Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Teman atau lawan


__ADS_3

"Hahahaha! aku menyabotase kamarmu tanpa meminta ijin darimu terlebih dahulu, sorry."


Kania tersenyum kecil seraya melirik ke arah Nira. Gadis itu tersenyum melihat Kania baik-baik saja dengan keadaan keluarga rumit mereka saat ini.


Irna menghela nafas panjang menatap putri dan cucunya bercakap-cakap dengan serunya. Dia sendiri tidak pernah mengira akan memilki putri yang begitu mirip dengan wajah Rian, dan putra yang sangat mirip dengan wajah Fredian.


Satu-satunya yang mirip dengan dirinya adalah Nira, wajah postur tubuh, kegesitan dan juga penampilannya mengingatkan saat dia masih muda.


"Apakah aku terlambat?" Rian berdiri di taman agak jauh dari meja makan mereka berempat.


Irna menoleh ke arah Fredian, dia tahu pasti pria itu yang mengundangnya untuk makan malam bersama. Fredian melemparkan sebuah senyuman lembut ke arahnya.


Rian melangkah menuju meja mereka, Nira menarik kursi untuknya dan tersenyum manis.


Fredian tahu cucu perempuannya itu sangat mengagumi Rian, dia selalu memujinya diam-diam. Dari kelembutan dan kharisma pria berstatus dokter itu. Juga setiap vaksin ajaib yang dia ciptakan selalu berhasil menggebrak dunia kedokteran.


Mereka melewati makan malam bersama, sebuah keluarga yang rumit. Saat selesai makan malam Fredian bergegas pergi karena mendapat telepon dari klien.


"Selesaikanlah rasa canggungmu, aku tidak akan memilih dokter lain ketika terjadi sesuatu padamu." Bisik Fredian di telinga Irna sambil mengusap bahunya.


Nira tahu maksud kedatangan Rian saat itu, gadis itu segera menarik Kania pergi untuk melihat-lihat Resort.


Irna masih terdiam tidak tahu apa yang hendak dia ucapkan, bibirnya terasa kelu saat melihat pria yang kemarin adalah suaminya dan kini menjadi orang lain.


Melihat Irna mendiamkannya, pria itu segera berdiri dan hendak pergi. Melihat itu Irna segera membuka bibirnya.


"Tunggu! Rian, aku akan mengantarmu." Irna berdiri berjalan di sebelahnya.


"Aku tidak pernah membencimu."


Mendengar itu Rian segera menghentikan langkah kakinya. Dia melihat wajah Irna di sebelah sambil mengukir sebuah senyuman manis.


Pria itu kembali melanjutkan langkah kakinya. Irna berjalan di sebelahnya seperti sebelumnya.


"Aku akan kembali ke rumah, jika kamu tertarik dengan vaksinku kamu boleh datang dan memilih satu."


Kelakarnya saat masuk ke dalam mobilnya.


Irna tersenyum sambil melambaikan tangannya. Irna terkejut saat Kania tiba-tiba sudah berada di dalam mobil Rian, duduk di sebelahnya sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Irna.


"Oh! anak itu, dia begitu mirip dengannya." Gumamnya sambil tersenyum menatap mereka berdua berlalu.


"Putri tiriku sepertinya dia?" Ujar Fredian lima detik lalu sudah berada di belakang punggungnya.


"Dia sepertiku, dan sepertimu. Gadis itu begitu antusias ingin mengenalmu. Dia begitu sedih saat kamu mengabaikannya ketika dia di kampus waktu itu."


Jelas Irna padanya sambil melangkah menuju kamarnya.


"Aku cemburu saat melihatnya, istriku menikah dengan pria lain dan memiliki putri yang begitu manis juga cerdas."


Irna tertawa lebar mendengar Fredian mengucapkan itu untuk pertama kalinya.


"Akhirnya kamu mengatakan yang sebenarnya." Irna terkekeh geli.


"Kamu mengejekku!" Fredian berkacak pinggang sambil menunjuk ke arahnya.


"Aku tidak mengejek, aku hanya mengatakan yang sebenarnya."


Elaknya seraya membetulkan tali ikatan rambutnya. Dia melangkah mendekat ke arah Fredian. Pria itu memunggunginya.


"Apakah kamu sedang berpura-pura merajuk?" Irna memeluk pinggangnya dari belakang menyandarkan kepalanya pada punggungnya.


