
"Mereka berdua terlihat sangat bahagia, Irna Damayanti dan Rian Aditama."
Pria itu mengendarai mobilnya menjauh dari rumah tersebut, mengikuti mobil Rian dari belakang.
Rian merasa mobil, di belakangnya sedang mengikuti mereka berdua. Dia segera memilih jalan lain dan membelok tiba-tiba untuk menghilangkan jejak.
Pria misterius di dalam mobil tersebut terlihat marah-marah sambil memukul kemudinya lalu berbalik dan kembali.
"Kenapa lewat sini? biasanya kita lewat jalan yang tadi?"
Rian tersenyum melihat wajah Irna, wajah gadis itu terlihat polos tidak mengerti sesuatu yang telah terjadi.
Di sebuah club malam..
Seorang pria berstatus Presdir duduk ditemani lima orang wanita muda cantik. Wajah dingin, kejam, bengis, tanpa ampun.
Seseorang datang tergopoh-gopoh, kemudian duduk berlutut di hadapan pria itu.
"Maafkan saya tuan, saya gagal mengikutinya. Wanita itu sedang bersama suaminya, saya kehilangan jejaknya."
"Kalian! buang pria ini ke sungai!" Teriak orang tersebut pada anak buahnya.
"Ampun tuan, ampuni saya."
Pria tersebut tidak memperdulikan lagi teriakan dari orang suruhannya tersebut. Wajahnya terlihat geram setengah mati.
"Praaang!" Sebuah gelas minuman dilemparkan begitu saja di tengah kerumunan orang. Pria itu berdiri, sepuluh pengawal mengikuti di belakangnya.
"Kita akan kemana tuan Presdir?"
Tanya salah satu dari pengawalnya.
"Rumah Rian Aditama."
Irna dan Rian sudah sampai di NGM. Seluruh karyawan menundukkan kepalanya menaruh hormat pada Presdirnya saat Rian bersama Irna berlalu di depannya.
"Selamat pagi Presdir."
"Apakah mereka tahu kalau aku istrimu?"
Rian tercekat mendengar pertanyaan itu, bertahun-tahun lalu Irna juga pernah menanyakan hal itu pada dirinya saat mengunjunginya di NGM, untuk membahas kontrak kerja pembangunan cabang NGM.
"Tentu saja mereka tahu, coba kamu lihat itu!" Rian menunjukkan foto pernikahan mereka berdua yang tergantung di dinding ruangan kerjanya.
Pagi-pagi sekali tadi Rian menelepon sekretarisnya, agar memajang foto pernikahan dirinya dengan Irna. Rian tidak ingin menyembunyikan pernikahan mereka berdua lagi seperti sebelumnya.
"Ah, aku akan ke laboratorium." Ujarnya berpamitan dengan Irna, gadis itu duduk di sofa ruang kerjanya.
"Emm, apakah aku boleh jalan-jalan di sekitar sini?"
Gadis itu mengayunkan lengan Rian, sambil mengerjapkan matanya berkali-kali dengan bibir tersenyum manis.
Melihatnya merajuk seperti itu dia tidak tega, pria itu segera meraihnya dalam pelukannya kemudian mencium pipinya.
"Jangan jauh-jauh, jangan tinggalkan suamimu ini sendirian." Bisiknya di telinga Irna.
Gadis itu tersenyum cerah seraya mengangguk kecil.
Di rumah Rian..
"Presdir! pintunya terkunci, sepertinya mereka sedang pergi." Lapor salah seorang pengawal yang mengikuti pria tersebut.
"Buka kuncinya!" Teriaknya tidak sabar.
"Tapi tuan! kita bisa dilaporkan atas tindakan ilegal!"
"Persetan dengan polisi!"
"Braaakkkk!" Satu tendangan kakinya menghancurkan pintu rumah Rian.
Pria itu masuk ke dalam ruangan, pandangan matanya menyapu seluruh area sekitarnya. Dia tersenyum getir melihat foto pernikahan Rian dan Fredian tergantung pada dinding ruang utama.
"Hahahaha! tik! Blaaaaarrrr!" Pria itu tertawa terbahak-bahak melangkah keluar dari dalam rumah, kemudian melemparkan sebuah bom dan menghancurkan seluruh rumah.
Seluruh pengawal yang ada di sana terkejut melihat Presdirnya melakukan tindakan tersebut.
Lima menit kemudian Rian mendapatkan telepon dari kantor kepolisian mengenai rumahnya yang telah hancur seluruhnya.
"Halo? ini dari kantor polisi. Bisakah kami berbicara dengan bapak Rian Aditama?"
