Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
One love


__ADS_3

"Aku pagi ini harus ke kantor, karena banyak berkas dan pekerjaan yang harus diurus." Mengecup kening Istrinya, mengambil pakaiannya.


"Hem em." Ujar Irna, bangkit dan membersihkan tubuhnya di kamar mandi.


Gadis itu keluar sudah memakai baju.


"Kamu akan pergi sekarang?" Irna mengambil jaket tebal milik Fredian yang tergantung di dinding.


Memakaikan pada suaminya. Kemudian memeluk pinggangnya seolah tidak ingin suaminya pergi.


Gadis itu terus mendongak menatap wajah suaminya. Mengamati bulu matanya yang begitu lentik.


Hidungnya dan bibirnya yang begitu lembut. Rambutnya jatuh di atas kening membuat wajah Fredian tampil apa adanya.


Jika saat bekerja pria itu selalu membuat model rambutnya ditata ke belakang dengan minyak rambut.


Fredian tersenyum menjentikkan jarinya ke ujung hidung istrinya.


"Apa yang kamu lihat?" Tanyanya kemudian.


Irna menggelengkan kepalanya sambil terus memeluknya.


"Kenapa? apa ada yang salah?"


Irna kembali menggelengkan kepalanya. Semakin erat memeluk pinggang suaminya.


"Kamu jangan menukarkanku dengan apapun lagi..." Ujarnya kemudian.


"Gadis ini takut berpisah denganku.." Bisik Fredian dalam hatinya.


Fredian tersenyum menatap wajah Irna yang terus merajuk memeluknya.


"Memangnya siapa yang akan menukarmu lagi?"


"Kamu harus janji!" Mendongak melihat ekspresi wajah suaminya.


"Hem em" Fredian mengangguk.


Irna tersenyum lalu berjinjit mencium bibir suaminya.


"Aku akan mengantarkan kamu ke depan." Gadis itu menggamit lengan Fredian menuju keluar.


Di sepanjang jalan kepalanya terus disandarkan di lengan suaminya.


Fredian tersenyum mengusap lembut rambut istrinya.


"Kamu yakin tidak ingin kembali bersamaku ke Reshort?" Tanya Fredian.


"Aku akan mengganggu pekerjaanmu di sana, memangnya kamu mau aku mengekor terus menerus mengikutimu seperti ini?" Tanya Irna sambil menggosok lengan Fredian dengan kepalanya.


"Kamu begitu lengket hari ini, apa yang kamu pikirkan? biasanya tidak begini.."


"Itu karena suamiku begitu tampan, dan banyak wanita yang akan tergoda karenanya."


Ujar Irna sambil cemberut.


"Kamu baru sadar kalau aku sangat tampan? lalu selama ini kenapa terus mengabaikanku?"


"Aku tidak pernah mengabaikan kamu, aku hanya ingin melihatmu bahagia."


Mereka berdua berdiri di parkiran, Fredian memegang kedua pipi istrinya.


"Kamulah yang membuatku bahagia dan selalu tersenyum." Tambahnya.


Irna kembali memeluknya dengan erat.


"Kalau terus begini aku tidak akan pergi ke kantor.." Tersenyum menatap wajah Irna yang terus menempel di dadanya.


"He he he" Irna terkekeh kemudian melepaskan pelukannya.


"Maaf, aku menjadi seperti anak-anak yang tidak ingin kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagiku." Ujar Irna mengerjapkan matanya berkali-kali menatap wajah Fredian.


"Ah aku jadi tidak tahan melihat wajah imut itu!" Fredian tersenyum menutup matanya dengan tangan kanannya.


Irna membukakan pintu mobil untuknya, dan Fredian naik ke dalam. Pria itu menurunkan kaca mobilnya.


"Satu lagi, Cup!" Irna meraih kepala Fredian dari luar mengecup bibir suaminya dengan paksa.


Fredian tersenyum melihat tingkah kekanakan Irna. Melambaikan tangannya pergi meninggalkan gadis itu di depan gedung kantornya.


Irna juga melambaikan tangannya menunggu mobil Fredian hilang dari pandangannya.


"Oh, ibu sudah sampai?!" Rini terkejut melihat Irna duduk di lobi kantornya menikmati secangkir kopi.


"He he he" Irna hanya terkekeh melihat wajah Rini terkejut.


"Sepertinya Bu Irna memiliki suasana hati yang sangat baik hari ini." Gumamnya meletakkan tas kerjanya di meja sekretaris.


Setelah menghabiskan kopinya Irna kembali masuk ke dalam ruangan kerjanya.


Gadis itu kembali melihat berkas yang menumpuk di atas meja.

__ADS_1


"Ah sudah jam sepuluh, Rini aku akan pergi meninjau ke lokasi proyek Reshort. Ini sudah lama sekali sejak aku memberikan berkas pada Fredian."


