Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Disguises end in disaster


__ADS_3

"Dia sudah pergi." Ujar Irna menatap Evan sudah keluar dari ruangan tersebut, dia lupa masih menggenggam jas putih Rian. Dan membuat pria itu sempoyongan hampir jatuh menimpanya ke depan.


"Akkkhhh! Bruuuuk!" Dan benar terjadi, tapi untungnya lengan kokoh Rian bertumpu pada dinding di belakang punggung Irna, jadi bibirnya tidak harus berbenturan dengan bibir tipis Irna.


"Aku duluan ya!" Irna menerobos di bawah lengan kokohnya, bersiap melangkah keluar dari dalam ruangan itu.


"Kamu mau kemana?!" Rian menarik krah bajunya, hingga dia tidak bisa melanjutkan untuk melangkah ke arah pintu keluar.


Irna meringis sambil menarik tangan Rian dari krah bajunya. "Ke kantin, aku lapar!" Malah menyeret lengan pria itu menuju ke kantin rumah sakit.


Irna terus menggamit lengannya menuju ke kantin, dia tidak peduli dengan sorotan mata karyawan. Belum lama tersiar kabar perceraian mereka berdua dan kini tiba-tiba mereka terlihat mesra bersama.


Saat sampai di kantin Irna membelalakkan matanya menatap wajah Fredian, pria itu sudah duduk sambil melipat kedua tangannya.


Lalu menunjuk Irna dengan dua jarinya. Gadis itu masih menyeret lengan Rian mengajaknya duduk berhadapan dengan Fredian.


"Sejak kapan kamu sampai?" Irna nyengir sambil menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya.


"Sejak kamu mengedipkan matamu di ruangan operasi ke arah dokter muda itu!" Ucapnya dengan nada gemas.


Jika Fredian meremas gelas di atas mejanya, mungkin gelas itu kini telah hancur berkeping-keping.


"Kamu meneleponnya agar datang kemari?!" Kini Irna melotot ke arah Rian, pria yang sedari tadi duduk diam di sebelahnya. Wajahnya terlihat cuek dan tidak ingin ikut campur atas kecemburuan Fredian.


Rian melambaikan tangannya memesan beberapa makanan untuk mereka bertiga.


Evans sedang duduk di sudut ruangan, tatapan matanya tak lepas dari bibir tipis Irna. Melihatnya menyedot jus apel miliknya, membayangkan wanita itu memagut senjata miliknya. Evans mulai menggila, tatapan matanya liar tak tertahankan.


Fredian melihat ke arah mata Rian memandang, karena Rian duduk bersebelahan dengan Irna. "Kenapa?" Fredian melemparkan pertanyaan pada pria di depannya itu.


"Biasa bukan? Pria berfantasi? Dia pria yang normal!" Sahut Irna tiba-tiba. Hingga dua pria yang sedang bersamanya kini melotot ke arah dirinya. Menatap wajahnya dengan tatapan geram.


"Kenapa? Apa aku salah bicara? Jangan-jangan kalian bukan pria yang normal!" Ejek Irna dengan sengaja, sambil menahan tawa melihat wajah para presdir itu merah padam.


"Kami pria yang normal!" Teriak Fredian dan Rian serempak. Fredian sangat frustasi sampai menelan makanannya tanpa mengunyahnya. Rian sama halnya, pria itu menenggak segelas besar air lemon miliknya sekali tenggak. "Tak!" Meletakkan gelas besar kosong tersebut di atas meja.


"Hahahhaha kalian lucu sekali!" Irna tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah mereka berdua.


"Kalian terlihat sangat kacau! Sini!" Irna melambaikan tangannya agar mereka berdua mendekat, gadis itu ingin menceritakan sesuatu yang penting pada Rian dan Fredian.


"Aku sudah tahu itu satu tahun yang lalu!" Ucapnya sambil berbisik, membuat Rian dan Fredian saling bertukar pandang, "Duaaaakk! Akkkh!" hingga kening mereka berdua berbenturan. Rian mengusap keningnya yang benjol, sama halnya dengan Fredian.


"Lalu kalau sudah tahu, kenapa masih memakainya sebagai asisten-mu?" Rian sangat bingung dengan cara berpikir Irna, Fredian masih menunggu jawaban yang akan meluncur keluar dari bibir gadis cantik di depannya itu.


