Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Sepasang Insting


__ADS_3

"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Rian sangat hawatir.


"Hem" Irna hanya mengangguk, kemudian melepaskan diri dari pelukan Rian.


"Ah sudah larut, aku akan pulang dulu. Mungkin tiga hari lagi aku baru akan kembali kemari." Irna berpamitan pada Rian.


"Bolehkah aku mengantarkanmu?" Ujar Rian.


"Ah ini hanya akan jadi perjalanan pulang, jadi aku tidak terburu-buru. Aku akan naik taksi dari sini." Jawab Irna menolak secara halus.


Fredian kebingungan mencari Irna menelpon kesana-kemari. Setelah berada di dalam taksi Irna melihat seratus lebih panggilah tidak terjawab.


"Ada apa kamu menelponku sepanjang hari?" Tanya Irna dengan nada suara pelan.


"Aku ingin bertemu denganmu." Jawab Fredian dari seberang.


"Apa ada hal yang begitu penting?" Tanya gadis itu lagi.


"Iya, tentu saja sangat penting."


"Di mana kamu, aku akan ke sana sekarang?" Irna melirik jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tujuh malam.


Jika terjadi sesuatu pada Fredian diapun juga akan merasa sedih. Walaupun dia selalu membuatnya jengkel dan marah.


"Aku ada di Reshort.." Jawabnya kemudian.


"Hem, pak putar balik menuju ke Reshort angel" Perintahnya pada sopir taksi di depannya.


"Baik Bu"


Setelah setengah jam perjalanan akhirnya Irna sampai di sana.


"Aku belum sempat mandi sore ini, tubuhku rasanya lengket sekali setelah habis bekerja mengawasi di dalam proyek" Gumam Irna menuju resepsionis.


"Presdir sudah menunggu anda sejak tadi, silahkan pergi ke ruangannya." Belum sempat Irna membuka bibirnya, resepsionis tersebut buru-buru mengatakan bahwa Fredian sudah menunggunya.


"Mendengar suaranya di telepon dia tidak akan marah denganku, tapi kenapa dia tidak menungguku di rumah saja? malah menyuruhku kemari?!" Irna bertanya pada dirinya sendiri tidak mengerti.


Saat memasuki lorong menuju ruangan Presdir begitu banyak orang berdiri berbaris rapi di sisi kanan kirinya, mereka menaruh hormat kepadanya.


"Apa yang mereka lakukan?" Irna menggelengkan kepalanya berkali-kali tidak mengerti.


Setelah sampai di depan pintu, Irna bertanya kepada seorang pelayan wanita.


"Kenapa tiba-tiba kalian berbaris begini, apa dia memarahi kalian lagi? katakan saja padaku jika dia berbuat semena-mena aku akan...!"


Irna belum menyelesaikan perkataannya, seseorang menariknya ke dalam ruangan.


"Akan apa?" Tanya Fredian tiba-tiba mengejutkan dirinya. Pria itu memakai baju tidur dengan tali diikatkan di pinggang. Meraihnya dalam pelukan.


Dada atletisnya terbuka, membuat Irna melotot sambil menelan ludahnya sendiri.


"Ah aku ingin pinjam kamar mandinya, badanku rasanya lengket sekali aku ingin berendam dengan air panas pasti akan sangat menyenangkan." Mengerling menatap wajah Fredian.


Fredian sengaja tidak bertanya kemana gadis itu pergi sebelumnya, ketika dia tidak mengangkat ponselnya saat dia menghubunginya.

__ADS_1


Dia tahu gadis itu akan marah jika dia terus merundungnya dengan banyak pertanyaan, wajah Irna di depannya terlihat lelah tapi gadis itu masih berusaha tersenyum demi menyenangkan dirinya di depannya.


Fredian tersenyum membuka kancing baju Irna satu persatu.


"Aku bisa melepaskannya sendiri." Ujar Irna tiba-tiba. Menarik tangan Fredian dari bajunya.


"Apakah kamu tidak mempercayaiku?" Tanyanya lagi mengangkat tubuh Irna ke dalam kamar mandi.


Fredian menyiapkan air hangat di dalam bath up. Irna masih belum membuka bajunya karena melihat Fredian berdiri di sebelahnya.


"Kenapa tidak mandi?" Tanya Fredian sambil menunggu.


"Aku akan mandi setelah kamu keluar dari kamar mandi" Ujar Irna sambil membelakanginya.


"Ya aku akan keluar dulu, kamu mandilah."


Irna langsung tersenyum senang, mendorong punggung Fredian keluar dari kamar mandi.


"Jangan mendorong punggungku seperti itu, kamu mirip sekali dengan kucing yang menemukan mainan.." Ujar Fredian sambil terkekeh-kekeh.


Gadis itu segera melepaskan seluruh pakaiannya, melepas ikatan rambutnya mencucinya dengan shampo.


Kemudian masuk ke dalam bath up untuk berendam.


"Huaaah nyaman sekali rasanya..." Teriaknya senang.


Fredian merasa geli mendengar suara Irna dari dalam kamar mandi.


"Hal sekecil itu sudah membuatnya bahagia luar biasa, itu unik sekali.. jika gadis itu berada di sisiku selamanya. Aku bahkan tidak takut jika hanya memiliki sedikit uang." Ujarnya sambil tersenyum.


Setelah menunggu satu jam, Fredian masih memeriksa beberapa berkas di meja kerjanya.