"Jika ada yang kamu tanyakan kamu nanti bisa menghubungiku." Ujarnya pada Rini sambil memakai kacamata hitamnya.


"Baik Bu."


Irna segera turun ke lantai bawah sambil menenteng tasnya.


Saat berjalan melintasi restoran di lantai bawah dia melihat seorang pria berpakaian rapi memakai jas dan sepatu melihat ke arahnya.


"Pagi Nona cantik!" Pria itu menghentikan langkahnya.


"Dari suaranya sepertinya dia anak kecil yang aku temui semalam." Gumam Irna.


"Mulai hari ini atap kantor akan di renovasi ulang, sekitar dua tiga lantai lagi." Ujarnya pada Irna.


"Hem, ya lakukan saja pekerjaanmu." Irna kembali melanjutkan langkah kakinya dan mengabaikan Juan.


Juan mempercepat langkah kakinya, menahan tangan Irna.


Irna terkejut mengangkat tangannya, melihat pria itu menggenggam tangannya.


"Apa ini?!" Tanya Irna padanya.


"Menggenggam tanganmu." Ujarnya santai.


"Huft" Irna menghembuskan nafas meniup ujung hidungnya sendiri.


Gadis itu mengangkat tangan Juan melepaskan dari lengannya.


"Aku harus bekerja sekarang, permisi." Irna menarik kedua ujung bibirnya, tersenyum paksa.


"Tapi, tapi!"


Irna hanya melambaikan tangan kanannya tanpa menoleh ke belakang.


Gadis itu naik ke dalam mobil, mengemudikan mobilnya menuju lokasi pembangunan Reshort.


Sesampainya di sana, Irna masuk ke dalam kantor yang sudah disediakan di dalam proyek.


Meletakkan berkasnya di atas meja mengambil skema. Kemudian memakai helm kecil keluar melihat proses konstruksi.


Irna terlihat sibuk memberikan arahan pada petugas yang memegang kendali dalam proses pembangunan tersebut.


"Triiiing!" Ponsel Irna berbunyi.


"Halo, ada apa Re?" Tanya Irna pada seseorang yang menghubunginya.


"Aku membutuhkan sedikit bantuan, modelku yang harus melakukan pemotretan hari ini tiba-tiba tidak bisa datang."


"Pemotretan harus diadakan hari ini, aku ingin kamu menggantikannya." Ujarnya lagi.


"Di mana lokasinya?"


"Baiklah aku akan pergi ke sana." Mengakhiri panggilan.


Irna segera menghubungi Fredian.


"Fred, aku akan pulang sedikit terlambat." Ujar Irna melalui ponselnya.


"Aku, akan ada pemotretan, Reynaldi baru saja menghubungiku."


"Apakah nanti perlu aku jemput ke sana? tempatnya agak jauh." Tawar Fredian pada Irna.


"Tidak perlu dijemput, aku membawa mobil sendiri." Ujar Irna padanya.


"Baiklah, hati-hati di jalan." Panggilan berakhir.


Irna menuju ke tempat pemotretan, pemotretan kali ini terletak di taman terletak di kaki gunung.


Irna melihat beberapa kru sudah menunggu di sana.


Reynaldi menjemput Irna di jalan, menunjukkan tempat untuk mengganti bajunya dan bermakeup.


Irna mengenakan sebuah gaun pesta rancangan Reynaldi, gaun berwarna ungu muda setinggi setengah dada, menampilkan punggung mulusnya.


"Kenapa dia selalu merancang gaun terbuka seperti ini, apakah gaun model seperti ini sangat ngetrend belakangan ini?!" Gumam Irna melangkah keluar tenda.


Gadis itu berjalan menuju ke depan kamera.


Beberapa orang mengarahkan berbagai bentuk pose.


Irna mendongak tersenyum dengan memegang setangkai mawar, sambil melihat ke arah kamera.


"Blitz!"


Pose kedua Irna duduk di atas ayunan dengan ujung gaun menjuntai ke bawah.


"Blitz!"


Pemotretan berlangsung selama dua jam, dan Irna berganti gaun lima kali untuk pemotretan hari itu.

__ADS_1


"Akhirnya selesai juga, ternyata bekerja sebagai model juga sedikit melelahkan." Gumamnya.


Reynaldi mengemas beberapa barang di samping Irna. Irna sedang duduk sambil meminum sebotol air mineral.


"Apa aku perlu mengantarmu pulang?" Tanya Reynaldi padanya.


"Tidak usah aku membawa mobil sendiri." Ujar Irna sambil tersenyum.


Irna melihat jam di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul lima sore.


"Aku akan kembali sekarang." Irna berdiri, memakai kembali jaket dan kacamata hitamnya.


"Terima kasih untuk hari ini.." Ujarnya pada Irna.


