Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
크리스탈 얼음 꽃-Crystal ice flower


__ADS_3

Irna menurunkan kedua kakinya dari atas sofa dan menunggu pria itu keluar dari dalam kamar mandi.


Tak beberapa lama kemudian, dia benar-benar keluar dari sana. Irna menatap tubuh yang hanya terbalut selembar handuk dililitkan di pinggang.


"Jika Fredian punya bekas luka pada tubuhnya, pasti tidak akan serumit ini!" Gumam Irna masih menggigit ujung kuku jari kelingking miliknya.


Gadis itu masih berkecamuk dengan pikirannya, dia mencoba mencari cara untuk mengenali pria di depannya itu.


Tanpa disadarinya pria itu sudah berjongkok di hadapan wajahnya, pria itu mengurung dirinya dengan kedua tangan di sandaran kursi belakang punggungnya.


Irna segera menjauhkan wajahnya ke belakang.


"Apa yang sedang kamu lakukan!? menyingkir dariku!" Teriak Irna sambil memalingkan wajahnya.


Pria itu mengangkat dagunya sambil tersenyum menatap wajah gugup Irna.


"Kenapa? apa kamu takut sekarang? padahal semalam kamu begitu bersemangat dan naik ke atas tempat tidurku." Tersenyum mengejek lalu beranjak berdiri mengeringkan rambutnya yang basah.


"Hahahaha! dasar! apa kamu pikir syaraf tubuhku mati?! tidak mungkin aku bersemangat tanpa merasakan apapun!" Menyilangkan kedua tangannya sambil bersungut-sungut.


Pria itu memakai piyamanya dan mengikatkan tali di pinggang. Dia berjalan ke arah Irna dan duduk di sebelahnya sambil memainkan ponselnya.


Irna segera bergeser ke samping menjauhkan dirinya, karena pria itu dengan sengaja duduk sangat dekat dan menempel padanya.


Irna kembali membuka tali topeng miliknya dan meletakkan di atas pangkuannya.


"Kenapa kamu melepaskan topengmu? kamu tidak takut aku mengenali wajahmu?" Tanyanya tanpa melihat ke arah Irna matanya masih menatap layar ponselnya.


"Untuk apa bersembunyi darimu, bukankah kamu jauh lebih dahulu mengenaliku? oh ya aku tidak melihat mucikari yang menahanku di sini? apa kamu sudah membawa wanita itu ke kantor polisi??"


"Atau jangan-jangan kamu sendiri yang menculikku dan membawaku untuk menikmati liburan di sini Tuan Presdir Fredian???!"


Ujar Irna sambil menopang kepalanya tersenyum manis menatap wajah pria di sebelahnya lekat-lekat.


"Aku tidak mengerti ucapanmu barusan, siapa Presdir Fredian? apa dia atasanmu di kantor?!" Tanyanya masih memainkan ponselnya tanpa melihat ke arah Irna.


"Buka topengmu! biarkan aku melihat wajahmu! dan buat aku percaya kalau kamu bukan dia!" Irna mencoba meraih topeng yang membingkai mata pria di sebelahnya.


Pria itu tersenyum menatap wajah kesalnya, lalu meniup wajahnya.


"Fuuuuuh!"


"Kenapa kamu meniup wajahku! kenapa aku tidak boleh melihat wajahmu?" Masih cemberut dan murung.


"Layani aku, maka kamu akan melihat wajahku.." Ujarnya sambil mendekatkan bibirnya untuk mencium.


"Tidaaaaaak!" Irna segera mendorong tubuhnya dengan kedua tangannya agar menjauh.


"Kenapa? kamu tidak ingin melihat wajahku? ya sudah terserah padamu saja." Ujarnya sambil tersenyum.


"Bagaimana caranya aku mengakhiri semua ini? aku rasa dia orang satu-satunya yang bisa mengantarkan aku kembali ke London! tapi tubuhku??? ah tidak bisa! lupakan saja semuanya! aku tidak akan membiarkan diriku disentuh oleh pria itu!" Terus bergumam sendiri, lalu beranjak berdiri hendak keluar kamar.


"Kamu mau kemana?" Menarik pinggangnya dalam pelukan hangat, kembali meletakkan dagunya di atas bahu kiri Irna.


"Berhentilah menyentuhku Tuan!" Irna mencoba melepaskan pelukannya dari pinggangnya. Tapi pria itu malah menggigit lembut bahunya yang jenjang dengan sengaja.


"Akh! apa yang kamu lakukan!" Irna mencoba mendorong kepalanya ke samping karena merasakan ngilu pada bahu kirinya akibat gigitan pria itu.


