
Perlahan Irna melepaskan seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam air hangat yang sudah memenuhi bath up. Irna menyandarkan kepalanya dengan sangat nyaman.
Fredian agak hawatir karena tidak suara apapun sejak Irna masuk ke dalam kamar mandi.
Dia membuka pintunya, melihat Irna menyandarkan kepalanya pada bath up sambil memejamkan matanya. Kemudian dengan sangat perlahan dia menutup pintunya kembali.
Fredian melangkah duduk di kursi meja kerjanya, melanjutkan pekerjaannya.
Dia melihat Irna sudah memakai baju tidurnya yang bagian dalamnya terlihat sedikit transparan.
Gadis itu sedang berjongkok melihat isi di dalam lemari es yang ada di samping meja kerjanya.
"Kenapa dia memakai gaun yang itu sih?! apa dia sengaja ingin menguji nyaliku?!" Bisik Fredian lirih sambil menggaruk pelipisnya.
"Kenapa wajahmu pucat begitu?" Ujar Irna sambil memandang pria di depannya itu, mengucurkan keringat di pelipisnya.
"Aku baik-baik saja! aku baik-baik saja!" Fredian mengatur kembali nafasnya yang sudah sangat gugup tidak karuan.
"Lalu kenapa itu?" Irna mencoba menyentuh keningnya, tapi Fredian menahan pergelangan tangannya.
"Kenapa? aku tidak boleh menyentuh keningmu?" Tanya Irna saat tangannya masih berada di genggaman tangan Fredian.
"Jika dia menyentuh keningku dan tahu suhu tubuhku meningkat dia akan mengetahui yang terjadi dengan cepat." Bisiknya lagi di dalam hatinya.
Melihat wajah Fredian melamun, Irna segera menyentuh keningnya dengan tangan yang satunya. Kemudian membandingkan dengan keningnya sendiri.
"Kamu demam?" Bisik Irna tanpa rasa bersalah sama sekali sambil mencermati wajah pucat di depannya.
"Ah ha ha ha, kamu jangan memakai baju itu. Gantilah dengan yang lain yang lebih aman untuk menutupi tubuhmu. Nanti demamku juga akan hilang dengan sendirinya."
Sergah Fredian sambil tertawa agar Irna tidak marah karena dia tergoda dengan dirinya.
"Tapi baju ini sangat nyaman kenapa aku harus menggantinya dengan yang lain?" Ujarnya sambil meneguk air mineral dari botol yang tadi di ambilnya dari dalam lemari es.
"Apakah kamu tidak tahu aku sedang sibuk mengendalikan perasaanku? kenapa kamu tega sekali melakukannya?!"
Teriak Fredian dengan putus asa kemudian mengganti bajunya dengan celana pendek segera berlari menceburkan diri ke kolam renang tanpa ingin melihat wajah geram Irna.
"Woah, jadi dia pikir aku sengaja menggodanya dengan baju ini? Kraaaak!" Irna meremas botol plastik itu dengan geram.
"Mana aku tahu jika naluri kejantanannya tidak stabil seperti itu! menyebalkan sekali!" Irna segera melepaskan baju yang dipakainya itu di ruang ganti dan melemparkannya jauh jatuh ke lantai.
Dia masih sibuk mengotak atik lemari mencari baju yang cocok dan nyaman dipakai.
Fredian dengan seluruh tubuh basah kuyup sudah berdiri sejak tadi di ambang pintu menatap ke arahnya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Aku memintamu untuk memakai baju yang lain, tapi malah melepaskan semuanya?" Ujar Fredian sambil mengusap tengkuknya.
"Aku masih mencarinya, cerewet sekali!" Gerutu Irna tanpa sadar Fredian yang sedari tadi sudah berdiri di sebelahnya.
"Kamu mau baju yang bagaimana?" Ujarnya ikut membantu mencari di dalam lemari.
Ketika melihat tubuh basah di sampingnya, Irna mendadak terbelalak kaget sambil mengambil sesuatu untuk menutupi badannya sendiri.
"Kenapa malah melotot padaku?" Tanya Fredian melihat Irna menjauh darinya.
"Jika aku ingin menelan tubuhmu bukankah seharusnya aku melakukannya sejak tadi?!" Ujarnya sambil menggelengkan kepalanya melihat Irna yang sibuk menutupi tubuhnya.