Gadis itu hanya mengangguk kemudian pergi menuju mobilnya.


Ketika hendak naik ke dalam mobilnya.


"Byuuuuur!" Seorang gadis muda menyiram sebotol air ke arah muka Irna.


Irna tersenyum ke arah gadis itu, melepaskan kacamata hitamnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Irna dengan santai.


"Kamu mengambil alih pekerjaanku, lalu masih bertanya kenapa?!" Teriaknya di depan muka Irna.


Irna mengusap wajahnya yang basah, kemudian mengangkat ponselnya dari dalam tas.


Menghubungi Reynaldi.


"Halo, iya."


"Beraninya kamu mengabaikanku!" Gadis itu menarik rambut Irna. Membuat Irna mendongak memegangi kepalanya yang sakit.


"Kamu cepatlah ke siniiiiii!!!!" Teriak Irna sudah tidak sabar lagi pada Reynaldi.


"Huft!" Irna kembali mendengus meniup ujung hidungnya sendiri.


"Kraaaak!" Irna menginjakkan high heels di kaki gadis itu hingga dia melepaskan tangan dari rambutnya.


"Akh! kamu berani sekali menginjak kakiku?!" Teriaknya tidak terima pada Irna sambil memijit kakinya.


Irna sudah sangat lelah dan segera masuk ke dalam mobilnya, mengabaikan gadis itu.


Dari dalam mobil Irna melihat Reynaldi berlari ke arahnya.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya melihat rambut Irna basah kuyup dan acak-acakan.


Kemudian menatap model yang akan melakukan pemotretan hari itu sedang memegangi kakinya.


"Kamu selesaikan urusanmu dengannya, aku harus pulang sekarang." Ujar Irna dengan wajah kesal. Mengemudikan mobilnya meninggalkan lokasi pemotretan.


Gadis itu berdiri menghadang mobil Irna.


"Diiin! diiin!" Irna mebunyikan klakson agar menyingkir dari depan mobilnya.


Tapi dia tidak bergeming sama sekali.


"Kamu mau cari mati?!" Ujar Irna dengan gemas menginjak pedal gas.


Seolah-olah hendak menabrak gadis di depannya itu. Gadis itu langsung menyingkir ke samping.


"Dasar wanita sialan! awas kamu!" Teriak pada Irna.


Reynaldi melihat kejadian di depannya tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Kamu sudah terlambat lalu malah marah-marah dengan orang yang tidak tahu apa-apa!" Teriaknya pada Jesy gadis di depannya.


Gadis itu bernama Jesy, tubuhnya setinggi tubuh Irna, wajah keduanya hampir mirip satu dua.


Yang membedakan di antara keduanya hanya mata Irna lebih bening, dan tahi lalat di bawah ujung mata kanannya juga lesung pipit di pipi Irna ketika tersenyum.


"Kenapa kamu tiba-tiba menggantikan posisiku dengan dia!" Teriaknya tidak terima pada Reynaldi.


"Kita mengambil foto di lokasi ini sengaja saat cerah karena bunga masih bermekaran, tapi kamu terlambat! apa kamu pikir kita mengambil foto saat malam dan semuanya telah gelap?!" Teriaknya kembali.


"Aku terlambat karena terjebak macet!" Balasnya tidak terima.


"Ya sudah! itu urusanmu, aku sudah melakukan pemotretan hari ini. Jika kamu terlambat lagi, aku tidak akan menjadikan kamu sebagai modelku lagi!" Ujar Reynaldi dengan sangat kesal.


"Kamu menyukainya kan?! dan kamu dengan sengaja membuat dia menggantikanku!!!" Teriaknya mencekal lengan Reynaldi.


"Ini urusan pekerjaan, bagaimana kamu bisa mencampurkan dengan urusan pribadi?!" Mengibaskan lengannya dari Jesy.


"Aku tidak percaya kamu membentakku hanya karena wanita yang barusan itu! kamu ingat satu hal, aku tidak akan membiarkan siapapun merebut posisi pekerjaanku, apa lagi pria yang aku cintai!!" Geramnya menatap Reynaldi dengan marah.


"Kamu tidak mengenal wanita barusan?! jangan bilang kamu tidak pernah melihat berita?!"


"Dia selalu jadi topik pembicaraan akhir-akhir ini! Jika kamu berurusan dengannya aku dengan sangat menyesal tidak akan bisa membantumu!" Reynaldi meninggalkan Jesy mematung di tepi jalan.


Jesy mendatangi kru di lokasi dan menanyakan siapa wanita yang barusan menggantikan posisi dirinya.

__ADS_1


"Irna Damayanti! aku tidak akan pernah melepaskannya!" Geram gadis itu lalu naik ke dalam mobilnya.


Bersambung....


__ADS_2