Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Lift


__ADS_3

Fredian melihat bekas lebam membiru di sudut bibir istrinya. Begitu geramnya dia, gara-gara dirinya yang terlambat menjemput Irna sore tadi.


"Irna.." Panggil Fredian dengan lembut masih berada di pelukan hangat Irna.


"Hem." Jawab Irna sambil merebahkan kepalanya di atas kepala suaminya yang berjongkok memeluknya.


"Apa kamu marah padaku?" Tanya pria itu sambil menatap kedua mata bening Irna.


"Tidak sama sekali." Irna tersenyum lembut ke arah suaminya melihat wajah pria itu sangat menghawatirkannya.


Fredian dengan lembut mengangkat tubuh Irna membawanya ke dalam kamar.


Petugas sudah meringkus Jesy malam itu juga, berserta para preman suruhannya. Wajahnya yang begitu mirip sama Irna menjadi pusat perbincangan semua orang.


Pagi itu Irna masih berbaring di balik selimut bersama suaminya. Gadis itu terjaga jam tujuh pagi.


"Fred, apa kamu tidak akan pergi ke kantor?" Gadis itu menyentuh pipi suaminya yang masih menutup erat pelupuk kedua matanya.


Fredian bukannya bangun, tapi malah beringsut memeluk tubuh di balik selimut yang sejak semalam, tanpa sehelai pakaian melekat pada tubuh keduanya.


"Aku ingin tidur sebentar lagi.." Desahnya manja merengkuh Irna dalam pelukan kemudian mengecup bibirnya. Baru dua jam mereka tidur sejak berperang selama lima jam semalam.


Gadis itu membelai kepala suaminya. Dan ikut kembali menutup kelopak kedua matanya.


Saat terjaga Irna tidak mendapati suaminya berada di sebelahnya.


"Ah tubuhku ngilu sekali..." Desahnya seraya bangkit melangkah masuk ke kamar mandi.


"Triiing!" Ponsel Irna berbunyi di atas meja kamarnya.


Gadis itu berlari kecil mengambil ponsel di atas meja.


"Halo, oh iya aku sudah berada di rumah."


"Iya aku baik-baik saja, kamu tidak perlu hawatir." Ujar Irna menjawab telepon dari Reynaldi.


"Melihat wajah Reynaldi yang tidak bisa berbuat apa-apa saat kami bertengkar di lokasi pemotretan membuatku yakin, jika Jesy adalah gadis yang memiliki tempat istimewa di hati pria itu." Ujar Irna setelah menutup panggilan telepon dari Reynaldi.


Pagi itu Irna bergegas kembali ke kantor, saat sebelumnya menerima pesan dari suaminya kalau dia sedang berada di tengah rapat, di dalam Reshortnya.


Fredian mengambil foto termanis, dia meminta sekretarisnya untuk mengambil foto dirinya saat sedang serius memberikan pengarahan di depan seluruh peserta rapat di depan layar.


Mendapat kiriman foto itu Irna langsung tersenyum-senyum sendiri merasa usianya kembali dari dua puluh tujuh ke dua puluh tahun.


"Ah manis sekali!" Ujarnya gemas menyentuh wajah tampan di layar ponselnya.


"Bu Irna, sepertinya tiga hari lagi kita sudah menyelesaikan proses konstruksi di kantor cabang NGM." Ujar Rini tersenyum manis.


Irna terkejut melihat sekretarisnya tersenyum seperti mendapatkan sesuatu yang sangat spesial.


"Apa yang terjadi?" Tanya Irna sambil tersenyum melihat Rini.


"Itu di depan seseorang mengajak saya makan bersama sepulang kerja, apakah saya boleh pulang sedikit lebih awal hari ini Bu?"


Irna hanya mengangguk, melihat kebahagiaan di wajah sekretarisnya yang sudah menemaninya sejak awal dia merintis pekerjaannya.


Rini adalah seorang gadis muda yang sangat sederhana, tingkahnya lembut dan ramah. Irna menyukai gadis itu sejak awal dia mengajukan permohonan untuk bekerja bersamanya.


Rini mengagumi sosok Irna Damayanti, yang sukses di usia dua puluh lima di bidang arsitekturnya.


