
"Astaga apa itu tadi?" Gadis itu terbangun dari pingsannya.
Pandangan matanya tertuju pada pria yang sedang tertidur di sebelah tempat tidurnya. Pria itu duduk di kursi sedang membenamkan wajahnya di tepi tempat tidur sambil menggenggam jemarinya.
"Kenapa rasanya aku tidur begitu lama? mimpi yang aneh!" Bisiknya sambil memijit pelipisnya.
Di sisi lain...
"Apa yang terjadi? kenapa aku berada di sini?" Ujar pria itu sambil memijit pelipisnya merasakan pusing pada kepalanya.
"Hai dokter, anda sudah bangun? bagaimana? apakah masih merasakan nyeri?" Tanya seorang gadis mengenakan masker, seraya memberikan suntikan melalui selang infus di lengan pria tersebut.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya pria itu sambil memicingkan matanya menatap dokter wanita yang merawatnya.
"Anda mengalami kecelakaan tiga hari lalu dan pingsan selama tiga hari di sini." Jelasnya pada pria yang masih mengenakan seragam dokter itu.
"Aku pingsan? bagaimana keadaan gadis yang bersamaku?" Tanya pria itu sambil memegang lengan dokter itu dengan wajah penuh kecemasan.
"Dia baik-baik saja." Seorang pria dengan wajah tidak asing masuk ke dalam ruangan pasien, kemudian diikuti seorang gadis melambaikan tangannya dengan senyum manis berada di belakangnya.
"Hai?" Sapa gadis itu sambil mendekat, berdiri di sebelah tempat tidurnya.
Begitu melihatnya langsung memeluknya dengan erat sambil menangis menahan haru.
"Syukurlah kamu baik-baik saja." Ujar pria itu padanya.
"Tentu saja aku baik-baik saja, aku meminta maaf sebetulnya aku memasukkan sedikit darahku untuk mempercepat kesembuhanmu." Ujar gadis itu lagi, sambil mencermati wajah pria yang ada di depannya.
Apakah dia akan marah dengan tindakan yang dia lakukan atau tidak.
Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk tanda dia tidak marah sama sekali.
"Aku ikut merasa tenang karena kamu baik-baik saja." Ujar seorang pria yang menemani gadis itu sambil menepuk bahunya.
"Terima kasih sudah menjagaku." Ujarnya lagi sambil tersenyum menatap wajah Fredian dan Irna.
"Jangan lupa kamu masih rivalku." Ujar Fredian sambil tersenyum.
Ingatan Rian kembali pada saat sebelum dia pingsan.
***
Flash back
Irna, Fredian mereka berdua menghadiri pesta pernikahan Reynaldi dan Jesy pada malam itu.
Fredian berangkat bersama Irna, pada malam itu banyak sekali dari kalangan artis dan model yang datang pada pesta tersebut.
Dan juga seorang gadis yang tidak asing, yaitu Clarisa. Wajah seorang yang menaruh dendam kesumat pada Irna Damayanti. Dia datang dengan sengaja ingin melukai Irna.
Di saat hiruk pikuk pesta pernikahan antara Reynaldi dan Jesy, gadis itu menyelinap masuk tanpa sepengetahuan sekuriti.
Dia berdiri di sebelah Irna, dan saat itu Fredian sedang sibuk berbicara dengan klien yang kebetulan berada di dalam pesta.
"Apa kabar Irna?" Sapa gadis itu sambil tersenyum dengan wajah penuh dendam.
"Kamu sudah melihat keadaanku, untuk apa masih bertanya lagi?" Tanya balik Irna tanpa basa-basi pada wanita itu.
"Apakah kedatangan diriku membuat suasana hatimu berubah menjadi buruk?" Ujarnya sambil mengancungkan gelas minuman di depan wajah Irna dan sengaja menuangnya di atas gaun Irna.
"Astaga! wanita ini!" Bisik Irna sambil membersihkan bajunya menatap wanita di depannya. Karena bajunya basah dengan minuman, Irna bergegas menuju ke toilet untuk membersihkannya.
Tak beberapa lama kemudian, beberapa pria masuk ke dalam toilet dan menguncinya. Irna melihat mereka dari pantulan cermin. Beberapa pria dengan wajah beringas sedang menatapnya dengan tatapan akan merajang tubuhnya.
