
"Kamu masih tidak mau jujur?" Tanya Irna lagi sambil tersenyum menatap pria di depannya itu.
Wajah Jermy terlihat gugup dan tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Tidak mungkin kan dia melibatkan perasaannya dengan hubungan bisnis? apa mungkin dia pikir aku masih berstatus janda?"
Seribu tanya muncul di benak Irna dan gadis itu bingung mana yang benar.
"Aku tidak akan menandatangani kontraknya, jika anda tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Saya permisi."
Irna beranjak berdiri, gadis itu mengambil tasnya lalu meletakkan surat kontrak di atas meja. Melangkah perlahan menuju ke arah pintu.
Saat tangan gadis itu menyentuh gagang pintu, Jermy Erlando segera bergegas berlari meraih tangan Irna, menahan kedua tangannya dan menghimpit tubuh gadis itu di daun pintu yang masih tertutup.
Sejenak tatapan mereka berdua bertemu, Irna sangat terkejut melihat tindakan Jermy terhadap dirinya.
"Apa sebenarnya yang kamu lakukan!?" Geram Irna saat pria itu memandang wajahnya lekat-lekat.
"Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang aku lakukan.." Jermy melepaskan kedua tangan Irna dan meletakkan kepalanya di atas bahu kanan Irna dengan putus asa.
"Apa yang terjadi? sebenarnya apa tujuan dari kontrak kerja sama antara kita?" Tanya Irna sambil mendorong tubuh Jermy agar menjaga jarak dengannya.
"Istriku ingin menemuimu, dia sakit kanker rahim stadium akhir." Jelas Jermy dengan wajah sedihnya.
"Jadi dia hanya ingin bertemu denganku begitu, dan aku akan menjenguknya lalu masalah selesai?" Tanya Irna lagi masih tidak mengerti maksud ucapan Jermy.
"Dia tahu saat kita bersama di Jerman beberapa tahun lalu, dan dia juga tahu aku selalu memperhatikanmu sebelum itu.." Ujar Jermy sambil menundukkan kepalanya.
"Lalu apa maksudmu sebenarnya?" Irna mengguncang kedua bahu Jermy dengan tatapan mata tidak sabar.
"Kamu memiliki perasaan denganku?!" Tanya Irna mencoba mencari kejelasan dari wajah pria di depannya itu.
Irna tidak menyangka jika pertemuan dirinya dengan Jermy yang sudah kelewat bertahun-tahun lalu menjadi bumerang pada hari ini.
Dia tidak pernah punya sebersit keinginan untuk masuk di dalam kehidupan pria itu, apalagi menghancurkan kehidupan keluarganya.
"Pertemukan aku dengannya." Ujar Irna pada pria itu.
"Aku harus membersihkan segalanya, di antara kamu dan aku tidak terjadi apa-apa. Kita tidak punya hubungan apa-apa. Kita bukan teman lama, juga bukan teman dari sisi manapun." Mata Irna mulai berkaca-kaca.
"Apakah kehadiranku selalu menghancurkan orang di sekitarku? bahkan pria ini sudah berkeluarga! bagaimana bisa dia terlibat denganku begitu saja? aku tidak percaya!" Gumam Irna dalam hatinya.
Jermy meraih tangan Irna dan mengajaknya pergi menuju parkiran yang ada di belakangnya perusahaan. Pria itu membukakan pintu mobil untuknya agar Irna masuk ke dalam.
"Masuklah.." Pintanya pada Irna.
Irna melangkahkan kakinya naik ke atas mobilnya. Setelah mobil melaju terdengar suara ponsel Irna berdering.
"Halo?"
"Iya aku masih ada urusan, kamu kembali duluan saja, aku baik-baik saja." Ujar Irna sambil menutup panggilan dari Rian.
Setelah satu jam kemudian mobil Jermy berhenti di sebuah rumah sakit. Irna mengenakan kacamata hitamnya melangkah di sebelah Jermy.
"Jangan katakan apapun pada Istriku, atau membuatnya sedih."
Jermy menahan tangan Irna saat mereka sudah sampai di luar ruangan tempat Nyonya Fifian istri Jermy di rawat.
"Tapi aku!" Jermy menahan bibir Irna dengan jari telunjuknya agar gadis itu mengikuti perintah darinya.
Jermy membuka pintu, Irna dan dirinya masuk ke dalam ruangan.
"Irna.." Panggil Fifian pada gadis itu agar mendekat ke arahnya.