"Kamu tidak sadar dan tidak tahu kenapa pria mendadak ingin memakanmu? ya karena ulahmu ini!" Ujar Fredian sambil melangkah keluar dari dalam ruangan merasa frustasi.
Irna menyambar baju mandi dan mengikatkan tali di pinggang lalu melangkah keluar kamar.
"Aku minta maaf, aku akan pergi dari sini." Ujar Irna sambil menyambar tasnya, dan kunci mobil milik Fredian.
Fredian menahan tangannya.
"Apa kamu marah padaku?"
"Tidak, aku tahu aku yang salah. Kamu benar pada saat tiga tahun lalu jika aku tidak seceroboh ini. Rian tidak akan melakukannya padaku!" Ujar Irna sambil mengusap air matanya.
Fredian meraihnya dalam pelukan, sambil mengusap kepalanya.
"Kenapa malah menangis?"
"Aku minta maaf, aku salah." Ujar Irna sambil menatap wajah Fredian yang tersenyum, pria itu mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.
Irna memeluk tubuh basah Fredian dengan sangat erat. Membenamkan wajahnya di dadanya yang bidang sambil menangis.
"Aku akan memakai pakaianku, dan akan mencari kunci mobilmu." Ujarnya sambil melepaskan pelukan tangan Irna dari pinggangnya. Tapi Irna makin erat memeluknya.
"Apa kamu ingin tinggal di sini?" Tanpa menunggu Fredian segera mengangkat tubuh Irna dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Fredian meletakkan tas Irna di atas meja. Dan dia segera memakai baju tidurnya kembali.
Fredian tersenyum menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut.
Lalu beranjak turun dari tempat tidur kembali ke ruang kerjanya.
__ADS_1
"Apakah kamu akan bekerja sepanjang malam?" Tanya Irna meloncat turun dari tempat tidur berlari memeluk pinggangnya lagi dari belakang.
"Masih ada sedikit berkas." Ujarnya sambil berbalik lalu mengecup keningnya.
"Aku akan menunggumu di sofa." Gadis itu berjinjit mencium pipinya. Lalu berjalan mendahuluinya menuju sofa ruang kerjanya.
Fredian kembali menekuni berkasnya.
Rian sejak sore sudah berada di rumah Irna, dia menghirup kopi sambil membaca berkas di atas meja.
Dia menghubungi Irna melalui ponselnya karena hawatir.
"Kamu tidak akan pulang hari ini?" Rian tahu Irna sekarang masih nyaman bersama dengan Fredian.
"Aku masih mencari kunci mobilku tapi belum ketemu." Jawab Irna sambil melihat Fredian yang berjalan mendekat ke arahnya sambil mengancungkan kunci mobil miliknya.
Fredian meletakkan kunci mobil Irna di atas telapak tangannya. Dan dirinya pergi menghilang di balik pintu kamarnya.
Dia tahu Rian begitu dekat dengan mantan istrinya itu dan sudah menjaganya sepanjang waktu. Dan Rian saat ini juga sedang hawatir jika terjadi sesuatu pada Irna lagi.
"Aku akan pulang, tapi mungkin jika terlalu malam aku akan menginap di sini." Ujar Irna lagi melalui ponselnya.
"Ya nikmatilah harimu bersamanya, asal jangan kabur dan menabrak pembatas jalan lagi!" Seloroh Rian sambil tertawa.
"Iya kamu tidak perlu hawatir masalah itu. Aku terus menerus merepotkanmu." Ujar Irna.
"Oh ada panggilan masuk, aku tutup dulu teleponnya." Ujar Rian mengakhiri teleponnya.
Malam itu Rian mendapatkan telepon dari kantornya.
Mereka bilang kalau NGM akan kedatangan gadis magang, dokter muda yang sangat cantik dari Paris.
Rian bergegas keluar dari rumah Irna menuju kembali ke NGM.
Rian memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil sport terbaru.
Rian bisa menebak jika mobil itu adalah milik gadis magang itu.
Gadis itu membawa berkas di tangannya menunggu kedatangan Rian di dalam kantornya.
Gadis dengan tinggi 160cm, Rambutnya lurus sebahu. Wajahnya manis dan alami.
Rian masuk ke dalam kantornya menjabat tangan gadis itu.
Gadis itu menyerahkan biodata dirinya kepada Rian.
Rian mengamati biodata gadis itu sejenak.
"Kamu akan bekerja di sini mulai besok, bantulah aku mengatur berkasku dan aku akan memberikan sedikit latihan di laboratorium." Ujar Rian sambil tersenyum seperti biasanya.
Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya, dan pergi mengikuti Rian. Rian menunjukkan ruangan untuk dia beristirahat ketika masih bekerja di sana.
"Ini kamarmu jika kamu ingin beristirahat setelah selesai bekerja."
"Ah tapi saya akan pulang ke apartemen, saya sudah membeli sebuah apartemen ketika tiba di sini tiga hari lalu." Ujarnya sopan.
"Oke terserah kamu." Rian kembali tersenyum.
"Dokter Rian, apa anda masih lajang?" Celetuk Arvina tiba-tiba.
"Hem, kenapa?" Rian terkekeh mendengar pertanyaan dari gadis muda itu.
"Tidak apa-apa, hanya saja saya dulu pernah bekerja dengan seseorang dan tiba-tiba istrinya memarahi saya dan memecat saya karena saya berteman dengan suaminya." Jelasnya pada Rian.
"Saya pernah menikah, dan kamu tidak perlu hawatir dengan wanita yang akan memarahimu, mantan istriku sangat manis dan baik." Ujar Rian sambil memegang bahu Arvina Karen lalu tersenyum renyah meninggalkannya berdiri mematung.
"Wah senyuman dokter Rian sangat menawan, dia bilang barusan mantan istri? artinya mereka sudah bercerai?" Arvina tersenyum bahagia sambil menggigit ujung jari kelingkingnya.
Irna ingin berpamitan pada Fredian, tapi takut mengganggu istirahatnya.
"Jika aku masuk ke dalam kamarnya apakah akan baik-baik saja?" Bisiknya bingung harus bagaimana.
"Fredian?" Irna membuka kamarnya dan melongok ke dalam. Fredian sedang tertidur di atas tempat tidurnya lalu gadis itu kembali menutup pintunya.
Irna tidak berani mendekat, dia bergegas keluar dari kantornya, saat mendengar pintu kantor terbuka dan menutup Fredian membuka matanya.
"Dia benar-benar akan pergi begitu saja?" Ujar Rian sambil mengusap keningnya. Irna sudah berada di luar kantor menuju lobi berjalan mendekat ke arah mobilnya.
Gadis itu masuk ke dalam dan memasang sabuk pengaman pada pinggangnya.
Fredian berlari mengejar menghalangi di depan mobil Irna.
"Apa yang terjadi?" Tanya Irna kembali melepas sabuk pengaman dan mematikan mesin. Lalu turun menghampiri Fredian.
"Apa ada masalah?" Tanya Irna tidak mengerti kenapa Fredian berdiri menghalangi di depan mobilnya.
"Kenapa kamu tidak berpamitan padaku saat akan pergi?"
__ADS_1
"Aku pikir kamu kelelahan dan tertidur di kamarmu. Lalu haruskah aku masuk ke dalam kamarmu sedangkan aku tidak dalam posisi untuk bisa melakukannya."
"Kita bukan siapa-siapa lagi." Ujar Irna membuat Fredian melepaskan genggaman tangannya pada lengan Irna.
"Aku akan kembali ke rumah. Kamu jaga dirimu." Irna bergegas masuk kembali ke dalam mobilnya.
"Jika aku bukan siapa-siapa, lalu apa hakmu marah ketika wanita lain memelukku?!" Teriak Fredian membuat langkah Irna terhenti.
"Iya, aku dan kamu bukan siapa-siapa. Bukankah yang aku katakan itu benar? seharusnya aku juga tidak marah padamu hingga mengalami kecelakaan itu."
"Dan aku juga tidak bisa berbuat apa-apa, aku tidak bisa menghentikan perjodohanmu tahun lalu."
"Satu hal saja yang ingin aku tahu sekarang ini. Apakah kamu tidak menginginkan diriku lagi?" Pertanyaan Fredian membuat kerongkongan Irna tercekat dan terasa kering tiba-tiba.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang." Irna menatap nanar wajah pria di depannya itu.
"Jangan menggantungkan perasaanku! aku butuh kepastian darimu!" Teriak Fredian pada Irna.
"Jika kamu merasa aku menggantung hatimu, maka aku memberikan kebebasan kembali padamu untuk memilih wanita lain. Aku tidak akan marah ataupun menyalahkanmu."
Tandas Irna lagi kemudian bergegas masuk ke dalam mobilnya menuju ke rumah.
"Dia selalu kembali dan pergi. Dia selalu kembali dan pergi." Bisik Irna sambil membenturkan kepalanya di stir mobil.
