
"Lama gak?" Tanya Mira yang sudah sampai di sana, dia membayar semua belanjaan pakaiannya hari itu.
"Nggak kok." Kania tersenyum manis lalu melangkah keluar dari dalam toko. Anehnya pria yang tadi dilihatnya kini malah berdiri di belakang punggungnya.
Kania merasa kurang nyaman karena terus diikuti olehnya. Dia meminta Mira untuk mendahuluinya pergi ke parkiran di mana mobilnya berada sekarang.
"Mira kamu duluan ya ke parkiran? Jika aku selama tiga puluh menit nggak datang-datang kamu bawa mobilku balik ke rumahmu oke?" Mira tahu telah terjadi sesuatu pada sahabat karibnya itu, terlihat dari wajah pucat Kania pagi ini.
Kania tersenyum melambaikan tangan dia berlari ke arah berlawanan dengan Mira.
"Akkh! Bruuuk! Siapa kamu?! Kenapa mengikutiku!?" Kania berhasil menangkap orang yang mengikutinya sejak berada di dalam toko baju tadi.
Pria itu menatap cincin di jari manisnya, cincin tersebut mengeluarkan asap. "Akkkhh!" Kania memekik kesakitan, dia melepaskan leher pria itu dari tahanan lengan kanannya.
"Roh sinting itu menikahimu?! Hah! Hah! Hah! Aku mengikutimu karena wajahmu pucat, dan sebentar lagi kamu pasti akan dibawanya pergi." Pria itu jatuh ke lantai dengan nafas tersengal-sengal akibat tahanan lengan Kania.
"Kamu gadis yang kuat! Pantas saja kmau belum mati!"
"Apa maksudmu? Aku belum mati? Jadi apakah aku akan mati?" Tanya Kania pada pria yang sedang duduk di bawah kakinya.
"Mereka para wanita itu tidak hilang! Tapi mati!" Jelas pria itu padanya, dia bangkit dari posisi duduknya sambil memegangi lehernya.
"Kamu siapa? Sepertinya kamu bukan manusia?" Dia menatap wajah Kania penuh curiga.
"Apa maksudmu aku bukan manusia? Aku hantu begitu?!" Elak Kania.
"Kamu terlalu cantik dan sempurna! Maksudku! Hahahaha!"
"Buaakk! Sialan!" Kania menimpuk kepala pria itu dengan tas ransel mininya.
"Kamu sendiri siapa?"
"Kamu tidak mengenali logo ini?" Pria itu menunjukkan logo tengkorak pada gelang hitam di pergelangan tangannya. Kania hanya menggelengkan kepalanya menatap wajah keheranan di depannya.
"Ini itu logo pemburu!"
"What?! Pemburu? Pemburu apa? Muka **** begini?! Pemburu? Pemburu lalat kali!" Kania melengos sambil melambaikan tangannya, dia pergi meninggalkan pria aneh itu.
"Sret! Slash! Aku pemburu hantu!" Menghilang lalu muncul lagi di depan Kania.
"Dia vampir!" Bisik Kania dalam hatinya. "Itulah kenapa aku merasa sangat dekat! Jadi pria ini adalah vampir."
"Kamu punya cara untuk melepaskan cincin ini?" Teriak Kania saat pria aneh itu melangkah semakin menjauh.
"Gunakan sabun untuk melepaskan itu!" Teriaknya enteng lalu menghilang begitu saja.
"Apa dia pikir ini lelucon?! Dasar sialan!" Umpat gadis itu, lalu pergi meninggalkan mall tersebut.
Sampai di rumah dia segera naik ke lantai atas, dia melihat cincin itu lagi. Dia mencoba menariknya keluar dari ujung jarinya, tapi tidak bisa melepaskannya. Dia ingat ucapan pria aneh tadi lalu buru-buru masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.
Saat dia masuk ke dalam, Kania kembali mendengar suara langkah kaki wanita kemarin. Dan aroma melati.
"Pasti hantu sialan itu akan mengunjungiku lagi malam ini!" Pandangan matanya tertuju pada sabun yang ada di sebelah bath up. Dia mengambilnya lalu menuangkan di jarinya. "Aneh ini bisa terlepas begitu saja??!" Bisik Kania pelan sambil tersenyum menimang-nimang benda berwarna perak tersebut.
"Akkhhhh! Siapa kamu?!"
__ADS_1
"Sssstttt!" Pria yang tadi bersamanya sudah membekap mulutnya, dia menarik Kania untuk sembunyi di sudut.
Beberapa detik kemudian pintu kamar mandi tersebut terbuka, terlihat jelas pria tampan mengenakan baju kimono mandinya masuk ke dalam.
Dia melepaskan pakaiannya lalu masuk ke dalam bath up yang ada di sana.
Pria di belakang punggung Kania langsung menutupi mata gadis itu menggunakan telapak tangan kanannya.
"Kalian keluarlah dari tempat sembunyi!" Ucapnya lantang pada Kania dan pria misterius yang sedang membekap mulutnya.
"Maaf pangeran! Saya tidak bermaksud untuk.." ucap pria misterius itu sambil duduk bersimpuh di depan bath up.
"Cukup! Kamu keluarlah!" Perintahnya pada pria itu.
Pria itu tersenyum menatap Kania sedang menahan amarah terpendam di dalam hatinya.
