Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Pembatalan


__ADS_3

Pagi itu Irna masih melakukan pemotretan, sekitar jam sepuluh pagi baru selesai.


Di dalam kantornya Fredian sibuk menghubungi Reynaldi, managernya Irna.


"Kenapa di belum datang juga?!" Teriaknya kehabisan kesabaran.


"Ah, Irna masih ada jadwal pemotretan pagi ini, akan sedikit terlambat datang." Ujarnya sambil menahan tawanya.


"Presdir rapatnya?" Ujar sekretarisnya sambil membawa berkas masuk ke dalam ruangan.


"Tunda semua rapatnya hari ini!" Teriaknya dengan suara lantang. Membuat sekretarisnya menjatuhkan seluruh berkasnya, berantakan di atas lantai karena terkejut.


Fredian mondar-mandir seperti kebakaran jenggot sambil terus memegang keningnya.


Irna melangkah ke dalam Reshort mengenakan kacamata hitam, gaunnya cantik melambai seiring dengan langkahnya. Bibirnya berwarna peach ranum dan tipis, mengembangkan senyuman manis. Beberapa pengawal menjaganya dari berbagai sisi.


Teriakan riuh para fans membanjiri pintu depan Reshort. Juga banyak sekali wartawan yang menunggu ingin menerobos masuk ke dalam jika tidak dicegah oleh sekuriti dan pengawal Irna.


"Kriiiing.." Tiba-tiba telepon Irna berbunyi.


"Ah, ya. Aku masih di Reshort sekarang, satu jam lagi aku akan kesana." Ujarnya sambil mengakhiri panggilan telepon.


Fredian mendengar teriakan riuh di luar Reshortnya, pria itu kemudian buru-buru merapikan jasnya. Pura-pura duduk kembali di kursi ruang kerjanya.


"Saat aku meeting dengan Presdir, jangan biarkan siapapun masuk untuk mengganggu, termasuk anggota keluarga Presdir, calon istri Presdir semuanya yang berhubungan dengan Presdir! mengerti kalian?!" Hardik Irna pada para pengawalnya.


Jika beberapa tahun yang lalu dia harus sibuk menjambak beberapa wanita, kini dia tidak ingin lagi mengotori tangan cantiknya.


Jika dulu dia selalu terkena siraman air minum, dan tamparan, kali ini dia tidak akan membiarkan siapapun berteriak padanya melebihi jarak sepuluh meter, dan berujung tuntutan di pengadilan dengan imbalan yang tidak sedikit.


Dengan anggun gadis itu membuka pintu melangkah masuk ke dalam ruangan Fredian.


"Tak, tak, tak, tak." Derap langkah kaki cantik Irna di atas ubin berwarna merah tua memenuhi ruangan. Aroma parfum yang lembut di setiap gerakan gaun cantiknya menelan habis aroma parfum Fredian.


Gadis itu melepaskan kacamata hitamnya, kemudian duduk di sofa. Fredian menatap Irna sejak masuk ke dalam ruangannya dengan mata tidak berkedip.


Pria itu melangkah mendekat duduk di sebelahnya. Karena Fredian terlalu dekat, Irna terpaksa menggeser posisi duduknya agak menjauh.


Irna mengeluarkan berkas dari dalam tasnya.


Gadis itu mulai membuka percakapan.


"Aku belum menandatangani surat kontrak ini, aku ingin menambahkan persyaratan kontrak."


"Ya, tambahkan saja." Ujar Fredian sambil beringsut mendekat.


"Selama proses saya bekerja sebagai model iklan Reshort, saya tidak ingin diganggu oleh keluarga anda, termasuk calon istri anda."


"Jika hal itu terjadi dan mengakibatkan tercemarnya nama baik saya, saya akan menuntut lima kali lipat dari harga kontrak."


"Ya tambahkan saja dan segera tanda tangani." Ujar Fredian sambil meraih rambut Irna yang jatuh di punggung mulusnya, kemudian menciumnya.


"Saya harap anda bisa membedakan urusan bisnis dan urusan pribadi." Irna menarik tangan Fredian dari rambutnya.


Fredian tidak peduli pria itu malah mencium punggung mulus Irna dengan lembut.


Membuat sekujur tubuhnya meremang seketika.


"Apa yang kamu lakukan?" Ujar Irna sambil menjauhkan diri.


