Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Toxic wounds


__ADS_3

"Penyerbu, mereka menunggu di perbatasan hutan." Irna kembali menatap ke arah Fredian setelah melihat jumlah mereka terlalu banyak.


"Sepertinya kita tidak bisa pulang ke rumah malam ini." Fredian mulai menatap wajah Irna dengan mimik serius.


"Mereka takut matahari! Mereka sengaja tidak mengejar karena berlindung pada dedaunan pohon lebat dalam hutan. Klan berbeda dengan kita! Tapi wajah mereka terlihat sama dengan klan kita." Tutur Irna pada suaminya. Dia ingin pria itu memberikan kejelasan mengenai mereka.


"Menurutku ini sangat aneh, jelas sekali ini bukan ulah ratu Holland. Karena bunga teratai biru ada pada Angelina." Fredian tercekat mengingat bunga pusaka itu berada di dalam tubuh Irna.


"Mereka datang untuk merebutnya!" Tebak Irna, yang kemudian diikuti anggukan kepala suaminya, pria itu tetap melajukan mobilnya menebas jalan raya.


Mobil Fredian meluncur bebas meninggalkan pemandangan hutan lebat di belakangnya. Menuju ke kota dimana rumah sakit tempat Irna bekerja.


Beberapa mobil mulai terlihat berlalu-lalang di sekitarnya. Meninggalkan jalan sepi di belakangnya.


"Jangan sendirian, usahakan tetap bersama seseorang." Ujar Fredian serius.


"Lenganmu bagaimana? Apa sudah baikan?" Tanyanya lagi, karena Irna terlihat santai dan tetap bertekad untuk pergi bekerja hari itu.


"Hem, sudah mendingan. Sepertinya satu jam lagi bekasnya juga akan hilang." Ujarnya pada Fredian, dia tidak ingin membuat pria itu khawatir.


"Hei! Wanita lemah, lenganmu hampir membusuk! Cepat menyingkir atau racun itu akan menyebar ke jantung! Aku nggak mau reinkarnasi dua kali! Manusia benar-benar tidak bisa diandalkan sama sekali!" Gerutu Angelina dalam tubuh Irna.


"Tunggu sampai aku tiba di rumah sakit! Kamu mau melihatku ditendang keluar dari dalam mobilnya." Balas Irna dalam hatinya.


"Tidak keburu! Slashhhh! Jrrrrtt!" Mendadak tubuh Irna seperti terkena sengatan listrik dan dalam sekejap kornea matanya berubah menjadi merah.


Setelah sadar sepenuhnya Angelina membuka jas putihnya, jas dokter yang di pakai Irna. Fredian menoleh ke arahnya, melihat sinar matanya dia tahu, terlebih lagi saat dia melepas jas putih tersebut.


Irna memakai gaun biru tanpa lengan, hingga luka sayatan bernanah pada lengannya itu terpampang jelas di depan Fredian.


Angelina menyalurkan energi dengan telapak tangan kirinya, telapak tangan tersebut mengalirkan energi panas. Hingga membuat luka sayatan tersebut berasap.


"Lukamu parah sekali!" Fredian menatap lekat-lekat luka tersebut.


"Suami bodoh, istrimu juga sama bodohnya." Ejeknya tanpa ekspresi marah atau kesal. Luka tersebut perlahan-lahan berasap dan menutup seperti semula.


Butir-butiran keringat mengucur keluar dari pori-pori kulit Angelina. Setelah wanita itu mengeluarkan terlalu banyak tenaga dalam untuk mengobati luka beracun pada lengannya.

__ADS_1


Gadis itu kini memejamkan matanya bersandar pada sandaran mobil. Dia tidak memperdulikan Fredian lagi. Hanya terdengar suara nafas berat dari wanita itu.


"Kamu bisa menangani operasi? Operasi jaman modern berbeda dengan operasi jaman seribu tahun lalu." Fredian sengaja mengatakan itu agar Angelina tidak mengira segalanya sama seperti saat dia hidup di jaman purbakala.


"Kau!" Angelina melotot mengepalkan tangannya, merasa tersindir.


"Dari pada kamu malu ketika di ruangan operasi lebih baik aku katakan sekarang kan? Temperamen dirimu buruk sekali!" Ledek Fredian lagi sambil tersenyum.


"Mana!" Kini Angelina menadahkan telapak tangan kanannya sambil mengangkat kedua alisnya.


"Apa?"


"Cardku?"


"Aku kembalikan padanya."