"Karena dia menyatakan perasaannya padaku." Jawab Irna sambil nyengir menatap wajah merah padam Fredian dan Rian.


"Astaga Irna! Kenapa kamu tidak mengatakan apapun padaku?" Fredian kini meremas pergelangan tangan wanita itu.


"Bukannya itu sudah biasa terjadi?" Kini gadis itu hanya mencomot makanannya sambil tersenyum menjawab pertanyaan dari Fredian.


"Lalu apa yang kamu katakan padanya, apa kamu menerimanya?"


Rian semakin penasaran dengan akhir dari cerita Irna.


"Tidak ada jawaban." Cetus Irna singkat, sesingkat kedipan kelopak matanya.


"Jadi kamu sengaja menggantungkan perasaannya? Agar dia terus berharap padamu?" Masih penasaran. Rian menarik kursinya lebih mendekat lagi.


"Wati tiba-tiba datang, dia mencium bibir Evans, lalu turun memagut itunya!" Irna kini sedikit risih untuk menjelaskan segalanya tentang kejadian malam buta itu.


"Apakah kamu melihat anunya dengan jelas!" Kini Fredian semakin erat meremas pergelangan tangan wanita itu.


"Akkhhh! Fredd! Sakit!" Pekikan Irna terdengar nyaring di kantin.


"Uhk! Byuuuuur!" Membuat Evans mendadak memuntahkan minumannya.


"Kenapa kamu malah berteriak sekencang ini? Ini tidak terlalu sakit kan Irna???" Fredian gemas sekali, karena Irna sengaja melakukan hal tersebut hanya untuk mengerjai pria muda yang duduk di sudut menatap dirinya itu.


"Hehehehe, iya aku melihatnya dengan sangat jelas! Sepertinya dia sengaja menunjukan kehebatannya anunya itu di depan mataku!"


Irna nyengir menatap Rian, pria itu mengaduk rambutnya sendiri dengan sepuluh jarinya. Membantai habis penampilan maskulinnya, merubahnya menjadi pria kalah judi.


"Astaga! presdir rumah sakit ini!?" Fredian tidak jadi marah karena melihat poni Rian berada di atas keningnya, acak-adul.

__ADS_1


"Kenapa dulu aku bisa menikahi wanita segila ini!" Gerutu Rian pura-pura menyesal.


"Iya seharusnya kamu tidak menahannya sampai mati-matian seperti kemarin kan?!" Balas Fredian asal-asalan.


"Kamu juga!" Balas Rian sambil merebut kopi di depan Fredian.


"Kamu bakal mulas jika minum lemon dan kopi panas sekaligus!" Teriak Irna sambil menyambar cangkir dari tangan Rian.


"Kamu hafal sekali tentang dia!" Kini Fredian berubah cemberut kesal.


"Aku juga hafal tentang dirimu! Bukan hanya dia!" Cetus Irna, gadis itu mengatakan hal itu segera demi mengusir kedongkolan hati Fredian.


Rian sendiri tidak tahu jika Irna selama ini juga memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya. Dia pikir Irna hanya memperhatikan Fredian dan Fredian. Ternyata dia masih peduli padanya peduli dengan kesehatan tubuhnya.


"Kamu itu istriku, atau istrinya?" Kini Fredian kembali menanyakan hal itu.


"Istrimu, aku istrimu. Setelah menjadi istrinya. Jadi apa yang tidak aku tahu antara kalian berdua? Dua Vampir ingusan! Hhahahhahahaha!" Desis Irna di akhir kata sebelum meledakkan suara tawanya.


"Kita pergi saja! Dia semakin mengerikan, apalagi setelah Angelina menyatu dengan jiwanya." Gumam Fredian sambil berdiri dari tempat duduknya.


Pria itu menarik lengan Rian mengajaknya pergi ke sebuah klub menikmati beberapa gelas minuman.


"Kalian tidak mengajakku? Aku pandai menari di bawah lampu!" Irna nyengir menatap ke arah mereka berdua bergantian, berdiri di antara mereka berdua. Kedua telapak tangannya berada di atas bahu Rian dan Fredian.


"Tidak boleh! Kamu masih ada jadwal operasi nanti jam enam sore." Rian melambaikan tangannya menyeret lengan Fredian pergi.


