Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Young boy


__ADS_3

Irna sangat terkejut melihat pria asing berjalan menuju ke arahnya.


Pria itu berkacak pinggang mengamati Irna dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Siapa kamu!" Bentak pria itu padanya.


"Kamu bertanya atau menghardik!?" Irna juga berkacak pinggang.


"Aku pemilik gedung ini!" Pria itu menekankan suaranya seraya menunjuk lantai di bawah kakinya.


"Ha ha ha ha! Dasar konyol sekali! Kamu bercanda?!" Irna tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar, mendengar pria itu mengatakan bahwa gedung kantornya adalah miliknya.


"Kamu menertawakanku?!" Ujar pria di depannya.


"Ha ha ha ha ha! pria ini lucu sekali! ha ha ha konyol sekali! siapa yang akan percaya pada perkataan pria ini?! ha ha ha ha!!"


"Aduh perutku sakit sekali mendengar dia berkata begitu!"


Irna terpingkal-pingkal memegangi perutnya turun ke bawah meninggalkan pria itu melongo melihat dia ditertawakan.


"Apa mukaku ini tidak pantas menjadi pemilik gedung? apakah pemilik gedung harus berwajah seperti Albert? Bertubuh gendut, pendek, berambut keriting?"


"Apakah aku terlalu tampan? jangan-jangan wanita tadi berfikir aku seorang pengemis atau tuna wisma?????!" Juan melirik ujung sepatu sampai bajunya.


Dia memakai sepatu olah raga, celana jeans robek bagian lututnya. Jaket dan baju acak-acakan dan rambutnya porak poranda seperti terkena angin ****** beliung, atau habis tenggelam gara-gara badai di laut.


Kemudian pria itu mengendus dalam kaosnya.


"Hoooeek! hooooeeeek!" Pria itu tiba-tiba muntah-muntah seperti mencium kotoran.


"Aku tidak mengira tubuhku lebih bau daripada closet setahun tidak di gosok!" Ujarnya lagi.


"Aku sengaja kabur dari rumah karena si tua Albert! jika dia tidak mengirimku pergi ke Australia aku tidak akan jadi begini!" Gerutunya lagi lalu turun ke bawah.


Dia melihat lampu kantor Irna masih menyala, kemudian mengetuk pintu.


"Tok! tok!"


"Apa?!" Irna melongok keluar tanpa membiarkan pria itu masuk ke dalam.


"Aku, bolehkah aku masuk?" Tanyanya pada Irna.


"Tidak boleh! Aku sibuk! jangan ganggu aku!" Membanting pintu menguncinya.


"Aku ingin masuk ke gedungku sendiri kenapa tidak boleh!??" Teriaknya dari luar pintu.


"Siapa yang akan percaya padamu!? sudah pulang saja ke rumahmu! aku tahu kamu orang yang sedang kabur dari masalah!" Teriak Irna dari dalam kantornya tanpa membuka pintu.


"Dia bisa menilaiku secepat itu! jangan-jangan wanita ini adalah cenayang!! jika aku bersamanya sepanjang hari aku pasti akan sangat beruntung!" Gumam Juan dengan sangat yakin.


"Nona Dukun, berikan aku pekerjaan, apa saja aku mau. Tidak digaji juga tidak apa-apa!" Teriaknya lagi.


"Aku tidak butuh pegawai baru, perusahaanku juga kecil, bukan perusahaan besar!" Teriaknya kembali.


Irna membuka pintunya dengan tiba-tiba, membuat pria itu jatuh tersungkur ke dalam kantor Irna.


Gadis itu segera berlari ke samping agar pria itu tidak menabrak dirinya jatuh menimpa tubuhnya. Karena kejadian semacam itu sangat familiar dalam ingatannya.

__ADS_1


"Bruk! aduh! kenapa kamu tidak bilang-bilang jika akan membuka pintunya...." Juan melongo melihat Irna duduk berjongkok di dekatnya jatuh terlentang.


Mata pria itu menelusuri wajah cantik di depannya. Rambutnya bergelombang terurai panjang sepunggung, wajah Irna yang sangat manis. Sinar matanya yang begitu jernih.


Tiba-tiba jantung Juan berdetak aneh, lebih cepat dari sebelumnya.


"Hey anak kecil?! Apa kamu mati?! kenapa terus terlentang?! apa lantai begitu nyaman untukmu?! dan aku bukan dukun! jangan memanggilku nona Dukun!"


Irna memanggil pria itu anak kecil, karena melihat wajahnya pria itu terlihat lebih muda lima tahun di bawahnya.


"Ah aku terkejut melihatmu di bawah sinar lampu terang, kamu cantik sekali..." Ujarnya lagi.


Irna berdiri mengabaikan ucapan Juan, mengambil semangkuk mi rebus dari atas meja lalu memberikan padanya.


"Makanlah ini, lalu pulang. Orang tuamu pasti sangat hawatir."


Juan mengambil mangkuk dari tangan Irna kemudian menikmati makanannya sampai habis.


Masih duduk di atas lantai, dan Irna berjongkok di dekatnya sambil menopang wajahnya menatap pria itu, seperti orang yang tidak pernah makan setahun.


"Kalau boleh tahu siapa namamu nona cantik?" Tanya Juan pada Irna.