"Apa kamu bukan manusia! kenapa menggigitku?! sakit sekali!" Irna berhasil melepaskan diri darinya. Irna melihat darahnya menetes di kedua ujung bibir pria itu.


Pria misterius itu terlihat sangat menikmatinya dan menjilati darah di ujung bibirnya.


"Aku tidak salah membawamu kemari, kamu adalah gadis yang aku cari!"


"Kamu bukan manusia!" Irna melangkah mundur dengan ketakutan, mata pria itu berubah merah membara.


"Vampir??? di jaman modern ini, bagaimana masih ada vampir??" Bisik Irna pada dirinya sendiri.


"Tapi bagaimana mungkin wajahnya bisa sama dengan wajah Fredian?!" Bisik Irna masih tidak mengerti kenapa mereka berdua terlihat sama persis.


"Apa kamu menginginkan darahku? aku akan memberikannya! tapi ijinkan aku menghubungi keluargaku. Ayahku sedang sakit, dia pasti sangat menghawatirkan diriku!" Ujar Irna sambil memegangi bahunya yang terluka.


"Maksudmu Jend??! hahahaha!" Pria itu tertawa menakutkan menyebutkan nama ayah angkatnya itu.


"Kamu mengenalnya!?" Tanya Irna tidak mengerti.

__ADS_1


"Tentu saja, aku mengenalnya. Kalung kristal di lehermu itu aku yang memberikan pada adikku beberapa tahun lalu. Dia pergi bersama pria bodoh yang tidak bisa melindunginya sama sekali dan akhirnya adikku tercinta mengorbankan dirinya demi menyelamatkan putranya." Geram pria itu sambil mengepalkan tangannya.


"Lalu? bagaimana kamu bisa mengenalku?" Tanya Irna tidak mengerti.


Lalu pria itu menjentikkan jarinya, dan datanglah segerombolan mahluk mengerikan berterbangan mengitarinya.


"Jadi mereka sejak awal adalah suruhanmu?!" Teriak Irna sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Iya, merekalah yang selama ini membawakan darahmu padaku! tapi sejak kamu memakai parfum dan kalung kristal itu! aku tidak bisa menemukan keberadaan dirimu dalam waktu yang sangat lama!"


"Apakah kamu juga pria yang bersama dengan tanteku?? Tante Rina??!" Teriaknya sambil menatap tajam wajah pria di depannya itu.


Sekelebat ingatan Irna saat awal liburan di villa tantenya itu, dia mengingat pertemuan dirinya dengan Fredian. Dia ke sana bersama ketiga temannya.


Dan vaksin aneh itu akan disuntikkan tantenya pada pria yang ada di depannya sekarang. Tapi saat itu malah Fredian yang muncul di sana. Mungkin saat itu tantenya salah menusukkan jarum tersebut kepada Fredian.


"Iya aku yang membuatnya mati! dan aku yang membuat dirinya mengorbankan keponakannya sendiri. Dia ingin tampil cantik dan awet muda!" Jelasnya pada Irna.


"Jadi inilah alasannya kenapa dia begitu mirip dengan Fredian.. mereka berdua memang sangat mirip." Bisik Irna lirih.


Tidak terasa kedua kakinya terasa lemas, Irna tidak sanggup menahan tubuhnya dan jatuh ke lantai.


"Lalu kamu sudah mendapatkan diriku sekarang? apa yang akan kamu lakukan padaku?" Tanya Irna pada pria itu.


"Ctak!" Pria itu menjentikkan jari dan dalam sekejap mahluk-mahluk itu mengerubungi tubuh Irna. Satu jentikan jarinya lagi mereka semua akan menerkam, dan mulai menghisap darahnya.


"Kamu ingin membunuhku?" Tanya Irna mendongak menatap wajah pria di depannya itu. Gadis itu sudah putus asa, air matanya mengalir di kedua pipinya.


Dia masih menatap lekat-lekat wajah di depannya itu.


"Andaikan itu kamu Fredian.. aku rela jika aku harus mati di tanganmu. Karena aku mencintaimu.. aku sangat mencintaimu Fred..!" Begitulah isyarat dari sinar matanya saat menatap wajahnya.


Pria itu menghalau mahluk dari sekitar Irna dengan tangannya. Kemudian berjongkok dan mengangkat tubuhnya ke atas tempat tidur.


Irna tidak lagi melawan atau meronta. Dia menatap kosong ke arah pria itu.


Dalam hatinya masih berharap jika pria itu adalah suaminya. Luka di bahu kirinya perlahan-lahan membaik dan hilang sama sekali tanpa bekas.


