Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
At the end of longing


__ADS_3

"Jangan pikir kamu bisa kabur dariku!" Menyeringai lebar, melangkah menuju ke arahnya, pria itu berdiri belakang punggungnya. Menarik pinggangnya dengan lengan kirinya.


"Kamu pikir bisa lepas dariku?" Tanyanya sambil berbisik di telinga Irna.


"Siapa yang ingin kabur? apa yang kamu pikirkan? aku cuma ingin mengambil koperku." Jawabnya pada Fredian, ada sedikit keringat dingin yang keluar dari pori-pori kulitnya. Gadis itu tiba-tiba merasa tidak dekat dengan suaminya itu. Ada rasa ingin menjauhinya, ketika sikap menakutkan itu terlihat begitu jelas di depan matanya.


"Apa yang ada di dalam koper-mu? aku akan membelikan sepuluh kali lipat." Bisiknya lagi, kini pria itu menyibakkan rambutnya ke samping. Mengendus tengkuknya dan leher jenjangnya.


"Bagaimana caranya aku menolaknya, aku benar-benar frustasi menghadapinya! aku tidak ingin melakukan hubungan intim dengannya sekarang. Tidak ingin!" Jerit Irna dalam hatinya.


Fredian menyadari perubahan sikap istrinya, Irna memejamkan matanya rapat-rapat sekarang. Tubuhnya mengginggil dalam pelukannya.


"Kamu sakit?" Fredian menempelkan pipinya ke pipi Irna. Memeriksa suhu tubuhnya, tubuh Irna terasa dingin.


Irna melepaskan pelukan Fredian dari pinggangnya, gadis itu meraih gagang pintu. Memutarnya dan melangkah keluar dari dalam ruangan tersebut. Dia sedikit berlari sambil menggigit bibirnya.


Irna menyusuri lorong hotelnya dan saat tiba di sebuah belokan dia berhenti mendadak. Secepat kilat Fredian sudah berada di sudut dinding, pada belokan lorong. Pria itu bersandar di dinding seraya menghembuskan asap rokoknya ke udara.


"Kamu ingin kabur, aku tahu kamu ingin kabur dariku!" Berdiri menghadangnya di tengah lorong. Irna mengangkat tangannya, dia hendak kabur dengan cara menjentikkan jarinya. Tapi Fredian malah menarik lengannya dan melemparkannya ke dinding. "Brrraaakkk! akkh! perutku!" Desis Irna sambil meringis menahan nyeri, perutnya benar-benar terasa sakit.


"Kamu berpura-pura!" Fredian berjongkok di sisinya tanpa ingin menolongnya. Pria itu kemudian berdiri dan melangkah pergi dari sisinya. Hilang dalam pandangan matanya.


"Fred! kamu mengerikan!" Irna terhuyung-huyung berusaha bangkit berdiri. Darah segar merembes turun ke betisnya. Satu jentikan jarinya, membuat darahnya berhenti mengalir.


Kemudian gadis itu kembali ke dalam kamar yang ada di hotel tempatnya menginap sebelumnya, Irna menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Tatapan matanya masih teringat jelas bagaimana Fredian melemparkan tubuhnya ke dinding.


"Dia benar-benar marah sekarang, benar-benar marah padaku." Bisiknya lirih pada dirinya sendiri.


Irna meremas perutnya, "Maafkan aku tidak bisa menyelamatkan nyawamu!" Air matanya merembes membasahi kedua pipinya, hatinya begitu sedih. Usia kandungan Irna sudah dua bulan. Dan mungkin Fredian sudah lupa kalau dia sedang hamil saat itu.


"Aku tidak ingin menemuinya, Fredian benar-benar menakutkan sekarang. Aku seperti budaknya! aku harus mau memenuhi keinginannya! jika tidak dia akan terus memaksa!" Gerutunya seraya memukuli bantal di samping kiri-kanan wajahnya.

__ADS_1


Irna menelungkupkan wajahnya di atas bantalnya. Dan pukulan tangannya yang kesekian kalinya, tertahan. Seseorang memegangi pergelangan tangan kanannya, dia sudah menopang kepalanya tidur di sebelahnya. Pria itu tersenyum menatap wajah Irna.


"Pria gila! aku membencimu! Buk! buk! buk!" Irna memukulinya dengan bantal dia benar-benar kesal sekali, pria yang baru saja dia bicarakan sudah tidur di sebelahnya.


"Kamu hamil? kenapa kamu tidak mengatakan padaku?" Masih menggenggamnya erat pergelangan tangan Irna.


"Untuk apa? supaya kamu bisa menjadikanku sebagai tahanan?" Gerutu Irna lagi, mencoba melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan tangan kanannya.


"Akkkh! bruuuk!" Fredian menariknya hingga terbaring terlentang di bawah himpitan tubuhnya.


"Fred perutku masih sakit!" Jeritnya ketika Fredian hendak mencium bibirnya.


