Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
또 널 잃었 어, I lost you again.


__ADS_3

Pagi hari..


Fredian duduk di sebelah Irna tertidur, gadis itu mengerjapkan matanya menatap Fredian.


"Kamu tidak tidur semalaman?" Menatap mata panda suaminya.


"Aku menunggumu untuk menjelaskan ini!" Mengancungkan dasi milik Arya.


"Ah, kemarin dia numpang mandi di sini. Itu waktu kamu di lantai bawah." Jelas Irna sambil menggaruk kepalanya.


Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya menuju ke dalam kamar mandi.


Fredian menunggunya di depan pintu. Saat Irna keluar dia bergegas masuk ke dalam. Mereka berdua berangkat ke Reshort bersama.


Saat masuk ke dalam mobil Irna, dia menemukan jam tangan pria berada di jok belakang mobil Irna.


"Itu punya pria gila itu, dia menjadikanku sopirnya kemarin." Jelasnya santai sambil merebahkan kepalanya di bahu Fredian.


"Fred?"


"Hem."


"Kamu marah?" Menatap wajah pria di sebelahnya yang sekarang berstatus sebagai suaminya itu.


"Tidak, hanya saja aku tetap tidak nyaman melihat dirimu dekat dengan pria itu. Aku tahu dia tidak tertarik denganmu sama sekali." Ujarnya jujur.


"Aku akan melakukan perjalanan bisnis besok, keputusan ini juga mendadak. Jadi aku baru bisa mengatakannya padamu hari ini." Ungkapnya lagi.


"Kemana?" Irna mengangkat kepalanya dari bahu Fredian.


"Hongkong." Ujarnya sambil tersenyum melihat wajah terkejut istrinya.


"Aku tidak bisa ikut, sayang sekali." Keluh gadis itu sedikit tidak nyaman.


"Berapa hari kamu akan pergi?" Tanyanya, merebahkan lagi kepalanya.


"Satu minggu."


"Kenapa tiba-tiba harus berpisah selama satu minggu? perasaanku juga tidak enak. Dia akan melakukan perjalanan bisnis, aku sendirian di sini. Rian juga belum kembali." Gumamnya dalam hati.


"Bawalah aku dalam hatimu." Ujar gadis itu menatap wajah Fredian dengan tatapan lekat-lekat.


"Hem, tentu saja, kamu selalu menempati posisi pertama di sini." Menunjuk ke arah dadanya.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu!" Ujar Irna sambil mencium pipi kirinya. Mereka berdua tersenyum bersama.


Satu jam kemudian mereka tiba di Reshort Fredian. Irna dan Fredian turun dari mobil bersama-sama.


"Kamu tidak ada pemotretan hari ini?" Tanyanya ketika gadis itu terus mengekornya menuju ke arah ruang kerjanya.


"Aku akan menyelesaikan skema pria gila itu hari ini, dan segera menyerahkannya." Irna duduk di sofa dan mulai mengerjakan skemanya.


Fredian tersenyum dia sedang duduk di kursi ruang kerjanya.


Mereka pada hari itu, sepanjang hari bersama-sama di ruang kerja Fredian.


"Huaaah akhirnya selesai juga!" Irna meluruskan pinggangnya, Fredian tersenyum memeluknya erat dari belakang.


Irna segera mengemasi berkas di atas meja. "Apakah kita akan pulang malam ini?" Pria itu menempelkan ujung hidungnya di pipi Irna.


"Aku rasa, aku akan tinggal di sini malam ini.." Mengecup bibir suaminya dengan sangat lembut.


Fredian tersenyum lalu mengangkat tubuhnya membawanya masuk ke dalam kamar.


Saat hendak mencium Irna, terdengar suara ketukan di pintu. Tampak wajah Fredian terlihat tidak nyaman.


"Siapa yang berani mengganggu Presdir tampanku?!" Tanyanya sambil tertawa menatap wajah marah Fredian.


Fredian bergegas memakai piyama tidurnya dan menuju ke arah pintu.


"Kakak...!" Sisilia berlari memeluk pinggangnya dengan sangat erat.


"Kenapa dia lama sekali? apa ada masalah serius, sampai-sampai dia melupakanku."


Gumam Irna lalu berdiri sambil menyelimuti tubuhnya yang sedang mengenakan gaun tipis.


Irna melangkah keluar dari dalam ruangan, dia melihat Sisilia sedang menangis memeluk erat pinggang suaminya.


"Kenapa dia?" Tanya Irna pada Fredian.


