
"Ah, aku akan turun di depan sana." Ujar Irna menunjuk rumah kecil sederhana.
Di depan rumah tersebut banyak bunga kecil berwarna biru muda dan ungu muda sedang bermekaran, dengan senyum ramah menatap pelayan yang duduk di depannya.
Ketika bus itu berhenti, Irna segera beranjak berdiri.
"Terima kasih telah mengantarkan saya, mantelnya akan saya cuci dulu dan besok saya kembalikan."
Gadis itu segera turun kemudian melambaikan tangannya menatap kepergian Reyfarno.
Irna melepaskan mantel kain tebal, berwarna cokelat tua yang masih membungkus tubuhnya, meletakkan di atas mesin cuci.
"Aku hampir tidak percaya melihat saudara kandung mantan suamiku menyewa sebuah bus demi mengantarkan aku pulang ke rumah." Ujar Irna.
Irna segera masuk ke kamar mandi, membersihkan sisa air hujan dari tubuhnya.
Setelah selesai menuju ke dapur menyalakan kompor merebus air untuk menyeduh secangkir teh hangat.
Ketika melihat meja makan yang kosong di depan matanya. Bayangan Rian duduk di sana tersenyum menatap dirinya.
Di ruang tengah bayangan Rian meminta dirinya untuk membantunya mengenakan dasinya.
Di pintu kamar mandi bayangan Rian melongok ke arahnya sambil bertelanjang dada menggodanya, membuat dia tiba-tiba tersedak ketika meneguk teh hangat dalam cangkirnya.
"Astaga, begitu banyak bayangan dirinya di seluruh rumah ini. Ini rumahku tapi bukan seperti milikku, tapi lebih terlihat dialah yang memiliki rumah ini."
Irna berjalan menuju kamarnya berbaring terlentang di sana.
"Bahkan kamar ini masih ada aroma tubuhnya tertinggal di sini? apakah pria itu sudah mencuri hatiku? sejak kapan aku begitu merasa terluka?!" Bisiknya, Irna kemudian tertidur.
Pagi itu Irna membungkus mantel milik Reyfarno ke dalam tas kecil. Dia berniat akan mengembalikan setelah urusan di kantornya selesai.
Irna sampai di kantor jam delapan pagi.
"Pagi Bu.." Sapa Rini sekretarisnya menatap Irna masuk ke dalam ruangan kerjanya.
"Apakah ada sesuatu yang harus kutinjau hari ini Rin?"
"Ini Bu" Rini menyodorkan berkas dari NGM kepadanya.
"Apa ada masalah?" Tanya Irna sedikit terkejut melihat itu, skema hari itu sudah diteliti olehnya, dan Rian sendiri bilang kalau dirinya juga setuju mengenai itu.
Kini tiba-tiba mengajukan perubahan total.
"Apakah pria itu sangat menaruh dendam padaku!!?" Geram Irna meremas berkasnya.
"Kapan perusahaan NGM meminta skemanya kembali? apakah pihak mereka memberikan jangka waktu?" Tanya Irna pada Rini.
"Itu, mereka memintanya besok Bu."
"Astaga! dia sengaja mempersulit diriku! setelah segalanya selesai antara aku dan dia!" Geram Irna lagi.
"Ya sudah Rin, malam ini aku akan lembur lagi di kantor. Kamu lanjutkan pekerjaanmu." Ujar Irna pada sekretarisnya.
Beberapa menit kemudian Rini kembali mengetuk pintu ruangan Irna.
"Masuklah, ada apa Rin?"
__ADS_1
"Ini Bu, ada kiriman empat buket bunga. Dan beberapa hadiah."
"Apa itu?! darimana?"
"Dari Presdir Reshort, Presdir NGM, Ceo Eagle, dan dari Desainer..." Ujar Rini tidak berani menyelesaikan kalimatnya menatap wajah geram Irna.
"Kirim kembali semua hadiahnya!" Teriak Irna pada Rini spontan.
"Mereka tidak mau meninggalkan kantor ini Bu, jika ibu tidak segera menandatangani surat terima ini. Mereka bilang akan dipecat."
"Wah kompak sekali mereka! baiklah aku sendiri yang akan mengembalikan pada mereka!" Menggertakan giginya menahan marah.
"Tunggu! tapi jika aku mengembalikannya, beberapa dari mereka akan melakukan sesuatu yang aneh! aku tidak akan pergi! bunga ini adalah umpan! mereka tahu sifatku, pasti aku akan marah dan mendatangi mereka."
"Dan itu membuat mereka senang dan mereka merasa berhasil menangkap ikan! ya, hari ini aku tidak akan pergi selain mengembalikan mantel ini! ha ha ha ha"
"Ha ha ha ha, betapa lucunya ketika melihat para pria gila itu menjadi senewen sendiri karena ulah mereka sendiri!!"
"Irna pasti akan datang kemari hari ini!! Jangan mimpi!! ha ha ha ha!!" Irna tertawa keras sekali membuat Rini terkejut bergidik di belakang meja sekretarisnya.
Irna dengan sengaja memakai gaun cantik untuk pergi ke perusahaan Eagle star, berniat mengembalikan mantel pada Reyfarno.
Irna mengenakan kacamata hitam, mengendarai mobilnya menuju ke sana.
Sesampainya di sana Irna di sambut oleh seorang pelayan yang semalam ikut serta mengantarkan dirinya.
Bertemu kembali dengan pelayan itu Irna merasa lega. Melihatnya tidak dipecat oleh majikannya.
Irna tersenyum ramah padanya.
"Mari saya antar nona.." Sambutnya pada gadis itu.
