
Irna melamun menatap luar jendela mobil Fredian. Pria itu meremas tangannya dan menciumnya.
"Apa yang kamu fikirkan saat ini?" Meraih kepala Irna dan merebahkan dalam dadanya.
Irna mencium bibirnya seraya membelai lehernya, Fredian terpaksa menepikan mobilnya di jalanan yang agak jauh dari keramaian.
Pria itu membalas ciuman istrinya dengan lebih agresif. Dan segalanya terjadi begitu saja, berakhir dengan seluruh pakaian bercecer di dalam mobilnya.
Untunglah kaca mobil milik Fredian tidak bisa di lihat dari luar segala hal yang terjadi di dalamnya.
Irna masih merebahkan tubuhnya di dalam pelukan hangat suami tercintanya.
"Apakah pemotretan nanti kamu tidak akan terlambat?" Berbisik dengan menempelkan ujung hidungnya di pipi Irna.
"Tidak, nanti akan segera dimulai saat aku tiba di sana. Dan aku juga sudah bilang akan datang sedikit terlambat." Memeluk pinggang suaminya semakin erat.
"Apakah kamu takut kehilanganku? kenapa tiba-tiba menempel sangat erat seperti ini?" Menatap wajah Irna lekat-lekat.
"Sepupumu, aku melihat dia sedang jatuh cinta dengan suamiku."
"Kamu jangan terlalu berlebihan, apa kamu pikir aku semudah itu jatuh cinta kepada wanita lain?"
Mencium kening istrinya sambil tersenyum lembut menatap wajah cemburu dalam pelukannya.
Mereka sudah sangat lama bersama, dan banyak hal telah terlalui begitu saja. Dan waktu yang sangat lama itu tidak mengikis cinta di antara mereka berdua sama sekali.
Fredian kembali memakai bajunya, sama halnya dengan Irna. Pria itu kembali menyalakan mesin mobilnya menuju studio.
Setelah sampai di sana, kedatangan Irna disambut oleh Anita.
"Aku harus melanjutkan pekerjaan, jika sudah selesai kamu telepon. Nanti aku akan menjemputmu." Ujar Fredian sambil melambaikan tangannya.
"Wah aku tidak menyangka kalian akan menikah kembali, kalian memang kedua pasangan yang sangat serasi." Ujar managernya itu.
Anita mengancungkan ibu jarinya ke depan wajah Irna diikuti suara renyah tawa mereka berdua.
Kemudian mereka melangkah masuk ke dalam studio, Irna bergegas menuju kamar ganti.
"Triiiiiing! triiing!" Ponsel Irna berbunyi nyaring.
"Halo? ya Rin?" Irna menjawab telepon dari sekretarisnya Rini. Gadis yang masih memegang kendali, mengurus kantor desain bangunan miliknya.
Rini sudah bertunangan dengan Juan, putra dari pemilik gedung tersebut.
"Bu, ada sedikit masalah di kantor, ini mengenai desain yang di minta oleh Presdir Arya Ardiansyah..." Ujar Rini pada bosnya itu.
Bayangan Irna mengenai sosok pria bernama Arya Ardiansyah, kliennya yang sudah bertahun-tahun lalu, sosok pria yang membujang bertahun-tahun, cuek, tidak peduli dengan sekitarnya. Minim teman, dan selalu memburunya meskipun dirinya berada di ujung pelosok dunia.
Wajah maskulin, tampan, tinggi atletis. Selalu membetulkan jas di badannya ketika beranjak berdiri. Bertingkah laku sedikit aneh dan sulit diprediksi.
Dia satu-satunya pria yang tidak jatuh cinta dengan Irna selama bertahun-tahun bekerja sama dengan dirinya.
Pria yang selalu bersikap profesional dan logis. Jarang menggunakan perasaannya saat mereka bekerja bersama.
Pria itu kembali meminta desainnya di saat sibuk-sibuknya dia sebagai seorang model terkenal.
"Arya? dia kapan meminta desain?" Celetuk Irna setelah kembali dari lamunannya.
"Minggu lalu Bu, ini bagaimana?"
"Hem rekomendasikan dia untuk menemuiku saja. Besok aku ada sedikit waktu, kamu atur pertemuan kami sekitar jam makan siang. Karena pagi hari aku masih ada pemotretan iklan baju."
Jelas Irna pada Rini, bertepatan saat Tika selesai melakukan riasan pada wajahnya.
