
"Kira-kira kapan Karin akan menemuimu lagi?" Tanya Rian pada Fredian. Pria itu hanya mengangkat kedua bahunya, dia sama sekali tidak tahu kapan Karin akan menemuinya lagi.
"Jika gadis itu punya rasa malu, tentu dia tidak akan berani menunjukkan batang hidungnya lagi di hadapanku." Menatap ke arah Rian.
"Jika dia ke sini, lalu mendapatiku sedang bersamamu pasti dia akan menertawakanku. Karena gadis itu tahu bahwa aku adalah istrinya." Irna menunjuk ke arah Rian.
Mereka bertiga lupa, Irna benar-benar tidak bisa membantunya sama sekali kali ini karena statusnya adalah istri dari Rian Aditama. Bukan istri Fredian.
Tiba-tiba Fredian mengingat sesuatu, "Nira! kita gunakan Nira. Irna menjadi Nira, bagaimana?" Fredian meminta pendapat mereka berdua.
"Cucuku? anak kecil itu? kamu berniat menggunakan anak kecil itu?" Irna terkejut saat Fredian mengungkapkan pendapatnya. Kemudian Fredian memberikan penjelasan secara singkat mengenai kejadian tadi pagi saat bersama dengan Nira di ruang meeting.
Nira sejak tadi duduk santai mengunyah permen karetnya, seraya menjulurkan kakinya di meja lobi. Para penjaga tidak ada yang berani mengganggu atau menyinggung gadis itu, jika tidak ingin berakhir resign.
Maya memberikan beberapa berkas untuk diperiksa olehnya, gadis itu duduk di kursi bersebelahan dengan dirinya.
"Eh, May?" Tanyanya tiba-tiba.
"Iya Bu?" Jawabnya terkejut, karena Nira tidak pernah menyapanya sejak kejadian cekcok tentang pakaian Maya waktu itu.
"Tua amat! panggil aku Nira." Protesnya ketika Maya memanggilnya ibu.
"Iya Ra, ada apa?"
"Kamu kenal si Karin itu? Dia melotot terus saat meeting ke arahku." Ujarnya pura-pura tidak mengerti tentang Karin.
"Iya, sudah tiga hari gadis itu bolak-balik ke sini mencari Presdir. Tapi resepsionis bilang Presdir sedang di rumah bersama istrinya." Terangnya pada Nira.
Mendengar itu Nira bergegas menyusul Rian dan Irna di ruangan Fredian.
Saat gadis itu masuk ke dalam ruangan, Irna segera menarik tangannya menuju ke dalam kamar Irna.
"Oma, kenapa narik-narik Nira sih?" Dia tidak mengerti kenapa Irna terus menempelkan gaunnya pada cucu tercintanya itu.
"Kita tukar tempat, untuk sementara waktu. Kamu harus berdandan sepertiku, dan gantikan aku di rumah sakit! bukankah kamu ingin sekali bekerja di rumah sakit?" Tanyanya Irna seraya mendandaninya seperti dirinya.
Rambut panjang Nira yang selalu digelung ke atas, Irna tata rapi sampai bermodel sama dengan dirinya. Dan juga kalung bunga kristal dia berikan padanya. Sama seperti Kania, Irna juga meninggalkan satu untuk putrinya itu.
"Oma? Tapi gaya tomboyku! Astaga nenek benar-benar merusaknya!" Ujarnya gerah, karena Irna sedang mengoleskan make up padanya.
Saat mereka berdua keluar Fredian sangat terkejut ternyata mereka berdua benar-benar mirip. Sama-sama mempesona, hanya saja Nira selalu berkacak pinggang sambil menggembungkan permen karetnya.
"Kalian bertukar tempat?" Rian memijit pelipisnya, bagaimana mungkin dia bisa berpura-pura menjadi suami istri dengan cucunya. Sejak bayi Nira selalu berada di pangkuan Rian.
Nira baginya sudah seperti putrinya sendiri, tapi hanya untuk sementara akhirnya dia menyetujuinya. Lagi pula Nira juga seorang dokter. Walaupun tidak bisa mengungguli Irna, tapi gadis itu sudah sangat kompeten.
Dia meraih penghargaan di bidang kedokteran, saat kuliah sambil bekerja di negeri Belanda. Dan ketika pulang Fredian yang memintanya untuk membantunya di resort.
