
Di kerajaan Interure..
Javi Martinez duduk di singgasana. Seorang pria mengenakan shirt lengan panjang warna serba hitam datang tergopoh-gopoh masuk ke dalam kerajaan.
Pria itu berjongkok, menghadap ke arahnya serta memberikan hormat kepadanya.
"Ada apa kamu kemari malam-malam?" Tanya Javi pada pelayanannya tersebut.
"Saya ingin melaporkan, saya telah menemukan keberadaan ratu Vertos. Dia tinggal di pesisir pantai bagian selatan London." Mendengar itu Javi tersenyum, wajahnya kembali berbinar-binar.
Seribu harapan muncul dalam benaknya, harapan untuk menemui Irna. Hatinya belum lega jika tidak menggangu kehidupan gadis itu.
Pria itu meraih jasnya, kemudian melangkah turun dari singgasananya. Peter diam-diam mengetahui rencananya, pria itu segera menghubungi Rian untuk memberikan peringatan.
"Halo, pangeran William?"
"Saya ingin memberikan informasi, bahwa pangeran Javi sudah mengetahui keberadaan dokter Kaila. Pangeran harus segera meminta mereka untuk segera meninggalkan tempat itu." Ungkapnya pada Rian.
Rian segera berdiri dari kursinya untuk menghubungi Fredian. Setelah mendengar berita tersebut dari Rian, dia segera mengajak Irna untuk meninggalkan tempat itu.
"Kita harus segera pergi dari sini. Javi sudah mengetahui keberadaan kita." Ucapnya seraya memapah Irna.
Irna tersenyum tipis, dia menyentuh kedua pipi Fredian dengan kedua telapak tangannya. Kemudian mendaratkan ciuman pada bibirnya. Fredian terkejut, ketika dia melakukan tindakan itu. Awalnya dia pikir Irna masih marah padanya.
"Sampai kapan kita akan terus melarikan diri? Fred, tahan sakitnya sebentar." Irna menggigit leher suaminya itu dia terpaksa meminum darahnya untuk mengembalikan kekuatan fisiknya.
"Akh!" Fredian memeluk erat tubuh Irna. Baru kali itu dia merasakan nyeri pada lehernya.
"Sesakit ini, pantas saja dia marah-marah saat aku menggigit lehernya beberapa hari lalu." Gumamnya lirih sambil menyentuh lehernya bekas gigitan Irna.
"Uhk! uhk!" Irna terbatuk-batuk menahan nyeri pada perutnya. Selama ini dia tidak pernah menghisap darah siapapun. Apalagi untuk menambah kekuatan fisiknya.
"Apakah tidak ada perubahan?" Tanya Fredian sambil menunggu jawaban darinya.
"Perutku mual sekali, aku tiba-tiba tidak menyukai aroma darah. Bukankah ini aneh sekali?"
Irna tidak mengerti, fisiknya tetap terasa lemah. Bahkan perutnya terasa mual saat mencium aroma darah. Selama ini dia bekerja di rumah sakit tidak pernah merasa mual ketika mencium darah, apalagi saat menangani operasi hampir setiap hari mencium aroma darah.
"Apa jangan-jangan aku hamil?!" Tanyanya seraya menoleh menatap wajah Fredian.
"Keturunan vampir murni yang kedua." Gumam Fredian sambil memeluk istrinya.
"Jangan terlalu senang dulu, aku belum bisa memastikannya. Sejak berubah menjadi vampir, aku sudah tidak mendapat haid." Jelasnya pada suaminya.
"Kita harus pergi secepatnya dari sini. Aku tidak ingin kamu tetluka lagi." Fredian menggendong Irna. Secepat kilat tubuh mereka berdua sudah berada di parkiran Resort.
Maya melihat kedatangan mereka berdua segera menundukkan kepalanya memberikan hormat pada Presdirnya itu. Nira tersenyum melihat Irna berada di gendongan Fredian.
Gadis itu segera membukakan pintu ruang kerja Fredian untuknya. Dia tidak menyangka bahwa secepat ini mereka kembali. Sekitar pukul dua dini hari.
Fredian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. "Aku akan menyiapkan makanan untukmu. Beristirahatlah." Menyelimuti tubuhnya kemudian melangkah keluar kamar.
__ADS_1
Irna menahan tangannya, "Kenapa?" Fredian terkejut gadis itu menahannya agar tidak pergi.
"Minta pelayan saja, bukankah kamu bisa menghubungi mereka melalui telepon?" Merenggut masih menggenggam tangan Fredian.
