Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Episode 26


__ADS_3

Irna tidur telungkup di sofa ruang kerjanya.


"Kepalaku sakit sekali." Desahnya sambil meletakkan kepalanya di atas sofa.


Dia tidak mengira jika secepat ini akan berpisah dengan Rian, dia tahu pria mana yang akan tahan terus diduakan seperti itu.


Apalagi pria itu adalah orang terpelajar, dan sangat tampan, profesional. Segala sisi hampir segalanya sempurna ada pada dirinya.


Sedangkan dirinya hanya gadis biasa saja, berasal dari keluarga biasa. Dan sekarang bahkan tidak memiliki orang tua, hanya tinggal sebatang kara.


Malam berlalu begitu cepat dan Irna sudah terlelap di dalam kantornya.


Dia merasa bahwa tidak harus berdebat lagi dengan Rian. Dan satu-satunya cara saat ini adalah dengan menghindari pria itu untuk sementara waktu.


Berdebat hanya akan memperumit masalah antara dirinya dengan Rian Aditama, dan lebih memperkeruh keadaan mereka berdua.


Tak beberapa lama kemudian hari sudah menjelang pagi. Irna membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi kantornya.


Sekitar jam delapan pagi seseorang datang mengantarkan sesuatu, seperti sebuah surat penting. Irna membuka amplop berwarna cokelat tersebut.


Dia sudah menebak itu adalah surat cerai dari suaminya Rian.


Irna segera membuka amplop tersebut, kemudian membaca isinya. Di dalam amplop tersebut tertulis..


"Irna... aku minta maaf sebelumnya, aku tahu kamu dalam situasi yang sulit karena berada di antara aku dan Fredian. Dengan berat hati dan sangat berat hati aku masih sangat terluka! aku tidak bisa mengambil keputusan secepat permintaanmu, karena dalam hatiku tetaplah dirimu seorang. Jika saja aku memiliki rasa tertarik pada wanita lain, tentu aku tidak akan pernah memutuskan untuk buru-buru memilihmu...


Salam sayang dariku... Rian Aditama."


"Pria gila ini, benar-benar tidak peduli lagi! aku rasa kita akan terus berperang sampai akhir. Bagaimana mana mungkin seorang pria terpelajar mengambil keputusan gila begini!?" Gerutu Irna sembari meremas surat di tangannya.


Tanpa menunggu lagi Irna segera mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya.


"Dia benar-benar tidak sabaran sekali!" Ujar Rian terkekeh dengan tubuh masih basah, mengambil handuk mengusap wajahnya untuk membersihkan sisa tetesan air.


"Apa kamu gila! kamu menulis surat untukku! memasukkan ke dalam amplop cokelat seakan-akan itu surat perceraian!!!? tapi malah berisi permintaan maaf konyolmu itu!!!" Teriak gadis itu sangat merasa kesal sekali.


"Kenapa kamu malah marah-marah? bukankah kamu seharusnya bahagia aku seorang pria yang sangat tampan dan kaya raya memiliki segalanya untukmu seorang saja??? dan tetap mencintaimu terus menemanimu tidak peduli badai hujan... Tut..tutt" Belum selesai dia bicara menjelaskan perasaannya, Irna sudah terburu mengakhiri panggilannya.


Rian tertawa terpingkal-pingkal mendengar Irna memutuskan panggilan telepon sebelum dia menyelesaikan kata-katanya.


Dia membayangkan bagaimana wajah gadis yang berstatus sebagai istrinya saat itu, wajah merah padam menahan amarah. Karena Rian sudah mempermainkan perasaannya.


"Dasar pria gilaaaaaaaaa! Braaak!" Teriak Irna kesal seraya menggebrak meja.


"Dia pasti sengaja ingin mengerjaiku seperti ini! dia sengaja sekali, padahal semalam dia sendiri yang marah, dan membuat diriku terjepit dalam situasi yang sangat sulit, sekarang dia sendiri yang tidak ingin melepaskanku!" Geram Irna lagi.


Kemarahan Irna membuat Rini terkejut hingga mengurungkan niatnya yang tadinya ingin masuk ke dalam ruangan Irna.


Melihat sekretarisnya itu Irna segera merapikan mejanya kembali.


"Ada apa Rin? masuklah." Perintahnya pada Rini.


