Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Aku kembali..


__ADS_3

"Apa yang terjadi? kenapa tiba-tiba aku melihat berita perjodohan Fredian pagi ini?" Tanya Rian melalui telepon dengan suara sangat hawatir.


"Kamu sudah menjahit lukaku kemarin, seharusnya kamu sudah tahu apa yang terjadi." Ujar Irna santai.


Gadis itu mengingat Rian, di bibir tipisnya mengukir sebuah senyuman manis.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya lagi


Dia tidak ingin wanita yang sangat di sayanginya itu merasa sedih lagi, merasakan luka lagi. Baginya Irnalah yang membuat hatinya hidup sampai detik ini. Irnalah satu-satunya yang membuat bibirnya tetap tersenyum manis.


"Hem, aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu terlalu hawatir." Tambah Irna berusaha menenangkan pria yang selalu setia berada di sampingnya itu.


"Ya sudah, jika ada hal yang kamu butuhkan jangan lupa untuk memanggilku!" Ujar Rian sambil mengakhiri panggilan teleponnya.


Irna mengambil kopernya dari atas lemari. Dia segera berkemas sambil menghubungi Reynaldi Anggara.


Dia merasa hanya Reynaldi Anggara adalah satu-satunya yang bisa merubah hidupnya secara drastis. Entah apa yang terjadi hingga Irna mengambil keputusan seperti itu.


Karena luka yang di hadirkan pria itu lagi dan lagi. Luka yang berkali-kali dia timpakan padanya.


"Apa kabarmu! bisakah aku meminta sedikit bantuan kali ini?!" Ujar Irna dengan suara serius.


"Tentu saja!" Jawab Reynaldi dari seberang.


"Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Reynaldi kemudian dengan penuh semangat menjawab telepon sahabatnya itu.


"Buatlah agar aku menjadi terkenal, dan tidak bisa tersentuh!" Ujar Irna sambil mengakhiri panggilannya.


Irna ingin agar Reynaldi yang membantunya, dia ingin menjelajahi dunia entertainment. Dan Reynaldi adalah pria yang cukup bisa dia andalkan.


Gadis itu mengambil penerbangan kembali ke London.


Fredian berdiri di depan pintu rumah Irna yang sudah tertutup.


Arya juga berdiri di sana menatap wajah Fredian dengan marah.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Fredian pada Arya dengan nada tidak senang.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu kenapa kamu berada di sini? gara-gara kamu aku kehilangan satu-satunya sahabatku! berhentilah membuat masalah! dia terus menerus melarikan diri darimu!" Arya balik bertanya dengan nada sinis sambil melontarkan kata-kata pedas karena pria itu sudah lama menahannya.


Dia tahu beberapa waktu lalu Irna pergi juga karena Fredian, gadis itu terus melarikan diri dan memilih hidup sendiri bersama seribu lukanya. Dia pergi dan tidak ingin Fredian menemukan dirinya kembali.


Fredian tidak menjawabnya, pria itu melangkah pergi kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Dia benar-benar pergi, dia bahkan tidak menahanku sama sekali kemarin! dasar gadis keras kepala!" Geram Fredian sambil memukul kemudi.


Fredian merasa menyesal karena dengan sengaja melukai hati Irna lagi. Dia bahkan tidak bisa menahan gadis itu untuk tetap di sisinya tapi malah membuatnya pergi lagi entah kemana.


Sebanyak apapun pria itu berfikir dia tetap tidak bisa mendapatkan solusi selain hanya membuat Irna makin kesal dan menghilang dari pandangan matanya kembali.


Irna dengan sangat santai bersandar di kursi pesawat dengan kacamata hitamnya.


Gadis itu kembali menginjakkan kakinya ke London.


Reynaldi menjemputnya di bandara dan langsung membawanya ke kantornya. Irna berniat masuk ke dalam dunia model. Kembali meningkatkan karirnya.


Hari demi hari dia lalui, sampai namanya melejit ke tingkat artis papan atas dalam waktu singkat. Sekitar satu tahun gadis itu meniti karirnya di dunia permodelan.


