
Pagi itu Peter datang mengunjungi Irna kembali, pria itu membawa hadiah di tangannya. Dan tentu saja, dia datang kesana tanpa sepengetahuan Javi Martinez.
Saat itu Irna tengah memeriksa pasien di ruangan ICU. Pria itu menunggunya di luar ruangan.
Irna keluar dari dalam ruangan tersebut masih menggunakan maskernya, dia berdiri sekitar dua meter dari tempat Peter duduk menunggu. Gadis itu sedang memeriksa hasil pemeriksaan medis yang diberikan oleh asistennya.
"Kamu sudah memeriksa semuanya?" Tanya Irna tanpa mengalihkan pandangan matanya dari lembaran kertas di tangannya.
"Sudah dokter." Ucap Dani salah seorang dokter residen yang berjaga hari itu.
"Periksa sekali lagi apakah pasien memiliki alergi terhadap obat tertentu, jika tidak berikan suntikan streptokinase untuk mengatasi gumpalan pada pembuluh darahnya."
"Periksa juga tekanan darahnya satu jam sekali, periksa juga gula darahnya apakah ada peningkatan. Jika denyut jantungnya masih melemah selama tiga jam ke depan, segera hubungi saya atau dokter Nia. Karena mungkin nanti saya masih berada di dalam ruang operasi."
Nia adalah salah satu dokter 'fellow' yang berkerja di rumah sakit keluarga Aditama sudah lama sebelum Irna masuk, dia juga merupakan seorang senior muda dan berbakat.
"Baik dokter."
Perintahnya seraya memberikan catatan di tangannya pada asistennya tersebut.
Irna melangkah menuju ruangannya, dia sedikit terkejut melihat Peter sudah menunggunya duduk di kursi lorong.
"Anda terlihat sangat sibuk hari ini dokter." Melepaskan topinya, menundukkan kepala memberi hormat pada Irna.
Irna hanya tersenyum menjawab basa-basi dari pria tersebut.
"Apakah anda tidak terlalu sering mengunjungiku? Bukankah semalam anda sudah bertemu denganku?" Sengaja menyindirnya terang-terangan.
Sementara ini Irna masih mencurigainya, dia tahu Peter masih berusaha keras untuk menemukan keberadaan Rian.
"Saya kemari hanya untuk memberikan bingkisan kecil ini. Mohon nona Kaila mau menerimanya. Saya mewakili kerajaan Interure meminta maaf kepada anda atas tindakan tuan Javi Martinez."
Pria itu menyerahkan kotak tersebut pada Irna. Gadis itu menerimanya.
"Terima kasih. Apakah ada hal lainnya? saya harus melakukan operasi sepuluh menit lagi." Ucap gadis itu segera, karena jadwalnya memang sangat padat hari itu.
"Tidak ada nona. Terima kasih sudah mau menerima hadiah dari kami." Pria itu segera undur diri dari hadapannya.
Irna melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya, dia meletakkan kotak tersebut pada laci meja kerjanya.
Beberapa menit kemudian Rian masuk membawakan berkas untuknya.
"Ini riwayat pasien yang akan operasi hari ini. Kamu baca sebentar." Ujarnya sambil meletakkan lembaran tersebut di atas mejanya.
Irna segera membacanya tanpa berkomentar sama sekali.
"Aku mendengar desas-desus belakangan ini, kamu sering menerima tamu pria di dalam ruangan kerjamu."
Ujarnya sambil menuang air ke dalam gelas di sebelah Irna.
"Tidak sesering kedatanganmu di ruangan kerjaku." Ujar Irna cepat.
"Jagalah nama baik rumah sakit, jika tidak.."
"Braak! Jika tidak, apakah kamu akan memecatku?!" Sahutnya seraya tersenyum, menggebrak meja kerjanya lalu berdiri dari kursinya.
Rian terkejut melihat Irna menyahutnya dengan wajah tidak senang.
"Bukan seperti itu, maksudku.."
"Maksudmu, karena mereka berpikir aku adalah istrimu. Jadi aku bisa saja menyebabkan nama baikmu tercemar?" Berhenti sesaat menghela nafas panjang.
"Kenapa tidak kamu saring saja tamu yang datang dan keluar dari rumah sakit ini? atau memberikan ketegasan seperti, dilarang keras mengunjungi dokter Kaila, istri Presdir." Melanjutkan ucapannya.
