Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
A connected soul


__ADS_3

Alfred membawa Julia ke kantor polisi, di ruang kerjanya pria itu berusaha mengorek beberapa keterangan darinya.


"Bagaimana awalnya kamu mengenal pria bernama Ronal?" Julia tersenyum mendengar pertanyaan itu meluncur dari bibirnya. Gadis itu hanya memberikan sunggingan senyuman dari bibirnya, serta tatapan mata tidak terlihat terkejut atau takut sama sekali.


"Kamu bukan dia? apakah kamu ingin menangkapku? kamu tidak akan pernah bisa menangkapku." Berdiri dari kursinya, melangkah di belakang punggung Alfred.


Gadis itu merundukkan badannya, "Coba saja cari bukti nyatanya jika tidak percaya?" Berbisik di telinganya, menyentuh pipinya dengan jari telunjuk kanannya.


"Plaaak!" Menepis tangannya, Alfred merasa risih sekali diperlakukan seperti itu. "Wanita sinting! pantas saja mama selalu marah-marah padanya! bagaimana tidak, istriku sendiri juga pasti akan membunuhku jika setiap hari aku dikerubungi wanita yang sejenis dengan ini." Bergumam sendiri menggunakan bahasa yang tidak bisa dimengerti oleh Julia.


"Pergilah jika kamu tidak ingin mengatakan sesuatu padaku!" Usirnya seraya membersihkan wajahnya dengan tissue basah di atas meja ruang kerjanya.


"Wah, wah kamu cepat sekali menyerah pria muda? baiklah aku akan memberikan sedikit informasi tentang pria tampanku!" Menatap ke langit-langit ruangan, kembali duduk di kursinya.


"Ronal datang bersama Kaila, di acara pesta sepupuku. Aku sedikit melukainya kemarin, lalu seseorang memukul bahuku. Saat aku tersadar dari pingsan, pria pujaanku telah menghilang. Karena itulah aku mencarinya tadi." Alfred mendengarkan dengan seksama.


"Sepertinya dia tidak berbohong padaku." Bergumam dalam hatinya.


"Apakah informasi dariku cukup membantu? kalau begitu aku akan pergi sekarang." Gadis itu melenggang keluar dari dalam ruangannya.


"Benar-benar sulit diselidiki!" Gerutunya.


"Triiing! triiing!" Dering ponsel Alfred di dalam saku kemejanya.


"Halo pa?" Jawabnya pada Rian, pria itu masih berada di kamar rawat menemani Nira.


"Apa kamu menemukan sesuatu?" Tanya Rian segera.


"Ada, dan juga di dalam ruang kerja ayah ada dua pohon bunga besar berduri tergeletak di lantai." Jelasnya pada papa tirinya.


"Bawa itu kemari, aku akan menghubungkan semua bukti-bukti. Kita cari titik terang bersama." Perintahnya padanya.

__ADS_1


"Baik pa, aku akan segera kesana." Alfred segera menuju rumah sakit, tempat Nira dirawat.


Pria berstatus komisaris itu segera menemui Rian di dalam ruang kerjanya.


"Tidak salah lagi." Gumamnya seraya menatap wajah Alfred.


"Ayahmu baik-baik saja, hanya saja aku belum bisa menemukan keberadaan mamamu." Ujarnya dengan suara lirih.


"Bagaimana papa mengetahui seluk beluk kerajaan Interure?" Alfred menatap wajah ayah tirinya penuh selidik.


"Ceritanya panjang, Fredian sudah tahu semuanya. Suatu saat dia pasti akan menceritakan tentang kisah kami berdua padamu." Menatap wajah Alfred penuh kasih sayang.


Alfred tersenyum lalu menghambur memeluk papa tirinya itu. Dia juga yakin kalau papanya masih hidup dan akan berkumpul kembali dengan semuanya.


Kania masih menemani Nira di kamar rawatnya, gadis itu sama sekali tidak ingin beranjak pergi dari dalam ruangannya. David sudah terlebih dahulu pergi bersama Sandira dan Royd ke rumah mereka yang ada di London.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, gadis itu menyuapi Nira dengan bubur.


"Aku ingin menunggu Mama, mungkin dia akan datang kemari.. aku merasa sangat sedih. Kenapa mama tidak bilang kalau ada pekerjaan di luar kota. Ayah bilang tempatnya juga sangat jauh, jika ayah bilang sangat jauh artinya aku tidak bisa menemukannya.." Kania meledakkan tangisnya di depan Nira.


