Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Vampire is funny


__ADS_3

Kania tersenyum melihat wajah merajuk di depannya. "Apakah aku perlu membelikan obat anti nyeri untukmu?" Tawarnya pada Royd.


Kania masih duduk di tepi tempat tidurnya mengemasi obat-obatan yang tadi ia gunakan untuk mengobati luka pria di sampingnya itu. Royd masih diam seribu bahasa tidak mau mengucapkan sepatah katapun padanya.


Melihatnya seperti itu, gadis itu tahu bahwa pria itu tidak ingin bicara dengannya sekarang. Kania beranjak berdiri, gadis itu melangkah pergi keluar dari dalam kamarnya, meninggalkan Royd seorang diri.


Kania pergi ke sebuah apotek yang terletak tak jauh dari lokasi apartemen miliknya, membeli beberapa obat untuk dosennya itu. Dan ketika berada di depan pintu kamar Royd Kania mendengar suara Eva dan Tari yang berasal dari dalam kamarnya.


Kania memberanikan diri untuk membuka pintu apartemennya, dan gadis itu sedikit terkejut melihat pemandangan yang sama sekali tidak pantas untuk dilihatnya itu.


Royd Carney tersenyum di pelukan kedua wanita dengan pakaian tidak layak sama sekali. Kania tersenyum tipis kemudian meletakkan obat tersebut di atas meja.


Bagi Kania, sudah merupakan tanggung jawabnya untuk merawat pria itu. Karena dia terluka akibat bangsa vampir, dan juga akibat mencari dirinya.


"Hari ini, semuanya sudah lunas!" Ucapnya seraya tersenyum sebelum meninggalkan mereka bertiga.


Royd merasa tercekat, nafasnya terasa sesak sekali. Bukan itu yang dia inginkan! dia ingin melihat Kania marah dan cemburu atas tindakannya itu, bukan malah pergi dengan santai seraya mengucapkan kata selamat tinggal!!!


Lagi-lagi dia terjebak dalam kesulitan karena ulahnya sendiri. Dia juga tidak melihat wajah kesal terukir pada wajah Kania. Hatinya benar-benar hancur terkoyak-koyak.


"Kalian pergilah!" Perintahnya pada kedua wanita itu, Tari dan Eva kemudian keluar dari dalam apartemen miliknya.


Mereka berdua melihat Kania masih berdiri di depan kamarnya sendiri menikmati sekaleng minuman ringan. Gadis itu tersenyum melihat kepergian mereka berdua.


"Apa yang sebenarnya ingin kamu tunjukkan padaku Royd Carney?!" Gumamnya sambil tak henti-hentinya tersenyum.


Jika menuruti amarahnya pasti sudah sangat memalukan, merajuk lagi seperti kemarin saat pria itu menghentikan aksinya! memintanya melanjutkan cumbuannya! sungguh sangat memalukan. Bahkan Kania tidak bisa mendongakkan kepalanya saat melihat wajah dosennya itu kemarin.


Dia tidak ingin mengulanginya, berada dalam pelukannya, sama saja membawa pria itu masuk perlahan-lahan ke dalam neraka. Neraka yang akan membuatnya hancur dan terluka, karena cinta yang mustahil dapat mereka raih karena perbedaan keduanya.


Kania merasakan pria itu, pria yang dia pikirkan sekarang tengah berdiri di belakang punggungnya. Royd Carney dengan pasrah menyandarkan kepalanya di belakang punggungnya seraya memeluk pinggangnya dengan kedua lengannya.


Kania sendiri diam mematung di tempatnya, gadis itu tidak bisa berkata-kata lagi. Tidak ada lagi yang perlu dia jelaskan padanya.


"Kenapa kamu membiarkanku berada di tengah-tengah wanita lain? apakah kamu tidak sakit hati sama sekali padaku? aku telah melakukan hal sejauh itu denganmu. Dan mungkin itu adalah pertama kalinya bagimu." Ucapan Royd membuat Kania terpaksa meremas kaleng minuman miliknya dengan sangat geram.


"Kenapa kembali mengungkitnya! aku ingin melupakannya, kita anggap itu tidak pernah terjadi di antara kita berdua." Masih berusaha menahan amarahnya menghadapi pria yang terus menerus menempel padanya saat ini.