"Irna." Jawab Irna singkat.


"Aku Juan, Juan Albert!" Ujar pria itu bersemangat.


Gadis itu mengambil mangkuknya kemudian meletakkan di atas meja.


"Kamu sekarang berdirilah." Perintah Irna pada Juan.


"Nona Cantik, besok aku akan kemari lagi!" Teriak Juan dari luar kantornya sebelum melangkah pergi.


Irna tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Gadis itu melangkah masuk ke dalam ruangannya.


"Astaga! sejak kapan kamu berada di sini?!" Irna sangat terkejut melihat suaminya sudah berada di balik pintu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Fredian menatap Irna tanpa wajah tersenyum.


"Situasi ini sangat tidak menguntungkan!" Ujar Irna dalam hatinya.


"Kamu belum satu jam di luar, tapi sudah mendapatkan pria lain." Ujar Fredian dengan sengaja.


Fredian mendengar semuanya dari dalam ruangan Irna. Pria itu tersenyum mendengar teriakan istrinya dan teriakan pria itu.


"Ah! itu aku, aku tidak mengenalnya, dan aku juga tidak tertarik dengannya, aku tidak bermaksud mendekati pria lain! aku tidak berbohong!" Cerocosnya lalu menutup kedua matanya mengangkat telapak tangan bersumpah.


Fredian tersenyum mendekatkan wajahnya mengecup bibir Irna.


Mendapatkan ciuman suaminya Irna merasa lega, dia segera membalas ciuman suaminya, mendorong dengan langkahnya sampai Fredian jatuh ke atas sofa.


Fredian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.


"Cukup.. ini sudah dua jam!" Irna meremas sandaran sofa di depannya.


"Jika kamu pergi lebih dari satu jam tanpa bicara apa-apa lagi, aku akan melakukannya lebih dari empat jam." Ujarnya di telinga Irna.


"Iya.. aku janji akan berpamitan sebelum pergi!" Teriaknya.

__ADS_1


Fredian mencium punggung istrinya.


"Akh! tidak, sudah cukup.."


"Aku belum selesai tapi kamu terus berteriak." Ujar Fredian menempelkan ujung hidungnya di pipi Irna.


"Kenapa bisa lama sekali, biasanya dua jam dua sampai tiga kali, ini sudah hampir tiga jam masih belum selesai?!" Meremas punggung Fredian.


"Aku rasa ada benarnya dia memberikanmu obat pinggang." Desah Fredian di telinga Irna.


Empat jam berlalu, lima jam berlalu..


"Akhirnya dia bisa menyelesaikannya, sepertinya kakiku akan lumpuh jika terus begini!" Gerutu Irna merangkak ke kamar mandi.


Fredian masih mengatur nafasnya bersandar di sofa.


Fredian mendengar suara air jatuh ke lantai.


"Apakah kamu mandi?" Teriak Fredian dari sofa.


Irna keluar dari kamar mandi membalut tubuhnya dengan selembar handuk. Berjalan sambil memegangi pinggang mencari baju di dalam lemari.


Fredian melangkah, berdiri di belakang punggungnya.


"Aku bisa mati, jika kamu terus begini." Ujar Irna beringsut menjauhkan diri.


"Bagaimana aku bisa tahan melihatmu dengan penampilan seperti ini. " Desahnya, sambil berjalan mendekat.


Irna dan Fredian terkapar di lantai, ketika melihat jam sudah pukul lima pagi.


"Apakah aku masih hidup?!" Irna menyentuh pipinya sendiri, sekujur tubuhnya terasa ngilu.


Fredian masih terengah-engah di sebelahnya.


"Obat itu mengerikan sekali! aku tidak bisa menahannya! bagaimana jika aku sendirian hari ini lalu tiba-tiba ada wanita masuk ke dalam kantorku! bukankah ini tidak boleh terjadi?!" Ujarnya pura-pura ketakutan di depan Irna.


Irna memiringkan tubuhnya menopang kepala menghadap wajah suaminya.


"Apa kamu pikir bisa membodohiku!? obat itu bukan masalah! tapi sebelumnya dan sebelumnya kebiasaanmu ini yang bermasalah."


"Apa kamu kira aku tidak bisa membedakan orang yang tulus dan orang di bawah pengaruh obat??!" Irna mendengus kesal.


"Dari awal aku sudah kuwalahan, aku bahkan berpikir kamu meminum sesuatu. Tapi tidak sama sekali."


"Dan saat di bawah pengaruh obat di antara sadar dan tidak, kamu masih bisa membedakan diriku dengan wanita lain." Irna ingat kejadian semalam di kantor Fredian.


"Kamu menahan kepala Ruina agar menjauh dan tidak berinisiatif membalas ciumannya."


"Tindakan Ruina seperti itu, lebih terlihat seseorang yang telah mendapatkan mangsa."


Jelas Irna dengan sangat santai tersenyum ke arah Fredian.


"Jadi dia sudah tahu, makanya dia tidak merajuk atau marah padaku ketika melihat Ruina mengulum bibirku?! dan dia marah besar saat melihatku mengulum bibir Clarisa hanya demi membuatnya cemburu!" Bisik Fredian dalam hatinya.


Bersambung.....


.

__ADS_1


__ADS_2