Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
걱정 하지마세요 – Keokjeong hajimaseyo – Jangan khawatir


__ADS_3

Irna segera mendorong punggung Rian keluar dari rumahnya.


"Apa yang kamu lakukan?!" Rian mendelik menatap Irna.


"Kamu harus melanjutkan pekerjaanmu di kantor. Aku juga sedang sangat sibuk ada tamu di rumah. Lain kali saja kita bicara." Irna melemparkan senyum ramah kepada Arvina.


Lalu buru-buru menutup pintu. Dia sendiri bahkan tidak perduli ada orang yang sangat licik sedang duduk santai di dalam rumahnya.


"Di situasi genting dia malah mengusirku keluar!" Gumam Rian pada dirinya sendiri setelah berada di dalam mobil.


Arvina duduk di sebelahnya menatap Rian dengan wajah penuh harap, seolah menunggu penjelasan dari Rian.


Rian melihat sekilas wajah Arvina yang duduk termenung dan tidak berani berkata apapun.


"Apakah Irna berfikir aku dan gadis ini? Astaga!" Rian mengusap wajahnya sendiri sambil tersenyum.


"Yang kita temui tadi adalah mantan istriku." Jelas Rian pada Arvina.


"Dan dokter masih sangat mencintainya." Sahut Arvina sambil tersenyum getir, merasa tidak punya harapan.


"Irna Damayanti adalah seorang arsitektur yang sangat cantik, dan melejit di bidang bisnis dan permodelan. Pernah menikah dengan dua Presdir tampan dan dokter Rian adalah salah satunya." Tambah Arvina lagi sambil menghela nafas panjang.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya Rian sambil melirik sebentar ke arah Arvina. Dan gadis itu sambil tersenyum menunjukkan layar ponselnya pada Rian.


"Aku merasa tidak punya harapan lagi." Gumam Arvina pelan.


Rian hanya tersenyum mendengar gumaman asistennya itu.


"Halo, kamu di mana?" Tanya Rian melalui ponselnya.


"Reshort." Jawab Fredian singkat.


"Kenapa Irna tidak bersamamu?" Tanya Rian lagi.


"Dia pergi semalam."


"Dia ada di rumah lama, dan Jody ada di sana sekarang." Jelas Rian pada Fredian membuat pria itu memijit pelipisnya.


"Kenapa tidak kamu saja yang menemaninya." Ujar Fredian asal saja.


"Kamu melemparkan dia lagi padaku? Dia baru saja mendorong punggungku keluar dari rumahnya!" Balas Rian lagi.


"Dia juga tidak mau menjawab kepastian tentang perasaannya padaku." Jelas Fredian lagi masih merasa kesal.


Irna berdiri di balik pintu rumah yang tertutup, dia bersandar di sana.


"Apakah kamu akan selamanya berdiri di sana?" Tanya Jody padanya.


"Apa maksudmu datang kemari segera katakan, karena aku nanti masih ada pemotretan." Jelas Irna sambil kembali duduk di kursi.


"Aku hanya ingin melihatmu." Pria itu berdiri kemudian berjalan mendekati Irna.


"Aku menginginkanmu." Bisiknya di telinga Irna.


"Aku sudah menolakmu berapa kali?" Tanya Irna sambil melengos ke arah lain.


"Aku pria yang pantang menyerah." Mendekatkan wajahnya seolah-olah hendak mencium bibirnya.


Irna segera berdiri dan berjalan membukakan pintu untuk mengusir Jody keluar.


"Silahkan anda pergi Presdir Jody, saya juga sangat sibuk hari ini." Usir Irna pada pria yang masih berdiri di dalam rumahnya itu.


"Ya baiklah aku akan pergi, tapi aku ingin menemuimu lagi nanti." Ujarnya seraya menyentuh rambut Irna dan berjalan menuju mobilnya lalu pergi.


Irna melihat jam di dinding lalu segera berlari ke kamar mandi.


Saat di keluar dari dalam kamar mandi dengan tubuh berbalut handuk, dia melihat Fredian dengan stelan jasnya sudah berdiri di ambang pintu ruang tengah yang menghubungkan ke kamarnya.


