Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Seribu ingatan


__ADS_3

Irna melihat botol kaca tempat salep tersebut, seperti ada yang bergerak saat dia mengguncang wadahnya.


"Apa dia berniat main petak umpet denganku, di usiaku sekarang?!"


Irna masih mengguncangkan botol tersebut di bawah sinar lampu ruangan.


Perlahan-lahan muncul huruf Yunani pada botol kaca tersebut, lalu beberapa detik kemudian menghilang.


"Rian, apakah kamu menyembunyikan sesuatu dariku selama ini?"


Irna menggenggam erat botol tersebut lalu kembali dimasukkan ke dalam sakunya, ketika salah seorang perawat mengetuk pintu ruang kerjanya.


"Ada apa?"


"Ah, itu ada seseorang yang mencari anda dokter. Dia bilang namanya Peter." Jelas perawat bernama Dila tersebut.


"Suruh dia masuk."


Dila mendatangi sosok pria bertopi fedora berwarna hitam.


"Dokter Kaila meminta anda masuk ke dalam ruangan kerjanya. Mari saya antar tuan." Tuturnya sopan.


Peter mencium aroma darah Dila, tiba-tiba dia menahan pergelangan tangan Dila saat lorong sepi.


"Tuan apa yang anda lakukan? saya akan mengantarkan anda ke ruangan dokter Kaila sekarang."


Dila melihat wajah tampan di depannya, wajah putih bersih dengan kumis tipis. Matanya biru kehijauan terasa begitu teduh, bagai bola hipnotis bagi siapapun yang memandangnya.


Irna di dalam ruangannya merasa tidak nyaman, lalu keluar menyusul asistennya tersebut.


Di lorong dia melihat Dila berada di dalam himpitan tubuhnya bersandar di dinding. Irna menggerakkan tangannya dari jarak seratus meter ke arah topi fedora milik Peter.


Dalam sekejap topi tersebut sudah berada di ujung jari telunjuk Irna. Peter menatap tajam ke arah Irna, gadis itu memberikan isyarat padanya agar dia pergi mengikutinya.


Melihat itu Peter segera melepaskan mangsanya, dan berjalan cepat mengikutinya.


Irna tahu pria itu menggunakan topi untuk melindungi wajahnya dari cahaya. Irna menunggunya di ambang pintu ruangannya.


Sepuluh detik kemudian Peter sudah sampai, kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan Irna.


"Kenapa anda mencariku?"


Irna dengan santai meneguk kopi dari cangkirnya. Melihat itu Peter sangat terkejut, dan menelan ludahnya sendiri.


"Apa kamu haus? aku bisa membuat satu cangkir untukmu."


Tawarnya sambil tersenyum simpul menatap wajah pucat di depannya. Irna beranjak dari kursinya menuju mesin kopi di seberang meja kerjanya.


"Kenapa kamu tidak mengijinkan anak buahku mengambil perburuan semalam?" Tanyanya sambil mengambil topinya dari atas meja Irna.


Sebelum dia bisa menjangkaunya Irna sudah merebutnya dengan isyarat jarinya, meletakkan topi hitam tersebut di atas kepalanya sendiri.


"Wah topi anda sangat nyaman tuan Peter."


Irna tersenyum ringan sambil meletakkan secangkir kopi hitam di atas meja.


"Duduklah.."


Perintahnya masih dengan nada ramah, juga seutas senyuman manis.


"Apa kamu sedang menggodaku? jika saja kamu bukan ratu aku tidak akan pernah melepaskanmu!"


Ujarnya dengan tatapan mata tajam. Peter mengawasi tubuh Irna dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan aroma harum semerbak di setiap gerakan tubuhnya mengundang hasratnya untuk berlama-lama berada di dekatnya.


"Darah pemikat! menarik sekali. Seribu tahun sekali muncul, ratu dengan aroma darah pemikat."


Gumamnya tertawa lebar menatap penuh rasa kagum pada gadis di depannya.


Rian membawa berkas di luar pintu ruang kerjanya, langkahnya tertahan saat mendengar suara yang tidak asing pada telinganya itu.


"Siapa di luar?"


Tanyanya pada Irna tiba-tiba, kemudian bersiap berdiri menuju ke arah pintu. Irna mencium aroma parfum Rian di luar pintu, dia segera menahan lengan Peter.


"Ah, mungkin asistenku!" Ujarnya segera, masih menahan lengannya dalam genggaman tangannya.


"Aroma pangeran.." Gumam Peter sambil menatap tajam ke arah Irna.