Nira dan Rian menuju lobi hotel Fredian, gadis itu tidak mau memegang lengan kakek tirinya. Baginya sangat terasa janggal, dan ketika melintasi ruang sekretaris dia sengaja nyengir ke arah Maya sambil menggembungkan permen karet di mulutnya.
"Astaga!" Maya berteriak, hingga berkasnya terjatuh ke lantai. Yang dipikirnya Kaila ternyata adalah Nira.
"Mereka berdua bertukar tempat?" Gumam Maya sambil menutupi bibirnya dengan jari tangannya.
"Kamu tidak akan memakai jeans kan?" Mencium tengkuk istrinya, di dalam ruang ganti. Irna masih memilih pakaian yang akan dia pakai untuk menjadi bawahan Fredian. Menggantikan posisi Nira.
"Fred! akh!" Pekiknya karena jemari pria itu sudah merayapi pahanya. Singgah di antara kaki mulusnya.
Sepertinya dia sudah tidak bisa mengendalikan keinginannya untuk tidak menyentuhnya. Direnggutnya helai demi helai kain yang membalut tubuh Irna.
"Kalau kamu tidak bisa menahan diri aku akan memakai jeans mulai besok, aduuuuh! bruuuk!" Fredian mendorong punggungnya ke dinding. Pria itu tidak mau mendengarkan ucapannya lagi.
Lehernya menjadi sasaran utamanya, kemudian turun ke bagian bawah tubuhnya. Menjalar ke bawah lagi di antara kedua pahanya.
__ADS_1
"Fred... kamu akhhh!" Gigitan dan kecupan bibirnya membuatnya tidak bisa tegak berdiri lagi. Seluruh tubuhnya terasa lemas, basah kuyup dengan keringat.
Irna meremas punggung Fredian, pria itu terus memagut bibirnya, seraya menekan organ sensitif milik Irna dengan senjata miliknya, sudah tidak tertahankan lagi pertempuran panas antara mereka berdua terjadi selama kurang lebih tiga jam.
"Hah! hah! hah!" Kembali mengatur nafasnya jatuh ke samping tubuh Irna. Irna sendiri berusaha bangkit dari lantai.
"Kenapa harus di atas lantai?! Ketika ada tempat tidur yang begitu besar di sana? Duuuaakkk!" Teriaknya seraya menendang kaki suaminya. Punggungnya terasa sakit sekali. Gadis itu memegangi pinggulnya sambil berusaha berjalan terbungkuk-bungkuk.
"Hahahaha! Kamu benar-benar seperti nenek-nenek!" Pria itu tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Berhenti menertawaiku! Menyebalkan sekali! Kamu yang membuatku seperti ini!" Teriaknya lagi seraya melempar pakaian shirt putih milik Fredian ke wajah suaminya itu.
Fredian tersenyum lalu berdiri, dia segera mengangkat tubuhnya membawanya masuk ke dalam kamar. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
"Aku ingin pergi ke kamar mandi, kenapa kamu malah membawaku ke kasur?!" Protesnya lagi, lalu Fredian mengangkat tubuhnya lagi membawanya ke dalam kamar mandi.
"Apa kamu menyukai air hangat ini?" Kembali mengingat masa yang telah bertahun-tahun lalu. Irna begitu senang berendam di bath up di kamar mandi miliknya itu. Waktu itu gadis itu masih bekerja sebagai arsitektur.
"Kamu masih mengingatnya?" Irna meremas lengan suaminya, tatapan mata gadis itu menelusup jauh ke dalam relung hati Fredian. Mencari lembaran demi lembaran kenangan manis antara mereka berdua.
"Tentu saja aku masih mengingatnya sayangku... cup!" Mendaratkan ciuman pada kening Irna.
Irna tersenyum sambil berendam di bak mandi. "Tut, tunggu! kamu mau apa ikut berendam! Frediaaaaaannnn!" Teriaknya kencang sekali, membuat Maya menjatuhkan berkasnya tepat di luar pintu ruang kerja Fredian.
"Apa sebenarnya yang terjadi dengan mereka berdua?" Maya buru-buru memunguti berkasnya lalu kembali ke ruangan sekretaris. Dia menunda menyerahkan berkas Fredian, karena sepertinya Presdirnya sangat sibuk dengan Kaila.
Irna meremas tepi bak mandi di depan wajahnya, "Sampai kapan kamu akan terus menyiksaku? akh! ahhh!" Pekiknya sambil menggigit bibir bawahnya.
