Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Go again


__ADS_3

Keesokan harinya..


Irna sedang bersiap-siap, gadis itu hari ini tidak ada jadwal piket ke rumah sakit kecuali untuk panggilan operasi.


"Aku berangkat dulu.." Rian mengecup keningnya sambil tersenyum. Pria itu berangkat menuju NGM.


Irna mengambil arloji miliknya kemudian memakainya. Gadis itu mengunci pintu rumahnya saat dia berbalik seseorang sudah berdiri di belakang punggungnya.


"Kamu? ada apa kemari?" Irna bertanya-tanya melihat Fredian datang ke rumahnya.


"Apakah aku boleh masuk?"


Fredian tersenyum ringan sambil melihat sekitar.


"Tapi Rian sudah berangkat ke NGM."


Jelasnya pada pria yang berstatus sebagai mantan suaminya itu, gadis itu bingung jika dia mengijinkannya masuk ke dalam pasti Rian akan memarahinya lagi.


"Kamu ragu?" Fredian bertanya lagi padanya.


"Hem, aku tidak bisa memutuskannya." Irna menundukkan kepalanya.


"Apa kamu sangat mencintainya? aku memintanya untuk menjagamu waktu itu, karena aku tidak ingin kamu terluka. Dan keputusan pernikahan kalian saat itu aku masih belum bisa mengingatmu."


Jelas Fredian sambil mengangkat dagu Irna agar menatap matanya.


"Aku tahu itu semua salahku." Gadis itu melihat ke arah Fredian tanpa berkedip.


"Jadi apa aku tidak boleh masuk? aku ingin berbicara denganmu. Aku akan menghubungi Rian jika kamu takut dia marah padamu." Ujarnya lagi.


"Tidak perlu, masuklah." Akhirnya Irna menyerah dan membiarkan pria itu masuk ke dalam rumahnya.


Fredian duduk di sofa, Irna meletakkan kembali tasnya kemudian berjalan ke dapur untuk membuat secangkir kopi.


Fredian entah sejak kapan sudah berdiri di belakang punggungnya.


"Aku akan membuatkan kopi, kamu bisa duduk dan menunggu sebentar."


Pria itu tersenyum lalu duduk di kursi meja makan.


"Kamu terlihat bahagia bersamanya." Ungkap Fredian saat Irna terdiam dan tidak membuka kata sama sekali untuk memulai pembicaraan.


"Minumlah."


Irna meletakkan kopi di atas meja kemudian duduk di depannya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan tadi?"


Irna bertanya padanya, karena dia hanya diam saja selain menikmati kopinya.


"Aku hanya ingin melihat keadaanmu."


Irna menghela nafas panjang lalu menundukkan kepalanya lagi.


"Sekarang kamu sudah tahu segalanya, kenapa aku menyerahkanmu pada Rian. Itu aku lakukan supaya dia melindungimu sementara aku melawan para vampir yang mengejarku."


"Ternyata mantan istriku sendiri yang memburuku." Gumamnya sambil meneguk kopinya.


"Kamu menitipkanku karena mereka mengejarmu? aku meminta mereka mengejarmu untuk menemukan keberadaanmu, aku pikir kamu tidak akan pernah kembali lagi." Jelasnya pada Fredian.


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Tanya Irna padanya.


"Aku akan segera kembali ke London."


Fredian tersenyum getir melihat Irna bukan lagi istrinya. Seharusnya pertemuan mereka berdua saat ini adalah bulan madunya karena perpisahan setelah beberapa tahun tidak bertemu.


Irna meremas jemari tangannya sendiri, merasa sedih.


"Melihat wajahmu tidak bersemangat saat mendengar aku akan pergi ke London. Apa kamu masih menyimpan cinta untukku?"


Irna tidak bisa menjawab pertanyaan mantan suaminya itu, gadis itu hanya terus meremas jemari tangannya sendiri.


"Aku akan pergi sekarang. Kamu jaga dirimu baik-baik."


Fredian melangkah keluar dari dalam rumah Irna.


"Fredian! tunggu!" Irna berlari mengejarnya, tapi pria itu sudah tidak ada di sana.


"Fredian! dasar pria brengsek menyebalkan... kamu sudah menipuku berapa kali? kamu pura-pura menikahi wanita lain hanya karena aku sudah menikah dengan Rian."


"Kamu jahat! jika kamu mengatakan sebenarnya waktu itu.."