"Siapa kalian?!" Tanya Irna sambil bersandar di depan westafel dengan wajah sangat terkejut.
Fredian yang menyadari Irna tidak ada, dia segera berlari mencari ke seluruh area pesta. Dan dia melihat Clarisa ada di sana. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan.
Fredian merasa hilangnya Irna ada hubungannya dengan Clarisa wanita jahat itu.
Fredian juga segera menghubungi Rian, dia hawatir jika terjadi sesuatu pada Irna.
"Rian kamu di mana sekarang?" Tanyanya segera pada dokter pribadinya itu setelah dia mengangkat teleponnya.
"Aku di kantor, bersama Jody Winarta. Ada apa?" Tanyanya pada Fredian.
"Aku kehilangan Irna, aku hawatir terjadi sesuatu padanya."
"Di mana kamu sekarang?" Tanyanya lagi pada Fredian.
__ADS_1
"Aku sedang berada di pesta pernikahan Reynaldi lokasinya di puncak." Jelas Fredian padanya.
Mendengar itu Rian segera berdiri dan tanpa melepaskan jas putihnya dia segera berlari ke parkiran mobil.
"Kamu mau kemana?" Tanya Jody yang ikut terkejut turut berlari menuju parkiran.
"Ada hal serius yang harus aku tangani sekarang!" Ujarnya pada pria itu.
"Apakah aku bisa membantu?" Tanyanya lagi sambil berlari di sebelah Rian.
"Pulanglah, aku tidak ingin melibatkanmu."
"Oke, aku akan kembali. Terima kasih!" Ujarnya sambil tersenyum mengancungkan botol obat di tangannya.
Jody naik ke dalam mobilnya dan meninggalkan NGM, berseberangan arah dengan mobil Rian yang menuju ke puncak.
Setelah dua jam mengendarai mobilnya Rian melihat seorang gadis memegang lengannya yang berdarah dia berlari dengan kaki telanjang sedang dikejar beberapa orang bertubuh besar.
Lambat-laun dia tahu bahwa gadis itu tidak lain adalah Irna. Irna sedang di kejar oleh para penjahat.
Rian segera menghentikan mobilnya, dan mengadang di jalan.
"Naiklah cepat!" Dia segera membuka pintu mobil untuknya. Tanpa menunggu Irna langsung naik ke dalam mobil.
Sebagian dari penjahat itu mengendarai mobil, mereka juga mengikuti Irna dan Rian yang sedang berada di dalam mobil.
Karena lokasinya penuh tikungan juga jalan yang menanjak, menukik. Mobil Rian tidak bisa berjalan dengan leluasa.
Para penjahat yang berada di belakang mereka bisa mengejar dengan cepat, dan menghantam mobil Rian dari belakang.
"Awas! Akh! tidak!" Teriak Irna ketika mobil Rian yang di kendarai bersamanya meluncur bebas terjun ke dasar jurang.
Irna sayup-sayup antara sadar dan tidak melihat kepala Rian penuh luka, dan pria itu perlahan-lahan membuka matanya.
Rian menggenggam tangan Irna dengan erat.
"Aku sangat mencintaimu." Itu kata-kata terakhirnya yang diucapkan olehnya sebelum pingsan.
"Apa yang harus aku lakukan?" Irna mencoba bangkit dari tempat duduknya tapi tidak bisa. Dia ingat jika darahnya memiliki efek penyembuh yang lumayan cepat.
Beruntung saat penjahat melukainya hanya terkena lengannya, namun mahluk astral tidak mencium aroma darahnya karena Irna segera menyiram lukanya dengan parfum yang berada di dalam tasnya dan selalu dibawanya kemanapun dia pergi.
Darah Irna telah bercampur dengan darah Rian, dan dia melihat beberapa luka di tubuhnya perlahan membaik.
Gadis itu tersenyum lalu jatuh pingsan di atas tubuhnya. Tak beberapa lama setelah itu Fredian berhasil menangkap komplotan penjahat yang mengejar Irna bersama Clarisa.