"Apa maksudmu? pangeran siapa?" Tanya Irna tiba-tiba.


"Ah mungkin aku salah, tidak mungkin dia berada di sini." Ralatnya kembali untuk menghindari kecurigaan Irna.


"Cepat katakan apa tujuan anda kemari?" Tanya Irna segera, dia tidak ingin membuang banyak waktu untuk melayani pria ras serigala di depannya itu.


"Bisakah anda tidak ikut campur dalam perburuan kami?"


Menatap wajah Irna dengan sungguh-sungguh, sepertinya ras mereka sedang mengalami kesulitan saat ini.


"Tapi itu adalah wilayah kekuasaanku. Kenapa anda tidak mencari lokasi lain untuk berburu." Ujar Irna santai sambil meneguk kembali kopinya.


"Bagaimana anda bisa hidup tanpa meminum darah?" Peter penasaran dengan apa yang dilihatnya barusan. Irna sejak tadi tidak menunjukkan reaksi jika dirinya adalah vampir penghisap darah.


"Aku tidak menyukai darah, ini lebih enak jika kamu mau mencobanya." Tawarnya lagi sambil tersenyum renyah.


Peter melihat cangkir berisi cairan hitam di depannya, dia terlihat ragu-ragu saat mulai menyentuh cangkir hangat tersebut.


Perlahan-lahan dia menghirup aromanya dan mulai meneguknya sedikit.


"Bagaimana? apa itu enak?" Tanya Irna padanya.

__ADS_1


"Ini mirip sekali dengan minuman yang selalu diracik oleh pangeran William, awalnya dialah yang menangani segala hal yang berhubungan dengan rasa haus darah keluarga kerajaan. Akan tetapi sejak kepergian dirinya anggota kerajaan kami kembali memangsa darah manusia." Jelasnya pada Irna.


"Oh rupanya kalian juga memiliki pangeran?" Irna manggut-manggut mendengar penuturan Peter.


Peter merasa sangat yakin dengan apa yang dia rasakan. Aroma tubuhnya yang khas, sejak awal bukan berasal dari parfum. Parfum tersebut sengaja diracik sama persis dengan aroma miliknya untuk menutupi identitas dirinya.


Pria dingin yang selalu menyendiri sejak usia sepuluh tahun. Pada saat liburan Reyfarno bersama keluarga Aditama pergi ke Kanada. Pada saat itu mobil keluarga Aditama terperosok ke dalam jurang.


Seorang laki-laki kecil berpakaian aneh, berdiri di sebelah mobil terbalik di dasar jurang. Anak kecil itu membawa sebuah botol kecil, lalu cairan berwarna ungu jernih tersebut dia teteskan pada bibir keluarga Aditama satu-persatu.


Keluarga Aditama memberikan nama Rian padanya. Dan mengangkatnya sebagai putra kedua pewaris perusahaan NGM.


Semenjak kedatangan Rian kecil di keluarga tersebut, perusahaan milik keluarga Aditama maju pesat sampai ke pelosok dunia.


Tepat pada saat itu kerajaan Interure kehilangan seorang pangeran satu-satunya.


"Kami tidak bisa mencari wilayah lain nona, karena kawasan hutan lain juga minim penghuni."


"Jika kalian tetap bersikeras memburu manusia, suatu saat kalian juga akan habis diburunya."


Jelas Irna padanya.


"Saya hanya seorang penasehat di kediaman istana, raja sendiri tidak akan mungkin turun tangan mengatasi masalah ini secara langsung. Kalau begitu saya permisi."


Peter menundukkan kepalanya berpamitan pada Irna.


Di sisi lain..


Fredian masih termenung di dalam kantornya, pria itu mengingat awal pertemuan dirinya dengan Rian pertama kali. Sempat dilihatnya sinar mata yang lain setelah itu berubah kembali ke sedia kala.


"Ah mungkin hanya perasaanku saja," Gumamnya kemudian.


"Halo Fred? kamu dimana?" Irna menelepon Fredian.


Saat itu Rian sedang melangkah masuk ke dalam ruangannya. Dia meletakkan beberapa berkas di sana.


"Ah, aku masih di resort. Apa ada masalah?" Tanyanya sambil menandatangani berkasnya.


"Tidak ada, bisakah kita pulang ke rumah lama. Rumahmu yang ada di tepi hutan." Ujar Irna pada Fredian.


Rian masih berada di dalam ruangan tersebut, dia melihat dua cangkir di atas meja. Pria itu melamun sejenak, lalu tersenyum tipis penuh misteri.


