
"Aku tidak percaya setelah tiga tahun akhirnya aku menemukannya, Irna Damayanti.." Fredian jatuh terduduk di atas trotoar. Masih menatap mobil Irna menghilang dari jalan raya.
Untuk tiga tahun terakhir Fredian memegang kendali Reshort di London dari Jerman. Ayah dan ibunya tahu wajah frustasi putra satu-satunya itu. Dia masih tidak bisa melupakan istrinya.
Kedua orang tua Fredian membiarkan Fredian mencarinya, mereka berdua tidak sampai hati melihat keseharian putranya menjadi suram dan jatuh terpuruk.
Melihat setiap hari dan setiap malam hanya menghabiskan waktunya dari Club ke Club. Menenggak minuman lalu pulang dalam kondisi mabuk berat.
Fredian melangkah ke jalan yang agak mendaki, mobilnya di parkir di bawah. Dia melihat Alfred dari kejauhan. Sedangkan Irna ada di sebelahnya mengangkat kain jemuran.
"Sungguh anak yang sangat manis."
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Irna kembali membawa putranya masuk ke dalam rumah.
"Tok tok tok!" Suara ketukan pintu.
Irna terkejut, sudah hampir malam ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Selama ini hanya tetangga yang menyapanya. Dan jika waktu sudah senja tidak ada yang akan datang.
"Kreeeek" Irna membuka pintu, seseorang berdiri membawa sebuah koper di depan pintu rumahnya.
"Kenapa kamu kemari? anakku baru saja tidur." Irna melihat belakang punggungnya, setelah membacakan cerita untuk Alfred putranya tertidur di sofa. Di atas pangkuannya.
"Tentu saja aku akan tinggal di sini." Tanpa menunggu lagi, masuk ke dalam rumah menenteng kopernya. Irna bingung tidak tahu kenapa Fredian tiba-tiba ingin tinggal di rumah itu bersamanya.
"Bukankah saat itu dia sangat membenciku, dan marah padaku. Lalu apa yang dia mau sekarang?!" Bisik Irna dalam hatinya masih tidak mengerti.
Dia menutup pintu dan mengikuti punggung Fredian. Fredian membawa masuk kopernya ke dalam kamar.
"Di rumah ini, hanya ada satu kamar. Tapi aku akan membersihkan ruangan sebelah aku akan tidur di sana bersama Alfred." Ujar gadis itu dengan suara tergagap.
Fredian menatap Irna yang bersandar pada dinding, Irna melihatnya dengan wajah sangat ketakutan. Tubuhnya terlihat kurus dan pucat. Wajah cantik yang selalu bersinar menatap dengan senyuman sudah lenyap, mungkin sudah menghilang dalam waktu yang sangat lama.
"Atau kamu ingin tinggal di sini, jadi aku akan mencari tempat tinggal lain besok." Lanjutnya lagi lalu, berjalan sambil memegang dinding keluar dari kamar.
Beberapa hari terakhir cuaca sangat dingin dan membuat nyeri tulang di kakinya.
Setelah menggendong Alfred ke dalam kamar. Irna melipat pakaian di ruang tengah, dia duduk di atas selembar karpet tebal. Ekor matanya melirik Fredian sedang menenteng handuk di atas bahu kanannya, pria itu tidak memakai baju atasan.
"Apakah dia tidak merasa dingin? kenapa malah tidak berpakaian di saat cuaca seperti ini?" Bisiknya lirih.
__ADS_1
Fredian melangkah ke dalam kamar mandi yang terletak di ruangan paling ujung. Membersihkan tubuhnya yang seharian belum mencium air sama sekali.
Irna menata pakaian memasukkan ke dalam lemari. Fredian berdiri di belakangnya hanya dengan selembar handuk. Mencari baju di dalam kopernya.
Irna tidak ingin menoleh ke arahnya, dia buru-buru keluar dari kamar dan menutup pintu.
"Apa dia menganggapku orang lain sekarang?! bahkan aku belum menandatangani surat cerai yang dia lemparkan di atas mejaku tiga tahun lalu." Ujarnya sambil meremas kepalanya, duduk di tepi tempat tidur.
Fredian melangkah keluar kamar, dilihatnya Irna sedang serius bekerja di ruangan kecil yang ada di sebelah kamarnya.
Fredian masuk ke dalam ruangan kerjanya, melihat foto di dinding. Semua foto di sana adalah foto Irna sedang bersama Alfred. Irna melihat Fredian yang sedang berdiri di ruangannya.
"Apa ada sesuatu yang kamu cari? selain ini?" Irna menunjuk ke arah lehernya, sambil melihat ke arah Fredian dari kursi kerjanya.
Gadis itu meletakkan bolpoin dan melepas kacamatanya. Mulai mengemasi berkasnya di atas meja.
Dia melangkah hendak keluar dari ruangan, entah kenapa dadanya masih terasa pengap jika dia ada di dalam ruangan yang sama dengan Fredian.
Fredian mencekal lengannya untuk menghentikan langkahnya.