Setelah selesai tanda tangan, Irna membereskan berkasnya. Fredian menyandarkan kepalanya di atas punggung Irna seperti tidak punya tenaga sama sekali.


"Presdir?" Irna menoleh ke arah Fredian, wajah pria itu pucat. Dan tercium aroma alkohol dari bibirnya.


"Berapa banyak kamu minum? dasar pria yang tidak pernah bisa menyelesaikan masalah!"


"Cuma lima botol, malam tadi." Ujarnya sambil memeluk tubuh Irna dari belakang. Membuat seluruh tubuhnya terkena parfum yang dipakai Irna.


Irna memapahnya di tempat tidur yang dahulu ditempati olehnya dan Fredian.


Fredian meraih Irna dalam pelukannya.


"Aku sangat merindukanmu." Ujarnya sambil merengkuh Irna.


"Kamu harus mengurus calon istrimu, bukan aku yang bukan siapa-siapa." Irna melepaskan pelukan Fredian.


"Aku harus pergi sekarang, aku ada jadwal lain." Irna beranjak berdiri tapi pria itu malah menarik tangannya hingga jatuh ke atas tempat tidur.


"Kamu seminggu lagi menikah, apa yang kamu lakukan padaku sekarang?!" Teriak Irna pada Fredian sambil mendelik menatapnya.


"Kamu milikku, kamu akan selamanya jadi milikku." Bisik Fredian di telinga Irna.

__ADS_1


Jika bukan karena mengingat Alfred mungkin Irna akan berteriak saat itu. Hingga pengawal Irna masuk dan dia akan mengajukan tuntutan di pengadilan juga menghancurkan bisnisnya saat itu juga.


Irna masih terus mengingat putra kecilnya yang sangat dirindukannya.


"Tidak bisa seperti ini! Fred lepaskan aku!" Irna terus memekik berusaha melepaskan diri darinya.


Satu jam berlalu begitu saja. Seluruh kamar di dalam kantor Fredian menjadi aroma harum parfum milik Irna.


"Mereka tidak akan datang lagi?" Tanya Fredian sambil menyentuh darah di atas sepreinya.


"Dua puluh menit lagi!" Ujar Irna kemudian meraih parfum dari dalam tasnya menyemprotkan di seluruh tubuhnya, dan di atas tempat tidurnya.


Irna menunjuk lubang angin di atas dinding, kuku-kuku tajam berebut masuk. Namun setelah mencium aroma lain mereka pergi.


Irna berdiri merapikan gaunnya kembali, dan juga make up-nya.


"Mulai saat ini aku tidak akan meeting denganmu di dalam kantor!" Ujar Irna sambil mendelik ke arahnya.


"Aku tidak akan pernah menikah dengannya!" Teriak Fredian kemudian berdiri memegang tangan Irna kembali.


"Itu bukan urusanku lagi, berhenti menggangguku!" Irna mengibaskannya tangannya dari genggaman Fredian. Dia melenggang santai meninggalkan pria dengan wajah putus asa itu.


Setelah mengambil tasnya Irna keluar dari ruangan Fredian. Di luar pintu Erlia di bawah tahanan para pengawal Irna. Erlia menatap Irna seolah ingin mencabik-cabik wajah cantiknya.


Irna tersenyum manis melihat gadis itu menatapnya dengan marah. Fredian yang buru-buru mengejarnya berdiri di belakang punggung Irna belum sempat mengancingkan bajunya.


Irna dengan sengaja berhenti di ambang pintu. Dan Fredian berlari memeluknya erat dari belakang.


Irna sengaja membelai kepala Fredian yang jatuh di atas bahunya sambil melirik Erlia.


"Aku harus pergi dulu sekarang, ada jadwal lain yang tidak bisa di tunda." Ujar Irna lembut sambil di susul bisikan.


"Hari ini kamu berhutang lagi padaku untuk mengacaukan kembali wanita yang berebut mengejarmu!" Ujar Irna sambil memegang bahunya.


"Aku akan membayar semua hutangku." Bisik Fredian lembut sambil mengecup pipi Irna.


Irna melepaskan pelukan Fredian dari pinggangnya. Berlalu meninggalkan pria itu, Irna melambaikan tangannya kepada para pengawalnya untuk mengikutinya.


"Apa yang kamu lakukan dengan wanita tadi?!" Erlia berteriak di telinga Fredian.