Irna berjalan melangkah mendekat perlahan. Gadis itu berdiri di sebelah tempat Fifian berbaring.
Fifian memegang jemari tangan kanan Irna.
"Apakah kamu sudah menanda tangani surat kontraknya?" Tanyanya dengan suara lemah.
"Saya.."
"Irna sudah menanda tangani surat kontraknya." Sahut Jermy segera saat Irna hendak mengatakan kalau dia belum menyetujuinya.
"Suamiku.. kemarilah.." Fifian meraih tangan Jermy kemudian menyatukan dengan tangan Irna.
Irna hendak menarik tangannya, tapi Jermy memberikan isyarat padanya dengan menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah menemukan penggantiku untuk menemanimu, hatiku sudah merasa tenang." Ujarnya sambil tersenyum menatap wajah Irna dan Jermy.
Irna dan Jermy hanya saling bertukar pandang satu sama lain.
"Saya bukan kekasih tuan Jermy, dan saya tidak memiliki hubungan apapun dengannya, juga saya tidak memiliki perasaan apapun padanya.. maafkan saya." Ujar Irna berterus terang.
"Aku tahu, kamu tidak memiliki perasaan apapun pada Jermy, tapi melihatnya saat bersamamu dan bagaimana caranya tersenyum ketika melihat wajahmu aku bisa mengetahui perasaanya." Balas Fifian sambil tersenyum getir.
__ADS_1
"Tapi saya sudah menikah nyonya Fifian, pagi ini saya sudah menikah kembali dengan Fredian Derosse, dan status saya bukan lagi seorang janda." Ujar Irna mencoba meyakinkan wanita di depannya.
"Maafkan saya, saya tidak bisa memenuhi permintaan anda. Untuk kontrak kerjasama saya akan segera menandatangani demi anda." Jelas Irna lagi sambil menatap Fifian lekat-lekat.
Irna pamit undur diri setelah beberapa lama bercakap-cakap dengan Fifian.
Jermy bergegas hendak menyusul Irna untuk mengantarkan dirinya kembali ke rumah, tapi Irna menolak.
"Saya akan naik taksi dari sini anda tidak perlu hawatir." Irna tersenyum lalu berlalu dari hadapan Jermy.
Jermy kembali ke ruangan Fifian.
"Hahahaha! lihat aku berhasil mendapatkan tanda tangan kontrak kerja sama antara perusahaan kalian! berikan bayaranku!" Ujar wanita itu sambil melepas selang infus di tangannya.
"Kamu berhasil mendapatkan kontrak tapi tidak mendapatkan dirinya!" Gerutu Jermy seraya menyerahkan selembar cek padanya.
Jermy Erlando, entah dia sudah menikah atau belum Irna juga tidak pernah tahu status pria itu yang sesungguhnya.
Yang dia tahu mereka dulu bertemu juga bukan dengan sengaja.
Irna hendak menghentikan taksi di depan rumah sakit. Namun tanpa sengaja dia melihat Fifian tersenyum cerah dengan cek di tangannya.
Dia yang tadi sedang berbaring lemah sudah berjalan santai menuju mobilnya dan melaju keluar dari halaman rumah sakit tersebut.
"Apa maksudnya ini?" Bisik Irna dalam hatinya sambil menurunkan sedikit kacamata hitamnya.
Gadis itu kembali masuk ke dalam rumah sakit. Dia mendapati Jermy sedang menopang lengannya di balkon depan ruang rawat lantai atas.
Melihat wajah marah Irna pria itu semakin kebingungan tidak tahu harus bagaimana.
Irna bergegas memeriksa kamar rawat Fifian ternyata benar yang barusan dilihatnya.
"Apa ini? kalian bersandiwara? astaga! aku sama sekali tidak mengerti apa maksudmu melakukan semua ini!" Teriak Irna sambil memijit keningnya menahan marah.
"Kamu tidak mengerti? bukankah sudah jelas? apa kamu tidak bisa melihatnya dari kedua mataku?" Tanyanya semakin membuat Irna tidak mengerti.
"Matamu hanya menggambarkan kebohongan!" Desis Irna semakin muak.
"Aku mencintaimu.."
"Hahahaha! apa? kamu mencintaiku? kamu sudah berkeluarga!" Irna tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan konyol itu dari bibir Jermy Erlando.
"Aku belum menikah, pakaian bayi yang kamu pilihkan untukku waktu itu. Itu untuk puteri kakakku." Jelasnya pada Irna.
