
Alfred dan Rian segera kembali menuju rumah masing-masing karena hari sudah sangat larut. Penyelidikan juga dilanjutkan keesokan harinya.
Irna melepaskan jas dokternya, dia meletakkan di gantungan ruang kerja miliknya.
"Triiing! triiing!" Telepon di atas meja Irna berbunyi.
"Apa kamu lembur lagi malam ini?" Tanya suara pria dari seberang.
"Hem, mungkin."
"Pulanglah hari ini, sudah hampir satu minggu aku sendirian bersama berkasku. Apa aku perlu menjemputmu?" Bergegas mengambil kunci mobil.
"Aku akan pulang naik mobilku, jangan khawatir." Irna memilih naik mobil seperti manusia normal pada umumnya.
Padahal gadis itu bisa memilih hanya dengan menjentikkan jarinya akan langsung tiba di tempat tujuan.
Mobil gadis itu melaju menembus kegelapan malam. Satu jam kemudian sampai di Reshort Fredian.
Kedatangan Irna di sambut anggukan hormat resepsionis yang tengah berjaga malam itu. Irna melangkah menuju kamar sekaligus ruangan kerja suaminya Fredian.
"Apa aku terlambat?" Senyuman renyah mengukir di bibir merah gadis itu.
Langkah kakinya ringan menghampiri suaminya, pria itu masih menandatangani beberapa berkas di meja ruang kerjanya.
Irna berjongkok di belakang punggungnya sambil meletakkan kepalanya di atas bahu suami tercintanya.
"Cup!" Kecupan kecil mendarat di pipinya dan berlanjut dengan ciuman di antara kedua bibir pasangan suami istri yang sudah lama tidak bertemu untuk melepaskan dahaga di dalam hatinya.
Fredian mengangkat tubuh Irna ke dalam kamar.
"Apa kamu tidak merindukanku?" Tanyanya masih memagut bibir tipisnya.
"Tidak bisakah kamu yang mengatakan bahwa kamu yang merindukan diriku terlebih dahulu?" Ujarnya sambil tersenyum menatap wajah Fredian.
"Aku selalu mendahuluinya sepanjang waktu." Tandasnya mulai melemparkan helai demi helai gaun ke atas lantai.
"Dua jam?" Bisik Irna lirih di telinganya.
"Kenapa? apa kurang lama?" Bingung tidak mengerti apa yang di maksud istrinya.
"Cukup."
Irna tersenyum menjawab pertanyaan dari suaminya, bangkit duduk dan menghapus keringat yang mengalir di kedua pipi suaminya.
"Apakah ada hal buruk yang terjadi di rumah sakit?" Tanyanya pada Irna.
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya kemudian mendaratkan ciuman di keningnya.
"Kamu jangan terlalu lelah." Fredian kembali mencium bibirnya dengan lembut.
"Hem." Irna hanya bergumam dan kembali berbaring di sebelahnya.
Fredian sudah menyiapkan beberapa makanan di atas meja di sebelah tempat tidurnya.
"Kamu yang menyiapkannya?" Irna mulai menikmati makanan di atas meja sambil tersenyum manis menatap wajah suaminya itu.
Malam itu berlalu begitu cepat, keesokan harinya Irna segera bersiap untuk kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja.
"Kamu akan bekerja hari ini?" Fredian memeluknya erat dari belakang.
"Hem.. kenapa? kamu masih merindukanku?" Melepaskan pelukannya dan mencium bibirnya.
"Aku setiap hari selalu merindukanmu." Menyambut ciuman lembut bibir istrinya.
"Tapi banyak hal yang harus aku lakukan hari ini." Ujar Irna sambil tersenyum.
"Malam ini usahakan untuk pulang."
"Ke mana? ke Reshort? atau ke rumah?" Membenahi dasi dan memakaikan jas Fredian.
"Aku akan menghubungimu nanti, Dokter cantikku Kaila Elzana." Fredian tersenyum meletakkan tangan Irna di lengannya, mereka berdua berjalan menuju parkiran mobil.
Pria itu melambaikan tangan kepada Irna. Saat gadis itu menaiki mobilnya dan berlalu dari hadapannya.
"Ini jadwal meeting hari ini Presdir." Antoni menyerahkan beberapa berkas kepada Fredian. Mereka berdua segera menuju ruang meeting.
