Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Bitter


__ADS_3

"Aku tidak akan minta maaf padamu," Fredian kembali meneguk air di dalam gelasnya, sampai gelas tersebut kosong tanpa isi.


Dia terlihat tidak nyaman dengan jawaban jujur istrinya, tentu saja dia terluka! baginya Irna sejak awal adalah wanita yang sangat dia cintai satu-satunya.


Dimana tempat dia singgah sejak awal hanyalah Irna, Irna Damayanti. Gadis biasa yang kini menjadi luar biasa. Gadis sederhana yang kini menjadi terlalu istimewa!


"Bisakah kamu berjanji padaku?" Fredian membuka kata kembali setelah sepuluh menit diam membeku.


Pria itu menoleh ke samping dimana Irna masih memainkan sepuluh jemarinya di atas meja makan.


Gadis itu mengangguk lalu tersenyum tipis menoleh ke arahnya, Irna tahu pria itu sangat tidak nyaman sekarang. Jika hari-hari sebelumnya dia selalu lengket menempel padanya.


Kini Fredian terlihat enggan untuk menyentuhnya, Irna masih tidak mengerti. Gadis itu hanya duduk diam dan menunggu. Dia tetap menunggu suaminya kembali hangat, dia tidak ingin ditepis ketika dia bertekad merayu. Fredian bukan tipe pria yang gampang termakan rayuan.


Dia sangat mengenal pria itu dengan sangat baik, pria yang kukuh, lembut tapi juga keras kepala.


"Katakanlah apa permintaanmu." Sahut Irna padanya.


"Berjanjilah bagaimanapun masa lalu-mu, untuk tetap berada di sisiku! Sekalipun tidak ada cinta di antara kita berdua! Sekalipun tidak ada rasa rindu di antara kita." Ucapnya seolah-olah menebak hubungan mereka berdua ke depannya.


"Mustahil! Aku tidak habis pikir kamu melontarkan kata-kata itu padaku. Memangnya sejak kapan kita saling menjauh? Kita selalu dekat sejak awal kan?!" Irna mengerjapkan matanya berkali-kali, dia tersenyum pahit mendengar ucapannya yang lebih terdengar sebagai keluhan pada pendengaran Irna.


"Fred, kamu ingin membangun benteng yang tak bisa ku gapai karena terlalu tinggi!" Keluh Irna di dalam hatinya. Gadis itu tersenyum getir ketika melihat suami tampannya berdiri dari kursinya.


Pria itu tak menoleh ke arahnya sama sekali, dia langsung menuju ke kamar mandi lalu masuk ke ruang baca. Irna hanya melihatnya, Irna hanya diam saja diperlakukan seperti manekin di tepi ruangan.


"Yah, oke, jika itu maumu!" Gumam Irna pada dirinya sendiri lalu melangkah menuju ke dalam kamarnya.


Fredian di ruang baca mendengar gumaman Irna, pria itu meremas berkasnya lalu melemparnya ke tempat sampah yang ada di sudut ruangan. Fredian tidak berniat untuk pergi ke kamarnya, dia mempertahankan egonya.


Pria itu ingin Irna datang, memberikan kehangatan padanya. Tapi di sisi lain Irna berpikir Fredian sengaja membuat benteng untuknya, dia tidak bisa mendaki tanpa uluran tangannya.


"Kamu benar-benar ingin mengabaikanku! Braaakkkk!" Fredian menendang rak bukunya, di tengah malam buta. Mendengar suara begitu berisik Irna bangkit dari tempat tidurnya.


Gadis itu masih memakai gaun tipisnya, yang biasa dia pakai untuk tidur. Irna setengah berlari menuju ruang baca dimana suaminya berada sekarang.

__ADS_1


"Fred?" Panggil Irna ketika gadis itu telah berada di ambang pintu.


Irna melihat seluruh ruangan baca tersebut benar-benar sudah berantakan seperti kapal pecah.


Dia melihat Fredian berdiri menghampiri jendela memunggunginya, hanya meja belajarnya yang masih tetap berada di posisinya. Selain itu sudah hancur berserakan di lantai ruangan tersebut.


"Kamu marah padaku?" Irna memberanikan diri untuk menyentuh bahunya. Pria itu diam saja tidak menjawabnya.


"Aku tahu kamu marah padaku, kita selesaikan ini oke?" Irna sekarang berdiri di hadapannya.