"Kamu tahu aku tidak akan menerima hatimu? kamu juga tahu aku sudah menikah kembali dengannya sekarang." Irna tersenyum melihat wajah putus asa di hadapannya itu.
"Jermy! apa yang kamu lakukan! lepaskan aku!" Teriaknya sambil meronta-ronta. Irna sangat terkejut dan takut mengingat masa-masa lalu yang kelam.
Mengingat dirinya terlibat dengan beberapa pria, yang semakin membuat rumit kehidupannya.
Jermy menahan tubuhnya, tetap berada dalam pelukannya. Pria itu masih memeluknya dari belakang. Setelah beberapa menit kemudian barulah dia melepaskan pelukannya dari pinggangnya.
Irna maju beberapa langkah dan terus berjalan tanpa menoleh ke arah pria itu lagi.
"Kling!" Suara ponsel Fredian berbunyi di atas meja kerjanya. Saat dia membukanya masuk foto-foto Irna bersama Jermy tadi pagi.
Jermy menghimpitnya di daun pintu sambil mendekatkan wajahnya seolah-olah hendak menciumnya, foto kedua Irna masuk ke dalam mobilnya, dan foto ketiga saat Jermy memeluknya.
Tidak sampai lima menit menerima pesan tersebut, Fredian segera menghubungi nomor Irna.
"Irna?!" Tanya Fredian dari seberang.
"Iya Fred?" Tanya Irna.
"Kamu di mana sekarang?" Tanyanya dengan nada datar.
"Aku di dalam taksi, menuju ke rumah." Ujar Irna santai, dia tidak tahu jika suaminya sudah mendapatkan pesan misterius dari seseorang.
"Cepatlah kembali!" Ujar Fredian tergesa sambil menggigit ujung ibu jarinya.
Dia tidak sabar untuk segera bicara dengan Irna, apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua.
"Jadi haruskah aku menuju Reshort? atau ke rumah?" Tanyanya lagi.
"Reshort! mungkin rumahmu sudah penuh oleh wartawan." Jelasnya lagi kemudian menutup teleponnya.
Lalu Irna mendapatkan pesan dari Anita agar dia melihat berita liputan hari itu.
"Astaga!" Irna sangat terkejut melihat berita yang tertera di sana.
"Jermy Erlando sedang melakukan kencan pertama kalinya di depan publik, dengan seorang artis ternama Irna Damayanti. Mereka berdua juga pergi ke rumah sakit bersama-sama. Dan diduga Irna sudah mengandung anak hasil hubungan asmara mereka berdua."
Di sana juga terlampir foto-foto mereka barusan.
"Jermy! apa ini? kamu sengaja mengundang wartawan untuk memperburuk keadaan!" Teriak Irna melalui ponselnya, mendengar amarah Irna Jermy segera menutup ponselnya.
__ADS_1
Jermy tidak ingin beradu mulut dengan gadis itu untuk kesekian kalinya. Walaupun bukan dia yang melakukannya tapi dia merasa senang melihat namanya bersama Irna tertera di sana.
Rian yang sudah berada di NGM, juga terkejut melihat liputan itu.
"Seharusnya berita itu meliputku bersama Irna pagi ini yang hanya memakai baju mandi menampilkan sisi atletis tubuhku di dalam mobil! foto ini sudah terlalu biasa di mataku!" Teriaknya dengan marah tanpa sadar.
Seluruh karyawan menoleh ke arah dirinya dengan tatapan terkejut lalu bersamaan tertawa terbahak-bahak.
"Bbbuaahhhhhahaaahahhahha!"
"Brrraakkk!" Rian menggebrak meja hingga semuanya berhenti tertawa.
"Siapapun yang tertawa lagi, hari ini harus menyerahkan surat pengunduran diri!" Mengibaskan jas putihnya keluar dari dalam ruangan menahan malu.
"Aiiissshhh! bagaimana mungkin aku keceplosan di depan karyawan mengatakan itu semua!" Bisiknya sambil memijit keningnya.
"Seharusnya aku tidak membiarkan dia masuk sendirian ke sana, bagaimana mungkin Jermy yang terlihat profesional bisa selicik ini?!"
Rian bertanya-tanya pada dirinya sendiri, dia tahu Jermy orang yang profesional dan tidak menghubungkan masalah pekerjaan dengan urusan pribadi.