Irna Damayanti, namanya bagaikan bunga bermekaran di setiap halaman utama surat kabar. Tidak pernah satu surat kabarpun yang tidak mengabarkan tentang dirinya.


Ibu Fredian melihat artikel tidak berhenti meliput seorang artis dan model terkenal bernama Irna Damayanti gadis mantan menantunya itu.


Wajahnya semakin geram karena Irna meraih popularitas dengan sangat cepat. Juga banyak meraih penghargaan. Dan hampir setiap hari wajah cantik Irna Damayanti tampil di televisi sepanjang hari.


Semua liputan juga hampir setiap hari merilis berita tentang gadis yang dibencinya itu.


Bahkan calon menantunya sekarang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan seorang Irna Damayanti. Gadis itu meraih kesuksesan di bidang permodelan, aktris, dan memiliki banyak perusahaan.


Ketenaran seorang Irna Damayanti menggebrak kalangan artis. Popularitas seorang Irna Damayanti menenggelamkan artis lainnya.


Bahkan Irna sekarang memiliki banyak perusahaan dan menjadi gadis kaya raya. Memiliki rumah megah di kawasan elite.


Rian terus mengukir senyum melihat perubahan Irna dalam waktu singkat.

__ADS_1


"Akhirnya Irna Damayanti telah kembali." Ujarnya saat melihat jumpa fans di televisi.


Fredian melihat berita Irna juga sangat terkejut, dia melihat wanita cantik itu kembali. Bahkan penampilannya jauh berbeda dari waktu lalu, lebih cantik dari sebelumnya.


"Ah gadis ini memiliki kejutan! apa dia sengaja melakukannya? ya tentu saja! aku sudah melukainya. Dan bahkan tidak bisa meraihnya kembali dalam pelukanku. Karena keluargaku." Ujar Fredian sambil mengusap wajahnya yang kusut.


Di layar kaca terlihat Irna menerima banyak bunga, dan hadiah dari para fansnya.


Gadis itu terus mengukir senyumnya dari balik kacamata hitamnya. Wajahnya secerah mentari pagi.


Senyuman manisnya tidak pernah lenyap dari bibir tipisnya. Seindah hari yang cerah semanis buah yang ranum. Dan sesejuk embun di pagi hari.


Gadis itu melangkah masuk ke dalam mobilnya sambil melambaikan tangannya ke arah kamera.


"Aku ikut senang kamu sudah bangkit kembali." Ujar Reynaldi dari belakang kemudi.


"Terimakasih manager Reynaldi." Balas Irna sambil tersenyum ke arahnya.


Berkat Reynaldilah Irna bisa menikmati hari-hari yang sekarang.


"Oh barusan aku mendapatkan tawaran bagus!" Ujar Reynaldi sambil tersenyum penuh misteri.


"Apa yang membuatmu tersenyum sebahagia itu?" Irna melihat wajah Reynaldi yang terus tersenyum.


Dia setiap waktu mendapatkan job yang membludak hingga menolak banyak permintaan kerja sama. Tapi Reynaldi tidak pernah sesenang itu. Baru kali ini Reynaldi begitu bahagia dan terus tertawa.


"Tawaran dari seseorang teman lama, untuk mensponsori Reshortnya!"


"Berapa dia menawarkan harganya?" Tanya Irna sambil mengulum senyum mulai mengerti apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu.


"Satu Milyar!" Ujar Reynaldi sambil menahan tawanya.


Dia tidak tanggung-tanggung memberikan harga untuk seorang Irna Damayanti. Mungkin jika gadis itu meminta sepuluh perusahaan Reshort miliknya juga pasti langsung dialihkan atas nama Irna Damayanti saat itu juga.


"Naikan tiga kali lipat! jika pihak mereka menolaknya itu lebih baik! Satu Milyar bagi seorang Fredian adalah uang yang sangat kecil." Irna tersenyum sambil melihat ke luar jendela mobilnya.


Irna sangat santai ketika dia akan menemui seorang Fredian lagi. Pria yang sudah memporak-porandakan hatinya bagaikan terjangan badai yang terus berliku-liku.


Pria yang masih menggenggam hatinya sejak awal sampai sekarang. Pria yang selalu dirindukan dan selalu menorehkan luka.


