
"Ah tidak mungkin seperti itu, aku pasti terlalu banyak melamun." Ujar gadis itu menarik kata-katanya kembali.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaan di kantor, Irna bergegas ke apartemen Dion mengendarai mobilnya.
Dia bertanya-tanya dalam hatinya ada acara apa di pesta itu. Lagi pula dirinya bukan orang yang penting dan harus menghadiri acara semacam itu.
Saat sampai di halaman apartemen milik Dion Irna segera memarkirkan mobilnya. Gadis itu menaiki lift untuk sampai di apartemen pria itu.
"Dion belum pulang, dia bilang ada pertemuan keluarga? aku mandi dulu." Ujar Irna setelah masuk ke dalam apartemen pria itu.
"Gaun ini lumayan nyaman." Irna menyisir rambutnya di depan cermin. Sambil mematut gaun yang sudah disiapkan oleh Dion di sana.
Suara bel pintu berbunyi. Irna pikir itu adalah Dion yang sudah menunggu di depan apartemen miliknya, dan dia merasa sedikit aneh kenapa pria itu tidak langsung masuk malah memencet tombol bel pintu.
"Klek" Irna membuka pintu, saat matanya mendongak dia sangat terkejut melihat siapa yang datang.
Itu kedua kalinya dia bertemu dengan pria itu, awal saat pesta pertunangan dirinya dengan Dion. Namun mereka juga tidak pernah bertegur sapa.
Pada saat acara pesta pria itu hanya melihat dirinya dari kejauhan sambil menikmati minuman yang berada di tangannya.
Laki-laki itu tiba-tiba masuk ke dalam apartemen yang di tinggali Dion begitu saja, tanpa menunggu ijin dari Irna.
Irna merasa tidak nyaman karena apartemen itu bukan miliknya tapi milik Dion, Irna berdiri mengikuti pria itu. Bagaimanapun sekarang Dion sedang tidak ada di sana.
Pria tersebut dengan santai menuang air minum, kemudian duduk di ruang tengah. Dia tersenyum melihat Irna terus mengawasinya. Gadis itu berdiri agak jauh darinya, bersandar di dinding.
"Kamu tidak mengenalku?" tanyanya pada Irna. Dia tersenyum memandang wajah hawatir di depannya. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Irna. Wajahnya terlihat tidak nyaman karena keberadaan dirinya yang tiba-tiba di sana.
"Tentu saya tahu, anda adalah paman dari tunangan saya." Ujar Irna masih berdiri agak jauh tanpa ingin mendekati pria itu. Irna berpegangan pada sandaran kursi yang ada di depannya berdiri.
Reynaldi melihat Irna dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia berjalan mendekat ke arahnya. Menyentuh gaun yang dikenakan olehnya.
Irna berjalan mundur selangkah agak menjauh darinya. Lalu dia mendekat sambil tersenyum berjongkok menyentuh gaun Irna.
"Gaun ini lumayan cocok untukmu, aku berharap kamu bisa membantuku." Ujar pria itu kembali tersenyum menatap wajah Irna.
"Apa yang bisa saya bantu?" Tanya Irna padanya sambil merapikan kembali rok gaunnya. Lalu menatap pria yang sedang berdiri di depannya.
"Jadi model untuk gaun rancanganku." Jawab pria itu, kemudian tanpa ragu meraih tangan Irna. Dia tersenyum mengagumi wajah cantik alami di depannya.
Pria itu memutar tubuh Irna melihat gaunnya yang melekat pada tubuhnya. Irna bingung apa yang dilakukan pria ini padanya.
"Jika tidak terbentur dengan jadwal pekerjaan, saya akan senang hati membantu anda." Gadis itu menundukkan badan dengan hormat kepada pria yang berstatus paman Dion itu.
"Kalau begitu mari berangkat." Ajak Reynaldi sambil mengulurkan tangannya pada Irna.
"Tapi bukannya saya harus berangkat dengan tunangan saya?"
Tanya Irna lagi bingung kenapa pria itu mengajaknya berangkat bersama ke pesta. Irna tidak ingin terjadi kesalah pahaman hingga menjadi masalah lagi baginya.
Sudah cukup sulit dan pelik dia begitu malas jika harus terus menerus terlibat persoalan baru.