Dia segera menghubungi ambulans saat menemukan mobil Rian berada di dasar jurang. Dan membawa mereka pergi ke rumah sakit.
Dilihatnya Irna tidak memiliki goresan yang fatal, dia tahu ini ada hubungannya dengan sel-sel darah merah yang ada di dalam tubuhnya. Gadis itu tidak sadar selama satu hari.
Dan selama tidak sadar, Fredian yang menjaganya di sisi tempat tidurnya.
"Aku harap mimpiku itu tidak akan menjadi kenyataan.." Bisik Irna di dalam hatinya.
Gadis itu tersenyum melihat Rian dan Fredian sedang bercakap-cakap, darah Irna telah bercampur dan mengalir pada tubuh Fredian, dan Rian juga Reyfarno.
Hanya saja gejala yang muncul berbeda di antara mereka bertiga.
Jika Reyfarno mengalami hal yang sama yaitu di kejar mahluk buas saat dia terluka, dan untungnya Rian bisa membuat hal tersebut teratasi dengan vaksin yang di buat olehnya untuk kakaknya itu.
Sedang Fredian dia bisa melihat apa yang dilihat hanya oleh Irna, juga memiliki insting yang lebih tajam dari sebelumnya.
Sedangkan Rian dia melihat proses penyembuhan yang lebih cepat dan gejala yang lain belum terlihat, karena Rian memiliki golongan darah yang sama dengan Irna.
"Aku rasa aku sudah baik-baik saja, apakah aku tidak boleh pulang sekarang?" Tanyanya sudah tidak sabar ingin segera pergi dari kamar rawat tersebut.
"Belum boleh, kondisimu belum begitu membaik." Ujar Irna sambil tersenyum melihat wajah Rian yang sudah tidak tahan dan ingin segera kabur dari sana.
"Selamat siang semua." Arvina masuk menyapa mereka, gadis itu membawa bubur untuk Rian.
Tak lama kemudian ponsel Fredian berdering, dia segera keluar ruangan untuk menerima panggilan dari Antoni sekretarisnya.
"Aku keluar dulu." Bisiknya pada Irna di sebelahnya, gadis itu hanya menganggukkan kepalanya saat Fredian berpamitan dengannya.
"Anda harus makan, agar cepat pulih." Ujar Arvina sambil duduk di kursi sebelah Rian.
Melihat itu Irna tersenyum dan hendak melangkah pergi keluar dari dalam ruangan memberikan waktu agar mereka berdua bisa lebih dekat.
Melihat Irna melangkah pergi tiba-tiba wajah Rian berubah.
__ADS_1
"Tunggu!" Rian hendak beranjak turun dari tempat tidurnya.
"Pak! Anda tidak boleh turun dari tempat tidur sekarang!" Arvina menahan tubuh Rian agar tetap berada di atas tempat tidurnya. Gadis itu menatap penuh harap ke arah Irna.
Mendengar teriakkan Arvina Irna menoleh dan buru-buru berbalik.
"Ada apa?" Tanyanya dengan wajah terkejut menatap mereka berdua.
"Bisakah kamu menemani Presdir sebentar nona?" Tanya Arvina dengan wajah berharap agar Irna mengangguk. Arvina sudah menganggap Rian seperti kakaknya sendiri.
Irna tersenyum menatap wajah gadis itu, lalu duduk di sebelahnya.
"Aku akan keluar dulu, tolong nona tetap di sini." Pintanya pada Irna, kemudian gadis itu melangkah keluar dari ruangan.
"Kenapa?" Tanya Irna sambil mengambil bubur dari atas meja dan mulai menyuapkan ke bibir Rian.
"Tetaplah di sini!" Ujar Rian sambil memegang tangan Irna, lalu mengarahkan sendok ke dalam mulutnya.
"Ya, aku akan berada di sini. Jadi cepatlah sembuh pak dokter." Ujar Irna sambil terkekeh mendengar Rian memaksanya untuk tinggal di sana.
Fredian setelah menerima telepon kembali masuk ke dalam ruangan Rian di rawat. Dia melihat Irna sedang menyuapi Rian.
"Apakah kamu cemburu padaku?" Tanya Rian ketika melihat pria itu berdiri di ambang pintu.