"Aku jadi bingung, apa mereka sengaja meninggalkan diriku di sini? Agar aku membunuh pria yang terus menatap seperti menelanjangi tubuhku itu!" Desis Irna bermode Angelina, memainkan kuku runcingnya di bawah jas lengan panjangnya, di samping pahanya.


Evans melangkah mendekat ke arahnya, "Dokter Kaila?" Sapanya lembut selembut senyuman manisnya.


Dia sengaja begitu terbuka hanya untuk menunjukkan perasaannya pada Kaila, walaupun dia tahu itu mustahil! Sangat mustahil dia bisa bermain liar di atas tubuh mulus Kaila Elzana!


Hanya angan-angan di kepalanya yang terus membuat fantasi indah itu.


"Kita sebentar lagi akan menangani operasi, saya duluan dokter." Evans berpamitan padanya. Pria itu tersenyum melihat Irna terpaku berdiri di sana. Sesaat sebelumnya pura-pura mengayunkan tangan kanannya, menyentuh lembut jas putih yang membalut pinggul Irna.


"Hahahaha! Menarik sekali! Apa dia ingin aku menjadikannya pasien di meja operasiku! Ingin sekali aku merencah-rencah jemari busuknya!"


Evans dengan santainya masuk ke dalam ruangan, menguncinya dari dalam.


Untungnya Irna sudah selesai dan tinggal mengikat tali di belakang punggungnya. Dia melihat Evans tersenyum, pria itu bersandar pada loker di sebelah loker Irna.


Irna mengacuhkannya, dia memasukkan beberapa pakaian gantinya ke dalam loker miliknya tersebut.


"Apa aku tidak terlihat sama sekali dokter?" Tanya Evans dengan bibir tersenyum.


"Ayo kita cepat selesaikan operasinya, jangan sampai pasien menunggu terlalu lama." Irna menarik lengan Evans menyeretnya keluar dari ruangan ganti tersebut. Telapak tangan kanan Evans kembali bermain di pinggul Irna.


Kini Irna melotot ke arah pria di sebelahnya itu. " Maaf dokter saya tidak sengaja." Ujarnya sambil tersenyum manis.


Irna membuka pintu ruang ganti tersebut, tapi dia tidak menemukan kuncinya. "Evans?"


"Iya dokter?" Sahutnya sambil berbisik di belakang punggung Irna. Irna merasakan hembusan nafasnya berada di belakang tengkuknya, karena Irna telah menggelung rambutnya ke atas.


"Buka pintunya." Perintah Irna masih dengan nada datar.


"Baik dokter." Ucapnya dengan bibirnya hampir menyentuh leher Irna.


Pria itu meraba saku bajunya, dan memasukkan kunci kecil tersebut ke lubang yang ada di pintu ruang ganti tersebut. Dia menekan daun pintu ke depan dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya berusaha untuk memutar kuncinya, hingga senjatanya yang tengah berdiri kini menyentuh pinggul Irna.


"Apa kamu pikir cuma milikmu yang sebesar ini!" Irna mulai geram mencengkeram erat dengan tangan kirinya.


"Akkkhhh! Dokter! Jangan remas.. akkkhhh!" Evans memeluk pinggang Irna di depannya. Menahan remasan kuat pada senjatanya satu-satunya itu.


"Jika kamu berani lagi, aku pastikan fantasi gilamu akan hancur mulai detik ini!"


"Akkkhhh ampun! Dokter! Akkhh!" Keringat dingin mengucur deras keluar dari keningnya, menahan ngilu urat-urat di sekujur pahanya. Akibat remasan yang lebih mirip dengan istilah meremukkan itu!


Evans segera membuka pintunya, Irna melenggang keluar dengan santai. Evans masih memegangi area terlarang miliknya tersebut. Sambil menggigit bibirnya sendiri.


Dia melihat tatapan penuh olokan di luar ruang ganti tersebut. Pria terkenal playboy dan hangat di ranjang itu kini meringis kesakitan akibat ulahnya sendiri.


Saat masuk ke dalam ruangan operasi Irna terkejut karena Rian sudah berdiri di sana bersiap untuk memulai operasinya.

__ADS_1


"Kenapa dia malah berada di sini? Bukankah dia sudah janjian dengan Fredian untuk pergi ke klub malam? Apa mereka membatalkan niatnya untuk pergi?" Irna memiringkan kepalanya sambil mengerjapkan matanya berkali-kali dia tidak percaya dengan apa yang ada di depannya itu.


