
Angannya tentang suaminya kembali melintas, membuat Irna mengepalkan tangannya penuh amarah.
Irna mengambil data pasien yang harus diperiksanya hari itu, kemudian melangkah menuju ruangan ICU. Sangat kebetulan ketika dia masuk ke dalam ruangan Rian berada di sana bersama seorang asistennya Sarah.
Mereka terlihat begitu dekat, bahkan Rian tersenyum bercanda dengannya. Entah itu disengaja olehnya atau tidak untuk menunjukkan hal itu pada Irna, Irna masih tidak tahu.
Melihatnya demikian Irna segera masuk ke balik tirai tempat pasiennya sedang terbaring. Dia mulai memeriksanya, lalu mencatatnya di dalam berkas daftar pasiennya.
Ada sekitar lima pasien yang harus diperiksanya saat itu. Setelah menyelesaikan pasien yang satu, Irna masuk ke tirai berikutnya memeriksa pasien yang ke dua.
Irna ditemani Erlani salah satu dokter residen. Gadis itu yang membawakan berkasnya. "Dokter, Sarah sejak dulu menyukai Presdir Rian." Ucap Erlani padanya.
"Apa hubungannya denganku?" Irna tersenyum mendengar ucapan gadis di sebelahnya, dia masih sibuk memeriksa pasiennya.
"Dokter tidak marah? bukankah Presdir suami anda?" Mulai penasaran dengan sikap cuek Irna.
"Bukan, pria itu bukan suamiku." Dengan santainya Irna keluar dari ruangan ICU, meninggalkan Erlani yang terbengong sambil membekap mulutnya sendiri.
Rian berada di tirai paling akhir memeriksa pasiennya, dia mendengar semua ucapan Irna barusan. Pria itu hanya tersenyum tipis. Tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang, entah sedih dan sakit hati sekali. Pria itu sudah tidak menunjukkannya.
Dan Irna tahu Rian masih mencuri dengar, dia tidak peduli lagi. Sama sekali tidak peduli. Irna kembali ke dalam ruangan kerjanya, gadis itu menyeduh secangkir kopi kemudian meletakkannya di atas meja.
Dia duduk di sofa ruang kerjanya, mendongakkan kepalanya menatap langit-langit ruangan. Pikirannya benar-benar rumit, dia terus saja dicemburui oleh suaminya, dan Rian juga benar-benar telah keluar dari garis yang selama ini dibuat olehnya sendiri. Semua janjinya sudah dia lepaskan begitu saja.
Dua orang terdekatnya perlahan-lahan mengambil jarak, menjauh karena pikirannya masing-masing. Irna tidak bisa berbuat apapun. Dia juga sudah sekuat tenaga menjelaskan semuanya pada suaminya.
Tapi sepertinya Fredian masih terus-terusan curiga dan tidak bisa mempercayainya lagi. Irna terlalu lelah, gadis itu terlalu lelah memikirkanya.
"Tok! tok! tok!" Terdengar suara ketukan pintu ruang kerjanya.
__ADS_1
"Masuklah." Irna masih memejamkan matanya seraya mendongakan kepalanya.
"Sudah waktunya operasi dimulai, aku tidak akan mentolerir dokter yang melakukan kesalahan saat operasi! apalagi terlambat!" Ujarnya seraya melemparkan berkas di atas meja di depannya.
Mendengar itu Irna segera beranjak berdiri, mengambil berkas tersebut dan keluar meninggalkan pria itu berdiri di sana.
"Hah! dia begitu otoriter sekarang! menyebalkan sekali!" Gerutu Irna seraya melangkah menuju ruangan operasinya. Dia tidak peduli Rian mendengar teriakannya atau tidak. Pria itu melangkah santai di belakang punggungnya.
Irna masuk ke ruang ganti, mulai mengganti bajunya. "Mengumpat atasan juga termasuk pelanggaran! dan itu bisa dituntut karena pencemaran nama baik. Apa anda lupa posisi anda dokter Kaila?!" Ujar Rian sambil menahan kedua tangannya di sisi kanan-kiri Irna.
"Suasana macam apa ini! hahaha menyebalkan sekali! Iya tuntut saja, masukkan aku ke dalam penjara Presdir! aku juga sangat bosan sekarang! sepertinya penjara lumayan nyaman untuk aku tinggali!" Sambil berkata demikian Irna berusaha menarik lengan Rian dari sisi kirinya, tapi pria itu tidak bergeming sama sekali.
