Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Romantic love


__ADS_3

Irna keluar dari dalam ruangannya, Aldy keluar dari ruangan ICU memeriksa pasiennya, dia adalah salah satu dokter muda fellow di rumah sakit Aditama.


Kebetulan Irna sedang melintas di depan ruangan tersebut, menuju ke lobi rumah sakit.


"Ah, dokter Kaila!" Panggilnya pada Irna ketika dia melintas di depan dokter muda tersebut.


"Kamu memanggilku?" Irna menghentikan langkahnya, dia sedikit terkejut pria yang selalu cuek dengan kanan kirinya, tiba-tiba memanggilnya di pagi buta.


Aldy sosok dokter muda elegan, tampan, genius, dan kompeten. Dan celakanya Nira merajuk padanya, gadis itu sengaja mengganggunya ketika dia menggantikan posisi Irna di rumah sakit.


Pria itu sangat terkejut melihat perubahan sikap Irna, istri dari Presdirnya menggodanya dengan terang-terangan. Biasanya Kaila yang dikenalnya tidak pernah menoleh sedikitpun kepadanya.


Bertanya, ataupun menegur, apalagi menyapanya sekedar untuk basa-basi. Tidak pernah sama sekali.


"Iya saya memanggil anda, bisakah kita bicara dua puluh menit?" Meminta waktu Irna sebentar. Melihat Irna berdiri mematung di tempatnya, pria itu melangkah mendekat ke arahnya.


Lalu menghenyakkan tubuhnya di kursi sebelah kanan Irna. Irna menoleh menatapnya, gadis itu masih berdiri.


Aldy menepuk bangku di sebelahnya, memintanya duduk di sana. Irna duduk tapi tidak di sana, berjarak satu kursi dari kursi Aldy.


"Kenapa? sekarang kamu takut denganku?" Tanyanya sambil menopang dagunya berpaling menatap wajah Irna di sebelahnya.


Irna hanya bisa meringis, menjawab pertanyaan tersebut.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan fellow ini? kenapa sikapnya mendadak berubah total?!" Gumam Irna dalam hatinya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Irna melirik jam di pergelangan tangannya, dia takut Fredian merajuk karena terlalu lama menunggunya.


"Kenapa buru-buru sekali? Kemarin selalu menempel padaku, sekarang menjauhiku. Apa dokter sudah bosan dan menganggapku sebagai mainan?" Pertanyaan Aldy membuat Irna menepuk jidatnya.


"Nira! Nira!" Gumamnya sambil menahan gelak tawanya. "Ah, besok aku akan membawa seseorang untuk aku perkenalkan padamu. Dia sama persis sepertiku, dia suka mengunyah permen karet." Ujarnya seraya berdiri, kemudian melambaikan tangannya.


"Apa maksudnya? dokter tunggu aku!" Aldy mengejarnya sampai di parkiran mobil. Pria itu meraih tangannya. Irna benar-benar tidak percaya dengan perlakuan Aldy padanya.


"Kemana perginya pria sopan dan cuek yang kemarin!?" Kemelut seratus pertanyaan menari-nari di dalam benak gadis itu.


"Aku tidak menyukainya, aku tahu itu bukan kamu. Aku menyukaimu!" Bagai tersambar petir di pagi buta Irna segera menyentakkan genggaman tangan Aldy dari pergelangan tangannya.


"Hentikan celoteh konyolmu! aku masih waras, untuk apa aku menyelingkuhi suamiku! bagiku Rian Aditama sudah sangat tampan dan kompeten lebih dari siapapun!" Ujarnya tanpa titik koma.


"Tapi di...." Aldy belum menyelesaikan ucapannya Irna segera menyahut lagi, "Tapi apa? di apa? di ranjang dia juga sangat kuat bertahan sampai lima sampai tujuh jam!" Irna kelepasan bicara, gadis itu berkacak pinggang menahan amarahnya.


"Itu!" Aldy menunjuk belakang punggungnya.


"Apa? itu? itu! awas kamu bicara ngelantur!" Ujarnya lagi masih berapi-api.


Aldy segera pergi meninggalkan Irna setengah berlari menuju ke dalam rumah sakit kembali. Dan saat Irna berbalik Rian sudah berdiri di belakang punggungnya bersandar santai sambil menahan senyum.


Wajah Irna mendadak pucat, "Semoga dia tidak mendengar ucapanku tadi, astaga! memalukan sekali!" Gumamnya sambil melewatinya pura-pura tidak melihat keberadaan Rian di sana.


