Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Konflik tipis


__ADS_3

Irna duduk di tepi jalan menunggu taxi.


Rian tanpa sengaja lewat di jalan itu, pandangan matanya menangkap seorang gadis yang tidak asing.


"Kenapa mobilmu?"


Sapanya ketika melihat Irna melongokkan kepala terus ke arah jalan, sambil melihat pada jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Itu, bannya tiba-tiba kempes." Ujarnya sambil meringis berharap Rian mau memberikan tumpangan.


"Naiklah.. aku antar sekalian." Ujarnya tersenyum lembut ke arahnya.


"Terima kasih" Tanpa menunggu tawaran dua kali langsung naik ke dalam mobil.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Rian kemudian seraya melirik Irna di sebelahnya, wajah gadis itu terlihat sangat kesal.


"Ah iya aku baik-baik saja." Jawabnya singkat.


"Kemarin aku sempat ke rumahmu." Ujar Rian lagi.


"Oh iya, aku mendengar suara kalian di luar rumah, kakiku terkilir jadi Fredian yang membuka pintu." Jelasnya sembari terus menatap jalan raya.


"Oh, iya aku mendengar banyak rintihan kemarin!" Tandas Rian menyindir halus.


"Apa pria ini tetap protektif seperti sebelumnya? ha ha ha! tentu saja, tidak akan pernah ada yang bisa berubah dalam waktu sesingkat itu!" Gumamnya dalam hati.


"Apa kalian tinggal bersama sekarang?!" Tanya Rian menyelidik.


"Maksudku jika kalian tinggal bersama, aku tidak akan sembarangan datang ke rumahmu" Tambahnya kembali.


"Ya, kami kadang bersama." Jawab Irna pendek.


"Aku senang kamu tidak marah lagi padaku" Ucap Rian merasa lega sedikit melihat Irna tidak mengusirnya pergi.


"Kamu belum sarapan bukan? aku membuat sandwich tadi pagi, dan sebotol jus apel" Meletakkan kotak makan ke pangkuan Irna.


"Kamu terlalu baik, tapi aku senang sekali. Terima kasih aku akan memakannya ketika sampai di kantor" Tersenyum manis.


"Seandainya saja dia tidak terlibat cinta denganku, aku pasti sangat bahagia memiliki sahabat sepertinya.. " Gumamnya senang sekali.


"Kriiiing! kriiiing! aku angkat telepon sebentar." Ujarnya pada Rian, pria di sebelahnya hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Halo.." Sapa Irna pelan sekali siap-siap menerima amukan.


"Bagus ya, kemarin merajuk. Sekarang sudah berada di mobil bersama pria lain?!" Teriak Fredian dari seberang.


Irna meringis mengorek telinganya seraya menjauhkan ponselnya.


Beberapa saat kemudian mendekatkan ponselnya kembali ke bibir.


"Ah, ada orang gila pagi-pagi sengaja membuat empat ban mobilku kempeeeees! Kamu tahu, berapa lama aku menunggu taxi di tepi jalaaaaaan!!? Dan juga aku ingin meremukan tulang-tulangnyaaaa jika sampai aku menemukannya!"

__ADS_1


Teriaknya keras sekali, seraya menggembungkan kedua pipinya melepaskan amarahnya.


Irna nyengir ke arah Rian di sebelahnya, sambil memencet tombol untuk mematikan ponselnya.


Rian terkejut setengah mati melihat Irna marah besar seperti itu.


"Kenapa gadis ini tiba-tiba terlihat sangat mengerikan? apakah aku harus bersyukur ketika dia terus menolakku?" Rian kembali bertanya-tanya dalam hatinya.


"Ah aku minta maaf sudah membuatmu terkejut, membuatmu melihat sebagian kecil sisi negatif dari diriku." Ujar Irna karena melihat wajah Rian mendadak berubah pucat.


Mereka mengenal satu sama lain dalam waktu yang sangat singkat, dan tiba-tiba menikah.


Masih banyak hal yang tidak mereka tahu satu sama lainnya. Irna bahkan tidak pernah berteriak atau pun merajuk padanya.


Mereka bersama, kadang malah lebih banyak diam daripada bicara.


"Turunkan aku di depan sana.. aku hanya tidak ingin wartawan mengambil foto lagi, dan membuat keributan." Tunjuk Irna pada jalan yang masih berjarak lima meter dari kantornya.


"Oh, baju-baju milikmu masih ada di rumahku, jika kamu ingin mengambilnya aku akan mengemasnya untukmu." Tawar gadis itu seraya tersenyum ke arahnya sebelum turun dari mobil Rian.


"Jika ada waktu aku akan pergi mengemasnya sendiri." Ujar Rian sembari menghela nafas berat.


Irna melambaikan tangannya ketika pria itu pergi memutar kemudi mobilnya.


"Bu ada telepon sudah lima kali berturut-turut." Melihat wajah Rini agak ketakutan Irna tahu siapa yang dari tadi menelepon kantornya.


"Oke, biar aku yang angkat nanti." Menatap Rini sambil tersenyum.