Satu jam perjalanan Irna sudah sampai di rumah sakit. Gadis itu menuju ruangan tempatnya bekerja.
Seseorang memakai masker berpakaian putih seperti seorang dokter. Orang itu mendahuluinya masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Perkenalkan nama saya Dark Wilson." Mengulurkan tangannya pada Irna.
__ADS_1
"Kaila Elzana." Irna menyambut uluran tangannya tanpa tersenyum.
"Apakah kamu orang yang dikirimkan oleh profesor Rian untuk membantu pekerjaanku?" Irna bertanya tanpa menoleh kepada pria muda itu. Gadis itu mengambil jas putihnya, lalu memakainya.
"Anda orang yang sangat cuek Bu Kaila." Ujarnya tanpa basa-basi.
"Kamu di sini bertugas membantu pekerjaanku, bukan seenaknya menilai atasanmu!" Keluhnya malas-malasan.
"Triiiing!" Telepon di atas meja kerjanya berbunyi.
"Halo Rian?" Jawabnya sambil meneliti catatan di atas meja kerjanya.
"Bagaimana asisten yang aku kirimkan padamu?" Tanya pria itu dari seberang. Rian sedang sibuk di dalam laboratorium.
"Itu, kenapa kamu tidak mengirimkan asisten gadis yang cantik seperti Arvina?" Irna sudah wanti-wanti pada Rian dia tidak bisa menerima asisten pria.
"Kamu menginginkan Istriku?" Kelakar Rian pada Irna.
"Bukan, maksudku aku ingin seorang gadis saja." Ujarnya sambil tersenyum membalas kelakar Rian.
"Sudah terima saja Dark, dia anak yang cuek dan tidak terlalu peduli dengan wanita." Tandasnya lagi sambil mengulum senyum.
"Aku tahu dan sangat mengenal pria yang lebih dingin dari kutub es di utara. Tapi pada akhirnya pria itu jatuh bertekuk lutut tanpa bisa berdiri memohon padaku untuk tidak menepisnya dari sekitarku." Tandas Irna sengaja menyindir Rian.
"Aku lupa, aku pikir aku pria yang hangat ternyata berdasarkan penilaianmu aku juga sangat dingin." Rian tersenyum kecil sambil menuang cairan kimia dari tabung kecil ke tabung yang lebih besar.
"Ya sudah aku tutup dulu teleponnya." Irna mengakhiri panggilan telepon dari Rian dan melihat pria muda, lebih muda dari putranya sendiri.
Dark sedang memeriksa berkas Irna dia mulai mempelajarinya
Rian menikah dengan Arvina, karena Arvina juga tidak ingin menikah selain dengan pria itu. Walaupun Rian tidak bisa melupakan Irna, gadis itu tetap memilih untuk berada di sisinya tanpa protes.
Dia hanya ingin menemani Rian seumur hidupnya. Arvina terlihat lebih jauh di atas usia Rian karena darah Irna yang mengalir pada tubuh pria itu membuatnya tetap tampil muda dan menawan.
Sekarang darah di tubuh Irna sudah bermutasi karena gigitan vampir lima tahun lalu. Irna tidak bisa memberikan darahnya. Tapi dia bisa menyembuhkan luka dengan kabut yang berasal dari bunga kristal es di dalam dirinya.
Kemungkinan besar bunga itu juga yang memiliki andil terbesar membuat dirinya selalu bersinar selama ini.
Membuat daya pikat dan magnet yang sangat kuat, mampu menarik perhatian kaum pria di sekitarnya sejak di usianya menginjak dua puluh tahun.
"Dokter apa yang bisa saya kerjakan sekarang?" Tanyanya pada Irna.
Alfred pagi itu bergegas dari kantornya menuju ke rumah sakit untuk menemui kembali ibunya. Dia ingin bertanya sesuatu mengenai kasus yang semalam mereka selidiki.
"Pagi ma, maksudku dokter Kaila!" Alfred segera meralat ucapannya melihat keberadaan Dark di sana.
Alfred segera menghampiri meja ibunya dan mendaratkan ciuman di kening Irna. Wanita itu hanya tersenyum lembut menjawab sapaan putra semata wayangnya.
Dark segera menoleh ke arah suara, pria muda tampan berseragam polisi, mencium Irna.
Setelah melihat itu dia kembali meneliti mayat di depannya.
