Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Kejutan untuk ibu


__ADS_3

Rian memarkir mobilnya di sebuah restoran. Dia membukakan pintu mobil untuk Irna.


Rian mengulurkan tangannya untuk menggandengnya masuk.


Irna menyambut uluran tangannya seraya berkata.


"Wah aku serasa menjadi Nyonya Rian Aditama.." Ujarnya sambil tersenyum.


"Ya, nikmatilah harimu Nyonya Irna Aditama." Ujar Rian menimpali kelakar Irna.


"Nikmatilah harimu, dan kembalilah senyuman cerahmu yang telah lama lenyap karena egoku." Ujar Rian lagi dalam hatinya sambil tertunduk.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Irna melihat wajah lesu Rian.


"Tidak apa-apa. Pesanlah makanan yang kamu mau." Ujarnya mengulurkan daftar menu.


Irna melirik ke daftar menu sejenak tidak ada yang menarik minatnya sama sekali.


Gadis itu menggelengkan kepalanya ketika Rian melihat ke arahnya.


"Cheese cake dua, dan kopi satu." Ujar Rian menyerahkan daftar pesanan pada pelayan.


"Kamu selalu ingin minum satu cangkir denganku, kebiasaanmu itu seharusnya dirubah." Ujar Irna sambil menatap wajah pria di depannya.


Beberapa menit kemudian segerombolan orang berbaju rapi masuk ke dalam restoran.


Irna melihat ke arah mereka lalu meraih tangan Rian tanpa sadar meremasnya.


Membuat Rian menoleh ke arah Irna melihat.


Fredian tersenyum melihat wajah terkejut mereka berdua.


Fredian sedang melakukan meeting di meja yang berseberangan dengan meja mereka berdua.


"Makanlah nanti akan aku antar pulang setelah ini." Ujarnya pada Irna yang sedari tadi hanya mengaduk kuenya, membuat berantakan di atas piring.


"Hem." Irna hanya mengangguk kemudian meneguk kopinya.


Fredian masih sibuk dalam meeting saat Irna beranjak berdiri dari tempat duduknya.


"Sepertinya dia sudah tahu semuanya." Ujar Rian sambil menatap wajah masam Irna.


"Iya, sepertinya begitu. Ah! jadi ini tidak akan ada gunanya sama sekali." Ujar Irna sambil duduk di depan mobil.


"Keluarga Derrose terus memburuku setiap seminggu sekali, mereka bahkan memberikan kalender bertanda. Pada saat tanggal bertanda merah mereka akan membawa Alfred ke kediaman mereka."


"Kemarin ibunya juga terus merundungku untuk mengembalikan putranya." Irna pusing sekali kemudian mengaduk rambutnya samping berantakan.

__ADS_1


"Ayo aku antar pulang, masuklah ke mobil." Ujar Rian sambil membuka pintu mobil untuknya.


Rian segera mengantarkan Irna kembali ke rumahnya.


"Terima kasih, maaf aku selalu membuatmu repot." Ujar Irna dan dibalas sebuah senyuman oleh Rian.


Irna melangkah gontai masuk ke dalam rumah, melepaskan gaun dan sepatunya berganti baju biasa.


"Bagaimana caranya aku mengusirnya?? aaaah kepalaku mau pecah rasanya! huh!" Teriaknya kencang sekali, kemudian meneguk sebotol air dari dalam kulkas.


Fredian tiba di rumah, dia melihat muka kusut Irna dan rambut gadis itu acak-acakan seperti habis berperang.


"Apa yang dilakukannya di rumah, kenapa rambutnya terlihat seperti habis terbakar?!" Gumam Fredian sambil melepas bajunya di dalam kamar.


Irna dengan gemas menerobos masuk ke dalam kamar, tidak peduli dengan tubuh Fredian tanpa pakaian di depannya.


"Kamu besok harus pindah dari sini! kepalaku pusing setiap kali melihat wajahmu!" Ujarnya asal-asalan lalu keluar kamar menutup pintu.


Irna duduk di atas karpet tebal di depan televisi, melihat televisi di depannya tapi pikirannya terbang kemana-mana.


Gadis itu memeluk lututnya, sampai matanya terkantuk-kantuk.


Fredian melewatinya saat pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


Dia mengangkat tubuh Irna masuk ke dalam kamarnya.


"Bagaimana caranya aku mengusirnya dari sini, ibunya terus merundungku setiap waktu, aku juga harus melepaskan putraku diusianya lima tahun, kepalaku sakit sekali memikirkanya, aku tidak tahu harus berbuat bagaimana." Irna mengigau dalam tidurnya, Fredian mengecup keningnya kemudian menyelimuti tubuhnya.


"Dia pasti yang menggendong tubuhku ke sini." Bisiknya.


Irna turun dari tempat tidur, suasana sangat sepi. Irna melihat ke dalam kamar tempat Fredian, pria itu juga tidak ada di sana.