"Tentu saja kita akan kerumahku yang ada di sana, seperti keinginanmu. Ada angin apa? ini tidak seperti biasanya?"


"Aku hanya ingin membicarakan sesuatu padamu. Sesuatu yang tidak bisa kita bicarakan di kantor."


"Oke aku akan menjemputmu di rumah sakit." Fredian mengakhiri panggilan teleponnya.


Irna meletakkan kembali ponselnya di atas meja kerjanya. Tatapan matanya beralih pada Rian yang tengah duduk di kursi memandangi dua cangkir kopi.


"Apa kamu ingin kopi juga?" Tanyanya pada pria itu.


"Kenapa?" Irna tidak mengerti.


"Segera isi laporannya dan letakkan di meja kerjaku sebelum pulang." Ujarnya sambil membuka pintu.


"Tunggu, kenapa kamu tidak meminta asistenmu untuk mengantarkan berkasnya? kenapa kamu sendiri yang mengantarkan ini ke sini?"


Irna masih kebingungan, gadis itu mencoba mencari informasi tentang Rian.


"Dan ini? apa ini sebenarnya?!" Irna menunjukkan botol itu padanya, botol salep yang diberikan olehnya tadi pagi.


"Itu ramuan racikanku, untukmu. Apalagi?" Masih tersenyum seperti biasanya.


"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku!" Irna melesat menarik tubuh Rian menghimpit lehernya dengan lengan kanannya ke dinding.


"Apa kamu begitu merindukanku?"


Sengaja memberanikan diri menyentuh pipi Irna.


"Omong kosong!" Irna menyingkirkan tangan Rian dari pipinya.


"Kenapa dia tidak melawan, bahkan dia masih tetap merelakan dirinya untuk aku habisi!" Bisik Irna dalam hatinya.


Sesaat kemudian Irna melepaskan lengannya, saat Rian mulai kehabisan nafas.


"Uhk! uhk! uhk!" Rian terbatuk-batuk sambil mengusap lehernya.


"Kamu benar-benar ingin membunuhku? kita sudah hidup bersama lebih dari sepuluh tahun Irna. Apa lagi yang aku sembunyikan? apakah kamu berfikir aku orang jahat? kita juga memiliki Kania."


Rian memegang kedua bahu Irna sambil menatap wajah gadis di depannya itu.


"Maafkan aku, tapi coba kamu jelaskan apa ini?" Menunjukkan huruf Yunani yang muncul pada botol salep tersebut.


"Ah ini adalah bahan-bahan dari ramuan, ya itu muncul saat tertentu. Karena ini botol khusus yang aku buat untukmu. Ramuan ini tidak akan habis sebanyak apapun kamu memakainya."


Jelasnya sambil terhuyung berpegangan pada dinding.


"Apa kamu tidak apa-apa?"


Irna segera memasukkan salepnya kembali ke dalam sakunya. Kemudian memapahnya kembali menuju ke dalam ruangan Presdir.


"Apakah aku terlalu keras tadi? maafkan aku, aku sudah salah faham padamu."


Irna menatap pria di sebelahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan menangis, aku masih hidup."


Irna merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang kerjanya.

__ADS_1


"Aku akan kembali ke ruanganku mengisi laporan tadi, setelah selesai aku akan mengantarkan ke ruanganmu."


Irna melihat Rian sudah memejamkan matanya, dia keluar dari dalam ruangannya menuju ke ruangan kerjanya sendiri.


"Apa yang terjadi? mendadak tubuhnya selemah itu?" Gumam Irna saat mengisi laporan di atas meja.


"Apa dokter Kaila sudah menyelesaikan pekerjaannya?" Fredian masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Satu menit lagi." Bisiknya sambil tersenyum.


Fredian berjongkok di sisi meja kerjanya, Irna tersenyum mengangkat berkasnya.


"Sudah selesai." Tersenyum menatap Fredian.


"Aku akan mengantarkan ini ke ruangan Rian. Kamu mau ikut denganku atau menunggu di sini?" Tanyanya seraya mengerjapkan matanya.


"Aku tunggu di lorong."


Irna segera pergi, dia melangkah menuju ruang kerja Rian.


Fredian diam-diam kembali masuk ke dalam ruangan kerja Irna. Pria itu melihat cangkir di atas meja, dalam bayangannya muncul vampir jenis serigala.


"Apakah Irna bekerja sama dengan mereka? atau aku yang salah mengira? tapi melihat ini, semuanya benar nyata!" Gumamnya lagi.


"Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa Irna menemui mereka." Begitu banyak pertanyaan menyerbu pikiran pria tampan itu.


Irna meletakkan berkas di atas meja, dia melihat Rian masih terbaring di atas sofa. Wajahnya terlihat sangat pucat.


Irna memberanikan diri untuk menyentuh dahinya.


"Astaga! dingin sekali! kenapa keningmu sedingin ini."


Irna mencoba mengguncang bahunya tapi dia masih tidak bergeming.


Saat Irna meletakkan kepalanya di atas dadanya untuk mendengarkan detak jantungnya tiba-tiba Rian membuka matanya dan menyingkirkan kepala Irna dari atas dadanya.


Tatapan mata Rian begitu dingin. Sesaat kemudian kembali normal seperti sebelumnya.


"Apakah aku salah dengar? tidak ada denyut jantung di dalam dadanya? sejak kapan dia begini?" Irna berdiri mematung, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa yang kamu pikirkan? apa kamu tidak akan pulang? Fredian sudah hampir dua puluh menit menunggumu di luar ruanganku."


Ujarnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Bagaimana kamu tahu Fredian menunggu di luar pintu?"


Rian tercekat mendengar pertanyaan itu, tentu saja Irna akan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin dia tahu yang terjadi di luar ruangan sementara ruangan Rian kedap suara.


"Ah itu hanya kemungkinan kecil saja, aku hanya menebaknya." Ujarnya sambil membaca laporan di atas meja.


Irna segera melangkah keluar dari dalam ruangan kerjanya.


Dia mendapati Fredian berdiri bersandar di dinding menunggunya.


"Sudah berapa lama kamu menungguku di sini?" Tanya Irna sambil berjalan menuju lobi rumah sakit.


"Sekitar dua puluh menit."


"Tidak salah lagi!"


"Apa ada masalah?" Fredian menatap wajah serius Irna.


"Tidak ada, kira-kira jika vampir bermutasi menjadi manusia, berapa lama dia akan bertahan?" Tanya Irna lagi.


"Bertahan sampai usia manusia pada umumnya lalu akan kembali ke wujud aslinya. Kira-kira berapa usia manusia? kamu juga pasti tahu."


Fredian masih ridak mengerti kenapa Irna terus menanyakan hal itu. Dia melihat Irna tersenyum seolah-olah menemukan jawaban dari pertanyaan yang telah lama bergemuruh di dalam kepalanya.


"Apa kamu ingin makan sesuatu sebelum kita pulang?" Tawarnya pada Irna.


"Tidak ada, aku hanya ingin kamu menemaniku."


Fredian ingin menanyakan kedatangan kaum serigala pada Irna, tapi sepertinya Irna tidak ingin membicarakan hal itu dengannya.


Jadi dia memilih untuk tetap diam dan menunggu.


Pria itu mulai menyalakan mesin mobilnya, menuju ke kediamannya. Irna bergelayut di lengan kanannya sambil merebahkan kepalanya di bahu kanannya.


Satu jam kemudian mereka berdua sampai di rumah kuno tersebut. Irna turun dari dalam mobil di sambut para pelayan yang telah menunggu kedatangan dirinya.


"Selamat malam Nyonya Irna."


Irna menoleh ke arah Fredian, pasti pria itu yang mengusulkan agar pelayan rumahnya memanggil namanya seperti itu.


"Kenapa? apa kamu lupa bahwa nyonya Fredian adalah Irna Damayanti?" Pria itu tersenyum lalu menggamit lengannya masuk ke dalam rumah.


Sampai di sana Irna bergegas menuju ke kamar mandi.


Dia ingat pertemuan awal dirinya dengan Fredian. Di dalam rumah itu, dimana sekarang tempat dirinya berdiri. Pikiran masa lalunya melintas begitu saja.


"Kenapa kamu mematung di sini? apa tidak ingin mandi?" Fredian terkejut melihat Irna berdiri di tengah-tengah kamar mandi.


Dia melihat Irna terdiam di sana.


"Apakah kamar mandi ini terlalu luas? atau aku yang salah mengira?" Irna pura-pura salah mengingat.


"Kamar ini tetap sama sejak kamu datang, dan sampai sekarang tetap sama." Terang Fredian padanya sambil memeluknya dari belakang.


Irna kemudian melepaskan pelukannya, gadis itu membuka bajunya kemudian masuk ke dalam bath up. Dia tidak memperdulikan pria itu masih berdiri di sana.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2