"Ini Bu, tadi ada telepon dari Reshort Angel. Mereka meminta anda untuk mengantarkan hasil tinjauan proyek kemarin." Ujar Rini kemudian undur diri.


Irna hanya mengangguk sambil menghela nafas panjang menatap berkas di meja kerjanya.


"Jika aku meminta kurir untuk mengantarkan berkas ini, Fredian gila itu akan menerobos ke kantorku melakukan hal yang sama seperti beberapa waktu lalu! dan jika aku ke sana dia akan melakukan hal yang sama gilanya! jika aku tidak segera menyerahkan berkasnya dia akan memburunya! ah pusing sekali!" Ujar Irna pada dirinya sendiri.


Irna segera bersiap menuju ke Reshort.


Sesampainya di sana, Irna menyerahkan berkas tersebut pada Resepsionis.


"Maaf Bu, anda harus mengantar sendiri ke ruangan Presdir." Ujar resepsionis tersebut.


Dengan malas Irna berjalan menuju ruangan Fredian.


Ketika sampai di depan pintu terdengar suara seorang wanita, bermanja-manja. Irna hanya mengangkat alisnya lalu membuka pintu dan masuk ke dalam.

__ADS_1


Di sana terpampang pemandangan luar biasa.


"Apa yang salah denganku? kenapa dia tiba-tiba melakukan hal ini dengan sengaja tepat di depan mataku?" Tanya Irna tidak mengerti sambil memijit pelipisnya menahan perasaan yang tidak bisa diungkapkan.


Seorang model ternama, bernama Clarisa hanya mengenakan pakaian dalam duduk di atas pangkuan Fredian mengulum bibir satu sama lain.


Fredian melihat Irna masuk ke dalam ruangan tersenyum sinis. Pria itu hanya meliriknya sebentar kemudian melanjutkan aksinya mendorong tubuh Clarisa hingga berbaring. Lalu menindihnya.


Tanpa sepatah kata keluar dari bibir gadis itu, Irna meletakkan berkasnya di atas meja kerja Fredian, tepat di sebelah mereka bercumbu.


"Sayang aku sudah tidak tahan lagi..." Desah Clarisa lagi, membuat Irna tiba-tiba bergidik.


"Hem..." Jawab Fredian, kemudian membuka seluruh pakaian yang tersisa.


"Ini berkas yang kamu minta, sudah aku tinjau dan juga sudah aku tanda tangani. Untuk proyek ke depan aku akan mengawasinya pada proses konstruksi. Sama seperti permintaanmu sebelumnya." Ujar Irna pada Fredian, gadis itu terus menatap berkasnya di atas meja tanpa menoleh ke arah pria itu.


"Aku masih mencintaimu, tapi kamu dengan sengaja melukai perasaanku." Bisik Irna dalam hatinya.


Irna dengan bibir tersenyum, melangkah dengan santai pergi meninggalkan mereka berdua. Kemudian menutup pintu.


"Pria itu, dengan sengaja memamerkan segalanya padaku. Dia ingin aku mencabik-cabik mukanya sambil berkata manja, kenapa kamu tega sekali padaku?" Ujar Irna pada dirinya sendiri.


"Lalu dia juga ingin aku merajuk, sambil berkata.. Bukankah kamu masih mencintaiku?! atau dia ingin aku mendamprat wanita di sebelahnya?!" Gumam Irna di sepanjang jalan keluar dari dalam Reshort milik Fredian.


"Hanya wanita gila yang akan melakukan itu tanpa tahu posisinya. Mimpi saja jika kamu berharap aku melakukan hal seperti itu!!!" Timpalnya lagi, mengiringi langkah kakinya terus berjalan meninggalkan Reshort Fredian.


Gadis itu kembali mengendarai mobilnya tanpa menoleh ke belakang, dia sudah tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Fredian, pria satu-satunya yang mengisi hatinya saat ini.


Fredian satu-satunya yang membuat dirinya bertahan walaupun terus terluka penuh air mata. Merelakan dirinya sebagai pertukaran untuk membuatnya normal kembali seperti manusia lainnya.


Setelah sampai di gedung kantornya, Irna terkejut melihat Reynaldi dengan seikat bunga di tangannya sedang duduk menunggu. Irna hendak melewatinya begitu saja tanpa ingin menegurnya.


