
"Kita masuk ke dalam, sudah malam." Fredian menarik tubuhnya agar bangkit berdiri.
Irna tersenyum mengikutinya melangkah menuju ruang kerjanya. Karin tiba-tiba muncul dari belakang punggungnya, wanita itu menerobos di antara Irna dan Fredian.
"Kamu belum menyingkirkan wanita simpananmu?" Ucap Karin sambil menggamit lengan Fredian menggesekkan bola kenyal dadanya.
Fredian menarik lengannya dari pelukan Karin dengan cepat, karena melihat istrinya melengos pergi mendahuluinya masuk menuju ruang kerjanya.
"Kaila tunggu aku!" Teriaknya sambil setengah berlari mengikuti Irna.
"Fred! Tunggu aku!" Karin berlari menyusulnya, menahan langkahnya menuju ke ruangan kerjanya.
Gadis itu merentangkan kedua tangannya menghalangi Fredian, dia berdiri di tengah lorong. Karin malam itu memakai gaun yang mirip seperti model gaun Irna. Gadis itu berpikir Fredian akan bisa tertarik dengan wajah cantiknya dengan penampilan barunya itu.
"Kenapa? Kenapa kamu terus memilihnya? Aku mencintaimu! Dan dia terang-terangan mengejar pria dokter itu! Tapi kenapa kamu tetap mengejarnya?!" Yang di maksud oleh Karin pria dokter adalah Rian.
Yang ada di dalam benak Fredian adalah, Irna akan pergi sebentar lagi. Untuk menyelesaikan masalah serius yang menimpa dirinya dan Rian kemarin. Dan Fredian tidak ingin Irna terluka lagi.
Tapi Karin terus-menerus menghalangi langkahnya, gadis itu benar-benar tidak punya urat malu sama sekali. Rasa cintanya pada Presdir Resort tersebut telah mengalahkan segalanya.
"Fred aku mencintaimu.." Melangkah mendekat mengalungkan tangannya di belakang leher Fredian berusaha untuk mencium bibirnya.
Irna sudah melangkah agak jauh, tapi gadis itu mendengar ucapan dan teriakan Karin di belakang punggungnya. Dia hanya bisa menghela nafas berat. Irna menoleh sekilas ke arah Fredian dari tempatnya berdiri sekarang, menatapnya dengan tatapan sungguh-sungguh.
Dari isyarat matanya mengatakan bahwa, "Apakah aku kehilangan hatimu? Bukankah kita telah berjanji lebih dari seratus tahun yang lalu.. apakah kamu akan melupakan segalanya? Segalanya tentang kita? Apakah ucapan Karin lebih kamu percayai dibandingkan diriku yang selalu memberikan kehangatan juga ketulusan padamu?"
"Aku mencintaimu Fred.. aku mohon jangan lukai hatiku, disaat ini. Apalagi aku harus pergi sebentar lagi. Jangan buat aku enggan kembali padamu."
LKali ini Irna menundukkan kepalanya menatap wajah Fredian dengan tatapan mata berkaca-kaca, air matanya merembes tanpa peduli penolakan hatinya berusaha bertahan untuk tidak menangis.
Air matanya menetes jatuh di lantai bawah kakinya, "Tes! Sreetttt! Mmmmhhh!" Entah sejak kapan Fredian sudah berada di hadapan Irna, pria itu meraih kepalanya dan memagut bibirnya tepat saat air matanya jatuh ke lantai.
Karin di tarik pergi ke lobby hotel oleh Nira, agar tidak menggangu kencan dua orang tersebut.
Tanpa menunggu persetujuan dari Irna, Fredian mengangkat tubuhnya membawanya menuju kamar yang ada di dalam ruangan kerjanya. Pria itu masih sibuk memagut bibirnya.
__ADS_1
"Fred.. mmmhhh.. mmhhh." Irna meremas-remas bahunya, menikmati pagutan bibir pria tampan yang sedang mengangkat tubuhnya itu.
Fredian masuk ke dalam ruang kerjanya dengan menendang-kan kakinya pintu, dia meletakkan tubuh Irna di sofa. Mulai melepaskan seluruh pakaian yang membalut tubuh Irna.
Fredian memulai permainannya dengan sangat lembut. Dia melakukannya tanpa suara lenguhan, atau desahan. Wajah pria itu terlihat sedang sedih, "Apa yang terjadi? Akkkhhh... Akkhhhh" bisik Irna di sela pekikan-nya.
Dia melihat wajah suaminya tidak sedang berhasrat untuk bercumbu, tapi tetap bisa membuatnya memekik. Dan aktif melayaninya, demi memuaskan dirinya.
Irna menyentuh pipinya, "Fred? Ada apa? Akkkhhh.. akkhhh.. mmhhh!" Irna meremas punggung Fredian. Pria itu kini memperlaju permainannya, menghentak-hentak pinggulnya ke depan. Tubuh Irna semakin terdorong ke belakang.