"Tubuhmu begitu dingin, apakah ada masalah?" Tanya Irna saat merasakan tubuh Fredian lebih dingin dari es.


"Bukankah ini sudah biasa? sejak awal seperti ini? apa karena kamu selama ini berada di pelukan hangat manusia, jadi lupa bagaimana dinginnya tubuh vampir?"


Fredian melepas pelukan tangan Irna dari pinggangnya. Lalu melangkah keluar pergi meninggalkannya.


"Astaga! aku menyinggungnya lagi. Hah! sudahlah, aku lelah merayunya."


Irna melepas seluruh bajunya dan menggantinya dengan gaun tidur transparan warna merah.


Saat selesai memakai baju dia terkejut di belakang punggungnya ada sosok berjubah hitam siap menghujamkan tombak perak ke arahnya.


Secepat kilat Irna melompat ke samping, hingga sosok misterius tersebut menerjang ke arah cermin di depannya.


"Praaaaanggg!" Tangannya terluka, Irna melesat mencengkeram erat lehernya.


"Berani-beraninya kamu masuk ke sarangku! mau cari mati?!"


Mata Irna berkilat-kilat merah menyala, siap mematahkan tulang leher sosok tersebut.

__ADS_1


Saat Irna hendak melepas tudung yang menutupi wajahnya, sosok tersebut melemparkan serbuk putih dan membuatnya terbatuk-batuk hingga melepaskannya.


Sosok itu masih memegangi lehernya pasti masih berbekas memar karena cekikkan Irna, Irna tahu leher yang dicengkeramnya barusan adalah leher seorang wanita.


Irna berdiri terhuyung-huyung, matanya terasa sedikit buram. Dia melihat sosok tersebut kembali berniat menghabisi nyawanya, Irna segera menjentikkan jarinya dan lenyap dari depan sosok tersebut.


Irna terhuyung-huyung di tengah hutan belantara, pandangan matanya masih belum bisa terlihat jelas.


Fredian masuk ke dalam kamarnya, dia terkejut melihat pecahan cermin berantakan di lantai. Dan saat mencium aroma serbuk tersebut dia tahu Irna sedang berada dalam bahaya.


"Pemburu! bagaimana mungkin pemburu bisa menerobos kemari? dan yang dia incar adalah Irna!"


Fredian merasa sangat geram karena dia telah meninggalkan Irna sendirian sesaat tadi.


"Sekarang dia pasti sedang dikejar-kejar oleh pemburu." Gumam Fredian sambil mengepalkan tangannya merasa geram.


Irna masih terus berjalan ke tengah hutan, langkah kakinya terhenti saat dia melihat sebuah telaga berair jernih.


Gadis itu mengambil air untuk mencuci kedua matanya. Saat matanya sudah bisa melihat dengan jelas, dia melihat sepuluh pemburu berjubah hitam sudah berdiri di belakang punggungnya bersiap untuk mencabik-cabik tubuhnya.


Setiap orang memakai topeng perak dan membawa sebilah pedang perak.


"Aku sudah berusaha kabur, tapi mereka tetap bisa menemukanku."


Gumam Irna seraya tersenyum tipis, kemudian memainkan jemarinya mengarahkan tangannya pada mereka, lalu mengibaskan tangannya. Sepuluh orang tersebut melayang di udara.


"Vampir sialan! turunkan kami!" Teriaknya pada Irna saat dia hendak meninggalkan hutan tersebut.


"Seharusnya kamu tahu, aku pergi tadi sengaja mengambil tempat ini untuk menghabisi nyawa kalian. Aku tidak ingin mengotori tempat tidurku dengan darah kalian!"


Irna kembali mengibaskan tangannya dan membuat tubuh mereka jatuh bersamaan ke atas tanah.


"Aku tidak akan merebut kompasmu! lain kali jika kalian menemukan keberadaanku, dan tetap menyerangku kembali. Aku tidak akan melepaskan kalian lagi!"


Irna mengibaskan rambutnya dan berbalik pergi, aroma harum darahnya tercium semerbak oleh para pemburu yang masih berbaring kesakitan di atas tanah.


"Dia vampir atau bukan sih? kompas kita tidak mungkin salah. Tapi aroma tubuhnya lebih mirip seperti taman bunga yang nyaman. Sedangkan vampir yang biasa kita temui, tubuhnya selalu tercium aroma amis darah." Seru salah seorang dari mereka.