Pagi itu Irna berada di studio, dia akan mengambil pemotretan di lima tempat yang berbeda pada hari itu.


"Nona Irna, ada seseorang ingin bertemu dengan anda." Ujar seseorang yang melayani segala hal yang dibutuhkan oleh Irna.


"Suruh dia membuat janji dengan managerku, dan bilang aku sangat sibuk hari ini." Ujar Irna dengan sangat tenang sambil melihat ke layar ponselnya.


Seseorang sedang sibuk menata rambutnya untuk pemotretan hari itu.


"Irna melangkah dengan gaunnya, gadis itu terlihat sangat anggun dan mengambil pose di depan kamera."


Fotografer sibuk mengambil foto Irna. Dan seseorang memberikan pengarahan kepadanya saat pengambilan foto berlangsung.


Fredian melihatnya dari kejauhan, mantan istrinya itu sudah sangat berbeda. Dia hampir tidak mengenalinya lagi. Dari caranya berjalan, dan caranya tersenyum.


Dia terlihat lebih mempesona, inner beauty gadis itu memancar ke segala penjuru dunia. Membuat namanya terus melejit dari hari ke hari. Nama seorang Irna Damayanti tidak pernah surut sama sekali.


Sekitar dua jam pemotretan baru selesai, Irna kembali masuk ke dalam ruang ganti.


Irna melihat seorang pria yang tidak asing duduk di ruang tunggu.


Irna berlalu begitu saja di depan pria itu duduk, Irna pergi di depan wajahnya tanpa meliriknya sama sekali.


Fredian mengikutinya masuk ke dalam ruang ganti, meminta orang yang melayaninya pergi dengan isyarat jarinya.


Gadis yang melayani Irna buru-buru keluar dari ruangan, dia tidak ingin mendapatkan kesulitan karena menentang Presdir kaya raya itu.


Bagaimanapun Fredian adalah salah satu dari tiga Presdir yang memegang kendali keuangan tingkat perekonomian dari tiga pembisnis sukses, dan teratas di London.


Fredian tersenyum melihat Irna ada di depan matanya. Gadis yang di tunggunya selama ini sudah kembali dan dia ada di hadapannya sekarang.


Rasa bahagia dan suka cita menghiasi sanubarinya saat melihat wajah Irna tidak jauh dari hadapannya.


"Tika, bantu aku untuk melepaskan resleting di punggungku!" Teriak Irna dari dalam kamar ganti.

__ADS_1


Fredian masuk ke dalam ruang ganti dengan langkah kaki perlahan dan berdiri di belakang punggungnya menarik resleting gaunya ke bawah.


Irna mencium aroma parfum, parfum dari tubuh yang selama ini berada bersamanya di atas tempat tidur yang sama. Parfum yang tidak pernah dia lupakan aromanya.


Aroma seorang pria yang sudah sangat lama berada di dalam hatinya. Aroma yang membuat dia tersenyum dan menangis dalam waktu yang sama.


Membuatnya merasa kehilangan dalam waktu yang sangat lama.


"Aku merindukanmu! aku mencintaimu! dan aku berharap ini adalah kamu! aku ingin memukulmu! tapi aku juga ingin menciummu! aku ingin menepismu! tapi aku juga ingin memelukmu! Aku ingin membentakmu! tapi aku juga ingin berbisik lembut di telingamu!"


Ujar gadis itu dalam perasaannya berkecamuk serentetan kata-kata di dalam hatinya.


Dia segera berbalik menghadap ke arahnya.


"Kamu! bagaimana kamu bisa masuk ke dalam?!"


Ternyata benar itu adalah pria yang membuat suara di dalam hatinya kembali bergemuruh, membuat hatinya yang tidur lelap kembali terbangun karena teriakan-teriakan gejolak yang telah lama di pendamnya.


Fredian telah berada di depan matanya satu ruangan dengan dirinya, ruangan yang begitu sempit.


"Tika!" Irna mencoba memanggil nama pelayannya tapi tidak ada jawaban dari luar.