Setelah berkata demikian Irna segera melangkah keluar dari dalam ruangannya.
"Aku belum selesai bicara! Irna!" Teriaknya tapi sia-sia, gadis itu telah menghilang di balik pintu.
"Kalau kamu masih ingin melanjutkan bicara, apa kamu mau pasienmu sekarat menunggu di ruang operasi? seharusnya kamu menugaskan dokter lain untuk mengambil jatah operasi pagiku, untuk menggantikanku." Gerutunya sambil melongokkan kepala ke dalam ruangan lalu melangkah pergi.
Memang benar, telah tersiar kabar belakangan ini Irna menerima tamu pria tampan dan tamu tersebut berlama-lama berada di dalam ruangan kerjanya. Karena kedatangan Peter belakangan ini.
Rian hanya tidak ingin Irna menjadi bahan gunjingan. Apalagi Fredian juga selalu mengantarnya pulang dan pergi dari rumah sakit.
Terlihat sangat ganjil, saat setatus hubungan antara mereka berdua adalah suami istri di depan publik. Tapi Irna lebih sering menggamit lengan pria lain.
Rian juga diam saja, saat diejek tidak becus mendidik istrinya. Mereka berbicara di belakang punggungnya saat sedang berada di dalam pertemuan para pemegang saham.
"Situasi macam apa ini? aku benar-benar tidak memikirkannya sebelumnya." Gerutunya kesal sekali.
Irna menyelesaikan operasinya sekitar dua jam. Lalu mengisi laporan dan meminta asistennya untuk mengantarkan kertas tersebut ke ruangan Rian.
Irna masih tidak tahu dengan kesulitan yang dialami Rian belakangan ini, dia hanya melihat beberapa dokter berkasak-kusuk di belakangnya saat dia melintas.
"Apakah dia menghadapi hal serius?" Ujarnya sambil cemberut di sofa ruang kerjanya.
"Dokter, Presdir bilang ada beberapa catatan yang tidak sesuai dengan laporan yang dokter tulis. Anda diminta untuk segera menemuinya di ruangannya."
__ADS_1
Asistennya menyerahkan lembaran kertas itu kembali padanya.
"Ya baiklah, sudah waktunya untuk absen ke ruangan Presdir." Ujarnya tersenyum santai sambil menenteng kertas tersebut menuju ruangan Rian.
"Tok! tok! tok!" Mengetuk pintu ruang kerja Rian.
"Masuk!" Terdengar suara Rian dari dalam ruangan kerjanya.
Pria itu terlihat serius memeriksa beberapa berkas di atas meja. Gadis itu melangkah masuk ke dalam dan duduk di sofa yang ada di sana.
Rian mengirim pesan pada seseorang untuk mengambil laporan ke ruangan kerjanya, lalu kemudian melangkah ke arah Irna kemudian duduk di sebelahnya.
"Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi jangan salah faham dengan tindakanku. Dan mungkin ini akan sangat mengejutkan juga melukai harga dirimu."
Rian menarik dasinya hingga longgar, lalu meraih kepala Irna dan mencium bibirnya. Tepat pada saat itu seseorang membuka pintu ruangannya.
"Maaf saya salah masuk!" Melihat pemandangan panas itu, orang tersebut buru-buru menutup pintu dan kembali.
Rian kemudian melepaskan ciumannya, buru-buru menatap ke arah pintu. Lalu berdiri dan melangkah kembali menuju meja kerjanya.
Seolah-olah ciuman barusan tidak terjadi sama sekali. Membiarkan Irna melongo menatapnya dengan wajah bingung.
"Aku akan mengantarkan kamu pulang." Ucapnya menjawab wajah bingung di depannya.
"Apa itu tadi?"
"Sandiwara." Sahut pria itu pendek tanpa ekspresi.
"Aku sangat terkejut."
"Aku seorang Presdir, jika aku membiarkan desas-desus istriku main belakang bagaimana menurutmu? sebaiknya aku membuat gosip bermesraan dengan istriku di ruangan kerjaku. Mungkin itu akan menutup gosip skandal cinta dokter Kaila dengan Presdir Resort."
Jelasnya seraya melemparkan bolpoinnya ke atas meja.
Irna hampir lupa, dengan status pernikahan rahasianya. Lupa jika dia masih tetap berstatus sebagai istri Rian Aditama di depan publik.
