Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Forced marriage


__ADS_3

Rian bergegas pergi keluar dari dalam kamarnya, bersama-sama melangkah menuju lobby hotel. Irna sudah berdandan rapi, bersiap untuk pergi ke kerajaan Derent.


Derent berada di dalam mobil di depan hotel, pria itu melihat Irna melangkah keluar bersama dengan Rian. Dia memicingkan matanya, mengingat bahwa pagi tadi Irna masih bersama dengan pria lain.


Tapi kini dia sudah bersama dengan pria lainnya lagi. "Apa dia benar-benar semudah itu menyerahkan dirinya kepada pria? siapa pria tinggi maskulin di sebelahnya?" Derent bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Dia melihat Rian begitu tampan, lalu dia mengingat peristiwa makan malam dengan Irna. "Astaga! dia pangeran William! bagaimana mungkin aku melupakan wajah tampannya itu!" Derent segera keluar dari dalam mobilnya, untuk menyapa Rian.


"Selamat malam pangeran William?" Sapanya dengan hormat pada Rian. Melihat itu Irna membuka matanya lebar-lebar, dia masih bingung kenapa Derent tiba-tiba berinisiatif untuk mendekati Rian.


Padahal sebelumnya dia tahu bahwa Derent tidak begitu menyukai Rian, karena telah mengganggu acara makan malamnya kemarin.


"Jika pangeran William tidak keberatan, saya ingin anda sekalian ikut pergi mengunjungi kerajaan kami." Tawarnya pada Rian.


Rian masih membawa berkas di dalam tangannya, pria itu kemudian melihat ke arah jam di pergelangan tangannya. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah Irna.


Gadis itu terlihat cuek, dan tidak peduli sama sekali. Baginya yang terpenting hari itu adalah menyelesaikan masalah kerajaan tersebut lalu kembali pulang ke London. Dia tidak ingin Fredian benar-benar mengurungnya di dalam sangkar emas, seperti yang Rian katakan sebelumnya.


"Maafkan saya, sepertinya saya tidak bisa. Saya masih harus menghadiri acara meeting malam ini." Ujarnya dengan sopan pada Derent.


Pria itu akhirnya merelakannya pergi meninggalkan mereka berdua. Irna kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh Derent.


Pria itu duduk di depan bersama sopirnya, sedang Irna duduk di belakang. Mobil tersebut meluncur menuju ke kerajaan Derent bagian paling selatan negara Holland.


Sesampainya di sana, Derent mempersilahkan Irna untuk mengikutinya ke ruang pertemuan. Di sana ratu kerajaan tersebut sudah menunggu dirinya.


"Silahkan duduk Ratu Vertose." Ujar ibu Derent, ratu kerajaan tersebut. Irna menundukkan kepalanya memberikan hormat, kemudian duduk di kursi yang sudah tersedia di sana.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum menatap ke sekeliling ruangan. Benar-benar kerajaan yang sangat megah, jika dibandingkan dengan kerajaan Vertose yang hanya berupa batu di sana-sini.


Lagi pula Irna juga terlalu malas jika harus memperbaiki kerajaan Vertose tersebut. Dia sama sekali tidak suka menonjolkan dirinya sebagai seorang vampir.


"Bisakah anda katakan, apa yang bisa saya bantu untuk anda Ratu?" Tanya Irna langsung ke pokok permasalahannya. Gadis itu sangat tidak suka berpura-pura ataupun menjilat bangsawan demi harta dan kekayaan.


Baginya menyelesaikan masalah saja sudah cukup, karena dia tidak punya waktu untuk berlama-lama di sana.


"Ah, kenapa Ratu Vertose begitu terburu-buru? apakah kerajaan kami membuat anda tidak merasa nyaman?" Tanyanya sedikit terkejut karena Irna langsung menanyakan keluhannya, mengenai hal tentang mengundang dirinya agar datang ke sana hari ini.


"Ah, anda salah faham. Bukan karena itu, em saya masih ada beberapa hal yang mendesak. Jadi besok pagi saya harus kembali ke London." Ujarnya berterus terang pada ibu Derent.


"Baiklah, maksud saya mengundang anda kemari adalah karena keturunan." Ujarnya sambil menatap wajah Irna dengan tatapan serius.


"Bisakah anda perjelas lagi Ratu?" Tanya Irna padanya, gadis itu tidak bisa menafsirkan arah pembicaraan mengenai keturunan seperti yang ibu Derent utarakan padanya.