Fredian tidak menjawabnya, dia memagut bibir Irna. Wajahnya masih terlihat sedih.
"Fred! Hentikan!" Irna mendorong tubuhnya sebelum menyelesaikan klimaks-nya.
"Kenapa? Bukankah kamu menikmatinya? Apa aku kurang memuaskan-mu?" Fredian meraih kepalanya ke dalam rengkuhan kedua lengannya.
"Kamu memikirkan hal lain. Aku tidak mau melanjutkannya!" Irna menarik kepalanya dari dalam pelukannya. Gadis itu merapikan bajunya kembali.
"Kamu mau kemana?" Fredian memeluk pinggangnya dari belakang, menahannya agar tidak pergi.
Fredian mendengus kesal, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Memegangi kedua kepalanya.
Dalam benaknya masih terngiang-ngiang ucapan Karin. 'Wanita itu mencintai dokter itu, sangat jelas dia mencintainya! Kenapa kamu masih terus mengejarnya!'
Selain itu bayangannya juga kembali melintas, Irna menghadang monster demi menyelamatkan Rian.
"Riaaannnnn! tidaaakkk!" Begitulah teriakannya terdengar sangat jelas di telinga Fredian. Fredian menghela nafas berat. Ada sebongkah batu di dalam hatinya, seraya menghimpit saluran nafasnya.
Dadanya terasa sangat sempit dan sesak. Membuatnya mengepalkan jemari tangannya karena geram.
"Apakah dia mencoba mempermainkanku? Apa dia menyimpan perasaan untuknya? Irna!" Jeritnya di dalam sudut hatinya.
Irna telah selesai mandi, gadis itu berdiri di depan cermin mengenakan gaun tidurnya seraya mengeringkan rambutnya yang basah.
Dia melihat Fredian masuk ke sana, melaluinya begitu saja. Pria itu masuk ke dalam kamar mandi tanpa menoleh sama sekali ke arahnya.
__ADS_1
Awalnya dia kira Fredian memagut bibirnya karena menginginkan dirinya.
Tapi setelah melihat semburat masam begitu jelas tergambar di wajahnya, membuat Irna terhenti. Membuatnya enggan! Dia juga punya perasaan, dia tidak ingin melakukannya hanya karena terpaksa.
"Dia bahkan bisa bermain hebat tanpa ada hasrat sama sekali! Sangat menyebalkan!" Geram Irna sambil melemparkan handuknya ke keranjang pakaian di sudut ruangan.
Tepat saat Fredian melintas di depannya dengan selembar handuk dililitkan di pinggang, handuk tersebut malah tersangkut di wajah pria itu.
"Aku! Aku! Aku!" Irna tergagap buru-buru mengambil handuk basahnya dari wajah suaminya.
Fredian mencengkeram erat pergelangan tangannya. Sangat menyakitkan! Cengkeraman tangan pria tampan itu begitu erat.
"Fred! Sakit, lepaskan aku!" Teriak Irna padanya sambil menarik tangannya dari genggaman Fredian.
Fredian mendengus dingin, mendorong tubuhnya hingga jatuh di atas tempat tidurnya. "Bruuuukkkk! Fred? Kamu kenapa?"
Irna masih tidak mengerti kenapa Fredian tiba-tiba berubah menjadi dingin sekali. Pria itu merangkak naik mendekatinya melemparkan semua bantal dan selimut ke lantai.
Irna sedikit takut, dia beringsut mundur menjauh darinya. "Fred, kamu menakutiku!" Teriak Irna saat dia menarik kakinya dengan kasar hingga terlentang.
Pria itu menarik gaun tidurnya dengan kasar, lalu kembali menghujami area sensitifnya dengan hentakan-hentakan cepat.
"Freddd! Kamu gila! Akkkhhhh!" Teriak Irna sambil menjambak rambut Fredian. Dia sangat kesakitan di awal permainan kasarnya. Tanpa cumbuan Fredian menerobos ke lahan pribadinya.
"Kenapa! Coba hentikan aku lagi!" Sergahnya terus menerus mendorong pinggulnya ke depan. Permainan Fredian benar-benar membuat Irna tak berdaya. Pria itu menahan kedua tangannya.
Dan terus bermain selama tiga jam, bermain tanpa mencumbuinya sama sekali.
"Fredd.. aku.. akkkhhh! Pelan sedikit! Fredddd! Sakit!" Pekik Irna lagi.
Pria itu tidak mau berhenti, dia terus membuatnya menjerit sepanjang malam.
Bersambung..
Tinggalkan like sebelum pergi, jangan lupa Vote juga ya untuk dukung author terus berkarya? I love you...❤️❤️
__ADS_1