
"Apa maksudmu dengan ucapan barusan?!" Mata gadis itu mulai menyala merah berkilat-kilat menahan kemarahannya.
"Kenapa? kamu takut aku mencelakainya? tidakkah kamu berfikir jika suamimu sebenarnya lebih kuat dari dugaanmu? bagaimana jika dia berpura-pura lemah selama ini demi mendapatkan dirimu? bagaimana jika dia bahkan lebih kejam dariku?" Pertanyaan Wilson benar-benar membuat Irna tidak bisa menahan lagi dirinya.
Gadis itu segera melompat menerjang Wilson, saat dia hendak menghujamkan kukunya di atas leher pria itu, Wilson segera berkata.
"Apakah kamu tidak ingin menemuinya? bagus bunuhlah aku, maka kamu tidak akan pernah bisa menemukan keberadaan dirinya lagi." Menyeringai menatap wajah Irna.
Irna terduduk lemas di lantai, dia ingin menghabisi nyawa Wilson saat ini. Tapi pria itu sedang menahan suaminya.
"Suami tampanmu, tidak sebaik dugaanmu!" Ujarnya lagi sambil tersenyum sinis.
"Dia merebutmu di belakangku, dan dia juga yang melakukan semua kejahatan lalu melempar padaku semua kesalahan yang telah dilakukannya."
"Hentikanlah omong kosongmu itu! aku sama sekali tidak akan mendengarkan ucapanmu!" Irna bergegas mengambil mantelnya dan pergi keluar dari dalam kamarnya.
"Apa kamu tidak ingin bertemu dengan suamimu?" Tanyanya lagi sambil melesat menghadang di depan pintu.
"Apa kamu pikir aku tidak tahu isi kepala kotormu? kamu ingin menukar diriku dengan kebebasan suamiku? hahahaha! mimpi saja sana!" Ujar Irna lalu gadis itu menjentikkan jarinya, lenyap dalam sekejap mata.
Irna mencari keberadaan Fredian, dan dia menemukannya beberapa menit kemudian. Pria itu berada di sebuah dek kapal di tengah lautan.
Irna mendapatinya sedang pingsan.
"Fredian? bangun! kamu harus bangun!" Irna mengguncangkan bahu pria itu.
Dia sudah tidak bisa menunggu lagi dan segera membawanya ke NGM menemui Rian.
Irna membaringkan tubuhnya di kamar rawat, lalu mendatangi Rian di ruang kerjanya. Pria itu tidak berada di sana. Irna kemudian kembali menemani suaminya di dalam kamar rawat.
"Kemana perginya pria itu?" Irna kebingungan mondar-mandir di sebelah Fredian berbaring.
"Haruskah aku menghubunginya? ya aku harus menghubunginya." Gumamnya lalu hendak melangkah keluar dari dalam ruangan tersebut.
Tiba-tiba Fredian menggenggam tangannya menghentikan dirinya agar tidak pergi.
"Kamu sudah sadar?" Irna berbalik sambil menggenggam tangannya.
Pria itu terbatuk-batuk sambil berusaha bangkit dari tempat tidurnya.
"Apa yang kamu lakukan? berbaringlah dahulu. Kondisimu sedang tidak baik sekarang." Ujarnya sambil kembali membantu suaminya tidur kembali.
"Apa yang dikatakan Wilson padamu?" Tanyanya pada Irna, Fredian menatap wajahnya lekat-lekat tanpa sebuah senyuman lembut yang biasa dilihatnya.
"Tidak ada yang dia katakan padaku." Irna mencoba bersikap senetral mungkin.
"Bawa aku pulang sekarang, tidak ada gunanya menunggu di sini. Rian tidak akan ke NGM dia mendadak terbang ke Jerman malam ini bersama Arvina." Jelasnya pada Irna.
Irna menurut dan membawanya kembali pulang ke rumah Fredian.
Irna membawakan air hangat untuk mengompres keningnya karena tubuh suaminya terasa sedingin es.
Fredian hanya melihat dan mencermati semua yang dilakukan oleh Irna.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? apa ada yang salah?" Tanyanya sambil menatap wajah Fredian.
"Kenapa kamu tidak jujur padaku?" Tanyanya lagi sambil menarik tangan Irna.
"Apa maksudmu?" Tanya gadis itu tidak mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya.
