa kamu kembali? ini sudah lebih dari satu minggu. Seharusnya lukanya benar-benar sudah hilang." Gumam Irna sambil menyiapkan peralatan medis di atas meja.


Fredian duduk di atas tempat tidur pasien.


"Bukalah bajumu dan berbaringlah." Perintahnya pada Fredian.


"Bukankah itu adalah tugas seorang dokter untuk memeriksa pasiennya? Kenapa malah menyuru-nyuruh pasien?"


Gadis itu mulai memakai sarung tangannya, dan membuka kancing baju Fredian satu persatu.


Rian melangkah masuk, mencegah tangan Irna yang hendak menyentuh pakainya.


"Aku yang akan mengurusnya, kamu sudah terlalu lelah hari ini." Rian tersenyum sambil mengecup pipinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2