Pria itu melihat ke arahnya sambil, menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Sejak kapan kamu ada di sini?" Tanyanya sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


"Sejak pria brengsek itu keluar dari rumah ini." Ujar Fredian sambil berjalan mendekat ke arah Irna yang masih berdiri mengeringkan rambutnya di depan cermin.


"Apakah ada yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Irna lagi tanpa menoleh ke arahnya.


"Tidak ada." Ujar Fredian singkat.


Irna hendak menutup pintu kamar tidurnya, karena ingin memakai baju.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya gadis itu ketika Fredian menahan pintu hingga Irna tidak bisa menutupnya.


"Kenapa kamu menutup pintunya? apakah kamu sudah muak melihat wajahku? sampai hati kamu, bahkan menutup pintu di depan wajahku!"


Teriaknya sambil mengguncang bahu Irna dengan keras hingga handuk yang melilit di tubuhnya terlepas jatuh ke lantai.


"Astaga! kamu ini kenapa sih?!" Irna buru-buru mengambil handuknya dan menutupi tubuhnya sekenanya.


"Aku hanya ingin memakai baju, kenapa kamu seheboh ini?" Tanya Irna tidak mengerti.

__ADS_1


Fredian terlanjur melihat semuanya, dan menatap Irna yang masih menutupi tubuhnya dengan sekenanya.


"Melihat sinar matamu seperti itu, apakah kamu berniat menerjangku?" Tanya Irna sambil membetulkan handuknya, lalu buru-buru mengambil baju dari dalam lemari dengan agak gugup.


"Jika iya, apa yang akan kamu lakukan?" Fredian sudah berdiri di belakang punggungnya meletakkan dagunya di atas bahu Irna.


Gadis itu masih memegang baju di kedua tangannya belum sempat memakainya.


Pelukan Fredian semakin erat dan bibir pria itu menyusuri bahu dan lengan Irna.


Irna meremas jemari Fredian yang masih memeluk pinggangnya kemudian perlahan turun di paha bawah handuknya.


"Fred, jangan!" Irna menahan jemari tangan Fredian.


"Suhu tubuhmu sudah meningkat, artinya kamu merespon sentuhanku." Bisik Fredian di telinga Irna.


"Aku wanita normal, tapi aku bukan istrimu lagi." Irna berbalik dan menjauhkan dirinya bersandar di pintu lemari.


"Lalu ijinkan aku membuatmu jadi istriku kembali." Fredian meraih dagu Irna dan mencium bibirnya dengan lembut beberapa detik kemudian melepaskannya.


"Aku sangat mencintaimu." Bisiknya lagi di telinga Irna.


"Aku harus bekerja, aku ada pemotretan." Ujar Irna segera, sambil menurunkan jemari Fredian yang sudah singgah di balik handuknya.


"Aku akan membayar pinaltinya untukmu." Bisiknya lagi sambil mencampakkan handuk Irna ke lantai.


"Kamu tega sekali!" Jerit Irna sambil memukul dada bidang Fredian.


Fredian merengkuh tubuhnya di atas tempat tidur.


"Aku sudah bilang aku akan menikahimu kembali." Fredian kembali menciumi leher jenjang Irna.


Irna menghentikannya, dan segera memakai kembali bajunya.


Irna masih berbaring di dalam pelukannya.


"Apa kamu tidak akan pergi ke kantor?" Gumam Irna lirih, berusaha melepaskan pelukan tangan Fredian.


"Aku ingin memelukmu sepanjang hari." Kembali menarik tubuh Irna yang menjauh darinya. Mengabaikan telepon mereka berdua yang sejak tadi terus berdering.


"Bukankah berkasmu menunggumu, nanti kamu akan kerepotan jika tidak segera memeriksanya." Ujar Irna karena sudah tidak tahu harus bagaimana menghadapi pria di sebelahnya itu.


"Kenapa aku tiba-tiba merasa terusir?" Desisnya lirih di depan wajah Irna.


"Sampai kapan kamu akan terus begini? aku sudah sangat lelah." Ujar Irna mencoba bangkit, dan menepikan tangan Fredian dari tubuhnya.


"Halo Rey? iya aku ada sedikit urusan yang tidak bisa di tunda pagi ini."


"Astaga mereka ini!" Reynaldi memegang keningnya lalu mengakhiri panggilan telepon.


"Apa yang kamu lakukan barusan? dasar memalukan sekali!" Irna mencubit lengannya.