"Kamu mulai meragukanku, Wilson pasti mengatakan semuanya tentangku. Apa kamu berniat pergi dengannya dan meninggalkanku?" Tanyanya lagi.
"Tidak, aku akan tetap menemanimu. Aku akan tetap berada di sisimu. Aku akan tetap tinggal bersamamu." Irna kembali tersenyum melihat mata Fredian mulai berkaca-kaca.
Pria itu meraihnya dalam pelukannya, sambil mengusap rambut Irna yang terurai di atas punggungnya.
"Aku takut sekali kamu pergi meninggalkanku." Bisiknya lagi di telinga Irna.
"Tidurlah, sudah malam, jangan berfikir yang bukan-bukan." Irna segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Apakah kamu bisa berjanji padaku sekali lagi?" Tanyanya pada Irna, wajah Fredian terlihat sangat serius.
Irna menganggukkan kepalanya dan meremas jemari tangannya untuk meyakinkan bahwa dia tidak akan pergi meninggalkannya.
"Apapun yang terjadi, kamu tidak boleh pergi dariku." Ujarnya lagi sambil merebahkan kepalanya di atas bahu Irna.
Irna membantu pria itu kembali berbaring di atas tempat tidurnya. Dia melangkah menuju ke kamar mandi setelah melihat Fredian menutup matanya.
Saat sampai di dalam kamar mandi tiba-tiba mata Fredian kembali terbuka. Mata itu berubah merah berkilat-kilat. Pria itu melangkah menuju ke kamar mandi dimana Irna sedang berendam.
__ADS_1
Irna merasakan derap langkah kaki menuju ke arahnya. Secepat kilat gadis itu menyambar baju mandi untuk menutupi tubuhnya dan menghilang.
Gadis itu muncul kembali di belakang punggung Fredian. Fredian menyadari Irna sudah berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Selamat datang suamiku, apa yang mengganggumu hingga kamu bangun dari tidurmu yang lelap?" Irna masih tetap tersenyum lembut seperti biasanya.
Fredian berbalik menatap wajah Irna, Irna tahu suaminya itu telah berubah. Ramuan penahan dalam tubuhnya telah melebur seiring waktu.
Vaksin Rian yang berhasil merubah dirinya menjadi manusia normal yang tidak akan berubah menjadi setengah monster pada saat bulan purnama. Vaksin tersebut bereaksi karena masih ada ramuan penahan yang ada di tubuh Fredian.
Karena Fredian pernah menceritakan dirinya dan Wilson adalah saudara kembar. Baginya melihat keadaan Fredian sekarang ini bukanlah hal yang mengejutkan.
"Apa kamu tidak terkejut melihatnya?" Tanyanya pada Irna.
Irna melangkah mendekat dan memeluknya dengan erat.
"Kenapa? apa yang membuatku takut? apakah kamu menginginkan darahku?" Tanya Irna lagi.
"Tidak, tapi aku tidak ingin kamu melihatku yang seperti ini." Ujarnya lagi sambil menutupi matanya yang merah menyala.
Irna tersenyum sambil mengibaskan telapak tangannya di depan wajah Fredian.
"Kita pasangan yang sangat serasi! berhentilah berfikir seperti itu!" Irna melangkah menuju ke atas tempat tidurnya.
"Kamu bahkan mengabaikanku yang sudah seperti ini?" Fredian berteriak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Lalu aku harus bagaimana? merubahmu menjadi manusia lagi? aku sendiri saja tidak bisa merubah diriku yang tiba-tiba jadi seperti ini." Gerutunya sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Apa kamu tidak takut aku bisa menggigitmu sewaktu-waktu?" Tanyanya lagi pada Irna sambil berjongkok di tepi tempat tidurnya.
"Kalau mau gigit ya sudah gigit saja! apa sulitnya?!" Memutar tubuhnya memunggungi Fredian.
"Gadis ini! kenapa jadi menyebalkan sekali!" Keluhnya kesal lalu ikut berbaring di sebelahnya.
Irna tersenyum mendengar ucapan Fredian yang terus mengeluh sepanjang malam.
Irna terjaga di pagi hari, dia mendengar suara ribut di beranda samping rumah Fredian. Irna segera melangkah ke sana membuka pintu.
Dia melihat Fredian sedang sibuk bertengkar dengan Wilson.
"Huaaah! kalian pagi buta kenapa ribut-ribut?" Tanyanya sambil menguap menatap mereka berdua.