"Iya saya sendiri."
"Kami meminta anda untuk segera datang ke kantor polisi."
"Apakah ada masalah?"
"Iya, rumah anda menjadi korban pengeboman tadi pagi. Tersangka sudah berada di sini."
Rian menjatuhkan ponselnya, pria itu menatap meja di depannya.
"Fredian? apakah kamu sudah kembali? dan ingin mengambil milikmu kembali?"
Bisik pria itu dari dalam hati kecilnya, hatinya begitu sedih jika harus kehilangan Irna secepat ini.
"Ada apa? kenapa wajahmu begitu sedih? apa ada masalah di kantor?"
Irna memegang kedua pipinya sambil menatap dengan kedua bola mata jernihnya.
"Tidak ada, rumah kita terkena bom. Entah itu sengaja atau tidak, aku akan ke kantor polisi untuk memberikan keterangan pada petugas kepolisian."
"Aku ikut! ijinkan aku pergi bersamamu." Irna memeluk pinggangnya dengan sangat erat, takut jika pria itu melarang dirinya untuk pergi bersamanya.
Rian segera menuju ke kantor polisi bersama Irna.
"Maaf nona harus menunggu di ruang tunggu." Ujar salah seorang petugas melarang Irna masuk.
__ADS_1
Irna mengikuti perintahnya, menunggu di ruang tunggu. Tak jauh dari tempatnya duduk ada seorang pria sedang membaca surat kabar.
Mencium aroma parfum dari tubuh pria itu mendadak membuat kepalanya pusing setengah mati.
"Aroma ini? kepalaku! akh! sakit sekali.." Gumam gadis itu sambil memijit keningnya menahan nyeri.
"Oh! nona sudah datang." Pria itu tersenyum melipat surat kabarnya seraya menatap wajah Irna, mengulurkan tangannya.
Irna hanya melihat telapak tangannya tanpa ada keinginan untuk menjabat tangan pria tersebut.
"Kamu tidak mengenaliku?"
Pertanyaan pria itu hanya dijawab dengan gelengan kepala dua kali olehnya.
"Aku pemilik sepuluh Club Rosell di Eropa!"
Penuh rasa bangga merentangkan kedua tangannya seolah dunia ini berada di bawah kekuasaannya.
"Suamiku juga punya perusahaan di setiap negara bahkan lebih dari dua ratus perusahaan, tapi dia tidak pernah bersikap se-arogan anda!"
"Wah! kamu berani menjawabku!?"
"Memangnya kenapa? aku harus takut padamu!?"
"Kamu sama sekali tidak ingat denganku?"
Irna termenung diam, berkali-kali dia coba untuk mengingat kembali, tapi tetap saja tidak bisa mengingatnya.
"Kamu terlalu tua untuk aku ingat, seharusnya aku seusia anakmu. Jadi mungkin aku akan mengingat anakmu."
Pria itu terperangah mendengar Irna mengatakan kalau dirinya sudah tua, dan memiliki anak.
Setelah Rian selesai memberikan laporan pada petugas kepolisian dia melihat Irna sedang duduk bicara dengan seorang pria.
Pria itu melambaikan tangan ke arah Rian.
"Dasar gila!" Umpat Rian saat sudah dekat.
"Apa kabarmu?" Tanyanya pada Rian.
"Sangat buruk! apa caramu mengucapkan salam dengan melemparkan bom?!"
Gerutu Rian masih merasa kesal sekali.
"Dia tidak ingat denganku? apa kamu menyuntikkan vaksin penghapus ingatan padanya?" Seloroh pria itu sambil tertawa lepas.
"Jangan sembarang bicara!"
"Aku mengganti rumahmu dengan rumah di kawasan elite, rumah jelek begitu seperti sarang nyamuk! aku tidak tahan melihatnya!"
"Dia kakakku, Reyfarno Aditama."
Rian memperkenalkan kakaknya pada Irna.
"Hai nona Irna!" Melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Rian kepalaku sakit sekali, bisakah kita pergi dari sini?" Irna meremas lengan Rian sambil memegangi kepalanya.
"Berikan kuncinya sekarang, kesehatannya sedang kurang baik."
Reyfarno segera melemparkan kunci pada Rian. Pria itu memapahnya menuju mobilnya.
"Apa kamu mengingat sesuatu?"
Irna menggelengkan kepalanya, sambil bersandar pada bahu Rian. Kepalanya masih terasa sangat berat.
Rian menggendongnya masuk ke dalam rumah baru mereka berdua, hadiah pernikahan dari Reyfarno.