"Baik Bu, nanti akan saya sampaikan." Rini kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.
Irna melangkah menuju ruang pemotretan, dan setelah mengambil beberapa pose melalui arahan dari fotografer sekitar dua jam proses pemotretan akhirnya selesai.
Indra Prawira pemilik butik Elzana mengkoreksi hasil jepretan kamera saat itu. Irna berdiri di sebelahnya untuk melihat hasil fotonya.
"Apakah ada yang tidak sesuai?" Tanya Irna sambil membungkuk memberikan hormat pada pria di depannya.
"Tidak ada, hasilnya bagus sekali." Ujarnya sambil tersenyum ramah.
"Oh istriku sangat senang sekali bisa bekerja sama denganmu. Dan memang tidak mudah untuk bekerjasama denganmu, selalu di dahului oleh perusahaan lain." Pujinya pada Irna.
"Anda terlalu berlebihan." Irna tersenyum lembut pada rekan bisnisnya itu.
Mereka berdua berjalan menuju ruang santai di studio tersebut. Duduk berhadapan di antara meja.
Indra tahu Irna adalah seorang gadis yang ramah dan baik jika mereka, para pria tidak berusaha mengotak-atik ketenangan hatinya.
Pria itu juga tidak berkeinginan untuk menggali liang kuburnya sendiri. Meskipun dia memiliki butik bergengsi di seluruh dunia.
Setelah agak lama bercakap-cakap mengenai pekerjaan dia segera berpamitan untuk pergi.
"Ah aku harus segera kembali."
Ujarnya berpamitan kepada Irna, setelah berjabat tangan dengannya, pria itu bergegas pergi.
__ADS_1
Irna segera kembali ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
Di luar studio Indra Prawira berpapasan dengan Rian. Pria berstatus sebagai dokter itu ingin melihat kondisi Irna.
"Oh dokter... Rian??" Sapanya sedikit terkejut, karena pria muda dan tampan itu bahkan mendatangi Irna di studionya.
Dia mengira hubungan mereka sebatas dokter dan pasien, tapi tidak menyangka akan sampai sedekat ini.
Yang dia tahu satu-satunya pria yang dekat dengan Irna adalah Fredian Presdir tampan Reshort angel.
"Kebetulan sekali bertemu dengan anda di sini?" Ujar Rian padanya, Rian pernah memborong banyak baju wanita dari butik Indra Prawira.
Saat itu dia dan Irna masih terikat hubungan suami istri.
Indra sendiri tidak tahu wanita mana yang dibelikan baju sebanyak itu olehnya. Dan karena hubungan pernikahan mereka waktu itu bersifat sangat rahasia.
Selain itu Rian terkenal dengan sifat dinginnya, siapa sangka pria itu bisa jatuh cinta pada wanita.
"Bagaimana kabar anda selama ini?" Tanyanya pada Rian Aditama.
"Saya baik-baik saja." Jawabnya sambil tersenyum.
"Maksud saya, hubungan antara kalian?" Tanya Indra sambil tersenyum.
"Ah, gadis yang aku belikan baju waktu itu?" Indra mengangguk mendengar pertanyaan dari Rian.
"Kami sudah lama bercerai." Ujar Rian sambil menatap wajah Indra tanpa rasa sedih.
Irna sudah selesai berganti pakaian, dia mengambil tasnya dan melangkah keluar dari studio
Di sana dia melihat Rian dan Indra Prawira sedang bercakap-cakap. Saat Rian tersenyum cerah menatap ke arahnya, gadis itu segera melambaikan tangannya.
Indra melihatnya, melihat garis tajam di wajah Rian. Garis cinta dalam binar-binar cahaya matanya.
"Sepertinya gadis pemilik baju waktu itu adalah dia." Celetuk Indra sambil menatap tajam wajah dokter tampan di depannya.
Skandal bertahun-tahun lalu, Indra juga tahu pernyataan Rian pada media bahwa dia sangat mencintai Irna.
Rian tersenyum lalu mengangguk mengakuinya. Irna menatap wajah mereka berdua bergantian.
"Apa ada yang salah? kalian terlihat sedikit aneh melihatku." Ungkapnya bertanya-tanya.
"Tidak ada, Indra hanya bertanya padaku tentang baju wanita yang aku beli dahulu untuk siapa." Terang Rian pada Irna.
"Oh, itu masih ada beberapa di rumah lamaku." Ucapan jujur Irna membuat Indra terkejut.
dan dia juga tahu Rian mencintai gadis itu.