"Apakah dia sudah pergi dari sini, kopernya juga tidak ada." Ujar Irna kembali menutup pintu.


Saat berbalik Fredian dengan selembar handuk melilit di pinggang berdiri di belakangnya.


Dia mendorong Irna masuk ke dalam kamar dengan langkahnya.


"Kamu baru selesai mandi?" Irna pura-pura bertanya untuk mengatasi rasa gugupnya.


"Aku hanya menengok untuk melihat kopermu, aku pikir kamu sudah pergi." Ujar Irna lagi, tapi Fredian terus maju mendorong tubuhnya sampai jatuh terduduk di tepi tempat tidur.


"Apa kamu tidak ingin aku pergi?" Bisiknya di telinga Irna, membuat wajahnya tiba-tiba terasa panas.


Irna kembali ingat ibunya Fredian akan menunggunya hari ini di restoran kemarin.


"Ah aku harus menjemput Alfred, aku permisi dulu." Ujar Irna mencoba menghindari ciuman Fredian, yang sejak tadi sudah mengendus daun telinganya.

__ADS_1


"Dia tidak akan kenapa-kenapa walaupun menunggu satu jam lagi. Bukankah dia sedang bersama neneknya?" Bisik Fredian di telinga Irna.


"Jadi kamu sudah tahu?" Tanya Irna sambil menatap wajah Fredian lekat-lekat.


"Iya aku tahu." Ujarnya sambil mengecup bibir Irna.


"Lalu kenapa kamu masih berada di sini?" Tanya Irna bingung.


"Kamu masih bertanya pada suamimu kenapa berada di sini? apa kamu lupa aku suamimu! suami Irna Damayanti, apa perlu aku membuat stempel di atas dadaku??" Ujar Fredian sambil menunjuk dadanya sendiri.


"Lalu aku harus bagaimana? ibumu bilang aku sudah mencurimu darinya?!" Irna berteriak di depan muka Fredian dengan gemas.


"Dia bilang putra satu-satunya sudah tercemar gara-gara istrinya yang rendahan! dia meminta padaku untuk mengembalikan dirimu padanya agar tidak tinggal di tempat kumuh bersamaku!" Gerutu Irna di depan wajah suaminya.


"Tempat nyaman di bukit dia bilang kumuh! udara segar begini dia bilang ini kumuh! aku tidak percaya sama sekali! kecuali aku tinggal di dalam selokan baru boleh di bilang kumuh!" Tambahnya lagi makin kesal.


"Kamu cerewet sekali pagi pagi!" Ujar Fredian lalu menutup bibir Irna dengan bibirnya.


"Jangan mulai lagi! lepaskan aku!" Teriak Irna ketika Fredian menarik bajunya melemparkan ke lantai.


"Aukh! sakit! hentikan!" Teriaknya lagi padanya.


Karena menunggu terlalu lama ibu Fredian pergi ke rumah Irna untuk memulangkan Alfred. Dia pikir saat itu Fredian sudah berada di kantornya.


Dan saat sampai di sana, dia langsung masuk kedalam rumah Irna. Karena rumah Irna terlihat sangat sepi.


"Fred, akh, sakit.. lepaskan aku akh..." Rintihan Irna terdengar dari luar kamarnya.


Ibu Fredian menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka.


Dia melihat putra satu-satunya itu sedang bergumul dengan menantu yang sangat dibencinya.


"Pantas saja dia tidak membuat masalah di kantor belakangan ini. Ternyata dia sudah menemukan obatnya. Bahkan ketika wanita itu pergi aku menunjukkan padanya gadis cantik dan lebih muda, tapi dia tetap memilih untuk pergi ke Club mabuk-mabukan lalu pulang larut malam."


"Sejak dia bertemu dengannya lagi, dia menjalani hidupnya kembali teratur. Urusan Reshort juga berjalan lancar seperti sedia kala." Ujar Ibu Fredian lalu buru-buru membawa cucunya kembali pulang ke kediamannya.


Fredian mendengar gumaman ibunya yang datang dan melihatnya, pria itu tersenyum tipis. Kemudian kembali meringsak habis tubuh Irna di bawah tubuhnya.


"Akh! sudah hentikan, sudah tiga jam!" Teriak Irna berusaha mendorong tubuh Fredian.


"Aku ingin lagi..." Masih menempelkan ujung hidungnya di leher Irna.


"Ah! pokoknya sudah selesai!" Teriak Irna kesal sekali membuat Fredian tersenyum melihat wajah marahnya.


"Kenapa kamu malah tersenyum? apa kamu kelewat gila!?" Ujar Irna.


"Apa kamu bilang! coba bilang sekali lagi!" Fredian kembali menghimpitnya.

__ADS_1


"Akh! aduh tidak! tidak ada! kamu tampan sekali! jadi cepat kamu selesaikan dan turun dari tubuhku!" Fredian tersenyum melihat teriakan Irna.


Bersambung....


__ADS_2