Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Keluarga Derrose


__ADS_3

"Aku harus pergi rapat siang ini, jika masih sakit aku akan menyuruh beberapa pelayan merawatmu di sini." Ujar Fredian menghentikan pijitan, berdiri kembali memakai baju formalnya.


"Tidak usah." Irna cemberut memeluk bantal tidurnya.


"Apa kamu mau merajuk lagi?" Tanya Fredian duduk di tepi tempat tidur.


"Sudahlah kamu lanjutkan pekerjaanmu, aku nanti akan kembali ke kantor." Tambah Irna tanpa melihat ke arahnya.


"Apa kamu ingin aku menemanimu sepanjang hari di sini?" Tawarnya lagi.


"Tidak perlu." Jawab gadis itu singkat.


Fredian mengusap rambut Irna, kemudian mencium keningnya. Keluar dari ruangan.


"Rin, apakah ada hal penting di kantor?" Irna menelepon Rini, masih dalam keadaan berbaring di atas tempat tidur.


"Ah, tidak ada Bu, tadi pagi pak Fredian mengirim beberapa orang kemari."


"Mereka yang menangani seluruh berkas dan klien dengan sangat baik hari ini. Bahkan saya seperti ratu hari ini Bu!" Ujar sekretaris Irna dengan penuh semangat.


"Fredian mengirim orang?! apa yang dikatakan olehnya padamu sebelumnya?!" Tanya Irna sedikit bingung.


"Beliau bilang, perusahaan kita akan jadi satu dengan perusahaannya. Jadi jika ada masalah apapun beliau juga akan ikut menanggung segalanya Bu." Jelasnya lagi pada Irna.


"Ya sudah nikmati saja harimu." Ujar Irna mengakhiri panggilan telepon.


Irna melangkah keluar dari kamar, Fredian tidak ada di ruangannya.


Di atas rak ada tiga lemari berjajar, meja rias juga telah ada di sana, entah sejak kapan semuanya di letakkan di sana.


Ada lima puluh pasang pakaian, lima puluh set gaun. Tiga set kosmetik dengan merk yang biasa dia gunakan. Lima puluh pasang sepatu, beberapa kotak perhiasan dan entah apa lagi.


"Dia bahkan menyiapkan segalanya untukku? aku merasa pindah rumah dadakan." Irna segera melangkah ke dalam kamar mandi.


Dia memilih satu gaun yang tidak terlalu mewah, sepatu high heels, dan merias wajahnya sebentar.


Gadis itu mencoba membuka kotak perhiasan, membuat dirinya sedikit terkejut ada selembar surat di dalam sana.


"Ini kusus kami kirimkan untukmu Irna, menantuku, pakailah baik-baik. Kami titipkan Fredian putra kami satu-satunya. Cinta kami selalu menyertai kalian..


Salam sayang dari kami Carlinda & Derrose."


Irna melihat tanggal yang tertera di sana, tanggal tersebut adalah saat awal dirinya berpisah dengan Fredian.


Irna melihat perhiasan di dalam kotak, perhiasan itu kecil dan cantik. Tidak besar seperti kebanyakan selera orang kalangan atas.


"Bahkan ibu mertuaku begitu perhatian denganku? mereka tahu apa yang aku sukai."


Bisik gadis itu sembari mengenakan sepasang anting, kemudian satu kalung membingkai cantik leher jenjangnya. Dan sepasang cincin di sana terukir namanya dan nama Fredian.

__ADS_1


Irna ingin memakainya tapi diurungkan niatnya, dia berharap Fredian yang akan memakaikan cincin tersebut padanya.


Setelah selesai berhias Irna mengenakan sepasang sepatu, kemudian mematut dirinya sendiri beberapa saat di depan cermin.


Irna tersenyum kemudian melangkah keluar ruangan Fredian. Beberapa pelayan berbaris di depan pintu mengucapkan salam serta hormat pada Irna.


"Selamat menikmati hari anda Nona Irna, semoga hari anda menyenangkan..." Ujar kepala pelayan di sana.


Fredian masih rapat dengan beberapa pemegang saham di sebuah ruangan, kebetulan dinding ruangan tersebut terbuat dari cermin satu sisi, dimana siapapun bisa melihat keluar ruangan dengan leluasa tanpa diketahui dari luar.


Fredian menatap seorang gadis yang lewat, tanpa sadar bibirnya tersenyum begitu cerah. Membuat seluruh orang di dalam rapat terkejut.


Bos yang terkenal dingin dan tidak bisa tersenyum itu tiba-tiba tersenyum begitu cerah.


Seolah-olah berubah menjadi sosok orang lain yang tidak pernah dilihat oleh seluruh orang dalam rapat.


Kemudian mereka melihat ke arah dimana Fredian memandang.


Irna melangkah santai melalui ruangan tersebut. Beberapa orang yang sedang rapat tiba-tiba menaruh perhatian pada gadis yang melintas di luar ruangan dengan takjub.


Gadis itu tidak lain adalah Irna Damayanti.


Gadis itu melenggang dengan sangat santai, dan membalas sapaan beberapa orang yang lewat di sekitarnya.