"Apakah vampir akan terluka lebih dari sepuluh menit?" Tanyanya penuh nada sindiran. Pria itu tahu, Irna berbohong untuk menghindarinya.


"Aku yang merasakan lukanya! kenapa kamu yang berkeras menyatakan bahwa aku sudah sembuh?!" Teriaknya saat pria itu menarik tali gaunnya dan mencampakkan ke lantai.


"Pria gila! pria brengsek! menyebalkan! aku benci kamu!" Umpatnya pada Fredian, pria itu sudah berpacu di atas tubuh mulusnya sambil memagut dua bola kenyal dadanya. Kedua lengannya menahan dua paha Irna, membukanya lebar-lebar.


"Akkkhhh! akkkhhh! mmmhhhh!"


"Fred! akkkhhh.. mmhhh.. akkhhhh! jangan tarik... akkkhh!" Pekik Irna karena Fredian mencubit benjolan kecil di belahan sensitif miliknya.


"Ahhhkk akkkhh auuuwhhh!" Gadis itu terus memekik meremas-remas lengan Fredian. Fredian tersenyum puas melihat wajah Irna yang sudah menikmati permainannya.


"Apa kamu pikir bisa membodohi-ku? apa begini wajah yang kamu bilang kesakitan itu?" Menarik ujung hidungnya dengan gemas sampai berwarna merah.


"Berhenti menyentuh! kamu sudah selesai kenapa tidak segera menyingkirkan tanganmu???!" Keluhnya sambil memukuli dadanya dengan kedua tangannya.


"Karena kamu manis sekali, manis sekali istriku!" Bisik Fredian di telinga Irna.


"Akkhhhh.. ampunn.. ampuuuni.. ampuni aku.. akkhh.. emmhhh.. akkhh.. auuhh.. akkhhh!" Fredian menghujamkan miliknya ke area terlarang itu lagi. Menusuk-nusuk area sensitifnya dengan hentakan-hentakan lembut.

__ADS_1


"Fred... Akkkkhhh.." Irna merintih meremas-remas punggung Fredian.


"Aku menginginkanmu.. Irna.. akkkhhh.. akkkhh!" Desisnya di sela-sela permainannya.


Pria itu kembali memagut lembut bibirnya. Sekitar pukul tiga pagi Fredian mengakhiri permainannya, dari belakang punggung Irna.


"Fred..." Panggilnya seraya memutar tubuhnya menghadap ke arahnya. Irna menyembunyikan wajahnya ke dalam rengkuhan kedua lengannya.


"Kenapa?" Tanyanya pada Irna, pria itu memeluknya erat sekali. Dia tidak mau melepaskan dirinya.


"Kenapa kamu menyusulku kemari? pasti pekerjaanmu akan terbengkalai di London." Bisiknya takut-takut, dia takut sekali pria itu tersinggung.


"Aku sudah menyerahkan pskerjaanku pada Nira. Kenapa? apa kamu tidak senang melihatku di sini? apa karena kamu ingin memamerkan tubuhmu di depan Derent?!" Sindirnya dengan kata-kata pedas.


"Apa maksudmu? gaunku itu memang modelnya seperti itu! siapa yang memamerkan tubuh? apa kamu pikir aku wanita yang kesepian?! melayanimu saja sudah membuatku hampir mati kelelahan!" Gerutunya sambil menggigit dada atletisnya.


"Akkkhhh! Irna! kamu menggigitku??!" Teriaknya pada Irna. Tapi dia malah mengelus kepala gadis itu, tidak menjauhkan dari dadanya.


"Gigitanmu barusan membuatku ingin melakukannya lagi." Bisiknya di telinga Irna, membuat Irna buru-buru melepaskan gigitannya.


"Fredian, aku lelah. Besok malam saja kita lanjutkan lagi. Hem?" Memasang wajah memelas, mencoba merayu suaminya.


"Sekarang, pelan-pelan saja." Bisiknya di telinga Irna. Mendengar itu Irna meremas jemarinya sendiri.


Fredian mengangkat satu kaki mulusnya, memulainya dengan tusukan bertubi-tubi, ritme yang sangat lembut. Irna memukul-mukul kepala Fredian dia kesal sekali.


"Akkh! akh.. akhhh.. akkhh.. Fred.. mmmhhh.. ahhhh.." Desisnya setelah larut dalam permainannya beberapa menit kemudian.


"Fred.. nngghhhh.. ngghhhh.. mmhhh.." Fredian menciumi lehernya, masih mengayun ke depan dan belakang. Mengangkat satu kaki mulusnya dengan lengan kanannya.


"Aoowwhhhh.. uuuhhhh... akhhh... mmmhh.." Irna sangat menikmatinya, dia merangkul leher suaminya dengan kedua tangannya. Membiarkannya terus menerus menghentak-hentakan pinggulnya ke depan.

__ADS_1


*Bersambung...


Tinggalkan like sebelum pergi+vote juga ya? terima kasih Readers*...


__ADS_2