Rian mengambil jasnya di gantungan lalu memakainya. Irna terdiam dengan ucapan pria itu barusan. Irna tahu Rian melakukan ciumannya tanpa perasaan sama sekali.
"Ya anggap saja lalat baru saja hinggap pada bibirku." Ujarnya sambil menatap wajah Rian tanpa senyuman sama sekali.
"Astaga! dia bahkan menganggapku lalat? dia bilang aku lalat?!" Gerutunya saat Irna sudah keluar dari dalam ruangan kerjanya,
Rian segera menyusul langkahnya, berjalan di sebelahnya.
"Sandiwara apalagi sekarang? apa tadi belum cukup?" Ujarnya tanpa menoleh.
"Kamu tidak ada jadwal operasi lagi, apa kamu mau menemaniku makan sebentar di kantin rumah sakit?" Tanyanya pada Irna.
Rian tersenyum tipis melihat kelakuan gadis itu.
Sudah lama mereka tidak terlihat bersama, dan kini tiba-tiba terlihat sangat romantis di depan seluruh penghuni rumah sakit.
Mereka duduk bersama di kantin dan mulai menikmati makanan di atas meja. Beberapa kali Rian memaksa Irna untuk membuka mulutnya dan menyuapinya.
"Sekarang kamu memperlakukanku seperti bayi?!" Gerutunya ketika Rian mengambil tissue untuk mengusap bibir Irna.
"Ini terlihat sangat ganjil, mereka akan berfikir kamu terlalu cemburu padaku." Bisik Irna di telinga Rian.
"Ya memang harus terlihat begitu. Karena mereka pikir kita berdua masih memiliki hubungan." Balasnya dengan berbisik.
"Buka mulutmu." Perintahnya ganti pada Rian.
Karena sedikit kesal Irna terus-menerus menyumpal bibir Rian dengan makanan. Dan membuatnya berhenti bicara.
Dia baru berhenti saat pria itu mengangkat tangannya, dan meraih gelas air untuk mengusir makanan yang masih berjejalan menghambat di tenggorokan.
"Kamu menyiksaku." Ujarnya setelah berhasil menelan seluruh makanan dari dalam mulutnya.
"Apa lagi setelah ini?" Tanya Irna santai tanpa peduli.
Rian menunjukkan kunci mobil di depan wajahnya. Yang artinya sudah waktunya untuk mengantarnya pulang.
"Bukankah kamu masih harus meeting jam tiga nanti?" Menahan lengannya ketika pria itu beranjak berdiri dari tempat duduknya.
"Aku akan kembali ke rumah sakit setelah mengantarkanmu." Ujarnya sambil menarik tangan Irna agar dia berdiri.
Irna terpaksa mengikutinya karena Rian menggandeng tangannya menuju ke ruangan kerjanya untuk mengambil tasnya.
"Apakah itu tidak membuang waktumu? aku bisa meminta sopir untuk membawa mobilku kemari." Melepaskan genggaman tangan Rian dari tangannya, saat pria itu membawanya menuju parkiran.
"Ya baiklah." Rian berbalik dan melangkah pergi tanpa protes sama sekali.
"Fred, minta sopir untuk membawa mobilku ke rumah sakit." Ujarnya di telepon.
"Aku akan menjemputmu." Jawab Fredian segera seraya berdiri dari kursinya di tengah meeting.
Para klien yang sedang berada di sana sedikit terkejut melihat Fredian menerima telepon di tengah meeting. Biasanya pria itu tidak pernah melakukannya.
__ADS_1
"Tidak, jangan kemari."
"Kenapa?" Tanyanya sambil memijit keningnya. Kebingungan karena Irna menolaknya, membuatnya risau dengan hubungan mereka berdua.
"Lanjutkan meetingmu." Irna mendengar suara gemuruh orang banyak dari suara ponsel Fredian.
"Ya baiklah. Aku akan meminta sopir untuk mengantarkan mobilmu. Hati-hati di jalan." Ucapnya lalu mengakhiri panggilan teleponnya.
Setelah menyuruh Roni untuk menjemput Irna, Fredian kembali melanjutkan meetingnya.
Irna duduk di salah satu bangku, di depan rumah sakit untuk menunggu mobilnya. Rian melihatnya dari jendela kaca ruangannya.
"Triiing!" Bunyi pesan masuk pada ponsel Rian.