"Melihat bekas sayatan pada lehernya, sepertinya yang digunakan orang tersebut sebagai alat untuk menyayat lehernya adalah pisau yang sangat tipis dan tajam. Seperti.. pisau bedah!"
Dark mengangkat wajahnya meneliti wajah Irna yang sudah tiga menit lalu berdiri di depannya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Wanita itu tersenyum menatap Dark tanda bahwa pria muda itu lumayan bisa diandalkan untuk membantunya.
"Apa kamu menemukan sesuatu yang lain selain itu?" Tanya Irna lagi sambil memakai sarung tangannya, gadis itu membuka keseluruhan kain yang menutupi mayat tersebut.
Meraba mayat dari ujung kepala sampai ujung kaki sambil menatap tajam ke arah Dark, dia sengaja menunjukkan pada Dark apa yang harus dia lakukan.
"Saya akan melanjutkannya kembali!" Jawabnya segera, setelah melihat sekilas kornea di mata Irna mendadak berubah merah dalam satu detik yang lalu.
Ada sebersit rasa takut di dalam hatinya, dari tatapan wanita muda yang sangat cantik di hadapannya itu.
Tatapan mata yang telah siap menerobos ke dalam jantungnya, menghancurkan dan mencabik-cabik tanpa sisa.
Tangan pemuda itu mendadak bergetar hebat, keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya saat dia hendak menyayat perut mayat wanita di depannya.
"Kenapa? apa kamu takut? bukankah sebelumnya kamu sudah terbiasa melakukan pekerjaan ini? melihat begitu banyak penghargaan yang kamu dapatkan kamu lumayan jenius."
Irna melihat lembaran-lembaran sertifikat yang dikirimkan Rian di atas meja kerjanya untuk menunjukkan kualifikasi pria kirimannya tersebut.
Alfred tersenyum melihat pria muda di bawah usianya itu ketakutan. Dia tahu jika pria itu bukan takut kepada mayat di depannya tapi dia ketakutan karena sinar mata ibunya.
"Dokter Kaila, bersikaplah sedikit lembut. Dia pekerja baru di sini." Alfred menyentuh bahu ibunya sambil tersenyum.
"Aku sudah sejak lama seperti ini, dan sudah ada lima puluh pegawai magang keluar dari ruanganku setelah tiga hari menjadi bawahanku."
"Jika kamu juga tidak tahan bekerja denganku, kamu bisa pergi. Aku tidak akan pernah menahanmu di sini." Terangnya tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Dia sedang hamil dua bulan, wanita ini hamil dua bulan." Ujarnya sambil menatap Irna setelah menyayat perut mayat tersebut.
"Tidak ada bekas penganiayaan, sepertinya yang melakukannya bukan seorang temperamen. Dan juga lebih mendekati seseorang yang sangat lembut." Tambahnya lagi.
"Aku tidak akan keluar dari pekerjaan ini apapun yang terjadi." Tambahnya membuat Alfred sedikit tidak mengerti.
"Apa sebenarnya tujuan pria ini menjadi bawahan mama? apa dia memiliki maksud tersembunyi." Bisik Alfred di dalam lubuk hatinya.
"Bagaimana? apakah komisaris sudah memiliki daftar tersangka?" Pertanyaan Irna membuat Alfred mengambil tindakan. Pria itu meletakkan beberapa lembar identitas di meja kerja Irna.
Irna melihat satu demi satu, karena di sana ada Dark yang ikut mengawasi. Irna memberikan jawaban kepada putranya dengan ketukan pada lembaran identitas tersangka.
Satu ketukan berarti bukan dan dua ketukan berarti itulah pelakunya.
Anehnya sepertinya Dark mengetahuinya. Pria muda itu mengetahuinya bahasa isyarat Irna. Dan itu ditunjukkan olehnya setelah Alfred keluar dari dalam ruangan kerjanya.
"Anda mencurigai saya?" Pertanyaan Dark membuat gadis itu menghentikan goresan penanya dari atas kertas di depannya.
"Jika benar begitu, apakah kamu keberatan?" Balik bertanya, masih membuka lembaran-lembaran kertas di atas meja.
"Tidak sama sekali. Tapi dia bukan pembunuhnya. Pembunuhnya lebih dahulu menutup wajah wanita itu dengan busa."
