Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Love is blocked


__ADS_3

"Kania tunggu aku!" Ikut berlari menyusul menuju ke parkiran. Royd berhasil mengejar hingga mereka berdua melangkah bersama-sama menuju ke mobil Kania.


Kania mendadak mengehentikan langkah kakinya.


"Kamu kenapa ikut pergi ke arah mobilku?"


"Mobilku sudah ada di apartemen, temanku yang membawanya. Jadi kita pulang bersama-sama saja." Sahutnya enteng, lalu naik dan duduk di belakang kemudi.


"Royd aku akan mengantarmu pulang, tapi aku harus pergi ke suatu tempat. Kamu tidak boleh ikut." Ujarnya serius.


"Kenapa?" Mulai menyalakan mesin mobilnya menuju ke apartemen tempat mereka tinggal.


"Bukan tempat manusia." Sahut gadis itu singkat.


"Kalau aku ikut pergi?"


"Jangan sembarangan! Kamu tidak boleh pergi!" Teriak Kania padanya.


"Drrrrttt! Ciiiiitttttt!" Royd mendadak menginjak pedal rem mobilnya. Di tepi jalan.


"Ctak!" Melepaskan sabuk pengaman pada pinggangnya, lalu mendekat ke arah Kania.


"Kamu mau apa? Kenapa mendadak berhenti??" Ujarnya sedikit tergagap, karena dia tidak pernah bisa lepas dari genggaman pria di depannya itu.


"Kania.. " Bisiknya sambil mendaratkan bibirnya di leher jenjangnya.


"Royd, aku serius, aku buru-buru."


"Kamu bohong, kamu tadi bilang kamu lelah dan ingin segera pulang." Royd menelusuri pahanya, dan menarik resleting celana Kania turun ke bawah.


Kania segera menahan pergelangan tangannya, saat ia hendak menarik celana miliknya turun ke bawah.


"Sinyal... Akkkhh... Sinyalnya.. mendadak.. akkhhh! Akkkhhh..." Kania memekik, pria itu berhasil menjamah belahan area terlarang tersebut.


"Royd.. mmmhhh.. akkhhh.. akkhhh.."


Kania meremas-remas kedua bahunya, merasakan sentuhan lembut di belahan area sensitifnya.


Royd mengangkat kedua kaki Kania, membukanya lebar-lebar memagut area yang sudah basah di sana.


"Royd.. akkhh.. emmhhhh.. akkhhh!"


Rintihan gadis itu membuatnya semakin gencar mencumbuinya. Ciumannya naik ke atas dan mulai mengayunkan pinggulnya, menerobos masuk ke area terlarang tersebut.


"Clak! Clak! Clak! Clak!"


"Royd..  ukkkhhh... Aakkhhh.. mmmhhh.. mmhhh."


"Kania kamu manis sekali..." Bisiknya di telinga gadis itu sambil terus berayun maju mundur.

__ADS_1


"Royd... Mhhhh.. mhhh.. aakkhhh.."


"Triiingggg! Triiing!" Ponsel Royd berdering nyaring.


"Clak! Clak! Clak!" Royd masih terus berayun mengabaikan dering ponselnya.


"Rooyyyd... Akkhhh... Mmhhh.." Kania melingkari kedua kakinya pada pinggang pria yang sedang menusuk-nusuk area sensitifnya, gadis itu begitu menikmatinya. Hasratnya mengalahkan keinginan untuk pergi hari itu.


"Triiingggg! Triiiingg!" Royd terpaksa menjawab ponselnya. Tapi tak menghentikan permainannya.


"Halo?"


"Ketua, kami menemukan keberadaan para vampir di area AX!" Ujar salah seorang pengikutnya.


"Akkhhh.. Royyd.. pelanlah sedikit.. akkhhh!" Pekikan Kania membuat bawahan pria itu terkejut. Dia tidak pernah melihat bos besarnya dekat dengan wanita manapun. Apalagi bermain di atas ranjang. Kini dia mendengar suara desahan wanita dalam cumbuan pria itu.


"Sayang jangan kencang-kencang berteriak.." Royd menyumbat bibir Kania dengan bibirnya sendiri.


"Sepertinya bos sedang sibuk sekarang, saya akan mengakhiri panggilan, Tut! Tut! Tut." Tangan Fernando gemetar mendengar suara bosnya sedang mabuk bercinta.


"Astaga! Dia membuatku merinding!" Gumam Fernando pada dirinya sendiri, membuat rekannya di sekitar terbengong menatap dirinya.


"Bagaimana? Apa yang bos bilang? Kita bisa menyerbu sekarang?"


"Dia sangat sibuk, kita tunda saja penyerangan." Ujar pria itu sambil berlalu membubarkan diri dari pertemuan tersebut.


"Royd.. kapan kamu akan menyelesaikannya.. akkhhh... Mmhh..." Kania masih merintih-rintih mengalungkan tangannya di belakang tengkuk pria itu.


"Royd.. ini sudah ketiga kalinya.. mmhhh.. akkhhhh... Ayo cepat selesaikan.. akkhh.."


"Sebentar lagi.. akkkhhh.. akkkhhh!" Royd memekik menumpahkan cairan miliknya ke dalam area terlarang Kania.


"Royd... " Kania mencium bibirnya memagutnya dengan lembut.