"Triiing! Halo"


"Aku sibuk, jadi aku matikan." Ujar Irna pendek.


"Sibuk kencan di dalam mobil?" Sergahnya lagi.


"Iya sibuk sekali sampai tidak bisa diganggu! puas kamu! braaak!" Membanting gagang telepon.


"Selain menyebalkan dia juga menjadi protektif? aku bahkan tidak bersentuhan atau menjabat tangan Rian tapi dia sudah semarah ini?" Gerutu Irna tidak percaya.


"Pak rapatnya akan segera dimulai" Ujar sekretaris Fredian berdiri di sampingnya memberikan lampiran berkas.


Melihat berkas itu Fredian kembali mengingat kejadian tadi pagi, Irna membuatnya marah, membuatnya melakukan hal konyol mengempiskan ban mobil gadis itu, sehingga akhirnya membuat gadis itu bersama dengan Rian di dalam mobil.


"Buang itu!" Teriak Fredian pada sekretarisnya.


"Tapi pak mereka sudah berkumpul, dan sudah menunggu selama satu jam." Ujar sekretarisnya kembali.


"Kamu tahu, apa yang membuat seorang wanita agar tidak marah? tidak merajuk lagi? dan sesuatu yang bisa meredam amarah? seperti itu?" Tanya Fredian pada sekretarisnya.


"Hadiah, berikan dia bunga, atau perhiasan, atau rumah mewah. Pasti dia akan sangat senang sekali pak!" Ujarnya sangat bersemangat.


"Dia bukan wanita yang tergiur ketika melihat uang atau perhiasan. Dia lebih senang tampil sederhana." Jelas Fredian lagi.

__ADS_1


"Kalau begitu dia gadis yang unik. Jika begitu meminta maaf dengan tulus adalah jalan terbaik." Ujar sekretarisnya lagi.


"Bagus sekali! ayo kita ke ruang rapat sekarang!" Ujar Fredian bersemangat sekali.


"Kenapa emosi Presdir malah semakin menakutkan ketika kembali dekat dengan nona Irna??" Ujar sekretaris Fredian tidak mengerti.


Setelah selesai rapat, Fredian kembali menghubungi Irna. Tapi Irna dengan sengaja tidak mau mengangkat telepon darinya.


Fredian dengan tidak sabar kembali menghubungi kantor Irna.


"Rini! berikan teleponnya pada Irna!" Teriaknya membuat Rini melompat terkejut.


"Ibu sedang tidak berada di dalam kantor.." Ujarnya pada Fredian.


Irna sedang mengobrol dengan Reynaldi di restoran lantai bawah kantornya, Irna mengembalikan kotak perhiasan pada Reynaldi.


Irna juga menceritakan segalanya tentang kejahatan yang dilakukan oleh adik kandung ayahnya.


"Kamu harus menemukannya!" Ujar Irna memberikan semangat kepada Reynaldi. Pria itu menitikkan air matanya.


Irna memeluknya dan menepuk punggungnya untuk menenangkan perasaannya.


"Terima kasih Irna.." Ujarnya pada gadis itu.


Irna hanya tersenyum mengangguk.


Fredian melihat ke layar ponselnya, di sana ada foto Irna sedang tertawa di dalam mobil bersama Rian, kemudian berita selanjutnya memeluk Reynaldi di restoran.


"Irna pasti menyampaikan pesan semalam pada Reynaldi, tapi wajahnya yang tersenyum sangat manis ini ketika bersama Rian, membuat perasaanku mendadak berubah jadi sensitif!" Ujarnya seraya mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merasa gerah.


Fredian tidak bisa menunggu lagi, setelah pekerjaan di Reshort selesai dia segera menuju ke kantor Irna untuk menjemputnya.


Saat itu jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul lima sore.


Setibanya di sana kantor Irna sudah terkunci. Irna tidak berada di sana.


Gadis itu berada di NGM untuk memulai awal pekerjaannya di sana.


NGM sudah memulai konstruksi tahap awal pembangunan anak cabang perusahaan. Jadi Irna mengawasi proses tersebut sesekali dalam seminggu.


"Bagaimana menurutmu jika kita menggunakan ini untuk bagian yang sebelah sana?" Tanya Irna kemudian sembari menunjukkan beberapa pilihan kepada Rian.


"Iya itu terlihat bagus, aku sudah pernah melihat hasil pekerjaanmu. Dan itu sama sekali tidak mengecewakan." Ujar Rian sambil tersenyum.


Mereka berdua berbincang-bincang dengan serius berjalan di sekitar proyek. Irna dan Rian mengenakan helm kecil untuk melindungi kepala mereka jika sampai ada benda yang jatuh.


Sampai sesuatu terjatuh dari atas, membuat Rian meraih pinggang Irna.


"Tlak! Braaak!"


Memeluknya melindungi dari material yang terjatuh, dan hampir mengenai kepala gadis itu.

__ADS_1


Irna mendongak menatap Rian, wajah pria itu terlihat hawatir. Degup jantung pria itu cepat sekali. Irna bisa merasakannya karena masih berada dalam pelukannya.


Bersambung....


__ADS_2