"Ya benar aku memang tidak berhak ikut campur dalam kehidupanmu lagi. Tidak berhak sama sekali." Bisiknya lagi dengan suara lirih.
Tanpa sadar Irna mengemudikan mobilnya menuju ke rumah kecilnya yang lama. Rumah yang mengawali perpisahan dengan Fredian.
Gadis itu turun dari mobilnya dan membuka kuncinya. Lalu masuk ke dalam.
Irna membersihkan debu di sekitarnya. Dan mengganti sprei yang kotor dengan sprei baru. Setelah tiga jam membersihkan rumahnya. Irna bergegas menuju ke kamar mandi.
Dia membuka lemari untuk mengambil bajunya, dan melihat baju Rian masih tertinggal di sana.
"Apakah dia sengaja meninggalkan ini di sini?" Tanyanya pada dirinya sendiri. Kemudian menutup pintu lemari kembali.
"Aku ingin tidur di sini malam ini." Irna berbaring di atas sofa dan tertidur pulas.
Irna terbangun oleh suara ponselnya. Dia tidak melihat ke layar siapa yang menelepon pagi-pagi buta.
"Iya halo?" Sapa Irna sambil mengangkat teleponnya.
"Aku rasa kamu sudah puas mengerjaiku!" Ujar suara dari seberang.
"Jody? untuk apa kamu menghubungiku lagi!" Teriak Irna terkejut setengah mati.
"Untuk apa? tentu saja untuk membalas perlakuanmu padaku!" Ujarnya sambil menekankan suara.
Irna segera bangkit berdiri dan berlari menuju pintu, gadis itu ingin segera kembali ke rumah besarnya.
Akan tetapi saat Irna membuka pintu rumahnya, Jody sudah menunggu di depan pintu sambil menyeringai ke arahnya dan mematikan ponselnya.
Pria itu segera masuk ke dalam rumahnya. Dan santai duduk di sofa.
"Apakah kamu tidak akan memberikan aku kopi? aku tamu di rumahmu." Ujarnya santai.
Irna dengan menghentak-hentakan kakinya berjalan menuju ke dapur dan membuat kopi untuk Jody lalu meletakkan di atas meja.
"Kamu tidak meracuninya kan?" Tanyanya sambil tersenyum menatap Irna. Jody menghirup kopi di cangkirnya.
Dia tahu tidak ada yang tahu keberadaan dirinya saat ini. Dan situasi ini jika pria licik itu menemukannya akan sangat tidak menguntungkan baginya.
Pagi itu Rian mengemudikan mobilnya dan Arvina duduk di sebelahnya menuju NGM, setelah dari kantor cabang. Jalan itu melalui rumah Irna yang lama matanya menangkap mobil Irna dan Jody ada di halaman rumahnya.
"Bukannya seharusnya dia bersama Fredian, tapi kenapa malah bersama Jody Presdir sinting itu!" Gumam Rian pelan.
Rian segera menghentikan mobilnya.
"Ada apa Dokter?" Tanya Arvina terkejut.
"Ada urusan sedikit." Ujarnya, lalu Rian segera turun dari mobilnya masuk ke dalam rumah Irna. Arvina mengikutinya dari belakang.
Saat masuk ke dalam rumah Rian melihat Irna duduk berhadapan dengan Jody di seberang meja.
Irna juga terkejut melihat Rian tiba-tiba berada di sana. Mata Irna menatap gadis di belakang punggungnya. Gadis muda yang sangat manis.
"Oh ada tamu lain rupanya." Ujar Jody sambil menikmati kopinya, dan pemandangan di depannya itu.
Irna berdiri menghampiri mereka berdua.
"Ada apa kamu tiba-tiba kemari?" Tanya Irna pada Rian sambil tersenyum ke arah Arvina.
"Perkenalkan saya Arvina asisten Dokter Rian." Gadis itu mengulurkan tangannya pada Irna.
"Irna Damayanti." Ujar Irna membalas uluran tangan dari Arvina.
"Sudah waktunya dia harus meninggalkanku, sudah bertahun-tahun dia terus membantuku tanpa syarat apapun." Bisik Irna dalam hatinya melihat Arvina begitu antusias berada di sebelah Rian.
__ADS_1
"Aku dari kantor cabang tadi, tidak sengaja melihat mobilmu ada di sini jadi aku mampir." Ujar Rian sambil tersenyum.
Bersambung....