"Hubungan serumit apa di antara mereka berdua, apakah gadis ini menjalani dua hubungan sekaligus????!" Jerit hati Indra saat itu.
Melihat wajah kaget Indra Prawira yang tersirat saat ini, Irna hanya tersenyum.
"Kami dahulu adalah sepasang suami istri." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Rian bahkan terkejut, kenapa Irna tiba-tiba membongkar hubungan yang sudah bertahun-tahun silam.
"Aku pernah menjadi istri sahabatmu ini, kemudian dia menceraikanku. Lalu aku menikah dengan Fredian." Terang Irna lagi.
"Dan sekarang??"
"Sekarang kami adalah teman dekat." Ujar Irna lagi semakin membuat pria itu merasa pusing, karena tidak bisa mencerna kata-katanya.
"Satu hal yang membuatku masih menyesal sampai sekarang, adalah menceraikannya!" Ujarnya pada Indra dengan terang-terangan.
"Apakah pertemuan kalian Presdir Reshort angel mengetahuinya? jika tidak, aku harap kalian berdua tidak membawaku terlibat ke dalam masalah kalian."
Fredian tersenyum dari dalam mobilnya mendengar percakapan mereka bertiga, pria itu sudah berada di sana sejak awal. Dan dia datang menjemput Irna bersama Rian.
"Dia ada di sini." Ujar Rian sambil tersenyum melihat wajah ketakutan Indra.
Fredian segera turun dari mobilnya dan menghampiri mereka.
"Apa kalian sedang membicarakanku?" Tanyanya pada mereka bertiga.
Irna terlihat sangat santai. Gadis itu tidak berhenti tersenyum melihat wajah mereka bertiga.
"Kami ini adalah sebuah keluarga yang sangat harmonis." Fredian merangkul bahu Rian.
"Apakah kalian berbagi satu wanita?" Pertanyaan Indra kali ini membuat Irna membelalakkan matanya.
"Astaga! pertanyaan seperti inilah yang sangat tidak ingin aku dengar sampai kapanpun." Gadis itu langsung masuk ke dalam mobil.
Dia tidak ingin mendengar kelanjutan dari pertanyaan yang akan menyudutkan dirinya.
"Dia Istriku dan aku tidak akan membaginya dengan pria manapun." Ujar Fredian.
"Aku mencintainya, dan aku tidak akan pernah menghapus perasaan yang sudah mendarah daging dalam hatiku." Ujar Rian.
"Kalian bersaing???"
__ADS_1
"Kami tidak pernah memperebutkan dirinya." Ujar Fredian sambil menatap wajah Rian.
"Semuanya mengalir begitu saja." Jelas Rian lagi.
"Oke! hentikan celoteh kalian, aku harus pergi. Dan terserah kalian saja aku tidak ingin mengetahui hubungan antara kalian bertiga. Berkali-kali aku memikirkannya tetap tidak bisa masuk ke dalam kepalaku."
Indra Prawira melangkah pergi menuju mobilnya sambil melambaikan tangannya pada mereka berdua.
Irna duduk di kursi penumpang, sedang Rian dan Fredian duduk bersebelahan di kursi depan.
Fredian dan Rian bersamaan menatap Irna dari kaca spion depan.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Tanya Irna curiga pada mereka berdua.
"Aku tidak tahu tiba-tiba ingin melihatmu, apakah kamu baik-baik saja selama pemotretan di luar negeri kemarin?"
Rian melemparkan pertanyaan tersebut tanpa sebuah senyuman. Biasanya pria itu selalu bersikap lembut dan ramah.
Irna melihat ke arah Fredian, pria itu tetap santai mengemudikan kendaraannya tanpa ingin ikut campur dalam percakapan mereka berdua.
"Aku baik-baik saja, dan tidak terjadi apa-apa kamu tidak perlu hawatir."
Rian tidak menyahut lagi, tampak raut wajahnya menyiratkan bahwa dia tidak merasa lega sama sekali dengan jawaban yang diberikan oleh Irna padanya.
"Kenapa dia menutupinya dariku.." Bisik pria itu dalam hatinya.
Satu jam dalam perjalanan menuju rumah Irna, mereka bertiga diam seribu bahasa.
Sampai di rumah Irna langsung masuk menuju kamarnya di lantai atas.
Untung Rian menemukan interior rumah yang sama persis dengan milik Irna jadi gadis itu tidak curiga sama sekali.