Fredian tersenyum melihat Irna kewalahan melayaninya, dia melajukan lagi menambah ritme kecepatannya. "Akh! aduh! pelan-pelan!" Pekiknya lagi.
Setelah satu jam, gadis itu merangkak turun dari dalam bath up. "Pria sialan! aku pikir kamu akan membantu tapi malah terus mengerjaiku tanpa henti!" Gerutunya seraya menarik baju mandi di atas gantungan. Kemudian memakainya.
Fredian masih berendam di dalam bak mandi, pria itu terengah-engah mengatur nafasnya. Mendongakan kepalanya bersandar, sambil memejamkan kedua matanya. Bibirnya menyunggingkan senyuman manis, dia puas sekali mengerjai istri manisnya.
Fredian sudah memakai baju mandinya, dia memeluk pinggangnya dari belakang. Irna masih berbicara di telepon. Di ruang kerja Fredian.
"Fred!" Teriaknya lagi sambil menyingkirkan tangannya dari pahanya. "Kamu tidak kelelahan apa?!" Ujarnya kesal, gadis itu masih meringis menahan nyeri pada bagian bawah tubuhnya.
"Berkasmu banyak sekali?" Ujarnya saat melihat berjibun kertas bertumpuk di atas meja kerjanya.
Saat Irna Irna mengulurkan tangannya untuk menyentuhnya, tiba-tiba dia langsung berteriak. " Jangan sentuh!" Irna langsung menoleh ke arahnya.
Irna sangat terkejut karena Fredian tidak mengijinkannya menyentuh kertas tersebut. "Kenapa?" Tanyanya pada suaminya.
"Kamu lupa, pernah mencampur adukkan berkasku. Dan rapatku berantakan." Gerutunya mengingat kejadian bertahun-tahun lalu menjelang pernikahan kedua.
"Oke! aku tidak akan menyentuhnya! tidur saja dengan berkasmu! braaakk!!" Gadis itu bersungut-sungut, lalu masuk membanting pintu kamarnya.
"Irna?" Fredian duduk di tepi tempat tidurnya, Irna terlihat marah dan kesal sekali.
"Pergi sana! aku ingin tidur saja! besok kamu suruh Maya saja untuk menggantikan Nira! aku tidak bisa melakukan pekerjaan management! aku juga tidak mengerti cara kerja perusahaan milikmu!" Gerutunya tanpa henti.
"Jangan marah seperti ini, aku tidak akan menyalahkanmu lagi oke?" Mencium pipi istrinya.
Irna berbalik, sambil mengusap air matanya. "Kenapa kamu menangis?" Tanya Fredian padanya.
"Kamu marah padaku, dan kamu terlihat sangat menakutkan." Merajuk sambil memeluk pinggangnya sangat erat.
"Nira bisa menggantikanku, tapi aku tidak bisa menggantikan posisi Nira di resort." Kembali mengeluh pada Fredian.
Fredian memeluknya erat sampai mereka berdua tertidur pulas.
Keesokan harinya Irna terjaga sekitar pukul tujuh pagi. Fredian sudah tidak ada di sebelahnya. Dia segera berlari kecil mengintip ke ruang kerjanya. Pria itu sedang memeriksa berkasnya.
__ADS_1
Fredian tersenyum melihat Irna sedang mengintip di balik pintu kamarnya. "Kemarilah, apa kamu sudah merindukanku lagi?" Mendengar itu, Irna berlari ke arahnya lalu duduk di pangkuan suaminya.
"Cup!" Irna mencium bibirnya, dia terlihat sangat mencintai Fredian. Dua detik kemudian..
"Aku akan mandi dulu, kamu minta koki siapkan sarapan untukku." Perintahnya pada Fredian, image seorang Kaila Elzana kumat lagi.
Fredian menurutinya, pria itu segera meminta koki untuk menyiapkan makanan dan mengantar ke dalam ruangan kerjanya.
Kalau biasanya Nira lebih suka makan sambil duduk di restoran Resort, tapi Irna tidak. Dia lebih suka menikmatinya di dalam kamarnya sendirian.
Irna sudah memakai gaunnya, dia duduk di sofa ruang kerja Fredian sambil menikmati kopinya.
Fredian tersenyum melihat istrinya mendengus berkali-kali, dia tahu Irna sangat bosan dengan situasi saat itu.