"Jika aku mengatakan yang sebenarnya waktu itu, apakah kamu akan kembali padaku? kamu sudah menikah dengannya." Sahut Fredian, pria itu berdiri di belakangnya.


Irna tidak menjawab pertanyaan darinya, gadis itu hanya menundukkan kepala melihat ujung kakinya.


"Kamu terdiam? artinya aku tidak memiliki harapan apapun."


"Aku akan pergi besok, aku sudah melihatmu baik-baik saja bersama Rian. Apa kamu tidak ingin kembali ke London?"


Irna lagi-lagi terdiam, masih tidak bisa menjawabnya.


"Aku tahu hatimu sudah berpindah tempat, kamu juga bilang kamu sedang hamil tiga bulan."


Fredian menatap ke arah perut Irna sambil menggigit ujung ibu jarinya.


"Kamu sering melakukan hubungan suami-istri dengannya? saat sudah menemukan suamimu yang sebenarnya?"


Irna tercekat mendengar pertanyaan yang terlalu pribadi itu. Sebenarnya Fredian tahu jika Rian mungkin hanya menyentuhnya saat belum menemukan keberadaan dirinya. Pada saat Irna tidak mengingatnya.


Fredian sangat mengenal Rian, pria itu bahkan tidak bisa memaksa Irna untuk terus bersamanya kecuali memohon dan berlutut di hadapan Irna agar tidak pergi.

__ADS_1


Pria itu sengaja ingin memporak-porandakan ketenangan hati Irna.


"Iya aku hamil! puas kamu!"


Irna menahan air matanya, karena itu tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Rian tidak pernah menyentuhnya sejak Irna menemukan keberadaan Fredian kembali.


Rian hanya mencium bibirnya dan memeluknya. Pria itu terlihat tidak memiliki hasrat untuk melakukannya sama sekali. Irna sendiri juga tidak ingin memulainya karena hatinya tidak berada di sana.


"Tapi seingatku, kaum vampir wanita tidak bisa hamil jika berhubungan dengan manusia! kecuali sesama vampir."


Cetus Fredian sambil menyeringai.


"Kamu! kamu dengan sengaja mengejekku lagi! kamu terus menerus mengerjaiku!" Teriak Irna kesal sekali.


"Hahahaha!" Fredian terpingkal-pingkal melihat wajah masam mantan istrinya itu.


"Ah sudahlah, aku akan pergi belanja. Kalau kamu ingin kembali ke London kembalilah. Lagipula juga tidak memakan waktu lama untuk menemukanku. Kamu bisa pulang dan pergi kemanapun sesukamu."


Irna bergumam sepanjang jalan menuju mobilnya.


"Kamu mengusirku? kamu tidak ingin pergi bersamaku?" Fredian mengejar Irna ikut masuk ke dalam mobilnya.


"Fred! kamu yang membiarkan pria itu kembali menikahiku. Lalu bagaimana aku bisa pergi begitu saja sekarang."


Irna memijit keningnya menahan emosi.


"Bagaimana dengan Arvina?"


"Arvina memilih menceraikannya lalu Rian menikahiku. Aku juga tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak tega pada wanita itu karena aku merebut Rian darinya."


"Tapi aku juga tahu jika Rian sejak awal tidak pernah mencintainya."


"Kamu wanita jahat. Perayu dan perebut suami orang!" Gumam Fredian.


"Kamu! kamu mengataiku wanita perayu?? kamu juga mengataiku perebut suami orang!? jika waktu itu aku tahu dia menikah dengan Arvina aku juga tidak akan mau melakukan pernikahan."


Irna membenturkan kepalanya pada kemudi mobilnya sambil menatap Fredian di sebelahnya.


"Lalu bagaimana sekarang?"


Memberi isyarat pada Irna dengan mengangkat dagunya beberapa kali.


"Tidak tahu."


Irna mulai menyalakan mesin mobilnya menuju sebuah mall.


"Aku akan membawakan belanjaanmu, hitung-hitung sebagai ucapan selamat tinggal."


"Aku tidak yakin kamu bertahan di London selama sebulan."


Gumam Irna sambil memasukkan beberapa buah-buahan segar ke dalam keranjang belanjaan miliknya.


Irna menoleh menatap wajah Fredian, mencari kebenaran dalam dua bola mata jernih di depannya.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? apa kamu pikir aku tidak bisa menikahi wanita lain selain dirimu?"