Pria itu melepaskan topeng dari wajahnya, dia menatap wajah Irna yang juga menatapnya.


Wajah yang sama, namun memiliki aura yang sangat berbeda.


"Tentu saja! aku sangat mencintainya!" Ujar Irna tanpa menahan diri lagi.


"Di mana para wanita semalam, dan wanita tua itu?" Tanya Irna padanya penuh selidik.


"Sisilia?! hahahaha aku tahu dia sangat tergila-gila dengan suamimu! aku sengaja mengendalikan wanita itu! aku menjadikan dia budakku! aku membuatmu berpisah dengan Fredian menggunakan tangannya!"


"Sekarang dia sama sekali tidak berguna! aku sudah menghabisi nyawanya! Bagaimana? aku hebat bukan?!" Tanyanya pada Irna sambil tersenyum.


"Kamu pria gila! kamu bukan manusia! kamu siluman gila!" Teriaknya histeris sambil membenamkan wajahnya di atas kedua lututnya.


"Kamu akan jadi peliharaanku mulai sekarang!" Pria itu tersenyum sambil mengusap kepalanya lalu melangkah pergi keluar dari dalam ruangan.


"Halo! Iya saya akan segera pergi ke sana!" Pria itu segera mengambil bajunya dan melangkah keluar dari dalam kamar.


Di depan gerbang sebuah mobil hitam berhenti. Jendela mobil tersebut terbuka.


Irna mengendap-endap mengikutinya. Dia melihat seseorang ada di dalam mobil.


"Tuan Jend?? apa hubungan pria ini dengannya??! apa tuan Jend sengaja memberikan diriku pada pria itu??"


Irna menoleh ke belakang seseorang memukul bahunya dan membuatnya pingsan.


Saat Irna terjaga dia sudah berada di sebuah kamar.


"Kamu sudah mengetahui hal yang seharusnya tidak boleh kamu ketahui." Ujar pria itu yang tidak lain adalah tuan Jend. Ayah angkatnya.


"Tuan Jend? apa maksudnya semua ini? kenapa kalian bisa bersama-sama."


"Tentu saja pria tua ini memberikan dirimu padaku untuk menggantikan posisi adikku yang sudah meninggal!"


Pria itu tersenyum penuh misteri menatap Irna yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Gadis itu masih bingung dengan segalanya, bagaimana bisa saat ayah angkatnya itu sudah merawat dirinya hampir sepuluh tahun dan ternyata itu hanya untuk dipersembahkan kepada manusia vampir itu.

__ADS_1


"Tuan Jend? Anda tidak serius bukan?" Irna menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan wajah sedih.


"Aku minta maaf, semua yang dikatakan olehnya benar. Jika aku tidak memberikan dirimu padanya, maka Reno akan dibunuhnya." Pria paruh baya itu melangkah keluar dari dalam kamar tersebut tanpa menoleh lagi ke arah Irna.


"Tuan Jend tunggu aku! tuan Jend..." Irna berdiri dan mencoba untuk mengejar ayah angkatnya itu sambil menangis.


Dua orang menahan tubuhnya dan membawanya ke sebuah ruangan. Ruangan tersebut terletak di lantai bawah tanah.


Mereka menidurkan Irna di atas marmer hitam mengikat kedua tangan dan kakinya. Ada beberapa lilin mengitari tubuhnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan!?" Teriaknya pada pria itu.


"Upacara ini akan mengubahmu menjadi sepertiku! kamu tidak akan pernah terpisah lagi dariku, kamu tidak hanya menggantikan adikku tapi kamu juga yang akan menjadi pasanganku!"


"Tidak! aku sudah menikah dan kamu tidak bisa melakukan ini padaku!" Irna berteriak histeris mencoba untuk meronta melepaskan ikatan pada tubuhnya.


Ada sepuluh orang memakai jubah serba hitam dan bertudung menutupi mata merah yang menyala-nyala. Irna melihat gigi taring mereka.


Mereka berdiri mengitari tubuhnya.


"Apakah aku akan dijadikan sebagai tumbal? dan melihat wajah haus menjijikkan pada wajah para manusia setengah binatang ini, aku harus bagaimana.."


Pria yang memiliki wajah mirip dengan suaminya itu mulai merapalkan mantra. Cahaya lilin yang mengitari tubuh Irna mulai bersinar semakin terang dan menyatu di atas tubuhnya.


"Apa yang manusia iblis itu lakukan tubuhku panas sekali! akh! tidaaaaaak!" Setiap orang yang mengitari tubuhnya mengambil satu gigitan di tubuh gadis itu.