"Aku tahu aku yang salah telah bertindak bodoh pada waktu itu. Aku datang ke rumahku yang lama tanpa berfikir dua kali. Dan tidak segera pergi ketika melihat Rian ada di sana. Aku merayunya dan malam itu aku tidur dengannya. Aku telah menghianatimu, aku menjauhimu mulai saat itu, karena aku bukan istri yang pantas."
Irna menatap mata Fredian yang sedang menatap mencari kebenaran ke arah matanya.
"Seharusnya aku yang marah tapi kenapa kamu yang marah dan meninggalkanku?! seharusnya aku yang marah dan pergi meninggalkanmu!" Ujar Fredian sambil memandangnya lekat-lekat.
"Lalu aku harus bagaimana? aku sudah tidur dengan pria lain, apakah menurutmu aku akan tetap tinggal menetap di rumah bersamamu tanpa rasa bersalah? aku sudah pergi jauh kemari dan kamu menemukanku di sini. Lalu aku harus bagaimana lagi?" Gadis itu terisak sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.
"Lalu jika kamu pergi, kenapa kamu tidak membawa orang yang kamu rayu itu?! kenapa malah memilih tinggal sendiri merawat anakmu seorang diri, dan hidup mengenaskan seperti sekarang?!" Fredian berteriak di depan wajah Irna.
"Aku, aku.." Irna tergagap masih menangis.
"Dan aku menemukan ini di bawah bantalmu! apa kamu masih melihat wajahku setiap hari dan setiap malam?" Fredian memperlihatkan foto pernikahannya yang tadinya berada di bawah bantal Irna.
"Maaf aku akan mengembalikan itu padamu, aku tidak akan mengambil apapun lagi. Aku tidak akan mengambil selembar fotomu lagi." Gadis itu kembali menangis, sangat putus asa melihat mata teduh Fredian di depannya. Bahkan dia tidak berani menyentuhnya sama sekali sekarang.
Irna melepaskan genggaman tangan Fredian di lengannya, lalu melangkah gontai berjalan keluar ruangan.
"Bahkan tiga tahun lagi aku harus berpisah dengan putraku satu-satunya, lalu apa lagi yang tersisa di dalam hidupku.. aku tidak punya sesuatu apapun yang bisa aku miliki." Irna menyentuh lembut kepala Alfred. Gadis itu mengecup keningnya sambil menangis. Irna duduk di lantai membenamkan wajahnya di tepi tempat tidur menahan suara tangisnya.
__ADS_1
Pagi itu Irna bangun dengan wajah sembab, Alfred masih terlelap di sebelahnya. Dan saat hendak berbalik dia merasakan seseorang tidur di belakang punggungnya. Irna menyentuh dadanya, pria di sebelahnya dia tidak memakai pakaiannya.
"Astaga! Kenapa kamu tidur di sini? seharusnya kamu tidur di ruangan sebelah."
"Di sana terlalu dingin." Dengan cueknya merengkuh pinggang Irna, menggosokkan kepalanya di bahu kiri Irna.
"Aroma tubuhnya, dan nafasnya yang begitu dekat. Membuatku tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak aku pikirkan saat ini." Bisik Irna dalam hatinya.
Fredian menyadari perubahan suhu di tubuh Irna.
"Apakah kamu merasakan sesuatu yang lain?" Bisiknya di telinga Irna.
"Merasakan apa? aku hanya akan bangun untuk membuat sarapan." Ujarnya sambil berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
Fredian membenamkan kepalanya di leher Irna dengan sengaja. Membuat suhu tubuh Irna semakin meningkat.
"Akh!" Irna memekik karena Fredian menggigit kecil lehernya.
"Fred, kita sudah bukan suami istri lagi. Jadi ini, tidak boleh begini..."
"Apa kamu mengatakan surat ini? apakah aku sudah menandatangani atau belum coba kamu lihat lagi Istriku!" Membuka selembar surat cerai tiga tahun lalu di depan wajah Irna.
"Tiga tahun aku menunggumu pergi bersama Rian dan ketika kamu bersamanya aku akan menandatangani ini."
"Kenapa kamu tidak menandatanginya? bukankah kamu tidak ingin melihatku lagi sejak saat itu?" Irna mendongak menunggu jawaban.
"Aku masih ingin melihatmu walaupun kamu sudah menusuk jantungku dengan sebilah pisau, aku menghargai keputusanmu untuk memilih pergi bersamanya."
"Tapi melihatnya sama terpuruknya denganku dalam tiga tahun ini, aku jadi tahu jawabannya tanpa bertanya padanya atau padamu."
"Kamu masih Istriku!" Mencium bibir Irna, dan mengulumnya.
"Akh, jangan sentuh itu!" Menahan tangan Fredian yang sudah berada di balik roknya.
"Jangan berisik atau Alfred akan terbangun." Irna menahan dada Fredian saat ingin menindih tubuhnya.
"Kenapa semuanya tidak boleh?" Ujar Fredian tidak sabar kemudian mengangkat tubuh Irna ke kamar yang berada di sebelah.
Bersambung....
__ADS_1