"Hei, mau kemana? coba berikan sepatah kata penjelasan padaku, siapa yang lima sampai tujuh jam bertahan di atas ranjangmu?!" Bertanya langsung tanpa ba bi bu. Karena dia tidak merasa pernah bertahan selama itu kurang lebih tiga empat jam.


"Itu aku sengaja merangkumnya, total dari satu minggu sampai dua minggu." Ujarnya seraya menggaruk kepalanya.


"Apa itu merangkum jawaban dari dua Minggu? hahaha! jangan bohong padaku!" Berkacak pinggang menatap tajam ke arah Irna.


"Aku serius! memangnya aku pernah tidur dengan siapa selain kamu dan Fredian!" Bisiknya di telinga Rian takut ada yang mencuri dengar.


"Aku pulang dulu, dahh!" Irna menepuk bahunya kemudian pergi meninggalkan pria itu menuju mobilnya.


"Hari ini kamu kembali jam berapa?" Tanyanya dari kejauhan.


"Mungkin sekitar pukul dua siang." Melangkah mundur menatap Rian dari kejauhan.


"Aku akan menjemputmu!" Tersenyum melambaikan tangannya.


"Oke!" Irna berbalik dan membuka pintu mobilnya, kemudian melaju pergi.


Rian masih berdiri di sisi mobilnya menatap kepergian mantan istrinya itu, dia merasa bahagia setiap hari selalu mendengar kelakar dari gadis itu. "Cinta sebelah tangan sampai akhir." Gumamnya seraya masuk ke dalam mobilnya sendiri.

__ADS_1


Irna melakukan mobilnya menuju Resort Fredian, saat dia masuk ke dalam ruangan kerjanya waktu sudah pukul setengah lima pagi.


Dia mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Irna melepaskan sepatunya juga jas putih miliknya. Kemudian mengganti bajunya dengan gaun tidur. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


"Lelah sekali.." Desahnya, kemudian terlelap.


Fredian keluar dari dalam kamar mandi, rambutnya masih basah, pria itu merundukkan badannya di atas wajah istrinya. Tetesan air dari rambutnya jatuh membasahinya wajah Irna.


"Fred..." Merangkul leher Fredian sambil mencium bibirnya dengan lembut. Fredian tidak mau menunggu lagi, jemari tangan kanannya menyelinap ke dalam bawah gaunnya. Bermain di belahan antara kedua pahanya. Membuat wajah Irna menengadah seraya menggigit bibirnya, karena perubahan suhu tubuhnya semakin memuncak.


Irna mengejang, meremas bahunya. "Akkkkhhhh, mmmhhh..." Irna menggigit bibir tipis suaminya, ciuman Fredian turun ke bawah menjelajahi leher jenjangnya, menarik tali gaunnya melemparkan ke lantai.


Jemari tangan kanannya hinggap pada bongkahan yang mencuat menunggu permainan lidahnya, meremasnya lembut. Gadis itu semakin pasrah membuka kedua kakinya lebar-lebar, karena sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.


"Fred..." Desahnya parau ketika bibir pria itu menggigit daging kecil di sela-sela pahanya memainkan dengan ujung lidahnya. Irna semakin membenamkan kepala Fredian ke dalam.


"Aku tidak tahan lagi, akhhhh.." Pekiknya seraya menghempaskan tubuh Fredian ke samping tubuhnya. Mengambil alih posisinya, bermain liar di atas tubuh suaminya.


Setengah jam kemudian tubuhnya lemas jatuh menimpa tubuh Fredian. "Kamu sudah selesai? aku bahkan belum memulainya." Memainkan ujung lidahnya pada daun telinga Irna, sambil memainkan ujung jari tengahnya di sela-sela paha mulusnya yang sudah basah kuyup hingga menimbulkan suara berdecak.


"Fred! geli sekali... akhhh..." Fredian tidak mau berhenti bermain dia terus memainkan jemarinya hingga membuat Irna mengejang, meraih klimaks untuk yang kedua kalinya.


Setelah puas bermain-main dia mengangkat sebelah kaki mulus istrinya, mengayuh dari belakang punggungnya dengan ritme semakin lama semakin cepat. Tubuh Irna tersentak-sentak dengan nafas tersengal-sengal. Bunyi ranjang berdecit menambah irama permainan mereka berdua.


"Fred, aku lelah sekali..."


"Baru dua jam... aku ingin lima jam..."


"Kamu ingin aku mati?"