"Beristirahatlah, aku akan membuatkan susu hangat untukmu."
Pria itu tersenyum lembut sambil menyelimuti tubuhnya. Lalu membuatkan susu hangat untuknya.
"Reyfarno? hujan gerimis yang sangat lama hingga berjam-jam, kab mobilnya berasap, pria itu duduk di depanku pada sebuah Halte, dia menutupi punggungku dengan mantelnya, perusahaan Eagle star?!"
Gumam Irna sambil memejamkan matanya, lembaran demi lembaran ingatan terbuka kembali.
"Praaangg!" Gelas di tangan Rian meluncur bebas jatuh ke lantai kamarnya. Pria itu buru-buru memunguti serpihan gelas di atas lantai.
"Apa kamu terluka?!"
Irna berlari ke arahnya, mengajak pria itu berdiri dan duduk di tepi tempat tidurnya.
"Ada apa? apakah tanganmu terluka?!" Irna memeriksa telapak tangannya berkali-kali, wajahnya terlihat sangat khawatir.
Rian meraihnya dalam pelukan hangat sambil melelehkan air matanya. Pria itu sangat takut kehilangannya. Untuk kesekian kalinya, hatinya terluka. Sangat takut Irna kembali histeris karena tidak ada kabar dari Fredian.
Gadis itu akan terluka lebih parah dari dirinya, seperti terakhir kali. Dia berlari ke jalan dengan tubuh lemahnya tanpa perduli dengan nyawanya sendiri demi mencari Fredian.
"Aku baik-baik saja." Rian mencium keningnya dengan lembut.
"Ah aku akan membereskan serpihan gelasnya, kamu duduk saja di sini."
Irna bergegas berdiri untuk mengambil sapu, dia lupa itu bukan rumah lamanya. Gadis itu celingukan kesana-kemari. Naik turun tangga, lalu turun lagi.
Rian tersenyum melihatnya kebingungan juga terengah-engah naik lagi ke lantas dua.
"Kita pindah saja ya besok?" Cetusnya sambil memegang kedua lututnya.
"Hehehe, aku akan memperkerjakan pelayan besok." Tersenyum lalu mengangkat tubuh Irna ke atas sofa.
Mengangkat kedua kaki istrinya, lalu meletakkan di atas pangkuannya.
"Tunggu! apa yang kamu lakukan?" Irna terkejut saat pria itu mulai memijit kakinya.
"Sebenarnya aku tidak terlalu lelah, tapi rumah ini terlalu besar. Kita juga hanya tinggal berdua di sini."
__ADS_1
Irna melayangkan pandangan matanya ke seluruh penjuru ruangan.
"Apakah kamu keberatan jika ada satu anggota baru di rumah ini?" Pertanyaan Rian membuat Irna mendadak beruabah pucat.
Gadis itu tahu apa yang ada di dalam benaknya, Irna terdiam tidak berani menoleh ke arahnya. Rasanya sangat sulit untuk mengatakan iya.
Seakan-akan ada sesuatu yang menahannya untuk tidak mengatakan apapun padanya.
Irna menundukkan kepalanya tidak berani melihat ke arahnya.
"Ah! aku ralat pertanyaanku tadi, kita akan pindah dari sini jika kamu mau." Rian tersenyum lembut.
"Tidak perlu, aku akan tinggal di sini saja. Dan soal itu.. aku akan memikirkanya."
"Benarkah?" Rian masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar karena terlalu senang dia segera memeluknya erat sekali.
"Rian?"
Masih dalam pelukan hangat Rian melepaskan pelukannya perlahan.
"Hmm." Rian tersenyum sambil menempelkan ujung hidungnya di pipinya.
"Aku lapar."
"Aku sampai lupa, apa yang ingin kamu makan? aku akan membuatkan untukmu."
Pria itu bergegas berdiri bersiap melangkah menuju dapur.
"Tidak, kita makan di luar saja, bagaimana?"
Irna mencoba memberi saran.
"Apa yang ingin kamu makan?"
"Sup ayam sepertinya lezat." Irna menggamit lengannya menuruni tangga sambil tersenyum manis.
"Aku sangat bahagia, aku begitu bahagia.. tapi aku juga tahu suatu saat kamu akan mengingatnya kembali." Rian berkata dalam hatinya.
"Pada saat itu aku harus siap dengan seribu luka seribu kepedihan. Saat itu aku hanya akan melihatmu pergi dari sisiku, pergi menyongsong ke arahnya."