"Seperti bantal, wanita itu sudah tidak bernafas saat pria kedua menyayat lehernya." Jelasnya pada Irna.
"Tidak, dia hanya pura-pura pingsan saat wajahnya ditutup dengan bantal. Pelakunya juga orang yang sama." Irna dengan santai meneguk kopi di atas meja kerjanya.
Dark menelan ludahnya sendiri, melihat Irna meminum kopinya tanpa jijik sama sekali. Seolah-olah mayat di sebelahnya adalah sebuah boneka.
Dia juga sedikit terkejut karena wanita sesempurna itu, sepanjang hari berada di sebelah mayat.
"Kenapa? aku sudah bilang kamu tidak akan tahan bekerja denganku." Irna terkekeh melihat wajah pucat di depannya itu.
"Tidak! saya akan tetap tinggal!" Ujarnya tiba-tiba lalu berlari menuju westafel.
"Hueeek! hueeek!" Pria itu memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Katanya akan tahan, ternyata dia muntah juga!" Gumam Irna masih meneguk kopinya tanpa memperdulikan bawahnya itu.
Pria yang menjadi tersangka pembunuhan tersebut sudah berhasil ditangkap. Bukti-bukti yang ditunjukkan sangat lengkap, dan itu berkat bantuan Irna.
Sore itu Irna berdiri di luar rumah sakit, wanita itu menatap matahari senja masih mengenakan jas putihnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
Dark melangkah dengan sangat pelan di belakang punggungnya.
"Apa kamu tidak akan pulang?" Pertanyaan wanita yang merupakan atasan barunya itu membuatnya sangat terkejut.
"Bagaimana mungkin dia bisa tahu aku berada di belakang punggungnya? bahkan dia tidak salah menebaknya? bukankah bisa saja itu orang lain dan bukan aku?" Bisik Dark dalam hatinya.
"Saya akan pulang sekarang. Permisi dokter.." Ujarnya berpamitan pada Irna. Irna tidak menoleh ke arahnya sama sekali dia hanya tetap berdiri di tempatnya.
Dark segera berbalik dan hendak menuju mobilnya. Setelah beberapa langkah dia memiliki sesuatu untuk ditanyakan pada atasannya itu.
Akan tetapi ketika dia membalikkan tubuhnya Irna sudah tidak ada di sana.
"Astaga?! apakah aku sedang bermimpi? kemana perginya wanita itu?!" Gumamnya sambil mengusap-usap matanya berkali-kali.
"Kenapa kamu mencariku?" Irna menenteng tasnya dan membawa kunci mobil. Gadis itu melangkah santai menuju mobilnya bersiap untuk pulang.
"Itu, saya ingin bertanya sesuatu kepada anda." Ujarnya lagi sambil mendekat ke arah Irna. Dia mengeluarkan selembar foto dari dalam tasnya dan menunjukkan kepada Irna.
"Apa ini?" Tanyanya sambil menatap wajah Irna Damayanti di dalam foto tersebut. Foto itu adalah foto dirinya saat masih menjadi model.
"Wanita ini menghilang dalam kecelakaan mobil sepuluh tahun lalu, mayatnya tidak ditemukan. Tapi saya melihat wanita ini tujuh tahun lalu." Terangnya pada Irna.
"Kemungkinan pertama dia terbakar di dalam mobil, kemungkinan kedua dia hidup dan selamat dari kejadian itu." Ujarnya tanpa ekspresi apapun.
"Berapa usiamu pada waktu itu?" Tanya Irna padanya.
"Dua puluh dua tahun. Saya melihatnya dia bekerja sebagai seorang pengantar makanan."
"Apa tujuanmu bertanya tentang wanita ini sekarang?" Tanya Irna lagi padanya.
"Karena dia memiliki wajah yang hampir mirip dengan anda dokter Kaila."
"Ada lagi?" Tanya Irna sambil menyerahkan foto itu kembali padanya.
"Jika anda benar-benar adalah dia. Tentu saja dia sudah terlihat seperti wanita paruh baya. Tapi wajah anda tetap sempurna dan tetap sama sekali tidak berubah sedikitpun seperti manusia normal pada umumnya."
"Kamu bekerja denganku, apakah hanya ingin menanyakan hal ini?" Irna melangkah masuk ke dalam mobilnya.
Bersambung....
__ADS_1