Irna berlari menuju ke dalam ruangan kerja suaminya. Dia melihat Fredian berdiri sedang menunggunya.
"Fred..." Irna berlari menghambur ke dalam pelukannya. Irna semakin erat memeluknya.
"Aku tidak tahu jika akan jadi seperti ini." Jelas Irna padanya.
"Aku tahu, Jermy belum menikah. Tapi kamu bersikeras bilang kalau dia sudah menikah. Ya sudah aku diam saja."
"Kamu adalah Istriku sekarang, sudah jangan menangis lagi." Bisiknya di telinga Irna kemudian mencium keningnya.
"Dan segalanya tentang keluarga Erlando tidak diangkat di depan publik, jadi sedikit sulit untuk mendapatkan informasi tentang keluarga mereka. Dan status Jermy juga tidak ada yang tahu, kecuali orang terdekat."
"Kami memiliki hubungan kerjasama sesama perusahaan, dan kami para Presdir sudah sering mendapat gosip simpang siur. Apalagi wajah kami rata-rata tampan dan mempesona."
"Sudah biasa banyak wanita yang terlibat dengan kami, entah klien, entah apapun itu." Terang Fredian mencoba menghibur istrinya.
Irna bukannya terhibur tapi malah tersulut amarah dan memelintir pinggangnya.
"Akh! aduh! Akh! sakiiiiiit!" Teriak Fredian sambil menggenggam tangan Irna yang masih mencubit pinggangnya.
"Kamu tidak memberikan penyelesaian apapun! malah pamer popularitas!" Gerutu Irna dengan wajah cemberut.
Irna melangkah menuju sofa sambil melemparkan tasnya lalu menghenyakkan tubuhnya di atas sofa dengan kasar. Rasanya percuma saja bicara dengan pria itu sekarang.
Fredian tersenyum lalu duduk di depannya, pria itu dengan sengaja merebahkan kepalanya di pangkuan Irna lalu meraih kepala gadis itu dan mengulum bibirnya dengan lembut.
Irna memukul pinggangnya tapi sepertinya dia masih tidak ingin melepaskan dirinya.
"Aku mencintaimu, kamu satu-satunya.. Irna Damayanti." Bisiknya sambil mengangkat tubuhnya.
Siang itu berlalu begitu saja, keributan wartawan di luar sana sudah hampir terlupakan oleh kehangatan cinta mereka berdua.
Senja hari Fredian sudah kembali di belakang meja kerjanya menekuni berjibun berkas menunggu untuk ditandatangani.
Irna terbangun meraba suaminya sudah tidak berada di sebelahnya. Dia mengusap kedua matanya lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Irna melangkah menuju ruang kerja Fredian berjalan mendekat ke arahnya, gadis itu tersenyum sambil memeluk leher suaminya dari belakang meletakkan dagunya di bahu kanannya.
Fredian mengusap lengannya dan mengecup pipinya.
"Apa kamu ingin makan sesuatu?" Tanyanya pada Irna.
"Pilihlah menu, aku akan menelepon pelayanan untuk segera diantar kemari." Ucapnya sambil mengambil kertas dari dalam lacinya.
Hampir semua menu tertera di sana. Semua layanan hotel sangat terperinci lengkap.
"Waah! Pantas saja Reshortmu sangat populer! lihat saja fasilitas dan pelayanan, juga daftar menunya!" Ujar Irna dengan takjub.
"Seharusnya kamu semakin mencintaiku, karena aku adalah suamimu yang sangat jenius mengelola perusahaan. Dan sudah masuk ke tingkat dunia." Menarik tangan Irna agar duduk di atas pangkuannya.
Irna meraih kepala Fredian dan kembali mengulum bibirnya.
"Presdir! ah maaf saya salah masuk!" Antoni buru-buru menutup pintu kembali.
Sekretaris Fredian ingin mengantar berkas penting untuk ditandatangani oleh Presdirnya lagi.
Tapi dia malah melihat adegan yang seharusnya tidak dia lihat hari itu. Apalagi kebersamaan dengan Irna, tidak pernah ada siapapun berani mengusiknya.
Di luar ruangan pria itu membenturkan kepalanya di dinding.
"Duk! Duk! Mati aku! mati! Duk! bisa dipecat! ahhh! pusing sekali! Duk!"
Irna dan Fredian saling bertukar pandang lalu melepaskan tawa bersama-sama.
"Hahahaha!"
__ADS_1
Bersambung..