"Apa lagi? tentu saja aku menyelesaikan masalahmu." Tandas Fredian masih menciumi pipi Irna.


"Kamu benar-benar tidak akan pergi ke kantor?" Tanya Irna lagi.


"Aku ingin sepanjang hari bersamamu. Kamu sejak tadi mengusirku? apakah wajahku benar-benar sudah tidak tampan lagi?" Tanyanya sambil merajuk tidak mau melepaskan pelukannya.


"Fred, Antoni pasti sangat kebingungan sekarang karena Presdirnya tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan pesan apapun." Ujar Irna lagi seraya mengambil baju Fredian dan memakaikannya.


Fredian tersenyum melihat wajah Irna yang sedang hawatir padanya.


Dia diam saja ketika Irna merapikan kembali bajunya seperti sedia kala.


"Aku juga harus pergi ke pemotretan kedua." Bisik Irna padanya.


Mereka berdua akhirnya meninggalkan rumah Irna dengan mengendarai mobil masing-masing.


Fredian membukakan pintu mobil Irna.


"Nanti malam datanglah ke kantorku? aku akan menunggumu." Ujar Fredian sambil mencium keningnya sebelum gadis itu naik ke dalam mobilnya.


"Kamu pikir aku wanita panggilan?" Tanya Irna tidak senang karena Fredian memintanya datang untuk menemani dirinya.


"Kapan kamu memberikan hatimu padaku? aku ingin kita segera menikah lagi."


"Aku belum memikirkanya, aku belum ingin menikah dengan siapapun." Tandas Irna dengan wajah datar.


"Apakah kamu suka kita terus bersama tanpa ikatan?" Tanya Fredian wajahnya mulai terlihat gusar.


"Aku tidak menginginkan kebersamaan tanpa ikatan dan juga belum ingin menikah kembali." Jelas Irna lagi.


"Aku mencintaimu!" Teriak Fredian sambil menatap wajah Irna lekat-lekat.


"Aku tahu, dan kamu terus mengatakan itu setiap hari."


"Bisakah aku menganggap ini sebagai sebuah penolakan? dan aku akan menggantikan dirimu dengan orang lain sebagai ibunya Alfred! aku tidak sedang bercanda! Karena kamu hanya terus mengulur waktu." Ujar Fredian sudah merasa habis kesabarannya.


"Ya lakukan semaumu Presdir Fredian. Aku akan menunggu surat undangan pernikahan darimu untuk kesekian kalinya! Braaaakkkkk!" Dengan kasar Irna membanting pintu mobilnya lalu pergi melaju meninggalkan Fredian.

__ADS_1


"Dia bilang satu menit yang lalu mencintaiku, lalu satu menit berikutnya dia bilang ingin menikah dengan wanita lain untuk mencarikan ibu untuk putraku!" Gerutu Irna kesal sekali.


"Hai!" Sapa Reynaldi ketika Irna sampai di studio.


Irna tidak menjawab malah langsung masuk ke ruang ganti.


"Kenapa wajahnya sekusut itu? bukannya tadi mereka habis bersama-sama?" Gumam Reynaldi sambil menyatukan dua ujung jari telunjuknya.


Irna melakukan pemotretan selama dua jam, lalu segera kembali pulang ke rumah.


Saat mobilnya masuk ke dalam halaman, Jody menyusup masuk ke dalam rumah Irna.


Irna turun dari mobilnya sambil melepaskan kacamata hitamnya melihat pria yang sama sekali tidak diharapkan kedatangannya itu. Dia mengabaikannya dan masuk ke dalam rumahnya.


"Wah, wah, wah, kamu benar-benar mengabaikanku." Sambil tersenyum nakal menghalangi Irna yang hendak melangkah ke pintu masuk.


Irna menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Apa yang harus aku lakukan dengan pria ini?" Bisik Irna dalam hati.


"Ah, aku harus masuk ke dalam. Kamu terus membuntutiku sepanjang waktu, jadi kamu pasti tahu sejak kemarin aku belum menginjakkan kakiku di sini." Ujar Irna sambil menatap pria di depannya itu.


"Berikan aku sebuah ciuman. Aku akan membiarkanmu masuk." Ujar Jody tanpa rasa malu sama sekali.