"Aku tidak pandai merayumu Fred, tapi aku akan mencobanya!" Ucap dalam hati Irna. Dia merendahkan harga dirinya, menarik krah Fredian agar bisa merundukkan badannya.


Irna berusaha memagut bibirnya, tapi pria itu malah melengos ke arah lain.


Irna mencobanya lagi, Fredian malah menegakkan kepalanya.


"Fred!" Teriak Irna sambil berkacak pinggang. Dia kesal sekali karena Fredian tidak mau mengatakan sesuatu padanya.


"Ya sudah, diamlah dan mengamuk-lah sesuka hati. Aku akan ke rumah sakit saja." Irna tersenyum melihat wajah Fredian yang tetap dingin seperti es batu. Gadis itu melangkah pergi menuju kamarnya bersiap untuk berganti baju.


Tanpa sengaja pinggulnya menyentuh Fredian yang sedang berdiri di belakang punggungnya.


"Fred?" Irna menoleh, gadis itu masih belum memakai bajunya. Irna bersandar pada daun pintu lemari. Dia melihat mata Fredian merah menyala-nyala.


"Kamu mau pergi kemana?"


"Ke rumah sakit."


"Telanjang begini?" Fredian melihat Irna tanpa selembar benangpun melekat pada tubuhnya.


"Ah, aku ingin memakai bajuku. Kamu tiba-tiba muncul di sini, aku sangat terkejut." Irna mulai memakai bajunya satu persatu dia takut sekali melihat kemarahannya.


"Kamu beneran mau pergi?" Tidak percaya Irna meninggalkan dirinya sendiri di sana.


"Bukankah kamu marah karena aku berada di rumah?" Irna jadi bingung karena Fredian terlihat tidak senang dengan kepergian dirinya lagi.

__ADS_1


"Aku sudah bilang kamu tidak boleh pergi!"


"Tapi kenapa kamu menolakku?"


"Aku masih ingin menjernihkan isi kepalaku, masih ingin mencerna satu persatu apa yang kamu jelaskan padaku. Tunggulah aku sebentar saja Irna. Tunggulah aku sampai kepalaku menjadi jernih seperti semula!" Kini Fredian menyentuh kedua bahunya.


Pria itu berharap Irna mau menunggunya. Mau mengerti perasaannya.


"Fred aku istrimu, dan aku besok juga kemarin adalah istrimu!"


"Kamu janji tidak akan berlari ke masa lalumu? Tidak akan berlari mengejar masa lalu-mu, di sana ada pria yang menunggumu bukan!?" Fredian bertanya dengan sungguh-sungguh. Fredian tahu Irna memilki cinta yang besar di masa lalunya, jika tidak gadis vampir itu tidak mungkin memilih untuk mengakhiri hidupnya begitu saja.


"Siapa namamu di masa lalu?"


"Namaku Angelina.. pemilik bunga kristal es sebelumnya."


Fredian tercekat mendengar jawaban Irna, gadis itu terkejut melihat wajah pucat suaminya.


"Fred?!" Irna melangkah mendekati Fredian tapi pria itu terus mundur selangkah demi selangkah menjauh darinya.


"Kamu kekasih raja Eroine?!" Fredian menatap wajah Irna dengan mata berkaca-kaca, pria itu seperti tidak punya tenaga sama sekali.


Irna semakin terkejut mendengar ucapannya.


"Memangnya kenapa? Itu hanyalah masa laluku!" Irna mendekatinya.


"Sepasang kekasih, yang telah melegenda di dunia Vampir! Raja Eroine dan ratu Anggelina. Cinta yang dibawa sampai mati! Kini kalian telah bertemu dan menyelesaikan kesalahpahaman di masa lalu!" Fredian melelehkan air matanya, kemarahan di wajahnya berubah kesedihan yang luar biasa.


Pria itu seperti tahu saingan cinta yang sebenarnya, tahu dia hanyalah seorang pangeran dan perebut cinta sejati raja Eroine.


"Fred! Aku tidak akan kembali bersamanya! Tidak akan!" Irna berlari memeluk pinggangnya. Tapi Fredian mendorongnya hingga dia jatuh tersungkur di lantai.


"Fred!" Teriakannya hilang di telan udara, pria itu telah pergi entah kemana.


Bersambung..

__ADS_1


Please like sebelum pergi, thanks for reading... Tunggu episode selanjutnya..  i Miss you..


__ADS_2