Melihat itu Fredian tersenyum lalu duduk kembali di tepi tempat tidurnya. Dia mengelus rambut Irna. "Apa kamu takut aku pergi lagi?" Gadis itu segera menganggukkan kepalanya.
Fredian mengambil gagang telepon di atas meja, di sebelah tempat tidurnya. Dia segera menelepon dapur Resort untuk mengirimkan makanan ke ruangan kerjanya.
Irna memeluk pinggangnya dari belakang, Fredian memegang kedua lengan istrinya yang masih bertengger di pinggangnya. Irna menggesekkan kepalanya di belakang punggungnya seperti kucing kecil yang takut kehilangan induknya.
"Jangan tinggalkan aku.." Desahnya lirih ketika Fredian mencium lembut bibirnya.
"Tidak akan pernah." Bisiknya di telinga Irna, seraya memeluknya erat.
Satu jam kemudian pelayan datang mengantarkan makanan. Fredian menyuapinya, Irna masih terus menatap wajah suaminya.
"Apakah ini mimpi? aku merasa nyaman, kebersamaanku sekarang dengannya begitu terasa sangat sempurna." Bisiknya seraya menatap wajah Fredian lekat-lekat. Wajah tampannya tidak berubah sama sekali.
Irna mengulurkan tangannya untuk menyentuh alisnya lalu bulu matanya. Fredian masih menyuapinya, dia membiarkan wajahnya diraba-raba oleh istrinya itu.
Dia tidak terkejut, sejak awal mereka menikah Irna selalu menyentuh bulu matanya. Dia bilang bulu matanya sangat lentik seperti boneka.
Irna tersenyum melihat Fredian sedikit risih karena ulahnya itu. Tapi pria di depannya itu tidak menolak atau menyingkirkan tangannya dari wajahnya.
"Apa yang kamu tertawakan?" Tanyanya pada Irna.
"Kamu tidak pernah menyingkirkan tanganku, padahal kamu merasa tidak nyaman karena jemariku." Gumamnya sambil tersenyum.
Irna tidak menolak saat pria di depannya itu melepaskan helai demi helai pakaiannya. Dan menuntaskan hasrat di dalam hatinya.
Pekikan kecil memenuhi seluruh ruangan. Butiran keringat mengucur deras dari pelipisnya. Irna menyentuh pipinya dengan lembut. Kemudian mencium keningnya.
Malam itu berlalu, tubuhnya berada dalam rengkuhan Fredian. "Aku sangat mencintaimu Fred.. aku sangat mencintaimu. Jangan pernah pergi lagi. Tetaplah bersamaku." Bisiknya lagi di telinga suaminya.
"Aku tidak akan pernah pergi darimu. Tidak akan pernah." Menempelkan ujung hidungnya di pipi Irna dan melakukannya untuk yang kedua kalinya.
Di sisi lain..
Javi Martinez mendapati rumah kosong tersebut merasa sangat geram. Pria itu mengobrak-abrik seluruh isi rumah tersebut. Kemudian membakarnya untuk melampiaskan kekesalannya.
"Kailaaaaaaa!" Teriaknya di tengah suara debur ombak pantai. Pria itu berdiri menghadap ke tengah laut. Tangannya mengepal penuh amarah. Hasratnya ingin menundukkan Irna tidak berhasil.
Walaupun dia sudah berhasil membuat Irna salah faham terhadap Fredian. Dia masih tidak bisa membuatnya berada di dalam genggaman tangannya.
Dia masih ingat bagaimana Irna menampar pipinya di tengah hujan deras. Awalnya dia ingin gadis itu menghambur memeluk tubuhnya. Dan menyerahkan dirinya padanya.
Tapi saat memegang lengannya, Irna malah menampar wajahnya. Mendapatkan perlakuan seperti itu dia marah besar. Dan saat penobatan dirinya, Irna juga telah mempermalukan dirinya. Amarahnya memuncak mengingat itu semua.
Tapi ada rasa penyesalan setelah mengingat gadis itu terluka karena dirinya. Ada rasa bersalah karena menyakitinya. Bukan itu yang dia inginkan! Dia ingin gadis itu menyerahkan dirinya padanya.
Setiap mengingat wajah Irna, Javi Martinez selalu frustasi karena terus terabaikan. Niat tulusnya ditolaknya mentah-mentah. Walaupun saat hatinya telah terluka oleh prianya.