"Sorry nona Kania, gue terpaksa ngibulin elo!" Ngibrit keluar dari dalam kamar mandi tersebut. Tertawa terpingkal-pingkal.
"Ngapain sih naruh melati Mulu? Bosen bi nyium baunya! neg tahu!" Ucapan pria itu terdengar dari dalam kamar mandi Kania. Dia sedang berbicara dengan wanita yang selalu menyalakan lilin untuknya di dalam kamar tersebut.
"Iya pangeran kedua, tapi ini permintaan pangeran ketigaa. Jadi saya menaruhnya seperti keinginan beliau." Jawab wanita itu sambil menunduk dengan hormat.
"Ternyata ini betulan kastil, kalau memang niat untuk menahanku di sini, kenapa malah memintaku untuk membelinya?!" Kania menyodorkan cincin itu pada pangeran pertama yang sedang berendam di dalam bath up.
Dia menoleh sekilas lalu berpaling.
"Itu bukan milikku." Ucapnya singkat.
"Lalu ini punya siapa?" Tanya Kania padanya.
"Kau? Kamu yang suka bunga melati?"
"Bukan!" Ucapnya lagi singkat.
Kania merasa pusing sekali. "Kalau bukan dia lalu siapa?"
Perlahan-lahan dia melangkah keluar dari dalam kamar mandi.
"Selamat sore putri Kania!" Sapa suara seseorang yang sama dengan suara yang kemarin dia dengar.
"Kamu siapa? Kamu yang kemarin tidur bersamaku??!" Kania melangkah mendekatinya.
"Benar putri."
"Lalu kemana para wanita yang dibicarakan hilang itu?" Tanyanya lagi sudah tidak sabar.
"Mereka pergi ke luar negeri putri, menjalani hidup baru mereka di sana."
"Lalu bagaimana denganku?!" Kania berkacak pinggang menatap tajam ke arah pemuda tampan di depannya itu.
"Anda adalah calon istriku!" Pria itu mengangkat kepalanya sambil tersenyum manis menatap wajah Kania dengan tatapan lembut.
"Apa kamu tidak tahu aku dan pemburu itu.. kami.."
"Saya tahu nona, saya sudah menghapus ingatan Royd Carney." Ujarnya masih dengan suara tenang.
__ADS_1
"Pantas saja dia tidak mengenaliku! Apakah kamu tahu siapa ibuku?"
"Tahu nona. Beliau adalah Ratu Angelina. Ratu Vertose." Ucapnya lagi dengan sopan.
"Aku tidak mau menikah denganmu." Kania tetap menolak pernikahan mereka berdua.
"Saya tahu anda akan menolak, dan karena itu saya melakukannya kemarin. Permisi putri." Pria itu berbalik bersiap untuk pergi.
"Tut! Tunggu sebentar! Melakukan apa???"
Kania menahan bahunya, sambil mendekatkan wajahnya.
"Melakukan hubungan suami istri!" Ucapnya dengan nada datar.
"Jadi kamu memaksakan diri untuk melakukan itu denganku?!"
"Bukan! Itu hanya demi generasi klan vampir agar tidak punah!"
"Maksudmu! Aku akan hamil?? Aku masih kuliah! dasar!" Umpat Kania pada pria di depannya itu dengan wajah sangat geram.
"Aku tahu! Anda tidak perlu khawatir karena anda akan langsung melahirkan tanpa hamil." Bersiap kabur dari amukan Kania Aditama.
Kania ingin berteriak lagi tapi pria itu sudah menghilang dari pandangan matanya. "Dasar sialan! Kenapa aku bisa berjodoh dengan pria bodoh seperti itu!" Gerutunya kesal sekali.
"Ralat ucapan-mu! Atau aku akan menebas lehermu!" Pria yang berada di dalam kamar mandi tadi sudah keluar. Dia sedang menodongkan pedangnya di leher Kania.
"Siapa dia memangnya?" Kania membalikkan badannya sambil mengangkat kedua tangannya.
"Dia adalah pangeran ketiga!"
"Adikmu?!"
"Bukan!"
"Lalu?!"
"Putra ibu ratu kami."
"Lalu apa bedanya?? Dasar bodoh! Tranng!" Dengan satu tendangan kaki Kania senjata tersebut telah terpelanting jatuh ke lantai.
"Kamu!" Dia tergagap melihat kehebatan Kania.
"Iya aku kenapa! Aku bisa memenggal kepalamu juga! Jangan main-main denganku! Huh! Ctakkk!" Kania memukul keningnya dengan sentilan jari.
"Akkhhh! Dasar cewek kasar! Katanya putri tapi kasar sekali! Untungnya aku kabur dari perjodohan ini! Jika tidak ibu pasti sudah memaksaku untuk menikahi wanita itu!" Umpatnya terang-terangan di belakang punggung Kania.
"Jadi kamu!"
"Bukan!"
"Kamu!"
"Bukan putri! Bukan aku! Itu pangeran ke-tiga!" Tandasnya sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali. Dia takut sekali Kania akan mencak-mencak padanya lagi.
"Seharusnya aku menakut-nakutinya kemarin! Bukan malah membiarkan dia bertindak semaunya! Akkh keningku!" Pekiknya lagi sambil mengusap keningnya yang memar membiru.
__ADS_1
Bersambung...