"Jika aku cemburu, aku tidak akan membiarkanmu tinggal sepanjang hari bersamanya." Ujar Fredian santai.
Fredian tahu Irna sudah sangat lama bersama Rian setelah mereka berpisah, dia tahu Irna sudah tidak terlibat hubungan rumit dengan Rian.
Rian adalah satu-satunya keluarga baginya karena Irna memang tidak memiliki siapa-siapa lagi. Pria itulah yang selalu berada di sisinya selama ini.
Fredian juga tahu jika Rian menyimpan perasaan untuk Irna sendiri di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Tapi Fredian juga tahu siapa yang sebenarnya gadis itu cintai sampai sekarang adalah dirinya sendiri.
"Syukurlah." Ujar Rian lagi sambil melambaikan tangannya pada Fredian. Irna hanya diam saja melihat mereka saling melempar pandangan.
"Aku akan merawatnya selama dia tinggal di sini." Ujar Irna pada Fredian, saat pria itu berdiri di sebelahnya.
"Ya, aku akan kembali ke kantor. Nanti malam aku akan berganti jaga denganmu." Ujarnya sambil tersenyum.
"Apakah bisa dia saja yang menjagaku?" Tanya Rian pada Fredian.
"Kamu tidak melihat wajahnya kusut begitu? kamu pikir siapa yang menjagamu selama pingsan tiga hari siang malam?" Ujarnya pada Rian sambil menunjuk Irna yang duduk di sebelahnya. Pria itu cemberut lalu keluar dari ruangan.
Rian tersenyum melihat Fredian bersungut-sungut karena Irna yang terus menjaganya selama dia sakit.
"Kamu yang menjagaku?" Tanya Rian sambil mencermati wajah Irna.
"Dua hari, karena sebelumnya aku juga pingsan selama satu hari." Jelasnya sambil menuang air minum lalu menyodok pada Rian. Pria itu segera mengambilnya dan meneguknya.
"Kamu yakin, sudah merasa baikan?" Tanya Irna kemudian.
"Ya sudah baik-baik saja selain ini." Rian menunjuk ke arah dadanya.
"Apakah ada yang terluka di sana?" Tanya Irna dengan wajah terkejut, dia segera berdiri hendak memeriksa luka di dada Rian.
Pria itu meraihnya dalam pelukan, Irna sedikit terkejut kemudian dia mengusap punggungnya saat mendengar isakan halus. Rian melelehkan air matanya.
"Untunglah kamu baik-baik saja, untunglah aku masih bisa melihatmu, untunglah aku masih bisa tetap berdiri di sisimu walau di tempat yang jauh." Bisiknya di sela tangisnya.
"Apa yang kamu bicarakan. Kamu sudah sangat lama menemaniku. Tentu saja kamu akan tetap bisa melihatku." Ujar Irna sambil menepuk bahunya. Perlahan melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku, saat sebelum aku pingsan ketika di dalam mobil aku kembali mengatakannya." Bisiknya pada Irna.
"Aku sudah tahu, tapi kamu terus mengatakan itu, seolah-olah aku tidak tahu perasaanmu." Ujar Irna pura-pura cemberut.
"Kapan kamu akan menikah kembali dengannya?" Pertanyaan Rian membuat Irna tiba-tiba mendongak menatap wajah Rian, di dalam hatinya dia berkata.
"Apakah kamu benar-benar ingin aku segera menikah dengan Fredian lagi?"
Rian hanya tersenyum seolah-olah tahu apa yang ada di dalam hati Irna.
"Jangan hawatir aku tidak akan menghalangi hubungan kalian." Ujarnya sambil meneguk air minum di tangannya.
"Aku tahu, kamu juga yang memberikan alamatku saat aku tinggal di Jerman beberapa tahun lalu." Ujar Irna sambil menopang dagunya dengan telapak tangannya.
"Kenapa? apa kamu tidak senang?" Tanya Rian lagi.
"Entahlah, mungkin jika keluarganya benar-benar tulus menerimaku kami akan kembali bersama. Tapi melihat kejadian yang lalu antara kita sepertinya akan sedikit sulit." Jelas Irna sambil tersenyum menatap wajah Rian.
Bersambung...
__ADS_1