"Kania.. aku juga pertama kalinya melakukan itu pada seorang gadis, dan itu juga pertama kalinya bagiku." Merajuk mengusapkan kepalanya di punggung Kania seperti anak kecil.


"Hah! kamu selihai itu, kamu bilang itu pengalaman pertamamu? dasar sialan! kamu pikir aku akan mempercayainya??" Sergahnya seraya melepaskan tangan Royd dari pinggangnya.


"Aku benar-benar tidak pernah melakukannya dengan gadis lain." Ucapnya lagi, sambil memegang tangan Kania.


"Lalu apa hubungannya denganku!? pak dosen?" Kania menatap tajam ke arahnya.


"Aku tahu aku tidak pantas untuk berada di sisimu, aku juga tahu aku akan terluka setiap waktu, jika memaksa berada di sisimu. Tapi aku bahagia, bahkan jika aku mati sekalipun." Kedua mata pria itu mulai berkaca-kaca. Air matanya meleleh begitu saja. Kania baru kali ini melihat wajah penuh rasa putus asa terukir jelas pada wajah seorang raja pemburu.


"Sudah hampir senja, aku masuk dulu ke kamarku. Kamu beristirahatlah pak dosen." Menepuk bahunya kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya, tanpa menjawab pernyataan dari Royd.


Di sisi lain..


Setelah melakukan meeting dengan klien dari Perancis, Fredian kembali menuju Resort untuk menyerahkan berkasnya pada Nira. Gadis itu tersenyum melihat kedatangan kakeknya.


"Kek, Oma kemana?" Tanyanya karena biasanya mereka berdua selalu lengket bersama-sama.


"Di rumah, dia cuti hari ini." Sahutnya pendek seraya membuka kertas laporan di atas meja resepsionis. Yang kemudian diberikan kepada Nira.


"Aku harus segera kembali, Irna pasti sudah lama menungguku." Pamitnya pada cucunya itu.


Fredian mengendarai mobilnya menuju kediamannya, dia melihat banyak kabut menyelubungi rumahnya. "Apa yang terjadi?" Bisiknya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Irna? Irna?" Panggilnya saat melangkah masuk ke dalam rumah. Dia merasa sangat bersyukur karena tidak terjadi apa-apa pada istrinya.


Irna sedang tergolek nyaman di sofa ruang tengah, ada sebuah cangkir di atas meja berisi kopi yang sudah dingin.


.


Fredian menghenyakkan tubuhnya di tepi sofa. Irna mencium aroma parfum Fredian perlahan-lahan membuka kedua matanya.


"Kamu kapan pulang Fred?" Tanyanya pada suaminya itu. Dia masih menguap menahan rasa kantuknya.


"Aku baru saja datang. Kamu belum makan sejak siang? kenapa tidak meminta pelayan menyiapkan makanan?" Tanyanya pada Irna.


"Aku lelah sekali, aku masih kenyang dan ingin tidur saja." Bisiknya kembali menyatukan kelopak matanya kemudian tertidur. Fredian tersenyum melihat wajah Irna terlelap pulas. Dia mengangkat tubuhnya membawanya ke dalam kamar, kemudian menyelimutinya.


Fredian menyiapkan segelas susu hangat di samping tempat tidurnya. Pria itu sudah selesai mandi, memakai baju santai kaos lengan pendek dan celana sepanjang lutut.


"Irna? bangunlah, minum susunya." Mendengar suara Fredian Irna membuka matanya, Fredian memegang gelasnya agar Irna mau meminumnya segera. Irna menurutinya, gadis itu segera menghabiskannya.


"Aku ingin mandi Fred." Berusaha bangkit dari tempat tidurnya, tulang selangkanya masih terasa nyeri.


Tapi tidak menahan niatnya untuk membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.


Irna sudah selesai mandi, dia tidak mendapati Fredian di dalam kamarnya. Gadis itu tahu mungkin suaminya sedang memeriksa berkasnya di ruang baca, seperti biasanya.


Irna masih memakai baju mandi, dia melangkah menuju ruang tengah, masih terlihat kabut tebal di luar kaca jendela rumahnya.


Irna tidak tahu siapa yang akan datang kali ini ke kediaman mereka berdua. "Kamu kedatangan seseorang pagi ini?" Tanya Fredian padanya, pria itu membawa selembar surat kabar di tangannya, kemudian duduk di kursi ruang tengah tersebut.