"Tubuhku sakit sekali..." Irna mulai kehilangan kesadarannya dan menutup matanya perlahan.


"Duaaaaarrrr! bruuum!" Sebuah ledakan terjadi, marmer hitam yang menjadi alas tubuh Irna tiba-tiba meledak.


Mereka segera menghentikan aksinya, karena wajah mereka tiba-tiba terasa terbakar akibat asap dari ledakan tersebut.


Tubuh Irna mengejang beberapa saat rantai yang mengikat tubuhnya terlepas satu persatu. Gadis itu bangkit dari tidurnya dan membuka matanya.


Mata gadis itu merah menyala, dia menatap geram wajah setiap orang yang sudah menggigit tubuhnya.


Dia bangkit dan mencabik-cabik mahluk setengah vampir itu. Pandangan matanya beralih menatap ke arah orang yang membuatnya berubah menjadi seperti sekarang ini.


"Hahaha! aku berhasil!" Pria itu tertawa terbahak-bahak merasa dia telah sukses dalam misinya untuk merubah Irna.


Irna melesat dalam sekejap dia telah mencengkeram leher pria itu.


"Apa ada yang ingin kamu ucapkan untuk terakhir kalinya! Tuan vampir!" Bisik Irna dengan mata merah menyala-nyala.


Di antara kedua alisnya, di tengah kening gadis itu bersinar terang menyilaukan mata.


Perlahan-lahan seribu ingatan muncul seolah mengalir begitu saja. Tante Rina yang merawatnya selama ini, dan juga ucapan tantenya itu muncul kembali di dalam ingatannya.


"Kamu! tidak mungkin! aku sudah berhasil! bagaimana mungkin kamu menyerangku?!" Teriaknya sambil menggenggam tangan Irna yang tengah mencekik lehernya.


"Tentu saja aku akan menyerangmu! berani-beraninya kamu hendak menjadikanku budakmu! asal kamu tahu sejak kecil Tante Rina sangat menyayangiku! dia memberikanku pada setiap malam bulan purnama air bunga kristal es.. dan dia tahu jika kamu telah mengincarku untuk mendapatkan darahku! hingga saat dia mulai hilang kesadaran dan menyerangku."


"Bagaimana mungkin wanita itu bisa mendapatkan bunga kristal es itu! bunga itu hanya sebuah mitos!" Teriaknya lagi sambil menatap wajah Irna dengan ketakutan.


"Bunga itu masih ada! dan akan mekar setiap bulan purnama. Dan bunga itu ada di sini!" Irna membuka telapak tangannya dan bunga tersebut muncul tiba-tiba di sana.


Bunga putih seperti kristal, aura bunga tersebut memenuhi segala penjuru ruangan. Mendadak seluruh ruangan terasa dingin seperti dimusim salju.


Irna meniup kelopak bunga tersebut ke arah wajah pria itu. Perlahan-lahan wajah pria itu melepuh dan terbakar menjadi abu.


Segalanya hanya Irna yang tahu, dan apa yang diceritakan oleh tantenya saat usia gadis itu masih empat belas tahun benar-benar terbukti sekarang.


"Irna ingatlah satu hal, Tante sudah menanamkan bunga kristal es di dalam dirimu. Dan bunga itu akan muncul saat genting, ketika seseorang mengincar keselamatannya dirimu. Mahluk itu setengah manusia, dia akan datang mencarimu.. hingga saat waktu itu tiba maka bunga itu akan merekah. Dan merubah dirimu menjadi sesuatu yang lain."


"Maafkan Tante yang sudah menyulitkanmu, Tante tidak bisa menemanimu sampai akhir. Kamu harus melewati pertempuran itu sendiri."


Tante Rina tidak berhenti menangis, wanita muda itu terus memeluknya sambil mencucurkan air matanya.


Bunga kristal es, akan mengubah darah Irna sedikit demi sedikit.. darah yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya.


Tapi kekuatan yang sebenarnya akan muncul ketika mahluk setengah manusia itu menancapkan gigi taringnya pada saat upacara penobatan, untuk menjadikan dirinya pasangan manusia vampir itu.


Pada saat itu Irna masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh tantenya itu. Dan hal-hal buruk mulai terjadi saat usianya menginjak dua puluh tahun.


Tuan Jend masih berada di luar gerbang menunggu Irna di sana. Dan di sebelahnya ada seseorang yang sudah lama menunggunya.

__ADS_1


Pria paruh baya itu sudah tahu, Irnalah yang akan mengakhiri kehidupan mahluk penghisap darah itu.


Bersambung...


__ADS_2