"Pada siapa???!" Membelalakkan matanya menatap marah ke arah Fredian.


"Pemiliknya! Siapa lagi?"


"Wanita sial ini?" Angelina menunjuk dirinya sendiri.


Dia masih tersenyum melihat bibir Angelina begitu cemberut.


"Kamu wanita panas, sadis, tidak peduli, dan manja." Ujarnya masih dengan bibir tersenyum.


"Berikan saja kartuku atau aku akan membunuhmu!" Memainkan jemari tangan kanannya, mengeluarkan kuku jari tangan miliknya yang begitu runcing.


"Aku sudah bilang aku sudah mengembalikan itu padanya."


"Kamu ini!" Teriaknya sambil mencengkeram leher Fredian.


Fredian mengeluarkan kartu dari dalam jasnya, "Pakai ini." Masih tersenyum walaupun mendapatkan luka memar pada lehernya.


"Kenapa kamu tidak bilang kalau akan menggantinya? Malah bilang kamu mengembalikan itu!" Gerutu Angelina sambil merebut kartu emas tersebut dari tangan Fredian. Kartu gold tanpa limited. Gadis itu mencium pipinya tiba-tiba, tanpa aba-aba.


"Kenapa kamu menciumku!?" Fredian menyentuh pipi kirinya, sambil menginjak rem. Mereka berdua telah tiba di depan rumah sakit.

__ADS_1


"Untuk berterima kasih padamu! Apalagi? Apa kamu mau aku menonjok hidungmu saja?!" Kembali kesal mendengar ucapan Fredian.


"Kapan kamu akan mengembalikan tubuhnya kembali?" Tanyanya ketika wanita itu keluar dari dalam mobilnya.


"Tunggu pembalasanku pada para klan rendahan itu! Menurutmu? Apa aku harus bersembunyi sepanjang waktu di bawah ketiak para pangeran ingusan seperti kalian??! Asal saja! Braakkkk!" Ucapnya seperti menumpahkan air satu galon tanpa berhenti. Lalu membanting pintu mobilnya.


"Hah??! Hahahaha! Wanita gila! Bagaimana mungkin aku tertarik sama wanita gila seperti itu???! Benar-benar tidak bisa dipercaya!" Umpat Fredian, pria itu berbalik arah menuju Resort miliknya.


"Pagi dokter Kaila.." Sapa resepsionis rumah sakit saat dirinya melangkah anggun sambil menenteng jas dokter miliknya di lengan kanannya.


Dia tidak menjawab sapaan para dokter di sana, karena dia merasa nama Kaila bukanlah namanya.


Angelina celingukan mencari ruangannya sendiri, karena dia tidak tahu dia hanya mondar-mandir di lorong rumah sakit tersebut.


Rian di dalam ruangan kerjanya melepaskan kacamata miliknya, melihat ke layar monitor yang menunjukkan lorong di depan pintu ruang kerja Irna. Dia sengaja memasang cctv tersembunyi di sana untuk melihat siapa saja yang keluar masuk dari dalam ruangan kerja Irna.


Dia terkejut melihat Irna hanya bolak-balik di depan ruangan kerjanya, tanpa masuk ke dalam. Dia baru tahu itu adalah Angelina saat wanita itu mendongak ke atas, menyibakkan rambut panjangnya ke belakang berkali-kali. Terlihat wajahnya begitu kesal, karena tidak tahu harus bertanya pada siapa.


"Hahahaha! Wanita sadis itu! Hahahhaha lucu sekali." Rian mengangkat gagang telepon di atas meja menyuruh asistennya untuk datang ke ruangan kerjanya.


"Masuklah." Perintahnya ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar ruangan.


"Ada apa presdir memanggil saya?" Tanya asistennya sambil menunduk hormat.


"Antar jadwal operasi ini pada dokter Kaila, dan juga bawakan beberapa menu favoritnya, letakkan di dalam ruangan kerjanya."


"Baik presdir."


Ramon segera melaksanakan perintah dari atasannya tersebut. Pria itu membawa berkas sekaligus menu pagi favorit Irna di atas nampan.


Saat sampai di lorong dia melihat Kaila Elzana yang tidak lain adalah Angelina. "Dokter mau pergi?" Tanyanya tiba-tiba pada Angelina.


Asisten Rian menatap wajah Angelina. Pria itu sedikit takut karena sinar mata Kaila berubah menakutkan sekali.


Rian masih mengamati layar monitor di dalam ruangan kerjanya.


Bersambung...

__ADS_1


Like, like , like, thank you...


__ADS_2