
Fredian tidak menepis tangan Rian dari krah bajunya, dia pikir memang salahnya karena terlalu larut dengan cinta Irna hingga tidak bisa berpikir dengan jernih.
Sejak dia menikah lagi dengan Irna, over posesif terhadap gadis itu semakin hari semakin bertambah. Dia ingin gadis itu terus-menerus bersamanya, bermanja-manja di dalam pelukannya.
Dia hampir lupa jika Irna adalah seorang dokter hebat, yang harus melayani masyarakat. Harus sewaktu-waktu berada di sisi meja operasi, menyelamatkan nyawa pasien-nya.
"Kenapa kamu melamun? apa kamu menungguku untuk melayangkan tinju ke wajahmu?" Rian mencampakkan Fredian sambil tersenyum tipis. Dia merasa pria itu menyerah pasrah ketika ia ingin memukulinya!
Rian melangkah keluar meninggalkan pria itu sendirian dalam lamunannya. "Tunggu! Apakah rasa cinta yang kian hari terus bertambah hingga hampir membuat dadaku meledak-ledak itu normal menurutmu?" Ucapnya sambil melangkah menuju ke arah Rian.
Rian masih berdiri di ambang pintu mendengar ucapan itu darinya, langkah pria itu mendadak berhenti. Pria itu kemudian mendengus seraya menoleh ke belakang menatapnya.
"Entahlah! aku belum pernah mengalami hal seperti itu, yang aku rasakan sendiri, cintaku tidak pernah berubah atau pun berkurang tetap sama seperti itu dari awal hingga akhir!"
Fredian tidak terkejut mendengar ucapan tersebut keluar dari bibirnya, pria yang dahulu pernah menjadi suami Irna. Walaupun ia masih belum bisa melonggarkan hatinya untuk memberikan celah pada pria itu untuk kembali mendekati Irna seperti sebelumnya.
Fredian sendiri tidak bisa memahami perasaan yang sekarang yang kian hari kian egois, semakin hari super posesifnya nya semakin bertambah sampai-sampai menyulitkan Irna, juga membatasi segala yang ia lakukan di luar rumah.
"Apa yang terjadi padaku sebenarnya? apa aku kelebihan hormon testosteron??!" Pria itu tersenyum putus asa, kemudian melangkah pergi ke luar ruangan menuju lobby rumah sakit.
Rian sudah berada di dalam ruangan kerjanya, dia sedang duduk di sofa menatap berkasnya di atas meja. Dia ingat Irna-lah yang sudah memunguti berkasnya dari atas lantai dan meletakannya di atas meja.
Dia ingin menyusulnya ke Belanda, tapi dia tidak memiliki alasan yang tepat untuk mendatanginya. Selain itu dia juga baru saja memecatnya, dia tidak bisa menjawab jika Irna menanyakan alasannya datang menyusulnya ke sana.
Di sisi lain...
Universitas kedokteran Jerman..
__ADS_1
Di dalam ruangan kelas Kania tampak sibuk mencatat dalam buku tugasnya. Juga Mira di sebelahnya melakukan hal sama dengannya. Royd sedang menulis di papan tulis, memberikan penjelasan tentang materi hari itu.
Dia melihat ke arah Kania, pria itu tak henti-hentinya mengulum senyum manis. "Apakah ada pertanyaan untuk materi kali ini?" Tanyanya seraya mengedarkan pandangannya ke arah seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang ada di dalam kelasnya tersebut.
"Tidak pak!" Jawab seluruh muridnya dengan serempak. Pria itu kembali tersenyum lalu meletakkan spidolnya. Melangkah menuju kursinya, dia menopang dagunya seraya melemparkan pandangan matanya ke arah Kania.
"Dasar pria mesum brengsek!" Umpat Kania yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.
"Kamu bilang apa tadi?" Mira segera menyahut ucapanya, gadis itu tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba berkata kasar.
"Hahahaha! aku bertemu pria gila tadi pagi!" Ujarnya asal-asalan kemudian melanjutkan acara mencatatnya.
Pikiran Kania kembali melayang pada tiga jam sebelumnya, saat dia berada di apartemen miliknya.
Pagi-pagi sekali Royd sudah menciumi pipinya, ditengah ia terlelap. "Ahhh, ini masih pagi sekali, kenapa membangungkan-ku?" Keluhnya sambil menghalau wajah pria itu dari lehernya.