"Iya Aldy pagi ini ke rumah, salah satu dokter rumah sakit Aditama." Ujarnya pada Fredian.


"Apa ada masalah?" Tanya Irna pada suaminya.


"Kakiku masih terasa nyeri Fred, jika terpaksa bertempur malam ini. Aku menyerah saja, ini juga bukan salahku!" Gerutunya sengaja melempar kesalahan pada Fredian.


"Ya, aku yang akan berdiri di depan, kamu tidur saja malam ini." Tersenyum melihat wajah Irna yang terlihat begitu malas.


Irna benar-benar kelelahan karena dikerjai Fredian habis-habisan. Dan sekarang tiba-tiba akan datang tamu di kediaman mereka malam itu.


Sekitar pukul delapan malam Fredian melihat mobil Rian datang ke rumah mereka berdua. Fredian segera membuka pintu untuknya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Fredian padanya, dia tidak mengerti kenapa Rian tiba-tiba datang mengunjunginya.


"Aku tadi pagi kehilangan satu dokterku, aku pikir dia masih berada di rumahmu." Jelasnya pada Irna dan Fredian. Irna terlihat malas-malasan masih berbaring di atas sofa. Dia malah menguap mendengar Rian kehilangan Aldy.


Melihat tingkah Irna seperti tidak peduli sama sekali, Rian tahu pasti Aldy telah membuatnya tidak nyaman pagi tadi.


Fredian melihat Rian terus menatap ke arah Irna, Fredian beralih juga menatap Irna. Melihat mereka berdua menatapnya dengan tatapan mata curiga, Irna segera melambaikan tangannya pada mereka berdua agar mendekat ke arahnya.


"Kalian cari saja dia di tengah hutan, tapi sepertinya sudah gelap sekarang. Aku malas sekali. Lain kali jangan menyuruh karyawan kemari, mereka tidak akan bisa pulang. Hutan di sekitar rumah ini bukan hutan biasa yang bisa diinjak atau dilalui oleh manusia." Jelasnya pada dua pria itu.


Fredian tahu memang hutan di sepanjang jalan menuju rumahnya adalah hutan angker yang bahkan tidak bisa dilalui oleh manusia, apalagi baru pertama kali pergi ke sana.


"Apakah dia masih hidup?" Tanya Rian lagi pada Irna.


Irna menggaruk keningnya kemudian berkata, "Lalat saja tidak sudi hinggap di wajahnya, apalagi menelannya." Jawabnya santai sambil kembali menelungkupkan wajahnya di sofa.


Rian menelan ludahnya sendiri mendengar ucapan Irna begitu sadis. Pasti Aldy sudah menyinggungnya hingga tidak bisa kembali ke rumah sakit.


Rian segera menelepon para pengawal yang sudah terlatih untuk menemukan keberadaan Aldy, dan benar saja setelah tiga jam berlalu Aldy di temukan pingsan di tengah hutan. Fredian dan Rian juga ikut serta pergi.


Pria itu bilang, dia diseret oleh hantu wanita yang hidungnya berdarah. Dia disuruh menguburkan jenazahnya dengan layak, karena selama ini mayatnya tergeletak begitu saja di tengah hutan dan bergentayangan. Tapi saat hantu itu begitu dekat dengannya dia keburu pingsan karena ketakutan.

__ADS_1


Fredian kembali menghubungi Alfred, untuk mengambil jenasah korban tersebut.


Irna yang sendirian di rumah, masih tergolek pulas di atas sofa ruang tengah.


"Braaakkkk!" Pintu ruang tengah tiba-tiba terhempas angin dan terbuka. Irna mengerjapkan matanya.


Benar saja, ada sekitar sepuluh vampir datang mengunjunginya. Mereka berdiri di luar pintu yang telah terbuka. Irna melihat kedatangan mereka segera beranjak bangun dari posisi tidurnya.


"Sialan! kenapa tepat saat aku sedang sendirian mereka datang tiba-tiba begini? semoga nyeri pada kakiku tidak menyulitkan diriku." Gumam Irna pada dirinya sendiri.


Gadis itu menjentikkan jari tangannya, merubah penampilannya seketika. Menunjukkan gaun merah darah, dari cincin pelepas jiwa. Gaun tersebut muncul perlahan membalut tubuh mulusnya. Dan juga cadarnya yang menutup sebagian wajahnya.