"Apakah pria ini mau balas dendam padaku sekarang?!" Gerutu Irna dalam hatinya.
Karena merasa tidak bisa berbuat apa-apa, Irna mematung bersandar pada loker bajunya, menatap wajah pria di depannya itu. Pria yang pernah menjadi suaminya, pria yang pernah sangat menyayangi dirinya.
Rian menatap wajah Irna lekat-lekat, kemudian mendengus. Lalu meninggalkan Irna dengan seribu pertanyaan masih bersarang dalam kepala gadis itu.
Irna menerima ajakan para timnya, dia juga bosan sekali berada di rumah, karena Fredian terus-menerus mengerjainya.
"Tolong berikan ini ke ruangan Presdir, aku akan bersiap-siap untuk pergi bersama kalian." Ujarnya sambil tersenyum.
Irna segera melangkah menuju ke ruangannya, rekan yang diminta untuk menyerahkan berkas tadi tiba-tiba menyerbu masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Dokter operasi dadakan! pres! Presdir meminta anda untuk menanganinya!" Ujarnya sambil terengah-engah.
"Dasar sialan!" Umpat Irna sambil melemparkan tasnya kembali lalu berlari secepat mungkin kembali ke ruang ganti.
"Apa dokter bilang? sialan? sejak kapan dokter Kaila Elzana jadi suka mengumpat?" Erlani menggaruk kepalanya yang tidak gatal, gadis itu bingung dengan perkataan Irna barusan.
__ADS_1
"Terlambat lima menit!" Ujar Rian saat Irna masuk ke dalam ruangan operasinya. Pria itu sudah menunggunya di sana dengan baju operasinya.
"Potong saja gajiku!" Timpalnya tak kalah pedas.
Irna terkejut karena hanya ada mereka berdua di dalam ruangan operasi, bertiga bersama pasien.
"Kemana para asisten? kenapa Presdir yang memakaikan baju operasiku? apakah hanya kita berdua yang menangani operasi ini?" Tanya Irna bertubi-tubi pada Rian.
"Dia salah satu dewan pemerintahan. Keluarganya tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun dalam proses operasinya." Jelas Rian sesingkat mungkin.
Mereka kembali bekerja sama menjadi satu tim, menangani operasi tersebut. Proses operasi berjalan selama tiga jam lebih. "Hah! akhirnya selesai juga!" Ujar Irna seraya melangkah menuju westafel untuk mencuci tangannya. Rian melangkah santai, pria itu juga menuju westafel untuk mencuci tangannya. Bersebelahan dengan Irna.
Irna mengeringkan tangannya, kemudian melangkah menuju ruang ganti. Saat Rian mengekor dibelakangnya, Irna buru-buru menghentikan langkahnya. Dan Rian hampir saja menabrak punggungnya. "Akh!" Pekiknya ketika keningnya membentur kepala Irna.
"Kenapa Presdir terus mengikutiku?!" Teriaknya pada Rian. Pria itu mengambil langkah di sebelahnya, mendahuluinya berjalan tanpa menjawab pertanyaan darinya, masih memijit-mijit keningnya karena benjol.
Irna geram sekali, gadis itu terus menggerutu sepanjang waktu. "Apakah aku terlambat di acara makan-makan? ah menyebalkan sekali." Irna mengambil tasnya, kemudian pergi keluar dari dalam ruangan kerjanya.
Saat di luar pintu asisten Rian sudah berada di sana. "Apa lagi? dia menyuruhmu apa? apa aku harus menjaga pasien selama dua puluh empat jam??!" Teriaknya kencang sekali. Irna benar-benar merasa sangat frustasi hari itu.
"Presdir meminta anda untuk mengawasi pasien, tiga jam sekali dokter. Karena pasien yang baru saja selesai operasi adalah pasien yang sangat penting." Jelasnya dengan wajah takut-takut sambil menyerahkan berkasnya.
Irna menghentak-hentakan sepatunya di lantai dengan kesal, lalu kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Sial! sudah jam berapa sekarang?" Irna melirik jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Seharian ini dia belum menghubungi Fredian, dia takut pria itu akan lebih marah lagi.
Irna menghela nafas panjang kemudian memberanikan diri untuk meneleponnya.
*Bersambung...
__ADS_1
Tinggalkan like sebelum pergi thanks for reading*...