Sisilia menatap baju Irna yang menampilkan seluruh lekuk tubuhnya.


"Kakak temani Sisil.." Rajuknya masih belum ingin melepaskan pelukannya.


Melihat wajah Fredian yang tidak kunjung memberikan keputusan. Irna tersenyum lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.


Irna mengambil mantelnya untuk menutupi gaunnya yang tipis dan mengambil tas lalu keluar dari dalam ruangan tanpa berkata apa-apa.


Gadis itu melangkah cepat menuju lobi, melihat wajah masam Irna resepsionis tersebut tidak jadi menyapanya. Antoni masih memeluk berkasnya, menoleh melihat Irna melaluinya begitu saja.


"Apakah akan ada bencana lagi di dalam Reshort angel??" Gumam pria itu sambil menggigit ujung ibu jarinya.


Di dalam ruangan kerja Fredian.


"Apakah dia marah lagi? padahal besok aku harus pergi ke luar negeri." Gumamnya lirih, mengingat Irna pergi begitu saja dari ruangannya.

__ADS_1


Melihat Irna pergi Sisilia melepaskan pelukannya dan duduk di sofa ruang kerja Fredian.


"Kakak, aku berhasil menyingkirkannya.." Ujarnya membuat Fredian terperanjat.


"Apa kamu bilang? kamu ingin menyingkirkan Irna dari sisiku? aku tidak percaya, kamu gadis kecil yang aku anggap sebagai adikku sendiri memusuhi istriku??!" Fredian penuh murka menatap wajah adik sepupunya.


Pria itu segera berlari menuju ke pintu.


Sisilia menahan pinggangnya dengan sangat erat, memeluknya dari belakang punggungnya.


"Kakak, aku sangat mencintaimu.." Ujarnya dengan sangat lembut.


"Maaf aku tidak bisa, aku tidak mencintaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai seorang adik."


Fredian melepaskan pelukan Sisil dengan kasar, dia segera berlari menuju ke lobi Reshort dan berlari lagi menuju parkiran.


Pria itu masih mengenakan piyama tidurnya yang diikatkan pada pinggangnya.


Irna yang sudah berdiri di samping mobilnya tiba-tiba duduk berjongkok. Dia tidak menangis tapi melihat raut wajahnya, gadis itu sedang bersedih.


"Dia bahkan tidak berniat untuk mengejarku! ini adalah hari kebersamaan kita yang terakhir sebelum dia pergi."


Ujar Irna sedih sambil memeluk lututnya, mencoret-coret di atas pasir di bawah kakinya.


Betapa leganya dia mendapati istrinya masih di sana. Fredian ikut berjongkok dan memeluk erat dirinya dari belakang.


Pria itu mencium belakang kepalanya, Irna segera menoleh saat hidungnya mencium aroma parfum suaminya.


"Jangan pergi dariku.." Bisiknya lalu mengangkat tubuh istrinya kembali masuk ke dalam Reshort.


"Aku tidak ingin pergi, tapi adik sepupumu terus mengganggu. Dia sangat ingin melihatku pergi."


Irna memeluk leher Fredian sambil mengerjapkan matanya dengan imut.


Fredian mengambil kunci pintu kamar lain di lobi, dia memilih kamar vip yang terletak di lantai atas.


"Turunkan aku Fred.. ini memalukan sekali."


Di depan meja resepsionis Irna mengalungkan kedua lengannya di leher suaminya, sambil menyembunyikan wajahnya di dada atletis suaminya.


"Kamu istri tercintaku, apa yang harus disembunyikan lagi." Malah mencium pipinya di depan karyawannya.


Antoni semakin gemas menggigit ibu jarinya menatap Irna berada di dalam gendongan Fredian.


"Akhirnya mereka tidak jadi bertengkar, jadi aku tidak perlu mengempes ban mobilnya nyonya Irna lagi." Gumamnya lirih.


Mendengar itu Irna langsung mendelik menatap wajah Antoni.


"Kau! jadi selama ini kamu yang mengempis ban mobilku!?" Irna meronta dari gendongan Fredian, tapi pria itu tidak ingin menurunkannya.


Fredian melangkah santai menuju lantai atas melalui lift yang ada di sebelah lobi.


"Apa kamu sudah tidak malu lagi? coba lihat seluruh karyawan sedang memperhatikan kita." Ujarnya pada istrinya.


Fredian tersenyum lembut menatap Irna. Irna menatap wajah Fredian di atas wajahnya sambil memasang wajah masam.


