
"Bagaimana mungkin aku memberikan benda pusaka kami satu-satunya kepadamu??! Kau bisa saja menggunakan itu untuk menyakiti orang lain!" Memicingkan matanya menatap Irna penuh curiga.
"Bagaimana kamu bisa berpikir aku akan menyakiti orang lain??" Padahal Irna ingin mengambilnya karena dia tahu kelemahan ratu Holland.
Gadis itu tetap saja mengatakan ingin memiliki bunga itu, dia tidak mau menyerah! Irna terus meminta benda pusaka tersebut kepada Ratu Holland.
"Pengawal! Bawa bunga itu ke hadapan ratu Vertose!" Perintahnya pada pengawal kerajaan Holland.
Akhirnya para pengawal menuruti perintahnya dan segera mengambil bunga teratai biru tersebut untuk diserahkan kepada Irna.
Irna tersenyum mendapatkan bunga teratai biru, gadis itu segera menjentikkan jarinya, lalu muncul di tempat dimana Fredian dan Rian, juga ada Eroine berada.
Mereka bertiga terkejut melihat Irna tiba-tiba muncul di dalam ruangan.
Fredian membelalakkan matanya. Pria itu berniat menghambur untuk memeluk wanita yang dicintainya.
Irna telah datang, menghampiri mereka bertiga.
"Aku sangat merindukanmu!" Ucap Fredian pada Irna.
Irna menoleh ke arahnya, menatap tajam kedua matanya. Gadis itu mengeluarkan bunga teratai biru di atas telapak tangannya. Fredian tiba-tiba terkapar jatuh pingsan di lantai mencium aroma bunga itu.
"Bunga teratai biru!" Eroine terkejut melihat itu.
Pria itu mengangkat tubuh Fredian kembali, meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur pasien seperti sebelumnya.
"Bagaimana kamu bisa mengetahui Fredian berada dalam pengaruh bunga ini?" Sergah Rian yang tidak mengerti Irna telah berubah total menjadi Angelina.
"Apa kamu lupa? Aku adalah Angelina bukan Irna!" Ucapnya santai sambil meletakkan satu kelopak bunga di atas ubun-ubun kepala Fredian.
Kepala Fredian mengeluarkan asap membakar kelopak bunga tersebut hingga habis tak bersisa.
"Bagaimana kamu tahu cara mengobatinya seperti itu?" Rian sama sekali tidak mengerti karena itu baru pertama kali dilihatnya.
"Ratu Angelina adalah ratu terbaik! dia yang mengobati seluruh anggota kerajaan pada waktu itu, termasuk aku." Jelas Eroine pada Rian.
"Jadi dia sudah jadi dokter sejak sebelum reinkarnasi?" Rian terbelalak kaget mendengar ucapan dan juga penjelasan Eroine padanya.
"Angelina adalah wanita yang sangat hebat dan juga menarik. Selain itu, dia juga punya kelebihan lain, hampir semua pria terpikat padanya. Aku adalah salah satunya dari sekian banyak pria tersebut."
"Tentu saja itu karena darah pemikat yang ada dalam tubuhnya." Ungkap Eroine pada Rian.
"Aku ingin sekali dia terus berada di sisiku tapi sepertinya dia tidak akan mau kembali padaku, karena dia telah memilih pria itu." Eroine menatap ke arah Fredian yang sedang terbaring. Irna masih menunggu bunga tersebut bereaksi.
Setelah asap menghilang Fredian tersadar. "Irna bagaimana kamu bisa ada di sini?" Tanyanya pada wanita itu. Irna telah selesai mengobatinya.
"Siapa Irna kamu mengenal wanita itu?" Tanya Irna padanya yang saat ini ingatannya dikuasai oleh Angelina.
__ADS_1
"Tentu saja kamu. Kamu adalah Irna istriku."
Irna menoleh ke arah Rian dan Eroine dia mencari jawaban dari kedua wajah pria itu.
"Siapa Irna?" Tanyanya balik kepada mereka berdua.
"Irna adalah istrinya."
Ujar Rian sambil menunjuk ke arah Ferdian.
"Maaf aku tidak mengenal Irna, sampai jumpa!" Gadis itu kembali memasukkan sisa bunga teratai biru dalam tubuhnya lalu melenggang pergi meninggalkan mereka bertiga.
Ingatannya datang dan pergi, dia terlihat beberapa saat memejamkan matanya. Lalu memukuli kepalanya sendiri dengan kepalan tangan.
"Irna kamu tidak boleh pergi, tunggu aku!" Pria itu berlari mengejarnya.
Dia menyentuh bahu Irna untuk menghentikan langkahnya.
Eroine memijit pelipisnya kembali, "Kenapa pria itu bodoh sekali!" Ujar Eroine kesal sekali, dia mengeluarkan isi hatinya di depan Rian.
"Pria itu benar-benar telah buta dengan cintanya." Ucap Eroine menoleh ke arah Rian yang tengah berdiri di sebelahnya.
"Kamu begitu khawatir padanya?"
"Dia yang membunuhku beratus-ratus tahun lalu. Menurutmu apa sahabatmu itu akan baik-baik saja?" Ujar Eroine pada Rian.
"Apa kamu bilang! Coba katakan lagi??" Dengus Fredian kesal sekali, baru kali itu Irna menyebutnya pria najis.
"Kamu vampir najis!" Irna mengulangi perkataannya dengan berani.
Fredian mendengus kesal dia menarik lengan Irna membawanya pergi melesat menuju Resort miliknya.