Tapi sepertinya tidak bisa, pria itu melambaikan tangan padanya ketika melihat dia melangkah masuk ke dalam gedung.


Pria itu menunggu Irna, dia terus tersenyum melihat kedatangannya di sebuah cafe yang terletak di lantai satu, di bawah kantornya.


"Jika aku tidak bisa mengendalikan emosiku, pasti akan sangat memalukan." Ujar Irna dalam hatinya menahan amarah sejak berada di kantor Fredian beberapa saat yang lalu.


"Oh, hal penting apa yang membawa anda kemari?" Tanya Irna seraya tersenyum duduk berhadapan dengan Reynaldi.


"Ini untuk permintaan maaf dariku, juga rasa terimakasih, aku harap kamu mau menerimanya." Mengulurkan bunga pada Irna juga sebuah kotak berukuran tiga puluh sentimeter.


Irna segera menerimanya kemudian terkejut melihat isi dalam kotak tersebut.


"Apa ini?" Irna membelalakkan matanya menatap isi di dalam kotak tersebut.


"Itu bukan apa-apa, hanya ucapan terimakasih dariku padamu untuk kemarin." Ujarnya sambil tersenyum menatap wajah Irna yang terkejut saat melihat isi kotak tersebut.


"Aku minta maaf sebelumnya, bunganya aku akan menerimanya. Tapi tidak yang ini." Irna mendorong kotak perhiasan itu kembali ke depan Reynaldi.


"Apakah kamu tidak menyukainya, atau desainnya kurang bagus? aku akan memesannya ulang, atau kamu ingin membuat desain sendiri?" Tanya Reynaldi bertubi-tubi tidak mengerti.


"Aku sudah menelpon suamimu, dia bilang tidak apa-apa memberikan ini jika kamu mau menerimanya." Tambah Reynaldi lagi seraya mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Tentu saja dia bilang begitu! Pria gila itu sudah tahu aku tidak akan menerimanya!! jadi mari kita bermain sedikit dan membuatnya kesal!!!" Ujar Irna sengaja dalam hatinya.


"Baiklah jika anda memaksa saya akan menerimanya dengan senang hati." Ujar Irna sambil tersenyum di buat-buat.


"Triiingggg! triiing!" Tiba-tiba ponsel Irna berdering. Dia melirik nomor tersebut, nomor yang tidak asing.


"Bolehkah saya mengangkat telepon??" Tanya Irna pada Reynaldi, karena mengingat terakhir kali pria itu menyeret lengannya, masuk ke dalam rumah keluarga Anggara dengan paksa karena menerima telepon.


"Saya juga harus pergi, karena masih ada hal yang penting yang harus saya selesaikan." Ujarnya sambil mengangkat kedua alisnya tersenyum mengulurkan tangannya.


Reynaldi beranjak berdiri kemudian Irna mengulurkan tangannya menjabat tangan Reynaldi.


Tanpa diduga sama sekali Reynaldi menarik genggaman tangannya hingga membuat Irna jatuh ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Reynaldi dengan lembut membelai rambut Irna, menahan punggungnya agar tetap berada di dalam pelukannya.


Irna tersenyum tidak percaya, mendongak melotot menatap wajah di depannya. Reynaldi dengan sengaja menahan pinggang Irna membuat Irna tetap terjebak dalam dekapannya.


"Apakah kamu senang sekali membuat skandal dengan Irna Damayanti???!" Geram Irna, sambil mencoba melepaskan diri darinya.


Reynaldi semakin memperkuat pelukan membuat Irna menahan dada pria itu dengan kedua tangannya, Irna kembali mendongak menatap wajahnya.


Reynaldi mendekatkan wajahnya ingin mengecup bibir tipis berwarna peach di depannya itu, tapi Irna sengaja memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Jika itu membuatku bisa berdiri di sisi seorang Irna Damayanti, walaupun satu detik saja. Aku sangat bahagia." Bisiknya di telinga Irna.


"Tapi aku minta maaf sebelumnya, aku harus melakukan sesuatu yang akan membuatmu sakit." Ujar Irna tak mau kalah.


"Apa itu?" Menghembuskan nafasnya di wajah Irna. Seolah dia sangat menunggu moment terbaik hari itu.


"Jraaaaak! Kraaak!!" Irna menginjak kaki Reynaldi dengan sekuat tenaga. Wajahnya terlihat sangat kesal sekali.