"Hem.. dia sudah menunggu di pesta." Ujarnya santai sambil tersenyum melihat wajah Irna yang masih bimbang. Apakah akan pergi dengan dirinya atau menunggu Dion.
"Dasar Dion! kenapa tidak bilang kalau kita harus berangkat terpisah???!" Umpat Irna kesal.
Mau tidak mau Irna memaksakan sebuah senyuman. Menyambut uluran tangan Reynaldi. Mereka keluar dari dalam apartemen menuju ke parkiran.
Sepanjang jalan Irna melihat pria di sebelahnya itu terus mencuri pandang padanya. Irna sedikit merasa jengah dan tidak nyaman.
Reynaldi terus tersenyum melihat wajah jengkel Irna yang mungkin terus mengumpat dirinya di dalam hatinya.
"Demi siapa aku melakukan semua ini?! benar-benar buang waktu! sungguh sia-sia!" Umpat Irna lagi dalam hati. l
Sepanjang jalan di dalam mobil Irna termenung dalam diam, Irna mengusap lengannya yang terasa dingin. Gaun yang Irna kenakan menampilkan bahu dan separuh dadanya.
Kulit mulusnya terpapar di depan mata Reynaldi sejak awal pria itu bersamanya.
Reynaldi membuka jasnya, menutup bahu Irna dengan jas yang ia kenakan.
"Dingin ya..?" Tanya Reynaldi sembari tersenyum menatap Irna.
"Hem.." Irna membalas senyumannya dengan kaku.
Sesampainya di depan rumah besar keluarga Anggara. Reynaldi memberikan lengannya agar Irna menggamitnya masuk ke dalam bersamanya.
__ADS_1
Namun tiba-tiba ponsel Irna berdering.
"Triiing! Em saya angkat telepon dulu sebentar." Ujar Irna permisi pada pria di sebelahnya sambil memaksakan sebuah senyuman.
Reynaldi menggelengkan kepala tanda tidak setuju, dia tidak bisa menunggunya. Irna sangat terkejut melihat Reynaldi menolak dia saat ingin mengangkat ponselnya.
Irna kembali melihat teleponnya,
"Dion?"
Suara Irna membuat marah Reynaldi. Pria itu dengan agak keras menarik tangan Irna ke dalam ruangan pesta. Dia tersenyum penuh misteri.
"Apa yang anda lakukan?" Tanya Irna masih bingung dengan sikap pria itu.
"Saya sengaja merancang gaun ini khusus untuk seorang Irna Damayanti."
Reynaldi mengecup punggung tangan Irna menatap wajah Irna dengan tatapan yang sulit didefinisikan.
"Astaga!" Irna segera menarik tangannya dari genggaman Reynaldi. Dengan setengah berlari menuju ke toilet.
"Halo Dion! apa sih yang terjadi ini?! kenapa pamanmu yang menjemputku?" Tanya Irna terburu-buru takut Reynaldi menyusulnya masuk ke dalam toilet.
"Ah sial!" Umpat Dion dari telepon sambil memukul kemudi.
"Apanya yang sial??" Tanya Irna kembali padanya. Irna tidak mengerti mengapa Dion malah merasa kesal.
"Untuk sementara kamu tenang di sana, tunggu aku!" Tambah Dion pada Irna, semakin membuat pikiran Irna kacau karena ternyata dia dibohongi oleh Reynaldi yang mengatakan bahwa Dion sudah menunggunya.
"Kamu masih lama gak?" Tanya Irna dengan suara gusar, sambil menggigit ujung ibu jarinya.
"Ini sudah di jalan, tadi aku ke kantor dulu. Tiba-tiba paman bilang mau jemput kamu. Jadi aku buru-buru pulang." Jelasnya pada Irna.
"Lalu maksudnya bagaimana, hubungan kalian baik-baik saja bukan?" Tanya Irna lagi.
"Baik, cuma..."
"Cuma apa??!" Irna tidak sabar dan pemasaran dengan yang terjadi.
"Cuma, pasti bikin kamu repot, dia tertarik padamu, untuk dijadikan model baju-bajunya!" Jelas Dion pada Irna.
