
Sesampainya di kamar ganti, Fredian menurunkan tubuh Irna yang basah kuyup.
"Aku akan pergi mengambil handuk dan pakaian ganti." Irna bergegas menuju kamar tidurnya mengambil baju ganti untuk Fredian dari dalam lemari.
Saat mengambilnya, Fredian sudah berdiri di belakangnya memeluk pinggangnya dengan baju yang masih basah. Pria itu meletakkan dagunya di bahu Irna.
Irna berhenti sejenak, dan menunggu Fredian mengatakan sesuatu padanya.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya kemudian.
Fredian hanya menggeleng dan tetap memeluknya tanpa ingin mengucapkan sesuatu.
Irna berbalik dan meletakkan baju ganti di tangannya. Lalu mengambil pakaian untuknya sendiri dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
Fredian segera mengganti bajunya yang basah kuyup. Dan beberapa saat kemudian Irna sudah keluar dari dalam kamar mandi.
Irna melihat Fredian duduk di tepi tempat tidur dia sedang mengeringkan jam tangannya yang basah.
"Apa itu rusak?" Tanyanya sambil mengintip duduk di sebelahnya.
"Untungnya ini anti air." Ujarnya sambil tersenyum menatap wajah Irna di sebelahnya.
"Apa kamu lapar? aku akan meminta pelayan menyiapkan makanan di bawah." Tanyanya pada Fredian.
"Hem." Dia hanya mengangguk.
Irna beranjak berdiri dan mengambil pakaian yang basah untuk di bawanya ke lantai bawah.
Beberapa saat kemudian Fredian turun ke lantai bawah, dia melihat Irna sudah duduk di meja makan menunggunya.
"Jadi apa kamu sudah tahu jadwal besok?" Fredian mencoba bertanya pada Irna.
"Pemotretan, di tepi pantai. Reynaldi bilang mungkin akan memakan waktu seharian. Mungkin aku tidak akan pulang dan mencari penginapan di sana." Jelas Irna padanya.
"Kamu tidak hawatir, bagaimana jika orang yang mengirimkan pesan itu ada di sana?" Ungkap Fredian masih sangat hawatir.
"Ya mungkin aku akan ngobrol dengannya satu kata dua kata tiga kata?" Jawab Irna santai sambil mengunyah makanannya.
Seolah kedatangan orang tersebut tidak membuatnya takut. Dan dari wajah Irna terlihat bahwa kedatangan orang yang seperti itu bukanlah hal yang mengejutkan baginya.
"Aku tidak ingin terjadi hal buruk padamu." Fredian meletakkan sendok di tangannya. Memandang wajah Irna, gadis itu masih tersenyum.
Entah senyum apa yang tunjukkan saat itu. Senyum untuk mengusir kekawatiran di hati Fredian atau sengaja tersenyum agar dirinya tidak terlihat cemas.
"Kamu tidak perlu berfikir sangat jauh, aku tidak akan apa-apa. Bukankah jika orang itu berani menunjukkan hidungnya di depanku itu lebih baik? aku jadi tahu siapa lawanku." Tanya Irna lagi.
"Tapi aku akan menyusul kalian, jangan berani mengusirku saat aku ada di sana!" Ujar Fredian dengan wajah masam.
"Ya tidak apa-apa, biasanya juga Rian mendadak ada di tempat pemotretan. Dia bilang karena hawatir padaku jadi pergi menengok. Asalkan kamu tidak membuat masalah untukku." Ujar Irna sambil menopang dagunya dengan satu telapak tangan.
"Kamu sudah selesai makan?" Tanya Fredian melihat Irna tidak melanjutkan makan.
Gadis itu hanya mengangguk kecil.
Fredian segera berdiri berjalan mendekat ke arahnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Irna tidak mengerti.
Pria itu tersenyum kemudian mengangkat tubuhnya ke lantai atas masuk ke dalam kamarnya.
"Fred, jangan melakukan hal aneh!" Ujarnya masih berpegangan pada lengan pria itu.
Fredian tersenyum melihat Irna agak gugup.
Dia membaringkan tubuh Irna di atas tempat tidur lalu pergi menutup pintu.
Kemudian naik di atas tempat tidur meraih gadis itu dalam pelukannya dan terlelap.
Irna tidak bisa tidur, dia beringsut menjauh dan turun dari tempat tidur.
"Kenapa kamu menjauhiku?!" Pertanyaan Fredian menghentikan langkahnya.
"Ah aku ingin mengambil air minum, aku tiba-tiba merasa haus." Ujar Irna berbohong, sebenarnya dia ingin tidur di kamar lain.
"Aku akan mengambilnya untukmu, tetaplah di sini." Fredian turun dari tempat tidur dan mengambil air minum untuknya.
Irna segera meneguknya sambil melirik ke arah Fredian yang sedari tadi tidak berkedip melihatnya.
"Apa kamu tidak akan tidur dan terus melototiku sepanjang malam?" Tanya Irna padanya.