"Akkkh!" Teriak Reynaldi.


Membuat pria itu segera melepaskan pelukannya meringis menahan nyeri. Beralih berjongkok memijit kakinya.


"Terima kasih banyak atas hadiahnya, aku akan membawanya ke dalam." Irna berbalik hendak pergi.


Tapi kemudian berjalan kembali, melihat Reynaldi masih berjongkok memijit kakinya


Irna ikut duduk berjongkok di depan Reynaldi.


"Hem.. apakah kamu butuh ambulans tuan Reynaldi? aku bisa memanggilkan ambulans untuk memperbaiki kerusakan kakimu!" Ujar gadis itu seraya tersenyum mengejek pria itu.


Dilihatnya Reynaldi masih meringis menahan nyeri pada kakinya. Tapi dia tersenyum penuh misteri saat Irna duduk berjongkok tepat di depannya.


Dia mengamati wajah cantik itu, bibir tipis yang sempat menciumnya semalam, tubuh mungil yang pernah berada di bawah himpitan tubuhnya, jemari lentik yang sudah membelai lehernya menariknya jatuh di atas tubuhnya. Pria itu merindukannya, dan menginginkannya.


Dia tahu kalau sebenarnya itu hanyalah trik dari seorang Irna Damayanti agar dia bisa kabur malam itu. Tapi dia sangat menikmati kepura-puraan gadis itu.


Dia tidak peduli itu hanya akting yang sengaja dilakukan oleh Irna. Reynaldi sangat menikmatinya.


Terkadang dirinya sendiri bingung, Irna pergi ke dalam pelukan Rian malam itu saat meninggalkan rumah megah miliknya. Dan Fredian datang dengan amarah memuncak setelah kepergian Irna.


"Siapa sebenarnya yang diinginkan gadis itu? kenapa wajah di antara mereka berdua tidak ada yang terlihat memiliki kepastian?" Pertanyaan itu terlintas begitu saja dalam ingatannya, ketika melihat Fredian dan Rian semalam.


"Tidak perlu, aku hanya butuh ini.... Cup!" Tiba-tiba tanpa angin tanpa hujan mengecup bibir Irna seperti menempelkan stempel atas namanya di bibir Irna.


Pria itu tersenyum sangat manis. Wajahnya begitu cerah melihat wajah geram dan marah di depannya saat ini.


"Apakah aku sudah jatuh cinta padamu? Irna Damayanti? apakah aku sudah menjatuhkan hatiku dalam genggamanmu? kenapa rasanya begitu nyaman melihat amukan amarah ataupun melihat senyumanmu? aku sangat menyukainya, aku sangat menyukaimu. Bukan hanya wajahmu yang begitu manis, tapi juga segalanya yang ada padamu begitu menawan." Bisik Reynaldi dalam hatinya.


Wajah Irna mendadak terasa panas. Menahan amarahnya yang seperti gunung berapi hendak memuntahkan laharnya. Bahkan dia mengabaikan ponselnya yang terus berdering sejak tadi.


Dia sudah lupa di mana dirinya berada saat itu, yang ada di dalam hatinya hanyalah keinginan untuk melampiaskan amarahnya, selain Fredian yang membuatnya marah. Tapi Reynaldi juga membuatnya merasa sangat kesal hari ini.


Reynaldi kemudian beranjak berdiri, tidak terkejut melihat wajah Irna berubah merah padam.


"Satu kosong!" Ujar Reynaldi sambil nyengir pada Irna melangkah pergi menuju ke arah mobilnya di depan gedung.


Pria itu segera membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam tanpa menunggu lagi amukan dari Irna.


Seakan-akan pria itu kabur darinya.


Dari dalam mobilnya dia melihat Irna melempar bunga darinya ke lantai kemudian dengan geram menginjak-injaknya sampai hancur entah apa yang digumamkan oleh gadis itu.


Reynaldi masih terus mengulum senyum sambil menggelengkan kepalanya menatap tingkah kelucuan gadis itu.


"Dasar pria gilaaaaaaa!!! Awas kamu!!" Teriak Irna tanpa peduli lagi.


Tindakan Irna membuat Reynaldi terus tertawa terkekeh-kekeh sambil berlalu mengemudikan mobilnya meninggalkan Irna.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2