"Fred.. apakah perjalanan bisnismu besok itu sangat penting?" Irna merajuk padanya saat pintu lift mulai tertutup.


"Jika tidak penting, tentunya aku lebih memilih untuk tinggal dan menemanimu." Kembali mengecup bibir Irna dengan lembut.


Sisilia menatap geram mereka berdua sambil meremas jemari tangannya. Antoni melihat gadis itu bersungut-sungut sedang berdiri di depan pintu lift.


Gadis itu berniat mengganggu Fredian dan Irna sampai akhir. Sisilia berbalik melihat ke arah karyawan yang sedang berjaga di depan meja resepsionis.


"Di kamar nomor berapa kakakku pergi?!" Bentaknya pada Erni penjaga resepsionis yang bertugas saat itu.


"Maaf nona saya tidak bisa memberitahukan kepada anda." Jawab resepsionis tersebut dengan sopan.


"Jika kamu tidak memberitahunya, aku akan membuatmu dipecat besok!" Ancamnya pada Erni.


"Jika saya memberitahukan nomor kamarnya Presdir pada nona, malah saya akan dipecat sekarang!" Membalas ucapan Sisil dengan wajah tersenyum.


Sisilia segera pergi meninggalkan Reshort angel dengan wajah geram. Gadis itu menyusun rencana, dia ingin mengikuti kakak sepupunya ke Hongkong tanpa sepengetahuan Irna.


"Halo, bisakah kalian melakukan sesuatu untukku!" Sisilia berada di dalam mobilnya sedang menghubungi seseorang.


"Lakukanlah besok, aku akan mengirimkan fotonya pada kalian." Gadis itu tersenyum penuh misteri.


Entah kejutan apa yang sedang direncanakan olehnya.


Di dalam kamar VIP nomor 99 yang berada di lantai atas Reshort, Irna dan Fredian melalui malam romantis mereka berdua.


"Fred, aku sebenarnya ingin ikut pergi denganmu. Aku takut, entah kenapa aku merasa sangat tidak nyaman pada perjalanan bisnismu kali ini."


Ujarnya masih berbaring di atas dada suaminya.


"Aku akan segera kembali setelah perjalanan bisnis, aku janji!" Ujarnya mencoba menghapus kekhawatiran di hati Irna.


"Rian sudah kembali lusa, jadi kamu bisa memintanya untuk menemanimu." Fredian tersenyum lalu mencium keningnya


"Kalian tidak sedang merencanakan sesuatu padaku kan?" Tanyanya sambil mengurung Fredian dengan kedua lengannya di atas tempat tidur.


"Tidak, mana mungkin aku berani merencanakan sesuatu di belakangmu." Fredian menarik kepala Irna lalu mengulum bibirnya.


Irna dibuatnya gelagapan, pria itu membalik posisi dan mulai menyerang dengan agresif.

__ADS_1


Seluruh tubuh mereka berdua sudah bersimbah peluh. Fredian menjatuhkan tubuhnya di sebelahnya menatap langit-langit kamarnya.


"Apa yang kamu pikirkan?" Irna menoleh wajah tampan di sebelahnya, rambut pria itu sangat basah seperti habis terguyur air.


Keringat masih mengalir jatuh dari pelipisnya.


Dia tersenyum melihat wajah Irna yang masih menatapnya, terlihat dari sinar matanya jika gadis itu selalu mengaguminya.


"Kenapa wajahmu tidak pernah terlihat jelek." Gumamnya pelan, membuat Fredian tersenyum lebar mendengarnya.


"Apakah kamu yakin tidak ada yang berubah sama sekali?" Tanyanya pada Irna.


"Hem, sepertinya itu karena darahku, seakan-akan kita berhenti di usia kita sekarang."


Malam berlalu begitu saja, Irna berada di dalam rengkuhan Fredian.


Paginya Irna meneleponku Rini untuk pergi mengambil skemanya yang sudah selesai di Reshort Fredian.


Irna dan suaminya menuju bandara pribadi keluarga Derrose, pagi itu dia melepaskan kepergian pria yang dicintainya itu.


Irna melangkah santai menuju mobilnya, lokasi bandara tersebut lumayan jauh dari perkotaan dimana Irna tinggal.


Harus melalui kawasan hutan untuk bisa sampai di sana. Irna pulang seorang diri, tampak dua mobil sedang mengikutinya dari kejauhan.


"Siapa mereka? kenapa mengikutiku? kenapa posisinya bisa tepat begini! saat Fredian dan Rian tidak ada."


