
"Kamu pria membosankan!" Angelina menurunkan pedangnya. Wanita itu masih memegangi telinganya. Mengalihkan pandangan matanya dari wajah Rian Aditama.
Sepertinya Angelina bersiap pergi dari dalam kamar rawat yang digunakan Rian untuk mengurungnya.
"Aku pinjam ini!" Angelina melepaskan jas dokter milik Rian, lalu memakainya untuk menutupi tubuhnya. "Kenapa kamu menatapku seperti itu! Bukankah kamu yang bilang padaku untuk menjaga nama baik Kaila Elzana?"
Wanita itu tersenyum lembut, sebagaimana Irna tersenyum.
"Jangan pakai itu, itu terlalu besar untukmu." Rian melangkah menuju ruangan sebelah, dia membuka lemari kecil yang ada di sudut ruangan mengeluarkan jas dokter milik mantan istrinya. Angelina sudah berdiri di belakang punggungnya, menunggunya.
"Dia pasti wanita yang menarik!" Ungkap wanita itu seraya menghela nafas panjang. Menerima jas dokter milik Irna.
"Dia adalah kamu Angelin, aku tidak tahu apakah dia akan kembali ke sini? Kalian kenapa begitu berbeda? Aku kesal sekali jika mengingat itu." Ucap Rian jujur mengutarakan isi hatinya, dia ingin sekali Irna kembali.
"Aku sudah mengingatmu, juga semua memorinya tapi aku enggan bertingkah seperti Irna.. gadis itu terlalu lemah di mataku." Ucapnya dingin.
"Apa maksudmu? Dia menyerahkan hidupnya padamu?!" Rian terkejut mendengar ucapan terakhirnya.
"Hem." Angelina tersenyum sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kapan aku boleh masuk bekerja tuan presdir? Aku butuh uang! Dan aku tidak tahu sandi kartu milik wanita yang memiliki tubuh ini. Dia memintaku untuk memulai hidupku sendiri. Dan aku tidak bisa mendapatkan semuanya secara gratis."
"Ratu Vertose benar-benar tidak berlaku kedudukannya di depan manusia." Angelina duduk di atas meja kerjanya Rian, belahan gaun kimonon-ya menyingkap menampilkan pahanya.
"Hentikan kebiasaan buruk-mu! Kamu akan membuat pasienmu kabur."
Rian berpaling ke arah lain, menghindari pemandangan yang sama sekali tidak dia ingin lihat.
"Huh! Kamu pernah tidur dengannya, kenapa tidak suka melihat pahanya?" Angelina terkekeh geli melihat Rian membalikkan badan, sampai memunggunginya.
Wanita itu melangkah mendekat, Rian bisa mendengarnya dari balik punggungnya.
"Astaga! Apa yang kamu lakukan!" Teriak Rian saat wanita itu melingkarkan tangannya di pinggangnya. Memeluknya erat sekali, membuat Rian tidak bisa pergi dari tempatnya berdiri sekarang.
Angelina menyandarkan kepalanya di punggung pria itu. "Sebentar saja, ini nyaman sekali." Bisiknya sambil melelehkan air matanya. Entah apa yang sedang ada di benak wanita itu sekarang.
Tujuannya adalah untuk memahami hati Irna Damayanti. Hatinya sedikit pedih ketika melihat wajah pria satu ini. Dia ingin mengetahui lebih jauh ke dalam hatinya. Memahaminya perlahan.
__ADS_1
Memahami apa yang ada di balik kepedihan perasaan itu. "Kita memiliki putri?!" Ujarnya kemudian, seraya melepaskan pelukannya dari pinggangnya.
"Iya dia kuliah di Jerman sekarang." Jawabnya sambil berbalik, dan tersenyum mengusap air mata Angelina yang masih mengalir tanpa isakan tangis. Menetes begitu saja dan terus menetes.
"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa terus menangis?"
"Aku tidak tahu, wanita pemilik tubuh ini yang begitu pilu. Dia merasa sedih, dan kamu adalah pria bodoh yang terus berkorban tanpa mau berhenti!" Wanita itu tersenyum tapi air matanya terus mengalir tanpa henti.
"Besok aku akan bekerja, bagaimana?"
"Ya, datanglah ke rumah sakit besok! Gunakan ini untuk membeli kebutuhanmu." Rian mengeluarkan kartu dari dalam dompetnya. Kartu tersebut adalah hadiah pernikahan dari dirinya untuk Irna.