"Kenapa? Hem.." Desahnya menyambut ciuman bibir tipis gadis itu.


"Kita pulang sekarang.." Masih memeluk lehernya dengan erat, pria itu benar-benar telah membuatnya mabuk kepayang dalam setiap permainan.


Awalnya dia ingin pergi, tapi sekarang malah bergelayut manja meletakkan tangannya di belakang tengkuk Royd Carney.


"Kamu ingin aku memulainya lagi di apartemen?" Bisiknya di telinga gadis itu.


Kania memukul lembut dada bidangnya, kembali menciumi bibirnya. "Kamu tampan.." Bisiknya di telinga Royd lalu memagut lagi bibirnya.


"Aku pikir penampilanku tidak sesuai dengan seleramu.. Mmhhhhh!" Membalas pagutan bibir Kania.


"Tampan dan murahan!" Bisik Kania di telinganya, kemudian menggigit lehernya hingga berdarah menghisap darahnya.


"Akkhhhh! Kania! Kamu menggigitku.. akkhhh!" Bukannya mendorong atau melawan, pria itu menikmati gigitan gigi taringnya. Membiarkannya meminum darahnya sepuas hatinya.

__ADS_1


Mata merah Kania menyala-nyala menikmati makanan di depannya. Beberapa detik kemudian melepaskan gigitannya. "Apa sakit sekali?" Bisiknya sambil mengusap leher Royd yang telah terluka.


"Minumlah sepuasnya, aku memberikan diriku sepenuhnya untukmu wanitaku.." Bisiknya di telinga gadis itu.


"Royd.. " Desahnya seraya memeluk punggung pria itu dengan sangat erat. Menyandarkan kepalanya di dada bidangnya.


Royd masih menahan tubuhnya di atas tubuh Kania, menopang dengan kedua lengannya.


"Kamu berencana tidak akan melepaskan pelukanmu? Hem?"


"Aku mau tahu, apa tanganmu tidak akan kram karena telah satu jam menopang tubuhmu." Gadis itu tersenyum kecil.


Untuk ukuran pria biasa, Royd Carney terlalu kuat. Pria itu bisa mengimbangi Kania, dan bisa membuatnya takluk hingga bergelayut manja tidak ingin melepaskan dirinya.


"Akkhhh! Bruuuukk!" Kania kembali memekik kecil. Royd dalam sekejap telah memutar posisinya, hingga Kania duduk di atas pangkuannya.


Gadis itu masih menyandarkan kepalanya di dada bidangnya, sambil membelai pipinya. "Royd... Kamu dosenku, tapi sepertinya aku tidak bisa menahan diriku ketika kamu mencumbuiku. Bagaimana ini?"


"Secepat itu kamu jatuh cinta padaku?" Bisiknya sambil mencium pipinya.


"Aku tidak tahu apakah ini cinta? Atau hanya sekedar menyalurkan hasrat diriku." Jelasnya pada Royd.


Royd menarik bibirnya dari pipi Kania, pria itu tercekat mendengar kejujuran ucapan gadis dalam pangkuanya saat ini.


"Kenapa?" Kania mendadak wajahnya berubah, gadis itu merasa Royd akan menjauh. Dia buru-buru memakai kembali celananya, dan merapikan pakaiannya tanpa turun dari pangkuan Royd.


"Jadi maksudnya kamu hanya melakukannya karena aku membuatmu berhasrat untuk dicumbui olehku? Atau juga dengan pria lainnya?" Pria itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya tersenyum getir.


"Bukankah aku seharusnya menikah dengan vampir, kamu tahu itu dari awal." Ucapnya jujur.


"Jadi hubungan kita sekarang apa Kania?"


"Kamu dosenku dan aku mahasiswi di kelasmu." Jawabnya polos sambil nyengir.


"Dasar anak kecil!" Gerutu Royd sedikit kesal karena jawabannya sama sekali tidak menyenangkan hatinya.


"Apa kamu berpikir kita bisa menikah suatu saat nanti?" Kania mengusap bibir pria itu dengan jari telunjuknya. Kali ini dia tidak bergurau lagi, dia berbicara dengan nada sungguh-sungguh.


"Aku berharap begitu!"


"Kamu melupakan identitasmu? Raja pemburu?! Mungkin saja suatu saat nanti kita akan bertemu di area medan pertempuran! Kamu sebagai pemburu, dan aku adalah buruan!"


Royd terdiam mendengar ucapan terakhirnya, pria itu diam mematung di tempatnya. Ada rasa pedih mengiris ulu hatinya.


Kania menatap wajahnya lekat-lekat kemudian kembali memagut bibirnya, air mata gadis itu meleleh meluncur turun dari kedua celah-celah bulu matanya.


Benar ucapan Irna, wanita itu tahu perjalanan cinta mereka berdua. "Cinta yang rumit antara vampir dan pemburu vampir." Irna juga tidak berkomentar lagi setelah mengucapkan kata-kata tersebut. Dia menyerahkan keputusan pada mereka berdua. Karena tidak ada yang tahu bagaimana perjalanan cinta mereka, lika-liku yang harus mereka lalui suatu hari nanti.


Bersambung...

__ADS_1


Tinggalkan like sebelum pergi, jangan lupa vote juga ya? Tunggu episode selanjutnya.. i love you Readers..


 


__ADS_2