"Terima kasih Bu."

__ADS_1


"Iya, pergilah dan semoga hari ini menjadi hari yang bahagia untukmu."


Rini bergegas meninggalkan ruangan Irna, dengan wajah cerah.


"Apakah aku boleh bicara kepada atasanmu?" Tanya Juan yang sejak tadi menemani Rini.


Gadis itu segera menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Dia sangat senang karena Juan yang mengajaknya makan malam bersama.


"Pagi." Juan melongokkan kepala ke dalam ruangan Irna.


"Ada apa kamu ke mari?" Tanya Irna sambil memijit keningnya.


"Aku hanya ingin memberikan ini." Juan meletakkan salep untuk menghilangkan bekas memar di pipi Irna.


Irna tersenyum, kemudian mengambil dan memasukkan ke dalam lacinya.


"Terima kasih." Ujar Irna padanya.


"Aku juga ingin makan malam, nanti bersama Rini." Juan meminta izin pada Irna.


"Hem, tolong jaga dia baik-baik Rini sudah seperti adikku sendiri." Ujar Irna dengan tatapan penuh harap.


"Baik kakak!" Jawab Juan bersemangat sekali. Pria itu melangkah keluar dengan wajah cerah dan sumringah.


"Triiiing!" Suara telepon di atas meja Irna berbunyi.


"Bisakah saya bicara pada Irna Damayanti?" Suara dari seberang.


"Iya, saya sendiri, ada yang bisa saya bantu?" Balas Irna.


"Maaf sebelumnya, saya berbicara dengan siapa ini?" Tanya Irna balik.


"Saya ingin membangun tempat wisata hiburan, khusus untuk anak-anak sekaligus orang dewasa juga bisa menikmatinya."


"Dan saya ingin anda yang mendesain secara keseluruhan. Apakah saya bisa bertemu anda secara pribadi? maksud saya bertemu secara langsung?" Ujar seseorang dari seberang.


"Iya, bisa. Saya akan melihat jadwal Minggu ini, semisal ada perubahan jadwal, kami akan memberikan kabar kembali." Jelas Irna pada orang tersebut.


"Baiklah, saya akan menunggu kabar baik dari anda. Terima kasih Nona Irna."


"Iya sama-sama." Irna mengakhiri panggilan telepon.


Gadis itu keluar dari kantornya sekitar pukul empat sore. Irna melangkah santai turun ke lantai bawah melalui lift. Ketika hendak masuk ke dalam lift dia bersimpangan dengan seorang yang tidak dikenalnya.


Pria itu keluar lift sedangkan dia masuk ke dalam lift. Irna memencet tombol untuk turun ke lantai dua. Masih menunggu pintu di depannya menutup kembali.


Irna memutar otaknya kembali melihat pria itu.


"Di lantai dua hanya ada perusahaanku, apa mungkin pria berbaju rapi itu sedang melihat atap untuk proses renovasi gedung? ah untuk apa aku repot-repot memikirkanya!" Ujar Irna pada dirinya sendiri.


Saat pintu akan tertutup sepenuhnya pria tadi tiba-tiba berlari menerjang menahan dengan tangannya.


"Astaga naga! Apa pria ini sedang latihan drama serial action??!" Irna terkejut melompat ke sudut lift sambil mengelus dadanya.


Pria itu tersenyum melihat wajah Irna terkejut kemudian membungkuk sopan menyapa Irna.


Irna hanya tersenyum tipis membalas anggukan kepala pria itu, dadanya masih berdebar-debar karena terkejut gara-gara ulah pria itu barusan.


"Dap! dap!" Setelah pintu lift tertutup tiba-tiba lampu di dalam lift berkedip, dan lift tersebut macet.

__ADS_1


"Astaga apa yang terjadi? apakah aku harus terkena sial lagi hari ini?! ah tidak! liftnya tidak bisa jalan!" Gumam Irna dengan wajah serius kebingungan memencet bel dan tombol lift.


Saat menoleh ke belakang Irna melihat ke arah pria itu.