Entah kemana perginya gadis itu, biasanya dia tidak pernah menghilang tiba-tiba seperti itu. Irna tahu pasti Tika tidak ingin mencari masalah dengan Fredian, Presdir yang tidak bisa disinggung.


Irna tiba-tiba merasa lemah di hadapan pria satu ini, walaupun tekadnya untuk marah ataupun ingin memukulnya dia tetap tidak bisa melakukannya.


Wajah di depannya itu selalu membuatnya mengingat putra semata wayangnya itu. Alfred sangat mirip dengan Fredian yang merupakan ayah kandungnya, wajah mereka bak pinang dibelah dua.


Irna melirik pintu yang ada di belakang punggung Fredian.


"Fredian dengan sengaja menguncinya dari dalam, itu kamu kenapa menguncinya?"


Tanya Irna sambil melihat ke arah pria yang menyeruak masuk kembali ke dalam hatinya, pria itu dengan paksa membuka ingatan-ingatan lamanya muncul di dalam pikirannya.


Irna melangkah mundur menjauhi Fredian yang terus berjalan mendekat ke arahnya.


"Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat seperti melihat hantu?" Tanya Fredian sambil tersenyum. Pria itu tahu jika Irna pasti sangat gugup berada di ruangan sempit itu bersama dirinya.


Pasti gadis itu akan berfikir dia melakukan sesuatu padanya.


"Siapa yang ketakutan! aku tidak takut sama sekali padamu!" Ujar Irna sambil menahan gaunnya agar tidak jatuh terlepas dari tubuhnya, karena resleting yang sudah di buka.


Wajah pria di depannya itu tidak berubah, tetap tersenyum manis seperti biasanya. Tetap bersikap manja dan ingin mencuri perhatian darinya.


Tatapan matanya yang jernih berbinar-binar ingin mengusik ketenangan di dalam hati gadis itu, yang sudah dibangun dengan susah payah selama ini.


Fredian berjalan mendekat, sampai punggung Irna menabrak dinding. Mengangkat dagunya dengan jari telunjuknya. Menekan bahunya agar tidak kabur darinya.


"Jangan membuat ulah denganku, sebaiknya kamu urus calon istrimu tuan Presdir! aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil keuntungan dariku, dan melibatkan diriku denganmu lagi!" Irna menepis tangan Fredian dari dagunya.


"Aku harus berganti pakaian, bisakah kamu keluar sekarang!" Hardik Irna dengan wajah marah menatap ke arah Fredian.


"Sepertinya tiba-tiba saja kakiku kram." Ujar Fredian sambil tersenyum menyandarkan tubuhnya pada Irna. Fredian mencium aroma parfum di tubuh mantan istrinya itu.


Aroma yang harum seperti sedang berada di taman bunga di alam bawah sadarnya. Keharuman yang memikat hatinya untuk tidak hinggap di bunga yang lainnya.


Gadis itulah satu-satunya bunga yang bisa memikat hatinya sepenuhnya. Dan membuatnya hampir gila memikirkanya sepanjang waktu.


"Kamu jangan berpura-pura lagi! cepat minggir!" Bentak Irna bingung karena harus tetap menahan bajunya.


Dengan kasar Irna menghindari tubuhnya, dan melangkah ke pintu membuka kuncinya. Meninggalkan Fredian di dalam sendirian.


Irna mengambil bajunya dan menuju toilet untuk berganti baju. Lalu kembali ke ruangan rias untuk mengambil tasnya.


Fredian sebelum pergi memasukkan berkas di dalam tasnya. Irna terkejut melihat ada berkas di dalam tasnya.


Berkas tersebut tentang dirinya yang akan mensponsori Reshortnya, Fredian memberikan harga untuknya senilai lima milyar.


"Ha ha ha, apa dia sudah gila!" Irna tertawa melihat angka yang tertera di sana. Dan juga sebuah kertas kecil yang bertuliskan.


"Aku menunggumu untuk tanda tangan kontrak besok di kantorku jam delapan pagi."


"Dia melebihkan angka demi mendapatkan kontraknya. Dia sudah tidak waras!" Ujar Irna sambil melangkah keluar dari ruang riasnya.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2