"Kalau sudah selesai minum tidurlah di sini." Ujar Fredian sambil menepuk bantal di sebelahnya.
__ADS_1
"Dasar! kenapa sulit sekali ingin menjauh darinya. Mengingat aku dan dia tidak memiliki hubungan yang pantas. Bagaimana aku bisa tidur di sebelahnya?" Umpat Irna dalam hatinya.
"Ha ha ha iya aku akan tidur di situ. Jadi berhentilah melotot padaku." Irna berusaha tertawa dan naik ke atas tempat tidur kemudian berbaring di sebelahnya lagi.
Fredian kembali memeluknya tanpa melakukan hal yang akan membuat Irna menjauh lagi.
"Fredian, sudah jam enam." Irna mengguncang bahu Fredian di sebelahnya. Pria itu mengerjapkan matanya kemudian melihat wajah Irna, gadis itu masih terlentang di sebelahnya.
"Kamu tidak bangun, katanya akan ada pemotretan?" Ujar Fredian sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya di atas tempat tidur. Melihat Irna masih menutup matanya dan tertidur pulas.
"Iya, aku akan bangun tapi nanti jam tujuh. Aku masih ingin tidur." Ujarnya malas-malasan sambil menendang selimut.
"Lalu kenapa kamu membangunkanku?" Tanyanya lagi.
"Bukannya kamu akan pergi ke kantor hem?" Irna memegang pipinya Fredian sambil menutup matanya.
"Dasar pemalas, ayo bangun sama-sama!" Fredian tersenyum mengangkat tubuh Irna membawanya ke dalam kamar mandi.
"Ah jangan! dingin sekali! dasar menyebalkan, kenapa dia repot-repot memandikanku?" Irna keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut basah, dan tubuh terbalut handuk.
Gadis itu segera memakai bajunya dan merias wajahnya di depan cermin. Fredian juga sedang bersiap-siap di belakang punggungnya sedang memakai setelan jas.
Irna memakai anting kecil sepanjang sepuluh sentimeter. Rambutnya diurai jatuh ke punggung kemudian mengenakan kacamata hitamnya.
Gaun cantik sepanjang lutut, berwarna kuning muda membalut kulitnya yang mulus.
Irna melihat Fredian masih mengenakan dasinya, gadis itu berjalan menuju ke arahnya kemudian membantunya.
Setelah selesai Fredian mengecup keningnya, pipinya dan bibirnya. Irna hanya mengerjapkan matanya berkali-kali gadis itu berdiri mematung sambil menyentuh bibirnya dengan tangannya.
Fredian hanya tersenyum melihatnya.
"Ayo aku antar ke studio, bukankah nanti kamu akan berangkat bersama Reynaldi?"
"Ah tidak, kami berangkat terpisah, aku bersama empat pengawal langsung menuju lokasi." Ujar Irna sambil merapikan rambutnya lalu berjalan mendahului Fredian.
"Kenapa wajahmu begitu canggung?" Tanya Fredian sambil memegang lengan Irna menghentikan langkahnya.
"Ah mana mungkin, ha ha ha, memangnya kapan aku merasa seperti itu?" Irna mencoba berkilah, Fredian menarik tubuhnya dalam pelukannya.
"Detak jantungmu cepat sekali?" Bisiknya di telinga Irna.
"Mungkin karena aku terburu-buru, ah aku akan terlambat. Ayo cepat kita berangkat." Irna mencoba melepaskan pelukannya, tapi Fredian malah mempererat pelukannya.
Delapan detik kemudian melepaskannya,
"Aku mencintaimu, dan akan tetap mencintaimu Irna Damayanti." Kemudian mengecup keningnya dengan sangat lembut.
"Fred, turunkan aku!" Irna sangat terkejut karena Fredian tiba-tiba mengangkat tubuhnya.
"Aku hanya akan membawamu masuk ke dalam mobil. Kalau berfikir jangan terlalu mesum." Ujar Fredian.
Pria itu tertawa melihat wajah Irna yang sudah berwarna merah sambil ditelungkupkan di dada Fredian karena malu.
"Memangnya siapa yang selalu mesum selama ini, awas kamu! mengerjaiku sepanjang waktu pasti sangat menyenangkan!" Gerutu Irna di sebelahnya.
Fredian menyetir mobil Irna menuju Reshort dan pengawal membawa mobil sendiri.
"Aku akan menyusul setelah pekerjaanku di Reshort beres, sejak kamu menjadi sponsor Reshort tidak pernah sepi dan malah sering menolak tamu."
"Untung saja ada Reshort cabang yang bisa menampung tamu, jika yang satu penuh." Ujar Fredian sambil menggenggam tangan Irna dan menciumnya.
Irna merebahkan kepalanya di bahu kiri Fredian.
"Apa kamu masih mengantuk?" Tanya Fredian sambil mengusap kepalanya yang bersandar di bahu kirinya.