Pria yang berdiri di belakang punggungnya malah sibuk menata rambutnya, bercermin di dinding lift sebelahnya. Bahkan pria itu membuka mulutnya untuk memeriksa apakah ada nasi yang tertinggal pada sela-sela giginya di dinding lift.


Irna tidak tahu apakah dia harus terkejut, dan bingung, ataukah harus tertawa melihat tingkah pria di belakang punggungnya itu.


"Terjebak di dalam lift bersama pria seperti ini?! Apakah ini bisa dihitung kesialan atau keberuntungan???!" Irna menggeram dalam hatinya.


Setelah sekian lama memeriksa giginya akhirnya pria itu membuka percakapan.


"Kok tidak sampai-sampai? bukannya gedung ini hanya ada dua lantai?" Memiringkan kepalanya di depan Irna.


"Liftnya macet!" Ujar Irna masih sibuk berusaha menghubungi Fredian melalui ponselnya.


"Apa?! Macet kamu bilang?! kenapa kamu tidak bilang dari tadi?! Astaga! aku tidak percaya ada wanita sangat dingin sepertimu di dunia yang penuh kedamaian ini! astaga! aku benar-benar tidak percaya hari ini aku sial sekali! astaga aku benar-benar sial oh ibuku.... ibu tolong aku! ibuuu, huaaaa!" Pria itu nyerocos lalu menangis keras sekali.


Membuat Irna segera menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangan.


Fredian yang menerima telepon dari istrinya sangat terkejut mendengar teriakan pria itu.


"Woi! bisa diam gak sih! berisik tahu!" Teriak Irna, segera menyumpal mulut pria itu dengan telapak tangan kanannya, karena dia tidak bisa mendengar suara Fredian dari seberang.


"Iya lift di kantorku macet tiba-tiba." Ujar Irna menjawab panggilan dari Fredian.


"Aku akan segera kesana, kamu jangan hawatir dan aku akan membawa bantuan!" Ujar Fredian mengakhiri teleponnya.


Pria itu melotot diam terpaku melihat Irna menutupi bibirnya dengan telapak tangannya.


Setelah panggilan berakhir Irna lupa belum melepaskan telapak tangannya dari mulut pria di belakangnya.


Pria itu menyentuh bahu Irna sambil menunjuk mulutnya, agar gadis itu menarik tangannya dari bibirnya.


Irna secepat kilat langsung menarik tangannya kembali, pria itu juga segera merapikan jasnya.


Irna hanya diam melihat sambil mengunyah gigi melihat tingkah tidak masuk akal itu. Irna kembali melirik jam di pergelangan tangannya.


Pria itu tiba-tiba juga ikut melihat jam di pergelangan tangan Irna, membuat Irna menjauhkan kepalanya darinya.


Irna melihat jam tangan di pergelangan tangan pria itu, bukankah aneh?? kenapa pria itu malah melihat jam miliknya sedangkan dia sendiri memiliki jam tangan.


Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali,


"Apa dia benar-benar sudah tidak waras!" Gumamnya membuat pria di belakangnya terkejut.


"Apa kamu bilang barusan?!" Tanyanya sangat tidak senang.


"Ah itu aku.." Irna belum menyelesaikan ucapannya pria itu sudah menyahut.


"Kamu baru saja mengataiku kalau aku tidak waras! kamu pikir aku tidak mendengar?!" Pria itu dengan wajah marah mendorong tubuh Irna ke dinding lift.


Irna menutup kedua telinga dengan telapak tangan dan memejamkan matanya. Bagaimanapun saat ini dia tidak bisa kabur karena tertahan di dalam lift bersama pria ini.


Jika dia memancing kemarahan pria itu, dia takut akan terjadi sesuatu yang lebih buruk.


Irna membuka sebelah matanya, melirik pria yang masih mengurung dirinya dengan kedua lengannya di dinding lift.


Pria itu tersenyum, tersenyum sangat lembut. Dia hampir tidak percaya melihat wajah di depannya tiba-tiba berubah seratus persen.


Dari marah menjadi ramah.

__ADS_1


"Apa kamu pikir aku akan melukaimu?" Ujarnya sambil tersenyum menyeringai menatap wajah Irna yang ketakutan.


Bersambung.....


__ADS_2