Dan pada detik berikutnya dia melihat Evans tersenyum manis masuk ke dalam ruangan operasi tersebut.


Tidak ada yang terjadi padanya. "Harusnya pria ini masih kesakitan kan? Kenapa malah terlihat sehat bugar???!"


Kini Irna melotot ke arah Rian, "Kamu membuat suamiku bertukar wajah?!" Desis Irna di telinga Rian.


"Iya! Dia penasaran dengan tindakanmu pada pria lain!" Bisik Rian sambil menahan tawanya, pria itu telah memulai operasinya.


"Untung saja dia vampir! Jadi yang rusak bisa diperbaiki tidak dalam waktu yang lama!" Ujar Rian masih menahan tawanya.


"Kalian benar-benar tidak bisa mempercayaiku sama sekali!" Gerutu Irna seraya menarik jarum jahit, operasi tersebut sudah selesai.


Evans masih serius memeriksa selang infus pasien. Pria itu terlihat normal, mungkin karena ada Rian di sana. Dia memilih berdiri di seberang meja operasi, berada di sebelah asisten lain.


"Dia pasti kesakitan sekarang!" Irna segera berlari melepas baju operasi dan sarung tangannya ke dalam bak sampah di samping pintu dalam ruangan.


Gadis itu keluar dari dalam ruangan operasi tersebut untuk mencari suaminya.


Saat melihat pria memakai jas hitam berdiri sambil tersenyum ke arahnya, gadis itu berlari sambil menarik masker dan penutup rambutnya. Hingga rambut panjangnya jatuh meriap ke atas punggungnya.


Fredian membuka kedua tangannya lebar-lebar. Menyambut kedatangan Irna ke dalam pelukannya.


Irna segera memeluknya erat sekali, "Kenapa kamu melakukannya? Kamu bisa saja terluka! Maafkan aku Fred! Huaaaaa! Huuaaaaa!" Irna menangis kencang sekali meratapi nasib sial suaminya itu.


Dia bahkan menyentuh itu kembali untuk memastikan bahwa itu baik-baik saja.


"Irna banyak orang!" Pekik Fredian menepis tangan Irna dari celananya.


"Apa ini bisa berjalan normal?" Tanyanya sambil mengusap air matanya.


"Tentu saja!"


"Kamu yakin?!"


"Yakin seratus persen!"


"Berapa jam?" Irna meringis menggamit lengannya menuju ke arah ruangan kerjanya.


"Banyak jam!" Sahut Fredian singkat, dia malu sekali karena Irna membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian seluruh karyawan rumah sakit pada hari itu.


Beberapa kali dia mendengar suara berkasak-kusuk di belakang punggungnya. Yang menyatakan bahwa mereka terlibat hubungan rumit. Fredian merasa tidak punya muka lagi. "Memalukan sekali!" Dia mengusap wajahnya sambil tersenyum.


Irna dengan santainya mendorong tubuh suaminya masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Cepat duduk!" Perintahnya pada Fredian.


"Untuk apa?"


"Sudah duduk saja!" Irna berniat mendorongnya agar duduk di sofa. Tapi Fredian malah semakin menegakkan punggungnya.


Lalu Irna terpaksa berjongkok menarik resleting celananya turun. "Kamu mau apa?" Fredian sangat terkejut hingga melangkah mundur menjauhinya.


Irna menatap tajam ke arah bagian bawah tubuh suaminya, dia mendekatkan wajahnya kembali ke sana. Berusaha meneliti kembali.


"Kamu mau apa?" Fredian berusaha menjauhkan wajah Irna dari sana.


"Aku hanya ingin memastikan.. nya.." Irna melongo melihat itu sudah bangun di sana. Kini dia mendongak menatap wajah pria di depannya itu.


Fredian berkacak pinggang sambil tersenyum. Irna bersiap mundur menghindarinya, dia sudah tahu arti dari senyumannya itu.


"Fredian.."


"Apa?"


"Tidak ada!"


Irna melangkah mundur sampai bersandar di dinding, Fredian mendekatkan wajahnya bersiap mendaratkan bibirnya di bibir tipisnya.


Bersambung........


like nya.. like like like.. oke thanks ...

__ADS_1


__ADS_2