"Aku ingin memilki keturunan penerus kerajaan ini, tapi putraku satu-satunya sepertinya tidak pernah tertarik dengan wanita manapun. Untuk mempererat tali persaudaraan antara dua kerajaan, bersediakah anda menjadi menantuku? Nona Kaila Elzana?" Ujarnya dengan wajah tersenyum penuh harap pada Irna.


"Tapi saya..."


"Saya tahu anda memiki dua suami, sebagai ratu Vertose anda begitu sempurna! jadi saya bisa memaklumi hal tersebut, anda tidak perlu khawatir nona Kaila." Irna belum menyelesaikan ucapannya, sudah disahut oleh ratu kerajaan vampir Holland.


"Hah! apa ini?! jadi masalah yang dimaksud adalah memintaku menyetujui pernikahan untuk mengikat sebuah hubungan antara dua kerajaan?? yang benar saja?!" Gerutu Irna terang-terangan menyatakan dirinya sangat keberatan pada keputusan sepihak tersebut.


"Sepertinya anda menolak untuk membantu kami nona?" Tanyanya lagi sambil tersenyum kepada Irna.


"Iya, maafkan saya ratu. Saya tidak bisa membantu masalah ini. Karena saya tidak berkemungkinan untuk melakukan pernikahan lagi, sementara saya terikat pernikahan di kerajaan saya. Dan juga saya bukan mesin penetas, yang bisa digunakan sebagi alat untuk memberikan keturunan pada kerajaan mana saja. Kau begitu saya permisi." Irna menundukkan kepalanya memberikan hormat kepada ratu vampir Belanda tersebut.

__ADS_1


Gadis itu berbalik, kemudian melangkah pergi meninggalkannya. Menuju pintu keluar kerajaan. Ibu Derent sepertinya tidak bisa melepaskan Irna begitu saja.


"Pengawal! tahan ratu Vertose! jangan biarkan dia melangkah keluar dari kerajaan ini!" Perintahnya pada para pengawal.


Irna terkesiap, gadis itu segera mengeluarkan belati bulan sabit miliknya. Mengambil kuda-kuda bersiap untuk bertempur seorang diri.


Dia sudah menjentikkan jarinya berkali-kali, dan sepertinya sihirnya tidak berfungsi di dalam kastil kerajaan tersebut. Sepertinya ratu Kerajaan itu, juga sudah mempersiapkan jauh-jauh hari sebelum kedatangan dirinya.


"Sialan!" Gerutunya seraya menyabetkan pisaunya, ke arah para pengawal yang terus-menerus menerjang ke arahnya. Berusaha untuk menahannya.


Sudah beratus-ratus vampir yang berhasil dibuatnya tumbang dan hangus. Tapi sepertinya pengawal terus menerus datang tanpa henti seakan-akan tidak bisa habis.


Irna sudah hampir kehilangan tenaganya, nafasnya sudah terengah-engah.


Derent mendatangi ibunya, "Ibu ratu, mengenai nona Kaila tolong lepaskan dia, dia tidak bersalah. Kenapa ibu harus menahannya?"


"Dasar bodoh! bukankah kamu selalu menginginkan dirinya di sini! ibu tahu kamu diam-diam mencintainya! sampai-sampai kamu mengigau dalam tidurmu!" Ujar ibu Derent, sepertinya dia mengkensamping-kan urusan yang sebenarnya.


"Ibu, Derent tidak ingin menikahinya. Dia wanita yang menakutkan dan dingin. Derent ingin gadis yang lembut dan penurut." Ujarnya berbohong pada ibunya.


Diam-diam Derent sebenarnya menyukai Irna karena ketegasan, sikap dinginnya begitu memikat hatinya. Tapi demi ibunya dia menepis perasaan tersebut. Dia tidak ingin masalah kerajaan yang sebenarnya tertimpa dengan keegoisan dirinya.


"Ibu, Derent tahu ibu ingin melihat Derent menikah sebelum ibu pergi. Derent tahu luka ibu kian hari kian parah sejak pertempuran tahun lalu. Dan karena itu ibu ingin melihat Derent segera menikah."


"Tapi bagaimana jika nona Kaila Elzana yang bisa mengobati luka ibu?" Derent mencoba memancingnya, agar ibunya mau memutuskan untuk tidak menahan Irna secara paksa.


*Bersambung...

__ADS_1


Tolong tinggalkan like sebelum pergi.. vote juga ya? terima kasih telah membaca...


i love you ❤️❤️❤️❤️*


__ADS_2