Dia bilang ingin menggantikan Nira tapi kenyataannya tidak ada yang bisa dia lakukan sama sekali. Bahkan Fredian tidak membiarkan dirinya memegang berkasnya sama sekali.
Di rumah sakit, hari ini Nira mulai bekerja untuk menggantikan posisi Irna. Gaya cueknya mengudang banyak perhatian. Bahkan gadis itu tidak sungkan-sungkan memukul bahu dokter pria asistennya.
Setiap melihat tingkah anak itu Rian mengaduk rambutnya sendiri karena kesal. "Image Kaila hancur dalam genggaman Nira." Gerutunya berkali-kali.
Merangkul bahu dokter pria sesukanya, mengunyah permen karetnya tanpa henti. Merusak jadwal operasi, memilih asistennya sendiri dan tidak mau mengikuti jadwalnya.
Dan pagi itu setelah lancar dalam proses operasi pertamanya di rumah sakit Rian, dia sedang melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Dia terkejut saat melihat pria gila itu sudah berdiri di depan ruang kerjanya. Dia berpura-pura bersikap sopan seperti Irna, tapi dia tidak tahu berapa lama akan bertahan, kemudian kembali meledak, gadis itu segera meludahkan permen karetnya di belakang punggungnya, .
"Kamu mengacuhkan ku?" Javi tersenyum sambil menahan pergelangan tangannya.
Nira tersenyum manis, lalu menarik krah kemejanya. Javi sangat terkejut karena Irna tidak pernah menyentuh baju atau tubuhnya. Dia baru menyadari saat mencium aroma tubuhnya.
Gadis itu bukan Irna, tapi adalah Nira. "Wah kalian bertukar tempat? aku hampir tidak bisa mengenalimu." Serunya, kemudian Nira menariknya masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Katakan kenapa kamu kemari, setelah itu segera pergi dari sini." Perintahnya pada Javi.
"Aku kemari tentu saja untuk mengunjungi Kaila." Ujarnya berterus terang.
"Berapa kali dalam seminggu biasanya kamu mengunjungi dokter Kaila?" Tanyanya lagi, berlagak sebagai detektif.
"Karena aku juga sangat sibuk hari ini, aku akan segera pergi ke kantorku. Maksudku datang ke sini hanya untuk menyapa. Tapi dia tidak ada." Ungkapnya pada Nira.
Nira melangkah mendekat ke arahnya, lalu meraba seluruh sakunya. "Dasar pembohong!" Nira mendapatkan kotak merah di dalam saku Javi.
"Hei jangan sentuh itu!" Serunya pada Nira. Gadis itu membukanya, dia sangat terkejut melihat cincin berbatu kristal bersinar terang menyilaukan matanya. Lalu gadis itu tiba-tiba pingsan, Javi segera menangkap pinggangnya.
"Dasar bodoh!" Gerutunya sambil membaringkan tubuhnya di atas sofa. Javi melihat pada cincinnya. Nama Nira Stania terukir di dalam ring cincin miliknya. Awalnya dia berniat memberikan cincin tersebut pada Irna.
Karena Irna adalah vampir, dan dia tidak akan terkena mantra saat melihatnya. Lain halnya dengan Nira. Gadis itu adalah manusia, cincin tersebut mengambil jiwanya untuk sementara waktu.
Javi kebingungan berjalan mondar-mandir di dalam ruangan kerjanya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya dia memilih membawa gadis itu ke dalam kerajaan Interure tanpa sepengetahuan siapapun.
Rian kembali kelabakan karena kehilangan Nira. Dia segera menghubungi Irna, Irna terkejut mendengar kabar Nira menghilang.
Saat dia sedang bersiap-siap untuk pergi, Fredian menahan tangannya. "Kenapa?" Tanyanya pada suaminya.
"Aku akan menemanimu." Irna menganggukkan kepalanya, akhirnya mereka pergi bersama menuju mobilnya. Mereka menuju ke NGM untuk bertemu dengan Rian.
Rian membawa mereka masuk ke dalam ruangan kerjanya, pria itu menunjukkan cctv rumah sakit sebelum Nira menghilang.
"Javi??!" Ucap mereka bertiga dengan serempak.
Bersambung....
Note: Jangan pelit kasih like! π€€π€€π€€π€€ππππππ
__ADS_1