Melihat tatapan mata mereka berdua Irna sudah tahu apa yang membuat mereka bertengkar.
Irna bersiap-siap menuju ke rumah sakit tempat dia bekerja. Dia masih melihat Fredian dan Wilson di samping rumah. Rambut mereka berdua acak-acakan dan darah mengalir dari sudut bibir dua pria kembar itu.
"Kalian kurang kerjaan? apa kalian berniat bertempur sepanjang waktu? Fred, Antoni menghubungimu katanya kamu ada meeting pagi ini! dan kamu Wilson pulanglah, aku tidak akan membiarkan kamu mengganggu waktuku." Ujarnya sambil naik ke dalam mobilnya.
Mendengar ucapan Irna Fredian segera masuk ke dalam rumah meninggalkan Wilson berdiri di sana.
"Sialan!" Umpat Wilson lalu pria itu satu detik kemudian menghilang.
Fredian bergegas menuju Reshort, dia segera masuk ke dalam ruangan meeting. Fredian memakai kacamata hitam untuk menutupi warna merah pada kornea matanya.
"Ini Presdir berkasnya." Antoni menyerahkan berkas pada Fredian.
Pria tampan itu memulai percakapan di dalam pertemuan tersebut membahas berbagai hal untuk memajukan dalam bisnis Reshort miliknya.
Para pemegang saham mulai manggut-manggut memahami semua yang diulas secara detail oleh Fredian.
Tak lama kemudian pertemuan tersebut sudah berakhir kurang lebih selama dua jam.
"Presdir, ada seseorang yang ingin menemui anda." Ujar Antoni padanya, wajah Antoni terlihat tidak baik.
"Apa ada masalah?" Tanyanya pada sekretarisnya itu.
"Ini sebetulnya bukan masalah besar, tapi pria itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan anda." Ujarnya lagi dengan sedikit takut.
Fredian menepuk bahu Antoni dan keluar dari ruangan meeting tersebut.
Fredian melihat Wilson sudah menunggunya di lobby hotel tersebut.
"Kamu tidak terkejut melihatku?" Tanyanya pada Fredian.
"Untuk apa? aku bukan tipe orang yang akan terkejut dengan hal-hal kecil seperti ini." Dengan sangat santai duduk di depannya.
"Aku terkejut ketika karyawan hotelmu memanggilku dengan sebutan Presdir." Wilson menyeringai menatap wajah Fredian.
Wilson kemudian berdiri di sebelahnya sambil berjongkok.
__ADS_1
"Bagaimana jika keluarga Derrose yang kamu puja-puja itu mengetahui bahwa yang menghabisi para pengasuh bertahun-tahun lalu sebenarnya adalah kamu??!" Bisik Wilson di telinga Fredian.
"Hahahaha! coba saja kamu buktikan?!" Ujar Fredian sambil tersenyum.
"Kejahatan yang kamu lakukan aku pastikan akan terungkap tidak lama lagi!" Geram Wilson sambil meremas bahu Fredian.
"Kamu ingin mengungkapkan kejahatan yang mana? apa tentang pernikahanku dengan pacar masa kecilmu, dia sangat mencintaiku dan dia sekarang sangat jijik melihatmu!? atau tentang pembunuhan para pelayan itu?" Melirik Wilson yang masih berdiri di sebelahnya.
"Dasar brengsek! kamu pria kejam yang merenggut segalanya dariku!" Geramnya lagi.
"Astaga! kamu masih tetap menyalahkanku? kenapa kamu menghilang lama sekali? dan kamu menyalahkanku saat aku menyelamatkan mantan kekasihmu dari serbuan mahluk suruhanmu itu?"
"Aku merawatnya sepanjang waktu! sejak awal melihat dirinya aku telah jatuh cinta dengannya!" Jelasnya sambil menatap wajah saudara kembarnya itu.
"Kenapa kamu membuka paksa segel di dalam tubuhku?" Tanya Fredian lagi.
"Bukankah ini dirimu yang sebenarnya, aku hanya memutuskan benang ramuan yang berada di dalam tubuhmu. Aku tidak menyangka jika akan secepat ini berubah!" Ujar Wilson tanpa rasa bersalah sama sekali dan berlalu menuju ke arah parkiran.
Irna sedang berada di dalam ruangan kerjanya, Dark duduk di sebelahnya sambil mencermati lembaran berkas di tangannya.