"Kamu pria bodoh? Kenapa membawaku kemari ? Kamu cari mati?! Jangan berani macam-macam!" Bentak Irna padanya karena lengannya terus di seret olehnya.
"Cepat lepaskan atau aku akan membunuhmu!" Ancam Irna tidak main-main.
Fredian semakin geram sekali, dia mendorong tubuh Irna hingga jatuh di atas tempat tidurnya kemudian menghimpit tubuh Irna di bawah tubuhnya.
Melihat situasi seperti itu Irna yang sekarang adalah Angelina langsung menghunuskan pedang crystal es miliknya, bersiap menusukkan ke arah Fredian.
"Apa yang kamu lakukan?! Kamu ingin membunuh suamimu sendiri??!" Fredian berhasil menghindar dari tusukan pedang kristal es tersebut. Pria itu membuang benda itu ke lantai, hingga berdenting berisik.
Fredian segera memagut bibirnya untuk menghentikan kemarahannya.
Irna malah mendorong tubuh pria itu hingga jatuh ke samping.
"Dasar sialan! aku tidak mengenalmu! Aku tidak pernah merasa pernah menikah dengan pria sepertimu! Kamu tahu suamiku adalah raja Eroine, dialah satu-satunya yang pantas untuk mendapatkan diriku bukan pria bodoh sepertimu." Umpat Irna seraya berusaha bangkit dari posisi tidurnya.
__ADS_1
"Kamu jangan salah paham! Karena aku telah menyelamatkan nyawamu! Itu aku lakukan karena aku mencium aroma bunga teratai biru di dalam tubuhmu! bunga tersebut bisa mengeluarkan racun merasuk ke dalam tubuhmu! dan itu sengaja digunakan Ratu Holland untuk menyingkirkan dirimu! Menyingkirkan hidupmu secara perlahan!"
"Aku merasa kasihan padamu! Sekaligus datang ke sana untuk membalaskan dendamku beratus-ratus tahun yang lalu pada Ratu sialan itu." Ungkap Irna tentang perasaannya saat itu.
Dia tidak bisa mengingatnya, masih belum bisa mengingat Fredian juga hubungan antara mereka berdua.
"Apa maksudmu?!"
"Kamu adalah istriku!" Fredian bersikeras dengan keyakinannya dia tidak mau melepaskan Irna lagi.
"Baiklah jika kamu ingin membunuhku, maka bunuhlah aku!" Fredian mengambil pedang tersebut mengarahkan pedang pada dadanya sendiri, dia sudah siap jika Irna ingin menghabisi nyawanya saat itu juga. Pria itu berdiri tegak tanpa rasa gentar ataupun takut sama sekali.
Fredian menatap lekat-lekat kedua bola mata Irna. Dia berharap gadis itu kembali pada ingatannya. Ingat tentang semua hal mengenai dirinya.
Dia berharap Irna bisa teringat kebersamaan mereka berdua yang sudah lama sekali, bagaimana mereka bersama-sama membina hubungan penuh cinta dan kasih.
"Aku mencintaimu dari dulu sampai sekarang! Aku tidak lupa sama sekali Irna! Aku tetap mencintaimu!" Fredian kembali meraih gadis itu dalam pelukannya.
Wanita itu kini mematung membisu tidak mengerti kenapa pria yang tidak dikenalnya itu tiba-tiba memeluknya begitu saja. Tubuhnya terasa beku, ada secercah rasa sedih begitu dalam berdesir halus di dalam hatinya.
Fredian bersiap untuk mencium bibirnya. Memagutnya dengan sangat pelan.
Irna tetap membisu, tubuhnya mematung ketika bibirnya telah di-pagut habis olehnya.
Dibiarkan saja terus bibirnya di-pagut Fredian tanpa henti, telapak jemari tangannya mulai merayapi pahanya. Begitu tersadar Irna segera memukulnya dengan ganggang pedang crystal es miliknya.
"Duaaang! Akkh!" Fredian memekik merasakan ngilu pada pergelangan tangan kanannya.
"Kenapa kamu memukulku? Kamu tidak ingin mengingat masa lalu kita berdua? Untuk mengingat itu kembali kita harus kembali melakukannya!" Fredian mencoba meyakinkan Irna, tapi Irna malah tersenyum mengejek.
"Apa kamu pikir aku bodoh sekali? Bagaimana bisa mengembalikan memory dengan berhubungan intim dengan pria yang tidak dikenal!"
"Simpan saja ucapan konyolmu itu! Aku tidak punya banyak waktu! Aku harus segera pergi! Suamiku adalah raja Eroine bukan pria ingusan sepertimu."
Irna habis-habisan mengatainya, karena dirinya sekarang adalah Angelina, baginya sekarang dia tidak memiliki hubungan apapun dengan Fredian.
Yang berhasil dia ingat adalah ketika hidupnya terlunta-lunta saat kepergian orang tuanya di usianya yang masih belia setelah bereinkarnasi menjadi Irna Damayanti.
Tapi dia tetap tidak mau mengakuinya kalau dirinya adalah Irna! Wanita lemah, manusia biasa, juga selalu tidak berdaya.
"Kau! Kau panggil apa aku barusan?! Pria ingusan?!" Fredian mendengus kesal sampai bibirnya terbata-bata mengulang ucapan Irna yang dilemparkan padanya.
Dia tidak percaya dengan telinganya sendiri, wanita yang selalu merengek manja itu memanggilnya dengan sebutan pria ingusan!
Bersambung..
Please like sebelum pergi vote juga ya untuk dukung author terus berkarya dan sampai jumpa di episode selanjutnya... Terima kasih Readers ❤️
__ADS_1