Wajah Irna ramah, manis dan juga, lembut.


"Iya, dia sangat cantik dan anggun." Sahut salah seorang lagi.


Mendadak ruang rapat Fredian teralihkan, topik pembicaraan berubah menjadi topik tentang Irna Damayanti.


Fredian dengan tidak sabar mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa gerah.


"Apa yang digunakan gadisku sehingga semua pria menatap ke arahnya, bahkan perhatian di dalam ruang rapatku direbut olehnya." Bisiknya dalam hati.


"Ehm! Ehm!" Fredian berdehem untuk menghentikan kasak kusuk di ruangan tersebut. Akan tetapi sepertinya tidak berhasil.


"Perhatian semuanya! bisakah kita lanjutkan rapatnya hari ini?" Tanyanya pada seluruh anggota rapat.


Semua orang mendadak diam kembali melihat tatapan serius Fredian.


Irna sampai di depan resepsionis, petugas tersebut menghentikannya.


"Ini titipan dari Presdir Bu, mohon diterima." Seorang gadis menyerahkan sebuah kunci mobil. Wajah resepsionis tersebut nampak sangat takut.


Irna tahu jika dia menolak, maka gadis yang bekerja itu akan dipecat.


Irna menyentuh bahu gadis itu.


"Aku akan menerima ini demi kamu, dan jangan menampilkan wajah takut seperti itu. Oke?" Irna tersenyum cerah pada karyawan tersebut.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum mendengar Irna berkata begitu, namun tiba-tiba menunduk kembali melihat seseorang berdiri di belakang punggung Irna.


Fredian memberi isyarat pada gadis itu agar kembali ke meja resepsionis.


"Kenapa kamu ketakutan lagi?" Ujar Irna tidak mengerti.


Gadis itu perlahan mundur ke belakang kembali menyelesaikan pekerjaannya.


Sebuah pelukan hangat dari belakang punggungnya. Melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan pria itu Irna tahu itu adalah Fredian.


Gadis itu membalikkan badannya berhadapan dengan Fredian.


"Bukankah kamu masih rapat? kenapa tiba-tiba berdiri di sini?" Tanya Irna tidak mengerti.


"Ah, itu tadi seorang gadis melintas di luar ruangan dan mengambil perhatian seluruh peserta rapat." Ujar Fredian pura-pura kesal.


Orang-orang yang berada di dalam rapat tadi sudah berkemas, dan mereka keluar satu persatu. Mereka melintasi lobi, dimana Fredian dan Irna berada di sana.


Mereka menyapa Irna satu persatu bahkan ingin mengambil foto selfie dengan Irna.


Jika Fredian tidak melotot kepada orang-orang tersebut, membuat mereka membatalkan niatnya.


Fredian tersenyum dingin menatap ke seluruh orang yang menyapa Irna. Dia bahkan memeluk pinggang Irna tanpa ingin melepaskannya.


"Apa yang kamu lakukan?" Bisik Irna di sela-sela senyuman membalas sapaan beberapa orang yang melintas.


"Aku tidak ingin calon istriku di curi orang lagi!" Ujarnya di telinga Irna.


"Apa maksudmu? kita kemarin hanya pura-pura untuk mengusir Ruina." Ujar Irna kembali.


"Tapi perhiasan di lehermu itu adalah sebuah tanda pengenal, kalau kamu adalah menantu dalam keluarga Derrose." Ujar Fredian seraya tersenyum melihat wajah terkejut Irna.


"Itu seperti tanda pengenal, hanya keluarga Derrose yang akan memakainya. Tiga set semuanya kusus di desain untuk keluarga kami. Dan ibuku kusus memberikan itu untuk menantu satu-satunya." Ujar Fredian membuat semburat merah menghias di kedua pipi gadis itu.


Irna kemudian hendak melepaskan perhiasan tersebut, sepertinya bagian pelepasnya menjadi lengket seperti sudah dilas jadi menyatu.


"Itu tidak akan pernah bisa lepas lagi." Ujar Fredian tersenyum melihat Irna kebingungan berusaha melepas kalungnya.


"Kok bisa? kenapa begini?! aku fikir ini tadi hanya perhiasan yang sederhana jadi aku memakainya karena menyukai modelnya yang cantik." Ujar Irna.


"Jika kamu ingin melepasnya kita harus pergi ke Jerman, karena itu sudah dikunci dengan sidik jari ibuku, ha ha ha kamu lucu sekali. Lihat wajahmu merah seperti tomat!" Fredian tertawa terpingkal-pingkal.


"Kenapa kamu tidak bilang?! sengaja sekali membuatku terkejut. Ah sudahlah aku akan pergi ke kantor!" Ujar Irna tiba-tiba.


"Oh kunci mobil ini, kamu memberikan mobil untukku? aku kan sudah punya mobil dan ada di kantorku sekarang."


"Bukan aku, tapi ibuku yang memberikan untukmu. Dia senang sekali dan ingin segera menggendong cucu!" Ujarnya menatap wajah Irna yang tiba-tiba terasa panas merah seperti udang rebus.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2