"Kapan kamu mengenal ayahku?" Cetusnya tiba-tiba.
"Mungkin saat usiaku lima tahun." Jawab Irna singkat.
"Apa kalian saling mencintai waktu itu?!" Tanyanya lagi masih penasaran dengan hubungan antara Irna dengan ayahnya.
"Hem." Irna tersenyum sambil menandai dengan bolpoin pada tulisan dalam lembaran kertas di atas meja.
"Kenapa kamu malah menikah dengan Fredian? bukan dengan ayahku?" Tanyanya lagi masih tidak mengerti.
"Itu sangat rumit, dan jika aku jelaskan padamu kamu mungkin juga tidak akan mengerti." Ujarnya tanpa menoleh sama sekali.
"Dokter Kaila anda harus pergi ke lokasi kejadian pembunuhan, kami memerlukan anda untuk melihat tempat kejadian." Ujar seorang polisi muda yang menerobos masuk tiba-tiba ke dalam ruangan kerjanya.
"Siapa yang menyuruhmu kemari?" Tanyanya santai masih belum beranjak dari tempat duduknya.
"Itu komisaris Alfred." Ujarnya sambil mengatur nafasnya.
"Ini alamatnya." Pria itu meletakkan alamat kejadian di atas meja kerjanya.
Irna melihat alamat tersebut lalu melemparkan senyum ke arah Dark.
"Aku?!" Dark menunjuk dirinya dengan telunjuknya.
Irna hanya mengangguk dan mengisyaratkan agar bawahannya itu mengikuti polisi muda tadi.
Dark segera membawa tas yang berisi peralatan dan mengikuti polisi muda itu pergi keluar dari ruangan Irna.
Satu detik kemudian Irna sudah berada di lokasi kejadian, dia berdiri di sebelah Alfred.
"Mutilasi?" Irna membuka tutup koper berwarna merah muda di bawah jembatan. Mayat laki-laki, seluruh organ tubuhnya terbelah menjadi beberapa bagian.
Organ tubuh tersebut dikemas pada sebuah koper dan mayatnya ditemukan di bawah jembatan.
"Pelaku sengaja membungkus mayat di dalam koper, untuk mempermudah proses pembuangan mayat serta menghilangkan jejak." Gumam Irna sambil melihat putranya yang sedang berdiri di sebelahnya.
"Triiiing! triiing!" Ponsel Irna tiba-tiba berdering nyaring di dalam sakunya. Irna segera melepaskan kaos tangan sintetis dari kedua telapak tangannya.
"Ada apa Fred? aku pikir kamu masih meeting siang ini." Ujar Irna sambil membuang kaos tangan tersebut pada tempat sampah.
"Sudah selesai." Ujarnya pendek.
"Hem? apa ada masalah? suaramu terdengar lain dari biasanya." Irna mencoba menebak apa yang ada di dalam pikiran suaminya itu.
Irna melangkah perlahan-lahan menuju mobilnya, gadis itu masih mendengarkan suara Fredian melalui ponselnya.
Tak lama setelah itu Irna melihat bayangan seseorang. Dia berdiri dari kejauhan melihat penyelidikan tersebut.
Orang tersebut mengenakan masker untuk menutupi wajahnya.
"Bisakah kita bertemu siang ini?" Pinta Fredian dari seberang.
"Ya, setelah ini aku akan pergi menemuimu." Irna kemudian menutup teleponnya. Gadis itu menggaruk keningnya, dia masih melihat seseorang yang berdiri bersama kerumunan massa.
"Alasan kenapa tersangka memutilasi korban, yang pertama karena dia sangat membencinya, hingga dia merasa tidak cukup jika hanya membunuhnya. Dan kedua karena dia takut mayat tersebut diketahui oleh orang lain." Jelas Irna saat Alfred menghampirinya.
"Apakah mama tahu ciri-ciri pelaku pembunuhan ini?" Tanyanya lagi sambil menahan pintu mobil ibunya.
"Kemungkinan terbesar dia seorang wanita, dan wanita itu akan sering datang kemari. Kamu akan menemukannya tidak lama lagi setelah menginterogasi beberapa orang yang berkunjung di sini."
__ADS_1
"Papamu menunggu, Mama akan pergi dulu. Jika ada yang ingin kamu bicarakan lagi, nanti bisa datang langsung ke rumah." Irna tersenyum sambil naik ke dalam mobilnya.
Bersambung...