"Atau pergi karena ingin tetap mengenangnya di dalam ingatanmu. Aku tahu kamu suatu hari akan menepisku, bahkan aku tidak berani untuk menyentuhmu. Karena ketika kamu mengingatnya kembali, kamu bukan lagi milikku."
"Aku akui aku sudah gila, aku sudah kehilangan akal sehatku. Sudah tahu begitu banyak duri yang kamu pakai untuk selembar gaunmu, tapi begitu cantik bagiku gaun itu."
"Tanpa ragu aku tetap memelukmu, tanpa takut duri beracun di tubuhmu melukaiku. Bagiku luka itu seimbang dengan rasa bahagiaku."
"Aku akan tetap memelukmu, sampai ingatanmu pulih kembali. Aku tidak akan membiarkan dirimu menangis seorang diri, dan terluka seorang diri."
Mobil Rian mulai menebas jalan raya, menuju sebuah restoran kecil di tepi jalan.
Irna menyantap supnya dengan antusias. Mendadak kepalanya pusing kembali, ingatan baru muncul.
Pria yang sangat tampan menatapnya sambil mengerling, rambut maskulinnya jatuh di atas keningnya. Bulu mata lentik juga alis tebal menghiasi mata jernihnya.
Pria itu menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya. Menatap dirinya menikmati sup buatannya.
"Ada apa?"
Irna bergegas berdiri menuju ke arah dapur restoran, dia ingin memastikan ingatannya. Dia ingin melihat siapa pria dalam ingatannya itu.
Dia merasakan sangat dekat dengan dirinya, lebih dekat dari apapun. Tapi dia masih tidak mengerti ingatan apa itu.
Irna terlihat putus asa saat melihat di dapur restoran tersebut. Seluruh koki yang berada di sana menatapnya dengan wajah bingung. Mereka tidak mengerti kenapa Irna memastikan dengan melihat mereka satu persatu.
Gadis itu melelehkan air matanya, dengan putus asa kembali melihat ke seluruh ruangan dapur tersebut.
"Rian? aku mengingatnya! dia yang membuatkanku sup ini! dia ada di sini!"
Air mata Irna terus mengalir tanpa henti membasahi kedua pipinya. Irna mengguncang bahu Rian, Rian tidak mampu melihat kesedihannya.
Rian meraihnya ke dalam pelukannya, iya kita akan menemukannya bersama-sama. Pria itu menuntunnya keluar dari dalam dapur tersebut.
Seseorang keluar dari dalam kamar mandi, melihat pada seluruh koki di dalam dapur dengan mata berkaca-kaca, dia mendengar jeritan putus asa Irna.
"Maafkan aku telah membuat kekacauan." Pria itu tersenyum kemudian melanjutkan kembali pekerjaannya.
Rian merasakan ada sesuatu yang tidak beres di restoran tersebut, pria itu bergegas kembali ke dapur setelah mengantar Irna masuk ke dalam mobil.
"Ah, sepertinya ponselku tertinggal di dalam. Kamu tunggu di sini sebentar."
Pamitnya pada Irna lalu berlari menuju dapur restoran tersebut. Pria itu melihat seseorang yang tidak asing sedang memotong daun bawang.
"Fredian!" Ujarnya sambil menatap wajah pria itu di depannya.
"Permisi tuan, apakah ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya seolah-olah tidak mengenali pria di depannya.
"Dasar brengsek! jrooooot!" Rian melayangkan pukulan ke arahnya tapi pria itu menangkap tangannya.
"Kenapa anda membuat kerusuhan di sini? bawa pria ini keluar!" Perintah pria itu pada karyawannya.
"Tidak perlu! aku bisa keluar sendiri!" Rian menepiskan tangan para pekerja.
Saat berbalik Irna sudah berdiri di belakang punggungnya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sambil menangis menatap pria di depan Rian.
Irna melangkah menuju ke arahnya.
"Kamu, kamu mengenalku? katakan siapa namamu?" Tanya Irna padanya.
"Maaf nona, saya tidak mengenal anda, nama saya Marko. Saya kepala koki di sini."
"Dasar brengsek! kamu tidak melihat terlukanya dia? jangan berpura-pura bodoh! aku tahu kamu mengejar kami ke sini, kenapa tidak memberikan kabar!" Teriak Rian menggebu.
"Siapa dia?" Tanya Irna pada Rian.
"Jika dia tidak menyatakan siapa dirinya, artinya dia adalah orang yang tidak penting! dia tidak ingin kamu mengingatnya!"
__ADS_1
Rian memapah Irna keluar dari dalam restoran tersebut.
Bersambung...