"Hei! jangan sedih! nenek pasti baik-baik saja! Nira tidak bisa menahan air matanya lagi. Gadis itu memeluk Kania sambil melelehkan air matanya.


"Kania? coba lihat wajahku baik-baik. Lalu peluklah aku seperti kamu memeluknya. Beberapa orang bilang bahwa wajah kami tak jauh berbeda.." Nira tidak mampu melanjutkan kata-katanya, dia menangis sesenggukan masih memeluk Kania.


"Aku merasakan rasa sakit di sini!" Kania membuka kancing bajunya, gadis itu menunjukkan lebam di perut dan dadanya kepada Nira.


"Sebetulnya, jiwa kami terhubung.. aku menyembunyikan ini dari papa Rian. Jika salah satu dari kami terluka, maka yang lainnya akan ikut merasakan sakitnya." Kania tersenyum getir lalu segera merapikan pakaiannya kembali saat Rian dan Alfred melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Nira.." Alfred memeluk putrinya. Rian melihat sesuatu yang disembunyikan oleh putri kesayangannya itu.


"Kania papa ingin bicara sebentar." Rian mengajaknya keluar dari dalam ruangan. Saat diluar pintu, Rian sengaja menekan punggung gadis itu menggunakan telunjuk jarinya, gadis itu meringis menahan sakit pada punggungnya juga sekujur tubuhnya.

__ADS_1


"Aku sudah tahu semuanya sejak kamu masih bayi. Aku diam selama ini bukan karena tidak tahu. Akulah yang membuat vaksin untuknya waktu itu, hingga mamamu bisa hamil dan melahirkan keturunanku." Jelasnya pada Kania.


"Aku bisa merawat lukamu dan lukanya bersamaan. Saat kamu sembuh, mamamu juga pasti akan membaik." Rian memeluk putrinya mencoba untuk menenangkannya.


"Pa, Kania tidak merasakan kehidupan. Kenapa Kania tidak bisa merasakan getaran kehidupan mama. Ini seperti benar-benar lenyap, Kania takut sekali kehilangan mama." Rian menuntunnya masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Pria itu mengobati luka lebam pada tubuh putrinya sambil melelehkan air matanya. "Pa, jangan menangis lagi.. ini tidak sakit sama sekali. Kania baik-baik saja, mama juga pasti akan segera bangun dan pulang untuk menemuiku." Bisiknya sambil memeluk leher papanya.


"Bagaimana mungkin tidak sakit, pasti tubuhmu ikut terhempas kesana-kemari saat mamamu sedang berada dalam keadaan bahaya." Pria itu masih memeluk erat tubuh Kania.


"Tok! tok! tok!" Rian terkejut mendengar ketukan pintu. Jika Alfred, dia akan langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Rian membuka pintu, dia melihat Peter sudah berdiri di sana merundukkan badannya. Pria itu memberi hormat padanya.


"Selamat malam Presdir Rian.." Sapanya pada Rian, Peter tidak ingin membuat Rian berada di situasi yang rumit. Dia sengaja menutupi identitas Rian saat melihat seorang gadis ada di sana.


"Presdir, saya akan kembali ke kamar pasien." Kania berpamitan pada Rian, dia sengaja berpura-pura demi menghindari kecurigaan dari Peter.


"Masuklah." Perintahnya pada Peter. Saat melewati Kania pria itu tersenyum, "Keturunan murni!" Gumamnya seraya menatap wajah Rian lekat-lekat.


"Bagaimana kamu tahu dia putriku?" Rian terkejut mendengar Peter menyatakan hubungan antara mereka berdua.


"Aroma bunga kristal yang begitu jelas, juga aroma ini." Menyentuh dada Rian dengan jari telunjuknya seraya tersenyum.


"Hal sepenting apa yang mebawamu kemari?" Rian menuangkan kopi panas ke dalam cangkir lalu meletakkan di atas meja.


"Pria, yang selalu bersama ratu, saya menemukannya kemarin. Mereka selamat dan sekarang tinggal di pesisir pantai untuk memulihkan kondisi tubuh ratu Vertos." Jelasnya pada Rian.


"Tapi sepertinya ratu terluka sangat parah karena ulah pangeran Javi, sifat arogannya tidak berubah malah semakin menggila saat ratu Vertos menolaknya."


"Pangeran William saya harap anda bisa memberikan penjelasan pada ratu Vertos. Karena sebelumnya pangeran Javi menggunakan bunga Xeoryd untuk membuat tipuan." Peter segera undur diri dari hadapan Rian setelah mengatakan semuanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2