Gerutu Irna, kemudian mulai menambah kecepatan mobilnya.


Di luar dugaan pikirannya mereka tiba-tiba menghadang di depannya. Karena panik Irna membanting setir mobil, hingga mobilnya berada di tepi tebing.


Sedikit lagi bergerak mobil Irna akan jatuh ke dalam jurang.


"Apakah aku akan mati hari ini...?" Irna mulai merembeskan air matanya.


"Krataaaakkk... kraaaataaak.." Mobil gadis itu mulai berayun sedikit kehilangan keseimbangan.


"Jika aku menghubungi Fredian, ponselnya pasti sedang tidak aktif karena dia masih berada di dalam pesawat." Gadis itu menggenggam erat ponselnya.


Beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi.


"Arya??!" Panggilnya dengan suara serak.


"Kamu dimana?" Tanya pria itu terkejut.


Biasanya gadis itu selalu memakinya dan berteriak kencang setiap kali dia meneleponnya.


"Aku ada di kota A, mobilku sedang berada di tepi tebing..."


Mendengar itu Arya segera meraih jasnya dan berlari menuju ke arah mobilnya. Dia bergegas mencari Irna.


"Jangan tutup teleponmu! aku sedang dalam perjalanan menuju ke sana!"


"Terima kasih... skema milikmu, kamu bisa mengambilnya pada Rini." Ujar Irna lirih.


Irna mendengar suara gelak tawa berada di belakang mobilnya.


"Hahahaha! mati saja kamu! kamu tidak akan pernah mendapatkan kakakku! wanita murahan sepertimu! inilah akibatnya dari merebut milikku!" Teriak Sisilia lantang, gadis itu menatap Irna dengan penuh kebencian.


"Setelah hari ini! Kakak tampanku hanya akan jadi milikku seorang! apakah kamu punya kata-kata terakhir untuk diucapkan?" Memandang wajah Irna dengan tatapan sinis.


"Dasar gadis gila! kamu bahkan berani membunuhku demi mendapatkan pria yang sama sekali tidak pernah mencintaimu!!" Geram Irna penuh amarah menatap Sisilia.


"Jadi ini adalah ulah gadis gila itu!?" Bisik Arya melalui ponselnya.


Tepat saat Arya menemukan keberadaan Irna, Sisilia sedang mendorong mobil Irna, menjatuhkannya ke dalam jurang.


"Tidaaaaaak! Irnaaaa! Bruuuuum duaaaaarrrr!" Teriakan histeris Arya Ardiansyah disusul suara berdebum mobil meledak di dasar jurang.


Arya jatuh terduduk di tepi tebing, menatap ke dasar jurang dimana mobil itu telah hancur meledak terbakar.


Kobaran api memenuhi dasar jurang. Sisilia telah berhasil dalam misinya, gadis itu menghilang entah kemana.


"Aku ingin melaporkan kejahatan gadis itu! tapi aku tidak punya bukti sama sekali!" Geramnya sambil menatap kobaran api di dasar jurang.


"Irnaaaa! kamu tidak boleh mati! kamu harus hidup! ini pasti hanya mimpi! ini pasti mimpi! Irna wanita yang kuat, tidak mungkin dia mati! duaak! duaak!"


Arya menggila, pria itu membenturkan kepalanya berkali-kali pada batu hingga darah mengalir dari pelipisnya.


Dengan langkah kaki gontai, pria itu meninggalkan tebing dia melarikan mobilnya menuju kantor desain milik Irna.


Pria itu terduduk lesu di lobi. Dia juga sudah melaporkan kejadian tersebut pada polisi.


Kecelakaaan tersebut di tayangkan pada liputan berita London di layar kaca.


"**Telah dilaporkan Artis ternama Irna Damayanti telah meninggal dunia.


Mobil Irna Damayanti telah mengalami kecelakaan pagi tadi, puing-puing mobilnya telah ditemukan terbakar di dasar jurang.


Sampai saat ini keberadaan Irna Damayanti belum ditemukan, kami menduga bahwa dia telah hangus terbakar bersama mobilnya.


Liputan selanjutnya akan kami sampaikan satu jam mendatang**."


Rian melihat berita di televisi sangat terkejut dan segera mengambil penerbangan untuk kembali ke London hari itu juga.


Fredian baru sampai sore itu di Hongkong. Dan Sisilia juga menyusulnya di sana. Fredian terkejut karena adiknya itu tiba-tiba terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2