"Sudahlah kita pergi dari sini dahulu." Ajak salah seorang dari mereka.


Saat beranjak berdiri ada sekitar dua puluh serigala menyalak mengerubungi mereka siap memangsa tubuh para pemburu.


Irna berjalan sekitar seratus meter, mencium aroma pembunuh. Vampir generasi serigala. Irna bermaksud membiarkan mereka tapi setelah berjalan beberapa meter tiba-tiba dia melesat kembali ke tempat para pemburu.


Melihat kedatangan Irna, para vampir serigala tersebut lari kabur tunggang langgang, Irna berhasil menahan salah satu dari mereka.


"Kenapa kalian mengambil tawananku!" Teriak Irna padanya seraya menginjakan kakinya pada punggung vampir tersebut.


"Raja, raja kami yang memintanya!" Jawabnya segera.


"Kami minta maaf Ratu, kami tidak akan mengulanginya lagi." Ujarnya sambil memohon pada Irna.


"Lain kali, suruh rajamu menemuiku! dan bilang padanya aku tidak akan melepaskan kerajaan miliknya, jika tetap mengotak-atik tawananku!"


"Baik ratu!" Pria vampir itu segera menghilang dari pandangannya.


"Kenapa anda menolong kami? padahal kami sudah berniat ingin membunuh anda." Tanya salah seorang dari mereka.


"Pergilah segera dari tempat ini. Tempat ini terlalu bahaya untuk para manusia seperti kalian. Hutan ini berada di bawah kekuasaanku. Bawalah ini, dan cepatlah pergi. Aku harap ini terakhir kalinya kalian mendatangiku."


Irna memberikan serpihan kelopak bunga kristal miliknya untuk melindungi mereka semua.


"Terima kasih." Ujar mereka serempak sambil menundukkan kepalanya.


"Jika bos kalian marah dan ingin menghukum kalian, berikan kelopak bunga itu padanya." Irna menghilang setelah mengucapkan kata-kata tersebut.


Fredian berdiri bersandar pada sebatang pohon tidak jauh dari Irna, dia melihat bagaimana istri tercintanya menghadapi para pemburu, dia juga melihat bagaimana Irna melindungi para pemburu yang ingin membunuhnya.


Bahkan memberikan serpihan kelopak bunga miliknya pada mereka.


"Apakah aku terlalu meremehkan ratuku." Gumam Fredian santai lalu menghilang.


Saat sampai di dalam kamarnya dia melihat serpihan kaca sudah tidak ada, tempat itu bersih seolah tidak terjadi apa-apa di sana.


Irna sedang berbaring nyaman tidur pulas di atas tempat tidurnya. Fredian melepaskan jas dan baju resminya, berganti dengan baju kimono.


Dia tidur di sebelah Irna, dan memeluk pinggangnya erat.


"Selamat tidur ratuku.." Bisiknya seraya mendaratkan sebuah ciuman lembut di keningnya.


Irna tersenyum mendengar Fredian berbisik lembut.

__ADS_1


Di sisi lain..


"Ampun tuan, kami gagal memburu target. Mereka mendapatkan perlindungan dari ratu." Ujar salah seorang vampir pada tuannya.


"Ratu? bukankah dia yang sedang diburu? aku berniat membantunya kenapa dia tidak berterima kasih kepadaku? kenapa dia malah menyerang kalian?!" Teriaknya penuh amarah.


"Itu, dia bilang jika tuan tidak terima. Dia menunggu kedatangan tuan untuk membicarakan langsung padanya. Dia bilang mereka adalah tawanannya, kita dilarang untuk mengambil tawanan yang sudah menjadi miliknya."


"Baiklah aku akan bertanya langsung padanya." Gumamnya sambil meremas jemari tangannya.


Pagi hari..


"Tok! tok! tok!" Maya sekretaris Fredian mengetuk pintu ruang kerja Fredian.


Irna sudah memakai baju rapi, dan saat ini sedang memasang dasi di leher Fredian.


"Masuklah." Perintah Irna padanya.


Maya menundukkan kepalanya, gadis itu memakai baju rapi dan tidak seperti biasanya. Juga memakai syal untuk menutupi lehernya.


Melihat syal di leher Maya, Irna sedikit curiga. Dia memikirkan keselamatan Fredian, jika benar yang ada dalam benaknya bahwa gadis itu adalah pemburu yang semalam menyerang dirinya. Nyawa Fredian juga sama terancam bahaya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Irna melangkah keluar sambil membawa tasnya. Saat melewati Maya sekretaris Fredian, Irna sesaat menghentikan langkahnya.