Irna melangkah keluar menemui mereka sepuluh vampir yang berasal dari negara Belanda.


Saat Irna keluar dari kediamannya, mereka seluruhnya berlutut di bawah kakinya. Irna sendiri terkejut setengah mati mendapat penyambutan tersebut.


"Bangunlah, ada apa kalian mencariku? apa mungkin kalian mencari orang lain? lalu salah alamat hingga nyasar kemari?!" Tanyanya tanpa basa-basi sama sekali karena kakinya tidak bisa berlama-lama berdiri.


"Nona Ratu, kami vampir dari negara Belanda, kami ingin meminta bantuan kepada Ratu. Surat ini ditulis oleh ratu kami." Ujarnya seraya menyerahkan surat pada Irna.


"Apa ini bisa diwakilkan?!" Tanya Irna pada mereka semua, berkali-kali dia merundukkan badannya memukuli kedua lututnya karena tidak bisa berdiri dengan tegak.


Spontan membuat mereka berkasak-kusuk saling bertukar pandang satu sama lain. Mereka mulai ragu jika mungkin mereka salah orang, karena Irna tidak menunjukkan wibawanya sama sekali.


"Jika wakil anda bisa menyelesaikan masalah kerajaan kami, kami rasa tidak ada masalah." Jawab salah seorang vampir salah satu dari mereka.


"Jika begitu kami undur diri dulu," Pamitnya pada Irna.


"Eh tunggu sebentar! kenapa kalian meminta bantuan dariku? dan darimana kalian tahu aku bisa membantu menyelesaikan masalah kerajaan kalian?!" Tanya Irna bertubi-tubi.


"Apa mereka pikir aku ini petugas yang mengatasi masalah kerajaan mereka? aku sudah libur dari rumah sakit seharian, dan banyak jadwal operasi yang menungguku! kenapa malah beralih profesi menjadi penyelesai masalah para vampir??!" Tanya Irna dalam hatinya.


"Nama anda begitu tersohor di kalangan kami, Ratu Vertose. Ratu penerus kerajaan Vertose pemilik bunga kristal es satu-satunya." Ujarnya seraya menaruh hormat kembali pada Irna.


"Apa kalian tahu, aku juga sangat sibuk? aku memiliki profesi sebagai dokter di rumah sakit mantan suamiku! aku harus bekerja dan melakukan operasi pada pasienku besok." Terangnya lagi pada sepuluh vampir tersebut.


Mereka semakin terperangah mendengar segala keluhannya.


"Jadi bagaimana ratu? apakah ratu menolak untuk membantu kerajaan kami?" Tanya mereka lagi.


"Apakah aku boleh menolaknya?" Tanyanya lagi, tubuhnya hampir terhuyung jatuh terjembab karena sudah tidak bisa berdiri lagi.


"Apakah anda sedang sakit Ratu?" Mereka segera membantu Irna berdiri, kemudian memapahnya masuk ke dalam rumah.


Irna baru kali itu, menemui vampir begitu ramah padanya. Biasanya ketika mereka datang Irna harus mengambil kuda-kuda dengan posisi siap memulai pertarungan. Kali ini sepertinya dia sangat beruntung karena seperti menemukan sebuah keluarga baru.


"Terima kasih, atas bantuan kalian. Aku memang sangat lelah hari ini. Walaupun aku vampir tapi aku tidak pernah meminum darah seperti kalian." Jelas Irna pada mereka semua.


"Kami tahu ratu, Ratu kami sudah menjelaskan semuanya segalanya tentang anda." Ujarnya pada Irna masih bersikap hormat.


Rian dan Fredian sudah tiba di rumah, mereka berdua turun dari dalam mobilnya. Dan ketika masuk ke dalam rumah dia melihat sepuluh vampir berdiri mengerubungi Irna.


Mereka serentak menoleh ke arah Fredian dan Rian. Hanya dengan sekali lihat mereka mengetahui bahwa Rian dan Fredian adalah dua pangeran.


Mereka segera berlutut di hadapan Rian dan Fredian memberikan hormat. Membuat Irna menggembungkan pipinya menahan tawanya.


Rian dan Fredian saling bertukar pandang satu sama lain, mereka berdua kemudian menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua bahunya.


*Bersambung...


Jangan lupa untuk memberikan like+ vote terima kasih*...

__ADS_1


__ADS_2