Irna menatap Fredian sedang serius mencermati berkasnya, dia tidak ingin mengganggunya.


Dengan wajah cemberut gadis itu kemudian berbalik masuk ke tempat tidur yang ada di dalam ruangan kerja Fredian.


Fredian tersenyum melihat wajah cemberut Irna, kemudian berdiri berjalan mengikutinya memeluknya dari belakang mencium pipinya.


Irna terkejut, kemudian membalikkan badannya menghadap kepada Fredian.


Irna mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Apakah aku sedang bermimpi?" Mencubit pipi Fredian dengan tangan kanannya hingga membuat pria itu memekik.


"Ah!"


"Apa sesakit itu?" Irna mengusap pipi Fredian agak hawatir.


Pria itu tersenyum, mendekatkan bibirnya hendak mencium bibir Irna.


Setelah tinggal satu sentimeter jarak bibir antara mereka berdua, tiba-tiba dihentikan oleh suara ketukan di pintu.


Membuat Fredian geram sekali. Karena Irna tiba-tiba melepaskan pelukannya.


"Siapa sih yang berani menggangguku malam ini!? aku ingin sekali mencincang kepalanya!" Gerutunya kesal.

__ADS_1


Ketika membuka pintu Fredian sangat terkejut karena kliennya yang kemarin memesan tempat di Reshort miliknya mendatangi ruangannya. Gadis itu menerobos masuk ke dalam.


"Maaf Presdir, kami sudah mencegah nona ini untuk pergi ke ruangan anda tapi dia tetap menerobos masuk." Ujar salah seorang pelayan menunduk sangat takut akan kehilangan pekerjaannya.


Ruina, artis terkenal, gadis yang sangat cantik berambut panjang sepinggang tinggi seratus enam puluh dua sentimeter, badannya langsing, kulitnya mulus, dengan buah dada menonjol. Pakaiannya terlihat berasal dari keluarga kaya raya.


Fredian hanya tersenyum tipis melihat gadis di depannya tersenyum menggoda.


"Kenapa dia lama sekali? apakah ada tamu yang sangat penting?" Bisik Irna pada dirinya sendiri.


Irna yang tidak membawa baju ganti, dia hendak keluar dari kamar, sekali membuka pintu dia langsung berada di ruangan kerja Fredian.


Karena letak kamar tersebut memang berada di dalam ruangan kerjanya.


"Ah ada tamu?" Irna mengerling, menatap Fredian.


Mereka sedang duduk berhadapan di antara meja.


Dari wajah Fredian yang terlihat suram memijit kening menatap ke arahnya.


Irna mengangkat dagunya sambil tersenyum sangat manis, mengisyaratkan.


"Ada yang bisa aku bantu?"


Fredian tersenyum ke arahnya mengisyaratkan.


"Bantu aku mengusir wanita di depanku ini"


Irna dengan santainya melangkah anggun mendekati Fredian, sengaja duduk di dalam pangkuanya. Membelai leher Fredian dengan jemari lentiknya. Membuat suhu tubuh Fredian meningkat dalam sekejap.


Irna melirik gadis di hadapannya, dari raut wajahnya dia terlihat sangat tidak senang.


"Oh maaf saya tidak tahu jika anda sedang memesan layanan kamar! saya pikir ada hal sepenting apa sehingga seluruh karyawan anda menghalangi saya untuk masuk kemari!" Ujarnya sinis menatap wajah Irna.


"Gadis sialan ini berfikir aku seorang *******???! apakah dia tidak mengenal seorang arsitektur muda tercantik dan terkenal di London???!" Teriak Irna dalam hatinya, mengatur nafasnya menahan amarah.


Fredian tahu jika Irna sedang marah. Genggaman tangan Irna yang tadinya lembut perlahan berubah meremas lengan Fredian.


"Maaf, saya sudah membuat anda kecewa. Perkenalkan saya adalah Irna Damayanti, saya di sini bekerja sebagai arsitektur, saya bekerja sama dengan calon suami saya!" Irna menggeser badannya duduk disebelah Fredian.


"Dan saat ini kami sedang menikmati waktu kebersamaan kami berdua. Ketika tanpa undangan secara tiba-tiba anda masuk kemari!" Ujar Irna menekankan suaranya.


"Baru calon kan? tapi saya tidak mendengar jika Presdir Fredian memilik calon istri setelah pernikahan yang batal Minggu lalu gara-gara seorang wanita arsitektur mengacaukannya!"


Ucap Ruina pedas.


"Akhirnya gadis ini mengungkapkan status dirinya, dan mengakui diriku sebagai calon suaminya!" Bisik Fredian dalam hatinya.


"Saya akan mengakuinya sekarang!" Ujar Fredian menatap ke arah Irna.


Pria itu segera meraih pinggang Irna dan mengulum bibirnya, tanpa peduli dengan wanita yang duduk di depannya.


Irna terengah-engah tidak bisa bernafas. Mencoba memukul lengan Fredian, tapi pria itu tidak menggubrisnya.


"Awas saja! aku akan segera merebut pria tampan ini dari sisimu! dan aku akan membuat dirimu menangis memohon kepadaku untuk melepasnya!" Geram Ruina dalam hatinya.

__ADS_1


Sampai ketika gadis di depannya itu pergi dengan wajah bersungut-sungut.


bersambung...


__ADS_2