"Jaga keselamatan suamiku." Bisiknya pada Maya. Gadis itu tercekat saat mendengar Irna berkata demikian.


Dia tidak menyangka jika Irna akan mengetahuinya secepat itu. Dia pikir Irna tidak akan tahu setatus dirinya yang sebenarnya. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk mengetahui identitas dirinya.


"Ada apa? apa kamu tidak akan memberikan berkas itu padaku?" Fredian membuyarkan lamunannya seketika.


Maya buru-buru menyerahkan berkasnya pada Fredian. Gadis itu meletakkan di atas meja.


"Aku diam bukan berarti tidak tahu. Aku hanya ingin menunggu misimu selesai, dan kamu sudah melihatnya tadi bagaimana sebenarnya orang yang kamu hadapi." Jelas Fredian santai seraya meneguk kopinya di atas meja.


"Jika anda sejak awal tahu, kenapa tidak menahanku? atau menyerahkanku pada bosku?" Tanya Maya kebingungan sendiri.


"Karena kamu sekretarisku, apa kamu pikir sangat mudah mencari sekretaris baru sekarang?" Fredian sengaja mengalihkan suasana tegang antara mereka berdua.


"Baiklah mulai sekarang saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh untuk anda dan nona Ratu." Menundukkan kepalanya bersumpah pada Fredian


"Misimu gagal semalam, apa bosmu tidak berniat menjemputmu atau memarahaimu kemari?"


Maya masih tidak mengerti kenapa Fredian begitu tertarik pada bosnya.


"Apakah anda tahu bos saya perempuan?" Tanya Maya agak takut-takut.


"Apa dia sangat cantik?" Tanya Fredian pura-pura tertarik sambil membuka matanya lebar-lebar.


Maya tidak berani menjawab pertanyaan darinya, dia tahu kalau Kaila Elzana adalah kekasih Fredian. Jika sampai ada masalah percintaan antara mereka berdua pasti dirinya juga bakal terkena imbasnya.


"Itu tidak penting Presdir, sebaiknya anda tanda tangani segera berkasnya. Karena itu akan kita gunakan rapat nanti siang." Ujar Maya segera.


Setelah Fredian menandatangani berkasnya Maya segera mengambilnya dari atas meja. Lalu membawanya keluar.


Di rumah sakit.


Irna sedang membuka berkas hari itu, Rian berada di sebelahnya melihat goresan pada punggung tangannya, karena menghalau tombak perak semalam.


Rian menggenggam tangannya tiba-tiba. Mengamati bekas luka tersebut.


"Apa ada pemburuan lagi semalam?" Tanyanya tanpa beralih dari menatap punggung tangan Irna.


"Hem."


Rian segera mengambil obat, untuknya. Irna diam saja saat Rian melepas jas dokter miliknya. Rian melihat goresan itu melukainya dari lengan sampai punggung tangannya.


"Kamu tahu, ini tidak akan sembuh hanya dengan antiseptik bukan?" Irna nyengir melihat ekspresi cemas terukir jelas pada wajah Rian Aditama.


"Aku selalu punya cara untuk menghilangkan bekas luka pada kulitmu. Apa kamu lupa kalau aku adalah sang master!" Kelakarnya sambil tersenyum renyah melihat Irna.


"Sebelumnya aku sebetulnya sudah meracik untuk bekas luka seperti ini, tapi aku terlambat untuk memberikannya padamu." Rian mengeluarkan sebotol kecil salep dari dalam sakunya.


Dia mulai mengoleskan pada luka Irna.


"Sejuk sekali." Ujar gadis itu, Irna tersenyum melihat lukanya perlahan mulai membaik.


"Kamu bahkan memberikan aroma daun pinus untuk obat ini. Sejak kapan kamu tahu aku menyukai aroma daun pinus?"


"Sejak kamu berdiri di tengah hutan beberapa tahun lalu." Ujarnya sambil tersenyum.


"Terima kasih!" Irna tersenyum dan kembali memakai jas dokter miliknya.

__ADS_1


"Simpan ini." Rian meletakkan obat tersebut di atas meja kerjanya. Pria itu melangkah keluar dari dalam ruangan kerjanya.


Bersambung....


__ADS_2