Seiring perjalanan menuju ke tempat Reyfarno menunggunya, mereka terlihat akrab dan bahkan melepas gelak tawa mereka bersama.
Wajah Irna yang ramah dan sumringah itu membuka sisi lain yang tidak pernah di lihat oleh Reyfarno.
Ketika sampai dimana Reyfarno duduk menunggunya.
Pria itu berdehem, agar pelayannya tersebut meninggalkan mereka.
"Saya permisi dulu Irna.. eh nona"
Pelayan tersebut ketakutan melihat mata Reyfarno melotot ketika dia memanggil langsung nama Irna.
"Ya, kembalilah. Lain kali kita ngobrol lagi jika ada kesempatan." Bisik Irna pada pelayan tersebut seraya mengulum senyum.
Gadis yang hadir di hadapan Reyfarno kali ini, tidak terlihat seperti gadis semalam yang dia temui.
Wajahnya cantik, cerah dan anggun, tidak memandang siapapun dengan sebelah mata. Bahkan hanya dengan seorang pelayan dia juga sangat akrab.
Penampilan sederhana seorang Irna Damayanti, yang menarik banyak perhatian pria kaya. Dia kini juga merasakan kelebihan dari wanita di depannya itu.
"Pak, halo!" Irna melambaikan tangannya membangunkan Reyfarno dari lamunannya.
"Ah, iya duduklah." Ujarnya pada Irna mempersilahkan gadis itu duduk.
"Saya kemari ingin mengembalikan ini, dan terima kasih telah meminjamkannya padaku.." Meletakkan tas kecil di atas meja.
__ADS_1
"Kamu ingin minum apa?" Tanya Reyfarno lagi.
"Ah, tidak perlu repot-repot. Saya masih ada urusan lain. Oh iya ini bunga dan hadiah yang anda kirimkan pada saya."
"Saya minta maaf karena tidak bisa menerimanya." Meletakkan buket bunga mawar merah jambu, serta sekotak perhiasan di atas meja.
"Lalu, saya undur diri dulu, terima kasih" Irna berdiri membungkukkan badannya kemudian berbalik pergi.
"Beginikah caramu berterima kasih pada seseorang yang sudah menolongmu?" Tanya Reyfarno dengan nada tidak senang.
Membuat gadis itu menghentikan langkahnya, kembali berbalik menghadapnya.
"Lalu, bagaimana caranya agar saya tidak berhutang lagi pada anda Pak Ceo?!" Ujar Irna menekankan suaranya.
"Benarkan? pria ini mencari masalah denganku!" Sesal gadis itu dalam hatinya yang sudah tidak ada gunanya sekarang.
"Duduklah temani saya makan siang!" Ujarnya pada Irna tanpa ingin dibantah.
Gadis itu dengan terpaksa duduk kembali di hadapan Reyfarno.
Rian menghubungi sekretaris Irna, dia bertanya kenapa Irna tidak kunjung datang menemuinya.
Rini bilang kalau Irna ada urusan lalu pergi ke perusahaan Eagle Star. Rian terkejut karena perusahaan tersebut adalah milik kakaknya.
Begitu banyak pertanyaan muncul di dalam benaknya.
Apakah Irna terlibat dengan kakak kandungnya itu? sejak kapan, dan bagaimana bisa? dia tidak mengerti.
Rian kemudian bergegas menuju ke perusahaan Eagle milik kakaknya. Sesampainya di sana dia terkejut melihat Irna dengan buket bunga di meja serta kotak perhiasan.
Rian langsung duduk di sebelah Irna tanpa menyapa.
Membuat Irna tiba-tiba tersedak saat menelan air jeruk.
"Uhk! uhk!" Irna menepuk dadanya kembali mengatur nafas meletakkan kembali gelas berisi air jeruk ditangannya.
Rian mengambil gelas milik Irna kemudian menenggak habis minumannya.
Reyfarno menatap wajah mereka berdua secara bergantian. Kemudian tersenyum sinis.
"Apakah kalian sedang pamer di depanku?!" Ujar Reyfarno tidak senang.
"Kamu kenapa tiba-tiba kemari?!" Bisik Irna pada Rian di sampingnya.
"Kamu juga ngapain ke mari?! segitu tidak tahannya ya? baru sehari aku ceraikan langsung berlari ke pelukan kakak kandungku???!" Tanyanya balik dengan geram.
"Uhk! uhk!" Kali ini Reyfarno yang tersedak mendengar pernyataan adiknya.
"Kalian pernah menikah sebelumnya??" Tanya Reyfarno tidak percaya.
"Iya, kami suami istri sebelum hari kemarin, adikmu sudah menceraikanku!" Sergah Irna lantang tanpa mengecilkan suaranya.
"Saya sudah selesai menikmati makanan, dan saya tidak berhutang lagi dengan anda pak Ceo, saya harap kita tidak ada alasan apapun untuk bertemu kembali kedepannya!"
"Jika tidak, adik anda ini akan berfikir saya wanita gatal yang menggoda banyak pria di sekitarnya!! Permisi!!" Irna bersungut-sungut segera merenggut tasnya dan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Sangat menyebalkan, dia sendiri yang melemparkan surat cerainya padaku. Dan masih membuntutiku, membuat duniaku begitu sempit!"
__ADS_1
"Apakah dia berfikir aku masih menjadi istrinya!? jadi aku tidak bisa pergi sesuka hatiku??! ah jika dipikir-pikir sekalipun dulu dia sangat manis padaku, ada untungnya juga dia menceraikanku! pria protektif seperti itu hanya akan memulai pertengkaran sepanjang hari denganku!" Gerutu Irna mengiringi langkahnya pergi meninggalkan kantor Reyfarno.
bersambung...