"Dia wanitaku, dia adalah wanitaku satu-satunya." Ujar Fredian sambil tersenyum mengabaikan wajah marah di depannya.


"Pernikahan kita bagaimana!" Teriak Erlia sudah tidak sabar lagi, sambil mengguncang tubuh Fredian.


Erlia ikut menerjang masuk ke dalam, dia memeriksa kamar yang ada di dalam kantor Fredian.


"Kamu barusan tidur dengannya? Plaaaakkkk!" Teriak Erlia lagi kemudian menampar pipi Fredian.


"Undangan pernikahan sudah di bagikan dan kamu bilang padaku untuk menikah sendiri? oke aku akan menghubungi ibumu dan mengatakan semuanya yang terjadi hari ini!" Erlia tidak bisa menerima keputusan sepihak dari Fredian.


"Ya katakan saja semuanya, lagi pula ini bukan yang pertama kalinya aku meninggalkan mempelai wanita saat pernikahan!" Dengus Fredian sambil bersiul-siul santai, kembali memakai bajunya.


Saat Irna sedang hamil Alfred, dia sudah lebih dari tujuh kali kabur di pesta pernikahan dan perjodohan yang tak terhitung jumlahnya. Juga meninggalkan mempelai wanita menangis di altar.


"Pikirnya untuk apa aku melakukan perjodohan itu waktu lalu? aku hanya ingin Irna menahan pinggangku dan memelukku erat dari belakang. Tapi sial sekali saat itu dia sedang marah! jika tidak, siapa yang mau melakukan perjodohan konyol itu!" Ujar Fredian dalam hatinya.


Wajah pria itu berubah cerah, dan kembali bersemangat.


Erlia menangis tersedu-sedu keluar dari ruangan Fredian. Dan menghubungi keluarga Derrose.


"Mama, bagaimana ini? Fredian tiba-tiba membatalkan pernikahan kita. Setelah Irna artis itu keluar dari dalam kantornya"


"Maafkan mama Erlia, mama tidak bisa campur tangan dengan masalah kalian. Lebih baik kalian selesaikan sendiri."


Dan ibunya Fredian tidak bisa berbuat apa-apa. Irna yang sekarang bukan Irna yang dulu, yang bisa dia hina semaunya.


Karena Irna bukan lagi menantunya. Gadis itu jika dihina atau disinggung akan mengajukan tuntutan ke pengadilan dengan nilai pertukaran yang tidak sedikit.


Ibu Fredian tidak ingin keluarga Derrose menyinggung gadis itu lagi, jika tidak ingin nama keluarganya sendiri yang hancur.


Dan juga membuat harga sahamnya turun mendadak dalam waktu singkat.


Beberapa perusahaan sudah menyinggungnya dan dalam waktu satu minggu perusahaan tersebut menghentikan proses produksi sampai gulung tikar.


Nama Irna Damayanti tidak hanya dikenal di dunia permodelan dan artis, tapi juga dikenal sebagai iblis di dunia bisnis seluruh negara.


Berkat kerja kerasnya dan juga dukungan dari berbagai pihak Irna meraih ketenaran yang tidak bisa dianggap remeh.


"Apa kamu sudah lama menungguku?" Tanya Irna sambil tersenyum duduk di sebuah kursi restoran.


"Baru setengah jam! ha ha ha!" Ujar Rian sambil tertawa renyah.

__ADS_1


"Ah ini yang kamu minta semalam." Rian mengeluarkan sekotak parfum.


"Berapa semuanya Presdir?" Tanya Irna sambil menghirup kopinya.


"Untuk seorang Irna Damayanti mungkin satu triliun tidak terlalu mahal? Ha ha ha!" Ujarnya kembali tergelak menimpali kelakar gadis cantik di depannya.


Rian yang meracik aroma parfum Irna selama ini, itu kusus dibuat untuknya. Agar iblis tidak bisa mencium aroma darahnya. Dan itu dilakukan sejak Irna mengalami proses persalinan Alfred.


Setelah melahirkan kegadisannya kembali seperti sedia kala. Yang uniknya lagi di usia yang hampir tiga puluh tahun, gadis itu masih terlihat belia seperti masih berada di usia dua puluhan.


Tidak terlihat sama sekali jika dia sudah melahirkan seorang putra.


"Hai kalian?" Sapa seorang Presdir dari Eagle star, ikut nimbrung duduk bersama mereka berdua.