Rian naik ke lantai atas mengikuti Irna, sedang Fredian mengambil air dari dalam lemari es.
Saat perjalanan menuju ke studio Rian sudah berbicara pada Fredian. Dia ingin diberikan sedikit waktu untuk berbicara dengan istrinya.
Fredian sengaja menunggu di lantai bawah masih memeriksa berkas untuk ditandatangani.
"Irna, bolehkah aku masuk?"
"Iya masuklah, ada apa? Kenapa wajahmu terlihat sangat serius? apakah ada masalah di NGM?" Tanyanya bertubi-tubi.
"Tidak, bukan itu. Aku hanya hawatir kamu terjatuh padanya." Ujar Rian sambil menatap wajah Irna dengan sungguh-sungguh.
"Aku terjatuh pada Jermy???" Teriaknya sambil menunjuk dadanya sendiri.
"Iya. Aku tahu semuanya, kamu bahkan berada di dalam pelukannya beberapa kali."
"Kamu cemas padaku atau mencemaskan dirimu sendiri?" Irna melemparkan pertanyaan kembali padanya.
"Aku tahu posisiku, aku bukan siapa-siapa dan aku bahkan tidak pernah bisa memenangkan hatimu! setelah tahu semua tentang statusku di hatimu masihkah aku mencemaskan diriku sendiri?" Tegasnya lagi.
"Kamu cemburu?" Irna mencermati wajah di depannya penuh selidik.
Wajah Rian memang terlihat tidak senang, dan kecewa. Tapi Irna tidak tahu jika itu rasa cemburu atau bagaimana.
"Aku tidak cemburu, aku hanya menghawatirkanmu.." Jelasnya sambil duduk di sebelah Irna.
"Aku tidak berdebar sama sekali saat bersamanya, jadi apa yang kamu khawatirkan?"
"Ya, karena masih ada beberapa tahun lagi dan kamu akan bersama-sama dengan Jermy, aku harap hal yang aku khawatirkan tidak terjadi sama sekali."
Rian memegang kedua bahu Irna, masih melihat wajahnya dengan sepenuh hati berharap gadis itu tidak melalui hal yang sulit dan membuat dirinya terluka lagi.
Irna melihat wajah penuh hawatir dan sedikit kepedihan hati.
"Aku minta maaf sudah menuduhmu cemburu padaku, padahal kamu hanya tidak ingin melihatku terpuruk." Ucap gadis itu sambil menundukkan kepalanya.
"Aku mencintaimu dan masih tetap mencintaimu tapi bukan cinta yang bisa kamu sebutkan secara rinci, seperti cemburu atau yang lainnya."
"Jika aku masih penuh keegoisan, aku akan membuatmu menjadi tawananku seperti awal kita bersama." Ungkap Rian sambil tersenyum.
Rian melangkah keluar dari dalam kamar Irna meninggalkan gadis itu termenung di dalam kamarnya.
Irna tahu Rian masih berdiri di luar pintu kamarnya, mungkin pria itu ingin memeluknya erat lalu menumpahkan air matanya di bahunya.
Dia menahan semuanya, mungkin karena sekarang gadis itu sudah menjadi istri Fredian kembali.
"Kamu benar, aku tidak melihat egomu selama perpisahan diriku dengan Fredian beberapa tahun lalu, dan sampai sekarang aku tidak pernah melihatnya lagi."
"Butir-butir cinta dan rindu seperti sepasang kekasih, ataupun keinginan untuk bersama dalam ikatan pernikahan sudah tidak terlihat sama sekali pada dirimu.."
"Semuanya seolah-olah lenyap tertelan rasa bersalah, lenyap menjadi rasa tanggung jawab. Kamu hanya menaungiku, dan menjagaku, selama bertahun-tahun kamu hanya berdiri dan terus mengusap air mataku yang terus menerus mengalir..."
"Rian, aku tidak melihat dirimu yang penuh semangat seperti awal pertemuan kita waktu itu. Aku tidak melihat kekagumanmu saat melihatku seperti dulu... aku sampai lupa sebenarnya aku siapa dan kamu siapa?"
"Tapi kamu tetap bersikeras berdiri di atas luka dan air mata. Aku ingin melihatmu hidup seperti awal aku bertemu denganmu, melihat dirimu menikmati rasa bahagia itu bersama dengan gadis lain..."
Bersambung....
__ADS_1