__ADS_1
Dia pikir dengan membuat luka pada hatinya, kemudian dia akan suka rela berlari ke dalam pelukannya. Siapa sangka Irna malah menampar wajah tampannya. Dan memilih mati dari pada harus tinggal bersamanya.
Begitu putus asa dia tidak mendapatkan hasil sama sekali dari rencananya. Dia melangkah menuju Resort pagi buta. Dan saat tiba di lobi. Tatapan matanya tertuju pada seorang pria yang bertugas di sana.
Melihat kedatangan Javi Martinez, petugas tersebut segera menelepon Nira. Karena Nira yang berhasil membuatnya pergi tanpa kerusuhan hari itu.
"Di mana Kaila!" Teriaknya pada petugas tersebut. Petugas itu ketakutan saat melihat sinar mata merah menyala-nyala di depannya itu. Tubuhnya gemetar sambil memegangi tangan Javi yang tengah menarik krah jasnya.
Nira melangkah menuju lobi, gadis itu masih memakai baju piyamanya. Luka di punggungnya sudah sedikit mendingan dibandingkan kemarin.
"Mau apa kamu kemari? huaaah!" Tanyanya seraya menguap meluruskan otot-otot tubuhnya.
"Kamu bilang padaku bahwa aku boleh menginap tiga hari gratis di sini." Jawabnya singkat, dia membatalkan niatnya untuk mencari Irna.
"Kamu melukainya, dan kamu bilang sudah tidak membutuhkanku?!" Sergah Nira sambil berbalik arah, melangkah pergi menuju kamarnya.
Javi melangkah mengejarnya, Nira mengacuhkannya. Tapi saat tiba di lorong Javi Martinez tiba-tiba menarik tangannya membuatnya berbalik menatap wajah Javi.
"Aku bersedia melakukan permintaanmu. Anggap saja itu sebagai bentuk permintaan maaf dariku!" Ujarnya tanpa sebuah senyuman.
"Aku sudah tidak membutuhkanmu. Acaranya sudah lewat dua hari." Ujarnya lagi lalu kembali melangkah.
"Kalau begitu kita buat acara baru." Pintanya pada Nira.
Gadis itu sedikit bingung, kenapa pria itu tiba-tiba ingin bersama dengan dirinya. Nira tahu betul Javi terlihat sangat frustasi pagi buta itu.
Wajahnya terlihat sangat putus asa dan terluka. Batin Nira merasa senang karena pria kejam itu memang pantas mendapatkan luka, untuk membayar semua tindakan gilanya.
"Aku tidak tertarik." Sahut gadis itu tanpa basa-basi lagi.
"Kenapa kamu menolakku? apa aku tidak pantas berada di sekitarmu!" Tandasnya kesal.
"Javi, kita tidak cocok. Apa kamu sedang mencari pelarian untuk tambatan hatimu? kalau benar begitu, cari saja wanita di club malam. Aku jamin kamu pasti mendapat banyak gadis dengan harga terjangkau." Sarannya pada pria itu.
Javi tercekat mendengar kata itu, Nira menilainya seperti seorang playboy yang hanya ingin melampiaskan nafsunya belaka.
"Kamu pikir aku sering pergi ke Club malam? mencari gadis di sana?!" Tanyanya sambil menatap tajam wajah Nira.
"Oh, bukan ya? ya sudah aku minta maaf. Aku ngantuk sekali biarkan aku melanjutkan tidurku. Oke?" Masuk ke dalam kamarnya lalu menjatuhkan dirinya di atas tempat tidurnya.
Javi masih tertegun di luar pintu kamar Nira. Dia belum selesai bicara tapi gadis itu sudah meninggalkan dirinya di luar pintu kamarnya.
Javi menoleh ke sekitar, tidak ada orang sama sekali di sana. Diam-diam pria itu masuk ke dalam kamar Nira. Dia melihat gadis itu sudah terlelap.
Javi duduk di tepi tempat tidurnya, dan kemudian tubuhnya limbung perlahan-lahan jatuh rebah di sana.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Nira masih tertidur pulas, karena tubuhnya sangat kelelahan. Begitu juga Javi, pria itu masih berbaring di sebelah Nira.
Saat Nira membuka matanya dia sangat syok melihat musuh bebuyutannya itu sedang tertidur pulas di sebelahnya. Bahkan dia memeluk pinggangnya.
"Apa dia sudah tidak waras! sakit hati dengan nenek lalu membuatku menjadi pelarian hatinya! Enak saja!" Gerutunya kesal sekali.
__ADS_1
Bersambung...