"Kamu pikir aku wanita seperti apa?" Tanya Irna lagi sambil berkacak pinggang.


"Kamu wanita yang luar biasa, dan membuatku tidak bisa tidur sepanjang malam. Kamu tidak melihat warna hitam di bawah mataku ini?" Ujarnya sambil menunjukkan mata pandanya.


"Apakah pria ini benar-benar sudah tidak waras?" Bisik Irna kemudian mendorongnya dari pintu, lalu masuk ke dalam dan menguncinya.


"Nyonya apakah saya perlu menyiapkan makan malam?" Tanya pelayannya sambil membantu Irna melepaskan mantel bulunya.


"Buatkan jus apel saja." Ujarnya pada pelayan sambil tersenyum.


Gadis itu naik ke lantai dua melepaskan seluruh pakaian, lalu berendam di dalam bath up.


Sore itu Rian melihat mobil Jody berada di luar rumah Irna. Dia tahu pasti Irna ada di dalam. Rian membuka pintu gerbang dengan akses telapak tangannya. Dia melihat Jody sedang berjalan mondar-mandir dengan lengkungan hitam di bawah matanya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Tanya Rian padanya.


"Aku tidak bisa tidur dan terus memikirkannya, apakah ini gejala yang serius?" Tanyanya pada Rian berharap mendapatkan solusi.


"Kalau kamu mau sembuh, besok pagi datanglah ke kantorku aku punya obat yang manjur." Ujarnya sambil tersenyum menepukan tangan di atas bahunya.


Jody akhirnya keluar dari rumah Irna menuju mobilnya dan pulang ke rumah.


Rian masuk ke dalam rumah Irna mengambil kunci dari dalam tasnya.


"Kemana Irna?" Tanyanya pada pelayan yang mengambil tasnya untuk dibawakan.


"Nyonya ada di kamarnya di lantai atas tuan." Jawabnya sambil menundukkan kepalanya.


Rian bergegas naik ke lantai dua. Dia mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada jawaban.


Dia bergegas masuk dan melihat kamar mandi terkunci dari dalam.


"Irna, kamu ada di dalam?" Panggilnya dari luar pintu. Rian hawatir jika terjadi sesuatu pada Irna.


Irna tidak menjawab karena dia tertidur di dalam bath up.


Rian mencari kunci dan membuka kamar mandi mendapati Irna terbaring tanpa sehelai benangpun tertidur di dalam bath up.


Pria itu menyambar handuk dan mengangkat tubuh Irna dari dalam air.


"Astaga, bagaimana kamu tiba-tiba ada di sini?" Irna mengerjapkan matanya melihat dirinya berada di dalam gendongan Rian.


Pria itu mengambil baju dari dalam lemari meletakkan di atas tempat tidur.


"Keringkan tubuhmu, dan pakai bajumu."


Ujarnya sambil masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Irna di atas tempat tidurnya.


Rian melepas seluruh bajunya dan membersihkan tubuhnya.


Irna sudah memakai seluruh bajunya, dan mengeringkan rambutnya. Rian juga sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk di atas kepalanya.


"Kenapa kamu tiba-tiba kemari?" Tanya Irna bingung.


"Kenapa kamu tiba-tiba menjodohkanku dengan Arvina?" Ujarnya sambil berjongkok di depan wajah Irna.


"Itu, aku, aku pikir kamu seharusnya memang menikah dan memiliki keluarga yang lengkap. Bukan sepanjang waktu menghabiskan seumur hidupmu untuk menjagaku." Jelas Irna sambil menjauhkan wajahnya karena wajah Rian begitu dekat.


"Aku yang akan menentukan hidupku! bukan kamu! aku berhak menjalani hidupku! tidak perlu kamu ikut campur dan mengaturnya!"


Irna gugup dan melihat wajah marah di depan wajahnya itu lekat-lekat.


Fredian masuk membuka pintu kamar Irna, mendapati Rian tanpa baju berjongkok mengurung Irna yang duduk di tepi tempat tidur dengan kedua lengannya.


Mereka berdua menatap ke arah Fredian bersamaan.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Rian sambil beranjak berdiri kembali mengeringkan rambutnya lalu berjalan menuju lemari mengambil kaos santai dan memakainya.


Bersambung..


__ADS_2