"Kenapa kamu mengintip seperti pencuri?!" Pesan dari Irna.
"Triiing!"
"Aku menunggu kamu masuk ke dalam mobil." Jawabnya singkat.
"Kurang kerjaan." Gumam Irna lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
Beberapa saat kemudian Roni datang, pria itu membukakan pintu mobil untuknya. Irna masuk ke dalam setelah melambaikan tangannya ke arah Rian, yang masih berdiri di depan jendela kaca ruangannya.
"Kita mau ke mana nyonya?" Tanyanya pada Irna.
"Resort." Jawabnya singkat.
"Tapi Presdir bilang selama tiga hari kedepan anda tidak diizinkan untuk ke sana."
Jelasnya pada Irna dengan sopan.
"Apa ada masalah? biasanya Presdir tidak pernah melarangku datang ke sana?" Tanyanya lagi.
Roni mengantarkan Irna menuju rumahnya, dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Irna karena Fredian tidak menjelaskan alasannya.
"Itu, nyonya tanyakan langsung saja pada Presdir nanti."
Setelah satu jam dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah Fredian. Kedatangan Irna di sambut para pelayan yang sudah menunggu sejak pagi.
Ada yang membawakan tasnya, dan juga menunggunya untuk melepaskan sepatu dari kakinya. Kemudian seorang lagi membantunya melepaskan jas putihnya.
Setelah itu datang lagi pelayan dapur.
"Apakah nyonya ingin menikmati sesuatu?" Tawarnya pada Irna.
"Tidak ada, buatlah secangkir kopi lalu bawa ke dalam kamarku." Perintahnya pada pelayan tersebut.
Saat masuk ke dalam kamar seseorang lagi menghampirinya.
"Apakah nyonya ingin mandi sekarang?" Tanyanya dengan sopan.
Irna menganggukkan kepalanya, pelayan tersebut segera berlari menyiapkan air hangat serta menunggunya untuk menyiapkan pakaian dan merias wajahnya setelah selesai mandi.
Irna masuk ke dalam air di dalam bath up.
"Kalian pergilah, aku akan memakai bajuku sendiri." Perintahnya pada para pelayan yang masih menunggunya di depan pintu kamar mandi.
"Baik nyonya." Mereka segera melangkah keluar dari dalam kamar Irna.
Irna merasa nyaman berada di dalam air hangat. Dia menyandarkan kepalanya pada bath up. Kemudian tertidur di sana.
Entah sudah berapa lama dia tertidur, setelah keluar dari dalam kamar mandi. Pandangan matanya jatuh pada cangkir kopi di atas meja di sebelah tempat tidurnya.
"Sudah dingin." Gumamnya seraya menghirup kopinya.
Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, sepi sekali tidak ada seorang pelayan yang berjaga di dalam kamarnya.
Dia hampir lupa telah mengusir mereka semua keluar dari dalam kamar.
"Sudah jam enam sore, Fredian kenapa belum pulang? apa ada meeting malam dengan klien?" Bertanya-tanya, gadis itu berdiri menatap keluar jendela.
Jika saja dia melihat mobil Fredian datang malam itu. Tapi setelah satu jam berlalu tidak ada tanda-tanda Fredian akan pulang ke rumah. Pria itu juga tidak mengirimkan pesan apapun padanya.
Roni supirnya sudah kembali ke Resort. Irna melangkah menuju ruang tengah, melihat tasnya tergantung di dinding dia ingat ada kotak kecil pemberian dari Peter.
Irna mengambil tasnya, mengambil kotak tersebut dan mencoba melihat isinya.
"Syal?" Irna terkejut ketika membuka kotak tersebut.
"Kenapa Peter memberikan syal padaku?" Tidak mengerti dengan maksud Peter.
Saat membuka syal tersebut sesuatu jatuh ke lantai dan terdengar bunyi berdenting seperti sebuah logam menghantuk ubin.
"Cincin perak? membungkusnya dengan syal?" Irna membuka syal tersebut di atas meja. Terlihat warna cemerlang muncul tiba-tiba dari benang-benang pada syal tersebut.
Warna tersebut memancar keluar seperti cahaya dan menyatu di atas syal, kemudian membentuk sebuah gambar kerajaan.
__ADS_1
"Peta?!" Ujar Irna segera mengambil syal tersebut dan membawanya masuk ke dalam ruang baca Fredian.
Bersambung...