Pria itu tersenyum menatap wajah terkejut di sampingnya.


"Siapkan saja hatimu, mantan istriku."


"Apa kamu sedang mempermainkanku lagi?"


"Aku tidak sedang bermain, aku serius."


Mengatakan itu tanpa menoleh ke arah Irna, mengambil beberapa barang dan memasukkan ke dalam keranjang.


"Ya sudah lakukan saja! aku akan menunggu kabar baikmu!" Irna bergegas mendorong kereta belanja secepat mungkin. Meninggalkan Fredian di belakangnya.


"Apa itu? dia pamer akan menikah sungguhan! hahahaha! sudah Irna! sadarlah! Fredian berhak mendapatkan kebebasan untuk memilih! ya dia juga harus menjalani kehidupannya."


Gadis itu masih memilih beberapa barang, tak sampai lima belas menit tiba-tiba dia berjongkok sambil menangis di antara tak barang.


Irna merasakan sakit pada hatinya, walaupun dia bersikeras untuk menepisnya dari lubuk hatinya. Perasaanya masih sama terhadap mantan suaminya itu.


Sudah hampir tiga puluh menit Irna menangis, dia tidak peduli dengan orang-orang yang mengambil fotonya di sekitar.


Dia bahkan melupakan kalau dirinya adalah dokter bedah Kaila Elzana. Dokter hebat dan terkenal di Eropa.


Rian terkejut melihat berita pada ponselnya, Irna bersama Fredian di dalam mall mereka belanja bersama.


Muncul lagi berita jika dokter Kaila memiliki hubungan terselubung dengan sopir restoran bernama Marko.


Rian hanya bisa diam meletakkan ponselnya di atas meja. Pria itu tidak berniat untuk menyusul Irna yang tengah menangis di sana.


"Lakukanlah sesukamu Irna, aku tidak akan menahanmu lagi. Percuma saja aku memohon padamu. Ketika hanya kenyataan pahit tetap saja yang berpihak padaku."


Rian terduduk lemas di ruang kerjanya melihat berita di layar kaca.


Irna melangkah masuk ke dalam rumah. Dia tidak mendapati Rian.


"Senggang sekali.." Gumamnya sambil meletakkan belanjaan di atas meja.


"Kamu baru pulang?" Arvina turun dari lantai dua melangkah menuju ke arahnya.


"Iya, aku baru belanja."


"Plaaakkk!" Sebuah tamparan melayang mendarat di pipi Irna.


"Kamu sangat baik sekali. Kamu sudah mengingat segalanya tapi kamu masih tetap berada di sisinya. Aku tahu kamu tidak disentuh olehnya! aku tahu kamu tidak melayaninya dengan baik! kamu tidak pantas berada di sisinya!"


"Aku berkorban banyak demi melihat dia tidak terluka olehmu! tapi kamu terus menusukkan pisau tajam pada hatinya!"

__ADS_1


Arvina sangat geram ketika mendengar berita belakangan ini di layar kaca.


"Apakah kamu tidak tahu dia terluka tapi dia tetap diam saja! apakah kamu tahu dia terus melelehkan air matanya sepanjang waktu untukmu?!"


Ujar Arvina penuh emosi, dia ingin sekali mencabik-cabik wajah Irna saat itu juga. Tapi dia kembali ingat pesan Rian padanya agar tidak pernah melukai Irna.


"Aku tahu aku yang salah! jadi aku hanya harus pergi darinya bukan? oke! aku akan pergi! aku tahu aku bukan wanita yang pantas untuk Rian Aditama."


Irna terduduk lemas di lantai. Dia tidak tahu kemana arah tujuan hidupnya. Gadis itu kembali menangis, air matanya menetes membasahi kedua pipinya.


Arvina berkacak pinggang menatap tajam ke arahnya.


"Apa yang kamu tunggu! cepat pergi sekarang! apa kamu mau Rian datang dan menahanmu di sisinya? apa kamu sengaja menunggunya!"


"Braaakkkk!" Arvina melemparkan koper ke arahnya.


"Itu semua barangmu! pergi dari sini segera!"


Irna mengusap kedua pipinya, lalu menyeret kopernya keluar dari rumahnya.


Dia sendiri juga tidak tahu akan menuju kemana? Irna membawa kopernya menuju halte terdekat.


Dia kembali ingat peristiwa pertemuan keduanya dengan Rian. Pria itu terus-menerus mengejarnya sampai ke London.