Royd menggila menciuminya bertubi-tubi, Kania sudah mendorong kepalanya berkali-kali agar dia menjauh darinya. Tapi berulang kali juga pria itu mendekat kembali.
"Royd.. mmmhhh.. apaan sih kamu?" Kania masih setengah membuka matanya, masih ngantuk sekali. Dia bahkan tidak menepis tangan Royd Carney yang mulai membuka kancing bajunya satu persatu sampai terbuka seluruhnya.
Pria itu menelungkupkan jemarinya ke dalam celana dalam warna hitam milik Kania, "Akkkkhhhhhh! Royd! akkkhhh!" Kania mengangkat kepalanya melihat jemari pria itu mengocok area sensitifnya dengan jemarinya.
"Aku merindukanmu, sayang.., sudah tiga hari aku berada di luar kota. Aku ingin menikmati masa tiga hariku yang sudah berlalu tanpamu sekarang.." Desisnya lirih di telinga Kania.
Royd berhasil menarik celana dalam Kania meluncur ke bawah kakinya. Dan menarik tali bra-nya ke bawah bongkahan kenyalnya, bibirnya sibuk memagut bibir mungil Kania.
Jemari tangan kirinya meremas-remas bola kenyal dadanya, dan tangan kanannya masih terus mengelus, mengocok area sensitifnya.
__ADS_1
"Eeemmmhhh.. akkhhhh.... auuhhhhh... aaahhh!" Kania menggeliat kesana-kemari merasakan kenikmatan cumbuan liarnya.
"Kania..." Bisiknya di telinga gadis itu, sembari membuka lebar-lebar kedua paha gadis itu. Mulai mendorong tubuhnya pelan-pelan dengan ritme lambat.
"Royd.. akkhhh.. akkh.. akkkh... aakkh.. emmmhh!" Desisnya lirih seraya menggigit bibir pria itu. Menikmati sodokan bertubi-tubi pada belahan sensitifnya.
"Kamu mau yang pelan atau yang cepat?" Bisiknya lagi seraya menggigit ujung bulatan merah muda di ujung dada kenyal Kania.
"Akkkhhh.. akkhhh.. mmmhh... ahhh." Kania sibuk mendesah-ndesah, dia tidak ingin menjawab pertanyaan dari Royd.
Royd menambah laju kecepatan permainannya, "Clak! clak! clak! clak! clak!" Dua organ berbenturan bertubi-tubi, semakin cepat mengaduk-aduk area sensitifnya.
Tubuh Kania terguncan-guncang, gadis itu menutup kedua matanya, benar-benar menikmati permainan pria itu. Kedua tangannya memeluk leher Royd, menyambut pagutan bibirnya dengan panas membara.
Cukup lama, permainan tiga kali klimaks, dalam waktu dua jam. Rasa pedih di area sensitif Kania mulai terabaikan karena cumbuan liar pria itu terus menguasai hasratnya untuk melanjutkan lagi dan lagi.
"Kamu menyukainya sayang?" Royd mengelus belahan area terlarang Kania, memeluknya dari belakang. Senjata miliknya masih tertanam di dalam sana, dia sengaja menarik menusuk perlahan.
"Akkkhhhh, ooohhh... aaahhh.. mmmhh.. ahhh.." Kania mengusap wajah Royd yang ada di bahu kirinya, sedang menciumi lehernya.
Kaki kiri Kania berada di atas pinggang Royd, pria itu tak henti-hentinya tersenyum melihat wajah Kania terus merajuk padanya. Gadis itu sengaja membuka kedua kakinya lebar-lebar memberikan kesempatan pada Royd untuk terus mengusap belahan sensitifnya.
Pikiran normalnya sudah tidak berjalan, yang ada pada dirinya sekarang hanyalah kenikmatan setiap cumbuan pria tampan itu! yang terus menerus membuatnya mendesah merasakan kenikmatan cumbuan dari belakang punggungnya.
*Bersambung.. .
Jangan lupa untuk like + komentar, jangan lupa vote juga ya untuk dukung author? terima kasih Readers ππ.... β€οΈβ€οΈ ditunggu yah untuk episode selanjutnya*...
__ADS_1