"Cara melihat seperti ingin menelan, aku jadi sedikit hawatir." Bisik Irna setelah mengakhiri panggilan telepon.
"Sinar matanya dingin, sedingin binatang buas menunggu untuk menerkam mangsanya ketika sedang sendiri." Ujar Irna melukiskan seorang Reynaldi.
Irna berdiri di depan cermin menopang kedua telapak tangannya pada westafel sambil menatap wajahnya di pantulan cermin.
"Bagaimanapun aku harus menghadapinya! aku tidak boleh lengah!" Ujar Irna mengepalkan jemari tangannya bersiap menghadapi apapun yang ada di depannya.
Perlahan Irna keluar dari dalam toilet. Reynaldi sudah berdiri di depan pintu tangan kanannya memegang segelas anggur merah.
Dalam bayangan Irna, di gelas tersebut bukanlah anggur, melainkan darah. Mendadak nafasnya terasa tercekat.
Gadis itu sedikit gugup kesulitan bernafas menelan ludah. Matanya terpaku menatap pria yang ada di depannya yang telah menunggunya sejak tadi.
Mata nyalangnya menatap ke arahnya seolah dia adalah santapan lezat. Irna memejamkan matanya perlahan mengatur kembali nafasnya.
Apalagi saat itu semua orang sedang sibuk di dalam pesta, jadi sangat sepi hanya ada dia dan Reynaldi.
"Apa yang harus aku lakukan? rasanya canggung sekali. Apakah aku harus menyapanya, atau bagaimana? Tatapannya itu." Irna merasakan detak jantung di dalam dadanya yang semakin cepat.
Reynaldi menenggak anggurnya sampai habis, kemudian memegang bahu kiri Irna yang mematung di sana dengan tangan kanannya.
"Apakah kamu takut padaku? wajahmu terlihat pucat." Bisiknya di telinga Irna sambil menyentuh pipinya dengan punggung jari telunjuknya.
Irna melengos ke samping, menjinjing rok panjangnya berjalan meninggalkan Reynaldi.
"Aroma tubuhnya harum sekali." Reynaldi mengendus bekas tempat dimana Irna berdiri tadi.
Irna berlari kecil masuk ke dalam kerumunan tamu. Dia mencoba menghindari Reynaldi, dia tidak ingin terlibat dengan pria misterius itu lebih lama.
"Irna mengambil segelas air putih dan langsung menenggaknya sampai habis.
Dion nampak baru masuk, pandangan matanya menyapu seluruh ruangan mencari Irna.
Irna melambaikan tangannya tinggi-tinggi untuk memanggilnya.
__ADS_1
Dion berjalan menuju ke arahnya dengan berjalan cepat.
"Pertemuan keluarga ini, bukanlah pertemuan keluarga biasa. Sepertinya sekaligus pertemuan antar pembisnis antar keluarga besar?" Ujar Irna dalam hatinya sambil melihat sekeliling.
"Apa terjadi sesuatu? wajahmu terlihat sangat pucat." Tanya Dion sambil duduk di samping Irna.
"Ah, tidak ada apa-apa. Mungkin karena kakiku sedikit kram." Jawab Irna asal saja sambil tersenyum.
Reynaldi menatap Irna dan Dion dari kejauhan. Pandangan mata Reynaldi tak lepas dari menatap wajah Irna.
"Kenapa kamu tidak berangkat bersamaku tadi? Kenapa pamanmu berbohong padaku? Dia bilang kamu sudah menungguku di sini!" Jelas Irna merasa tidak terima karena ditipu begitu saja oleh paman Dion.
"Paman memang suka bercanda, jangan terlalu serius." Ujar Dion santai sambil tersenyum menatap wajah Irna yang merasa tidak nyaman karena ulah Reynaldi padanya.
"Aku tinggal menemui para tamu sebentar, jika kamu butuh sesuatu katakan pada pelayan." Dion berdiri meninggalkan dirinya duduk sendiri.
"Apakah dia berpura-pura, lalu menjadikanku umpan serigala!!!? beraninya kamu! aku sudah berusaha membantumu menyelesaikan urusan perjodohan. Lebih baik aku pergi dari sini!" Irna kemudian berdiri dengan geram.