"Maafkan aku Rian, aku tidak bisa menjaga janjiku untuk tidak pergi."


Air matanya terus mengalir menggenangi kedua matanya.


Irna mengambil penerbangan ke Jerman, dia ingin bersembunyi sementara waktu di sana.


Rian terkejut mendapati rumahnya kosong tanpa siapapun di sana. Juga seluruh pakaian Irna sudah tidak ada.


"Apa yang sudah terjadi? dia bahkan tidak berpamitan padaku!" Rian penuh amarah melihat foto pernikahan mereka berdua masih tergantung di dinding.


Dia berfikir Irna pergi melarikan diri dengan Fredian.


Tiga orang terluka dalam waktu yang sama. Mereka merasakan sakit hatinya masing-masing, dengan pemikiran masing-masing.


Rian melangkah ke dalam kamar mandi, dia melihat mantel Arvina tergantung di sana. Rian bergegas naik ke lantai dua.


Arvina sedang memasukkan bajunya ke dalam lemari, mengganti baju Irna dengan pakaian miliknya.


"Kamu kenapa tiba-tiba kemari?"


"Tentu saja aku kemari untuk berada di sisimu! aku tidak akan membiarkan siapapun melukaimu!"


Arvina melangkah mendekat ke arah Rian, wanita itu mengulurkan tangannya ingin mengusap wajah orang yang sangat dicintainya.


"Plaak! Apa kamu sudah gila? aku mencintai Irna!" Rian menepis tangannya dari pipinya.


"Dia terus melukaimu! dia tidak pantas untukmu! kamu tidak tahu dia sedang bermesraan dengan mantan suaminya? berada satu mobil dengannya! mereka juga belanja bersama."


Arvina mengatakan segalanya dengan wajah berapi-api.


Lima jam perjalanan Irna sudah sampai di Jerman. Dia bergegas menuju minimarket untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Dia baru tiba di sana dan tidak memiliki apapun untuk dimakan.


Irna menyeret kopernya dan duduk di atasnya sambil menikmati sebungkus roti, tak jauh dari minimarket tersebut. Ingatan gadis itu kembali pada Rian.


Dia tahu pria itu akan sedih sekali, dan Fredian juga sudah berpamitan untuk menikah lagi.


"Aaaahhhhh! hidupku kacau sekali! uhk! uhk! uhk!" Irna tersedak dan menepuk-nepuk dadanya sendiri.


Seseorang menyodorkan sebotol air mineral padanya.


"Terimakasih." Irna meraihnya lalu meminumnya.


"Apa yang terjadi? wajahmu terlihat mengenaskan, bahkan lebih buruk dari sebelumnya!"


Pria itu berdiri di sebelahnya sambil menghisap rokok.


"Kamu kurang kerjaan? kenapa mengikutiku kemari!" Tandas Irna kesal sekali sambil melirik ke arah pengawal di belakangnya.


"Kamu ingin tinggal di lokasi kumuh itu!?" Menunjuk bukit tempat Irna dulu tinggal.


"Memangnya kenapa?"


"Kamu saudara iparku sekarang! kamu akan memperburuk image diriku di depan publik."


"Bawa ini dan tinggalah di sana." Reyfarno menyerahkan kunci mobilnya dan kunci sebuah rumah di Jerman.


"Ini rumahmu? aku tidak mau tinggal denganmu!" Irna menyodorkan kunci itu kembali padanya.


"Aku masih waras, aku tinggal di apartemen. Lagipula aku sudah selesai perjalanan bisnis di sini. Besok aku akan kembali ke London." Reyfarno menepuk bahunya dan tersenyum.


Sebenarnya dia melacak keberadaan Irna atas permintaan Rian. Reyfarno tidak mengerti kenapa Irna tiba-tiba pergi.


Rian merasa senang saat mengetahui Irna tidak melarikan diri bersama Fredian. Dia tahu kebenarannya dari kakaknya Reyfarno.


Irna terbengong melihat Reyfarno melangkah pergi begitu saja meninggalkan dirinya sendiri.


"Tunggu sebentar!" Irna berdiri dan berlari mengejarnya.


"Apa?"


"Ini!"


"Kenapa? kamu tidak suka tinggal di rumah mewah?"


"Aku bukan tidak suka, tapi aku senang tinggal di tempat sempit!" Gadis itu tersenyum sambil menyerahkan kunci mobil dan rumah kembali padanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2