"Mana mungkin? kalau kamu mati aku tidak punya teman bermain." Masih melaju di belakang punggungnya, beralih posisi. Irna meremas tepi tempat tidur di depannya menahan hujaman kuat dan cepat. Fredian bermain seraya meremas bongkahan yang menggantung berayun kesana-kemari karena ritme yang dibuatnya.


"Irna, kenapa aku tidak pernah bosan dengan situasi ini..." Desahnya sambil mempercepat lagi.


"Kalau kamu bosan, apa kamu akan membuangku! Duakkk!" Memukul kepala Fredian yang sedang menciumi bahu kanannya. "Akkhhhhh!" Pekiknya karena Fredian menggigit tengkuknya, balasan dari pukulannya.


"Kamu dengan sengaja membuatnya menjadi empat jam. Bagaimana aku bisa berjalan di lorong rumah sakit? Dan aku harus melakukan operasi lagi, akkkkkhhhh ....mmmhh" Fredian menggigit lehernya membuat bekas kemerahan.


"Akkkhhh... Irna..." Fredian menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Irna. Done! Permainan berakhir selama lima jam.


Irna mengatur nafasnya, "Hah hah hah! aku rasa kakiku gemetaran!" Ujarnya seraya menepuk punggung suaminya.


"Aku ingin lagi... " Kembali berbisik di telinga Irna. Dan benar saja Irna merasakan milik suaminya sudah mengeras, bahkan masih belum keluar dari sarangnya.


"Kamu benar-benar akan membunuhku... akkkkhhhh!" Teriakan Irna tertelan permainan Fredian, "Kamu over dosis.. aku tidak tahu bagaimana kamu bisa menahannya saat kita berpisah bertahun-tahun lalu." Merangkak turun dari tempat tidurnya seraya memegangi pinggulnya, terasa copot seluruh tulang belulangnya.


.


"Aku menahannya sudah bertahun-tahun, jadi aku menebusnya sekarang." Menyeringai lebar mendahului Irna melangkah menuju kamar mandi.


"Dasar pria gila!" Gerutu Irna sambil menggigit bibirnya merasa benar-benar remuk badannya.


Jam sebelas pagi, Fredian sudah memakai shirt lengan panjang juga jasnya. Pria itu mengangkat tubuh Irna sambil terus menciumi pipinya, gadis itu sedang memakaikan dasi padanya.


Irna benar-benar merasa kehilangan tulang kakinya, tapi Fredian masih bisa mengangkat tubuhnya tanpa gemetar sama sekali.


"Fred..."


"Hem.."


"Muuaach!" Mencium pipi suaminya.


"Cup!" Mencium bibir Irna.


"Kamu ingin lagi?" Kelakar Fredian membuat Irna menggembungkan pipinya karena kesal.


"Kamu akan meeting hari ini?" Tanyanya ketika Fredian menurunkan tubuhnya. Pria itu hanya tersenyum sambil mengusap kedua pipinya. "Berdandanlah, ayo sarapan bersama." Bisiknya seraya mengusap kepalanya.


Irna menganggukkan kepalanya lalu mengganti baju mandi dengan selembar gaun warna kuning cerah, kemudian memoles sedikit wajahnya. Fredian mengambil sepasang anting mode dua helai rantai, sepanjang sepuluh sentimeter. Ada satu bola berlian menggantung pada salah satu rantai setiap buahnya.

__ADS_1


Fredian memakaikan anting tersebut pada daun telinganya, selanjutnya mengambil seuntai kalung berlian, Irna mengangkat rambutnya saat Fredian memakaikan kalung tersebut pada lehernya.


"Istriku sangat cantik sekali!" Tersenyum menatapnya pada pantulan cermin di depan mereka berdua.


Fredian membantu memakaikan sepatu high heelsnya, gelang kaki berlian masih bertengger di sana Fredian mencium telapak kaki Irna sebum memakaikan high heelsnya. Kemudian meletakkan tangan kanannya pada lengannya. Dia meraih bahunya saat Irna sedikit terhuyung karena kakinya masih gemetar.


Fredian tersenyum melihat Irna menggigit bibir bawahnya ketika terhuyung, dia selalu gemas menatap bibir mungil dan tipis istrinya itu.


"Akh! akh! awhh!" Pekiknya kembali terhuyung-huyung saat berjalan menuju restoran Resort. Fredian menangkap pinggangnya, menahannya agar tidak jatuh. Begitu romantis suasana pagi itu. Seluruh karyawan menatap sambil menelan ludahnya sendiri melihat kemesraan mereka berdua.