Dia tahu Dion sedang sengaja mengerjainya, dia tahu pria itu pasti sangat kesal karena telah ditolaknya berkali-kali dan kini adalah saatnya dia membalas perbuatan Irna padanya.
Irna tidak ingin berlama-lama di sana, perasaannya sudah semakin tidak nyaman.
Seseorang menekan kedua bahunya, agar duduk kembali. Melihat jemari yang menekan bahunya itu mendadak tubuh Irna jadi membeku.
Pria tersebut meletakkan segelas anggur merah di depan Irna. Mengisyaratkan agar dia meminumnya.
"Maaf saya alergi alkohol." Tolak Irna dengan sopan sambil pura-pura tersenyum.
Reynaldi duduk di depan Irna, terus menatap tajam. Membuat Irna merasa jengah dan risih.
"Saya kurang enak badan, saya permisi dulu." Pamitnya pada Reynaldi sambil membungkuk padanya.
"Kamu memang hobi melarikan diri ya?" Sahut Reynaldi menahan lengan Irna, membuat langkah gadis itu tiba-tiba terhenti.
"Apa maksud anda? saya tidak mengerti." Ujar Irna seraya menurunkan genggaman pria itu pada lengannya. Tapi dia tidak mau melepaskan genggaman tangannya. Malah semakin erat menggenggam lengannya.
"Duduklah, kita bicara sebentar." Reynaldi mendorong tubuh Irna untuk kembali duduk.
Irna mengernyitkan keningnya menatap wajah Reynaldi. Pandangan matanya tiba-tiba terasa sedikit kabur.
"Apa yang terjadi, ada yang salah dengan air putih itu?" Tiba-tiba tubuh Irna limbung dan tumbang jatuh ke lantai.
Ketika sadar Irna sudah berada di atas tempat tidur, Irna melihat sekelilingnya dan dia tidak menemukan siapapun. Irna beranjak duduk masih terus menatap sekelilingnya.
"Sepertinya ini adalah sebuah rumah mewah, tapi bukan milik Dion, bajuku siapa yang menggantinya?" Tanyanya kebingungan karena sudah berganti pakaian yang lain.
Seribu pertanyaan terlontar dalam pikirannya. Dia tidak mengerti kenapa bisa tiba-tiba berada di tempat yang sama sekali belum pernah dia singgahi.
Dia juga tidak tahu siapa yang telah memindahkan tubuhnya. Terakhir kali dia mengingat dia sedang duduk di tengah pesta keluarga Dion.
Dia duduk sedang berbicara dengan Reynaldi, dan kemudian dia jatuh hingga tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.
Irna beranjak berdiri berjalan ke luar dari kamar, rumah ini sangat luas dan megah. Terdengar debur ombak sayup-sayup. Awalnya Irna berfikir itu hanyalah suara televisi.
Tapi angin yang masuk melalui daun jendela begitu nyata di depan matanya. Dan juga suara burung tengah berterbangan di luar rumah megah itu.
Irna berlari membuka pintu. Dia terkejut melihat pemandangan yang ada di depan matanya itu.
Pemandangan alam yang sangat indah tapi malah membuatnya ketakutan dan kebingungan setengah mati.
Langit biru terbentang cerah di depan matanya, beberapa pohon kelapa tumbuh menjulang di depan rumah tersebut. Dan samudera luas yang tidak terlihat di mana tepinya.
Samudera terbentang bersama riuh ombak berkejaran tertiup angin. Rambut panjang Irna menari-nari terbuai hembusan angin yang berasal dari luar rumah megah itu.
Gaunnya meriap kesana-kemari mengikuti arah angin. Burung bangau riuh mematuk ikan di tepi pantai. Dan yang lain berterbangan di atas permukaan laut.
"Rumah ini di kelilingi lautan???? siapa yang membawaku kemari?!" Irna berteriak dengan histeris. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dia benar-benar merasa putus asa selain dirinya sendiri dia tidak menemukan siapapun di depan matanya.
Dia berfikir sedang di jual pada bajak laut atau semacamnya.
"Tapi kenapa rumah ini begitu megah dan bukan seperti rumah bajak laut?" Ujar Irna sambil menatap rumah itu dari luar.
Rumah tersebut terletak di sebuah pulau kecil di tengah laut.
__ADS_1
bersambung...