Tapi Irna tidak pernah mau menggunakan uang Rian sepeserpun. Gadis itu tidak pernah mau mengambil apapun saat dia pergi.
Dia tahu tujuannya menikah dengan Rian bukan untuk uang, dan kekayaannya.
"Wah kamu begitu loyal padaku?" Wanita itu tersenyum melihat kartu tersebut berada di tangannya sekarang.
"Sriiing! Sriiiing!" Angelina memijit pelipisnya sendiri menahan nyeri pada kepalanya.
Wanita itu masih menggelengkan kepalanya berkali-kali, sambil meringis menahan sakit.
"Ini hadiah pernikahan kita, akkkhhh! Tidaaakkkk!" Angelina memekik matanya yang merah perlahan-lahan berubah menjadi hitam, mata Irna Damayanti.
"Aku kembali!" Irna tersenyum riang sambil menatap kedua tangannya. Lalu dia terkejut melihat dirinya berada di pelukan hangat Rian.
"Kita, kita kenapa bisa berpelukan begini?" Tanyanya sambil menoleh menatap wajah Rian. Pria itu kini malah menangis di bahu Irna.
"Aku pikir kamu tidak akan pernah kembali lagi! Aku pikir kamu akan pergi untuk selamanya." Dia masih menangis di atas bahunya.
"Braakkkk! Akhirnya aku menemukan keberadaan dirimu!" Fredian terengah-engah menerobos masuk ke dalam.
"Hai..." Irna tersenyum menyapa suaminya seperti menyapa seorang teman.
Fredian melihat kartu di tangan kanan Irna. Dia tahu pasti Angelina yang meminta uang itu pada Rian.
"Kamu memberikan kartu padanya?" Fredian merebut kartu tersebut dari tangan Irna.
__ADS_1
"Iya aku memberikan itu, aku tidak ingin melihatnya meminta kepada pria yang tidak dikenalnya." Jelasnya sambil melepaskan pelukannya dari Irna.
"Aku tidak berpikir sejauh itu." Ungkap Fredian padanya.
"Kamu suaminya, seharusnya kamu lebih tahu." Balas Rian.
"Dia bukan istriku saat menjadi Angelina."
"Aku baru tahu rupanya kamu pria yang pelit." Irna mendahuluinya keluar dari dalam ruangan kerja Rian.
"Ctik! Slash!" Wanita itu menghilang dari pandangan mata mereka berdua.
"Dia pergi lagi? Berikan kartu itu padanya, Fred. Itu hadiah pernikahan untuk Irna, tapi dia tidak memakainya sama sekali."
"Aku benci sekali ini! Sebenarnya apa kamu ingin menikah lagi dengannya saat menjadi Angelina?"
"Astaga! Aku cuma tidak mau Kaila meminta uang pada pria lain! Kamu harusnya memikirkanya. Dia istrimu."
Rian mendengus kesal, lalu memakai kembali jas dokternya. "Aku akan ke laboratorium." Pria itu melewatinya sambil menepuk bahunya.
Irna sampai di dalam ruangan, di rumah. Tempat tinggalnya saat bersama Fredian.
Irna memijit keningnya, dia melihat pembantaian besar-besaran. Pembantaian di masa lalunya. Angelina menebas leher siapa saja yang berniat menghalangi langkahnya. Lalu dia juga melihat adegan dewasa wanita itu bersama dengan Raja Eroine.
"Angelina wanita seperti itu. Pantas saja hidupku sejak awal berantakan, ternyata hampir sama dengan kisah di masa lalu." Ujarnya sambil berganti pakaian dengan pakaian santai.
Dia merasa lelah sekali, wanita itu segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Beberapa menit kemudian dia sudah terlelap.
Irna melihat jam di dinding saat dia terjaga. Dia tidak melihat siapa-siapa di kamar itu. "Fredian tidak pulang semalam?" Gadis itu turun dari tempat tidurnya, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Dia memilih berendam dengan air hangat. "Nyaman sekali.." Desahnya merasakan air hangat merendam sekujur tubuhnya.
Fredian masih tertidur di dalam kamar yang ada di Resort. Dia pikir Irna akan menyusulnya begitu dia tersadar. Ternyata tidak, wanita itu memilih untuk tinggal di rumah. Tanpa mengirimkan pesan atau meneleponnya.
Bersambung..
Like like like like πππ! Horeeee aku dapat like..
__ADS_1