Fredian segera mengangkat tubuhnya, membawanya menuju ke restoran, hatinya tidak kuasa melihat Irna berkali-kali terhuyung-huyung dan hampir terjatuh.


"Ini gara-gara kamuuuuu!" Memukuli lengan suaminya dengan gemas cemberut lalu kembali berpegangan erat pada lehernya karena Fredian pura-pura hampir terjungkal.


"Wahhhh, benar-benar iri..." Ucap Dela resepsionis hotel, seraya nimbrung menonton drama pagi romantis mereka berdua.


"Dokter Kaila begitu cantik, dua Presdir tergila-gila padanya... " Ujar salah seorang yang sedang membawa baki di kedua tangannya.


"Kapan gue bakal nikah!!!!" Cemberut kesal jiwa jomblo meronta-ronta, seraya menggigit ujung kuku ibu jarinya.


Seorang sedang membawa berkas menabrak pagar pembatas taman, terjungkal ke selokan, "Braakkk! Byuuur!" Karena menatap Fredian mencium bibir Irna di depan pintu restoran.


"Seperti sedang berbulan madu," Bisik Maya yang ikut nimbrung sejak awal mereka keluar dari dalam ruangan Presdir.


"Nonton apaan sih? pada ribut? siapa yang masang layar tancap di era semodern ini sih? huuuup puk!" Meniup permen karet mencetuskan di pipi Maya. Dengan gemas Maya mencekal dagu Nira memutarnya hingga menghadap ke arah restoran.


Pasangan romantis Irna dan Fredian masih berpagutan mesra, dalam waktu sepuluh menit berjalan menuju lima belas menit.


"Astaga para orang tua yang sudah lupa usia!!!!" Celetuk Nira masih sibuk mengunyah permen karetnya.


"Apa katamu?" Tanya Maya bingung.


"Lupakan saja," Nyengir meraih berkas di pelukan Maya membawanya ke sofa lobi.


Maya mengikutinya, untuk menjelaskan isi berkas tersebut.


Fredian melepaskan ciuman bibirnya, masih menatap lekat-lekat wajah Irna dalam gendongannya membawanya masuk ke dalam restoran.


Mereka menikmati sarapan pagi bersama, beberapa kali Fredian mengusap sudut bibir Irna dengan jemari tangannya. Dan ini ke dua puluh kalinya jemari tangannya hinggap di bibir tipisnya.


"Tidak ada makanan belepotan di sini! kenapa kamu sibuk mengusapnya berkali-kali! Jrakk!" Menusukkan garpunya dengan gemas pada makanan di atas piringnya.


"Itu terlalu lembut, dan membuatku penasaran!"


"Mereka bahkan berpikir aku tidak becus mengunyah makanan!" Gerutu Irna seraya menyumpal bibir Fredian dengan makanan menggunakan garpu di tangannya.


"Kamu membuatku sulit mengunyah.. hmmm!" Irna kembali menyuapinya.


"Karena aku sangat sayang pada suamiku, jadi aku tidak akan pernah membiarkannya kelaparan." Ujarnya sambil meringis merasa senang bisa membalas Fredian.


"Kamu membuatku kekenyangan." Memegangi perutnya sambil meluruskan punggungnya.


"Aku harus meeting setelah ini, ahh Irna.." Gumamnya sambil meraih gelas di atas meja.


"Aku bisa memberikan suntikan pencahar untuk mengeluarkan isi perutmu, kurang dari lima menit." Bisik Irna di depan wajah Fredian sambil menahan tawanya.


"Kenapa kamu tega sekali?" Memegangi perutnya sambil membenamkan wajahnya di atas meja.


"Fredian! kamu serius kesakitan? padahal aku hanya menyuapimu empat sendok makan!" Segera berdiri memeriksa perut Fredian.


Fredian menahan tawanya lalu menariknya ke atas pangkuannya. "Aku cuma bercanda! Ctaak!" Menjentikkan jarinya di kening Irna.


"Akkh!" Irna memekik mengusap keningnya.


Karin sudah berdiri menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Menatap Irna tertawa-tawa di atas pangkuan Fredian. Gadis itu bergelayut mesra meraih leher Fredian dengan kedua tangannya. Fredian berulang kali mendaratkan ciumannya di pipi Irna, seolah enggan mengangkat ujung hidungnya dari pipi gadis itu.


Karin menatap mereka berdua dengan amarah berkobar-kobar, dadanya benar-benar terasa terbakar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2