Sejak darah Reyfarno bercampur dengan darah Irna dia juga menderita kelainan darah hampir sama dengan Irna. Dan Rian yang merawatnya selama ini.


"Bisakah kamu menjadi model perhiasan di perusahaanku lagi?" Ujarnya kemudian.


"Berapa kamu memberikan harga?" Tanya Irna dengan wajah santai.


"Tiga milyar!" Ujar Reyfarno tanpa ragu-ragu.


"Deal!" Ujar Irna sambil tersenyum.


"Kamu begitu cantik." Ujar Reyfarno tidak mampu menahan rasa kagumnya.


"Apa kamu masih berani menggangguku, atau perlu aku panggil.." Belum sempat menyelesaikan perkataannya Reyfarno sudah menyahut.


"Ah, tidak, tidak, aku hanya akan melihatmu saja. Ha ha ha, jika mengingat aku waktu itu. Aku tidak ingin mengalami kejadian yang sama lagi."


Rian tersenyum melihat Reyfarno begitu tunduk dan patuh kepada Irna, sejak hal buruk itu menimpanya.


Mereka tertawa-tawa sambil terus berkelakar satu sama lain.


Sampai dering ponsel Irna menghentikannya.


"Oh iya, aku akan langsung ke lokasi setelah dari sini." Irna segera beranjak berdiri.


"Wah kamu sekarang tidak punya waktu senggang sama sekali." Ujar Rian sambil tersenyum ikut berdiri mengantarkan Irna naik ke dalam mobilnya.


"Apakah aku bisa mengantarkanmu?" Ujar Reyfarno menawarkan tumpangan sambil tersenyum melambaikan tangannya.


Kebersamaan mereka saat itu masuk berita keesokan harinya. Membuat nama Irna Damayanti semakin melejit.


Fredian tersedak melihat wajah cerah Irna sedang tertawa-tawa santai dengan mereka berdua di layar kaca televisi.


"Waah! ini sangat tidak adil! dia bersama mereka bisa sesantai itu! tapi saat bersamaku malah terus menerus mengusirku, aku tiba-tiba jadi iri pada mereka!" Fredian mengusap wajahnya karena kesal.


Sore itu Irna menyelesaikan pemotretan di lokasi perusahaan Arya yang baru.


Dan kembali pulang saat jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul enam malam.


Irna merendam tubuhnya di kolam renang yang ada di lantai atas, atap rumah megahnya. Dulu dia selalu takut dengan air, tapi sejak masuk dalam dunia artis dia mengambil pelatihan khusus berenang.


Setelah beberapa kali memutari kolam dengan tubuh langsingnya, Irna berjalan keluar dari dalam air. Dan mengambil handuk melilitkan pada pinggangnya.


Gadis itu berjalan menuju kamar mandi, melepas seluruh bajunya. Menikmati air hangat yang memancar dari atas kepalanya.


Irna turun ke lantai bawah sambil membalut rambutnya yang basah dengan kain handuk.


Para pelayan di lantai bawah sudah menunggu Irna untuk melayaninya.


Setelah menyantap beberapa buah-buahan segar, Irna mendapat pijitan lembut dari pelayannya yang memang khusus untuk melayani perawatan tubuhnya.


"Halo, kenapa lagi?" Tanya Irna pada seseorang melalui ponselnya.


"Kapan kamu mulai melakukan pemotretan untuk Reshort?"


"Pemotretan iklannya, besok." Ujar Irna menjawab pertanyaan Fredian.


"Tunjukkan saja lokasinya, nanti para kru akan mengurus seluruh persiapannya." Ujar Irna lagi.


"Di Reshort yang baru." Jawab Fredian sambil tersenyum, senang mendengar suara Irna saat itu.


"Sudah kan? aku tutup dulu. Jika ada yang ingin kamu tanyakan kamu bisa menghubungi managerku."


"Tunggu sebentar, jangan tutup dulu!"


"Kenapa lagi?" Tanya Irna tidak sabar karena sudah sangat mengantuk.


"Aku ada di luar rumahmu!" Ujar Fredian sambil keluar dari dalam mobilnya duduk bersandar di depan mobil.

__ADS_1


"Lalu kenapa? pulanglah aku ingin tidur. Lagi pula kamu tidak akan bisa masuk ke dalam rumahku seperti dulu seenakmu keluar dan masuk!" Ujar Irna mengakhiri panggilan telepon.


Bersambung...


__ADS_2