Irna menggelengkan kepalanya, sesampainya di Reshort Irna menurunkan Fredian lalu dirinya bergeser memegang kemudi.
"Apa kamu tidak ingin turun dulu, mampir ke kantorku?" Tanya Fredian sambil menyentuh pipinya, dia melihat Irna meletakkan kepalanya di atas kemudi sambil melihat ke arahnya.
"Aku berangkat dulu, daaah!" Gadis itu melambaikan tangannya dan memutar balik kemudi meninggalkan Reshort.
Sekitar dua jam Irna dan para pengawal sampai di tempat tujuan. Dia melihat para kru dan yang lainnya sudah berkumpul menunggunya. Irna segera menuju ke ruang ganti.
Saat akan masuk ke dalam dia melihat seseorang yang duduk santai melihat proses pemotretan, pria itu terlihat di usia awal tiga puluhan. Dia memakai setelan jas menatap ke arahnya sambil tersenyum sambil melepas kacamata hitamnya.
Pria itu memencet tombol ponselnya, dan meletakkan di telinganya. Tiba-tiba ponsel Irna berdering. Dan dia melihat ke layar ponselnya nomor tanpa nama kemarin.
"Apakah dia orang yang terus menghubungiku sejak beberapa waktu terakhir?" Bisik Irna ragu dalam hatinya.
Irna tidak mengangkat telepon. Dan buru-buru masuk ke dalam kamar ganti.
__ADS_1
"Siapa pria itu?" Irna masih termenung saat proses merias wajahnya sudah selesai. Ponselnya kembali berdering.
Irna berjalan keluar ruangan melihat pria barusan. Pria itu masih mendengarkan ponselnya, sedang ponsel Irna juga sedang berdering.
Dia bahkan memberikan isyarat pada Irna dengan menunjuk ponsel yang ada di tangan Irna agar dia mengangkatnya.
Tangan Irna sedikit gemetar, lalu dia mengangkat teleponnya.
"Siapa kamu?" Tanya Irna melalui ponselnya.
Pria itu masih mendengarkan suara Irna dari dalam ponselnya. Dia beranjak berdiri mendekat ke arah Irna yang masih berdiri di tempatnya sambil menjinjing gaunnya.
Bibirnya tersenyum dan dirinya tepat berdiri di depan Irna. Pria itu berjongkok di depan wajah Irna sambil tersenyum telapak tangan kirinya berada di dalam saku celananya. Irna menjauhkan wajahnya darinya.
Irna meremas ujung gaunnya dengan wajah sedikit pucat dan tangan gemetar.
"Siapa kamu? kenapa terus mengirim pesan padaku?" Tanyanya lagi seraya menurunkan ponselnya dari telinganya.
"Aku adalah orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat sosok Irna Damayanti berada di dalam layar kaca, aku sangat ingin bertemu dengan sosok Irna Damayanti secara langsung.."
Dia berbicara sambil memunggungi Irna yang ada di belakangnya, dan saat dia menoleh Irna sudah berada di depan layar untuk mengambil foto.
"Dia mengabaikanku?!" Bisiknya tidak percaya, kemudian tersenyum menertawakan dirinya sendiri yang terlihat konyol.
Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, terus melihat ke arah Irna sampai proses pemotretan selesai.
"Istirahat selama tiga puluh menit!" Teriak salah seorang kru menggunakan pengeras suara.
Irna turun dari atas panggung, pria itu mengulurkan tangannya agar Irna mau berpegangan padanya.
"Rey, kesini!" Panggil Irna pada managernya yang sedang ngobrol dengan salah satu krunya.
"Kenapa?" Tanyanya saat sudah berada di tepi panggung.
Irna melirik pria yang mengulurkan tangannya itu sambil tersenyum sinis, dengan tidak sabar gadis itu melompat dari atas panggung, membuat Reynaldi mau tidak mau menangkap tubuhnya.
"Astaga, apa yang kamu lakukan? jika kakimu terkilir pemotretan akan tertunda!" Ujar Reynaldi sambil menurunkan tubuh Irna.
"Ha ha ha! untungnya tidak apa-apa." Ujar Irna sambil tertawa.
"Presdir Jody Wiranata?! sejak kapan anda sampai di sini?" Ujar Reynaldi sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan pria tadi.
"Siapa dia!?" Tanya Irna dengan wajah terkejut.
"Dia yang mengikat kontrak dengan kita hari ini!" Bisik Reynaldi sambil tersenyum.
"Astaga! ha ha ha! Huft!" Irna menoleh ke arah pria itu sambil tertawa terbahak-bahak kemudian mendengus dan melengos pergi tanpa peduli.
"Maaf model saya memang moodnya selalu berubah dengan tiba-tiba." Ujar Reynaldi sambil memaksa tersenyum.
"Santai saja, saya mengenal baik seorang Irna Damayanti." Jody tersenyum sambil bersiul-siul mendekat ke arah Irna yang sedang duduk bersandar sambil meneguk air mineral dari botol.
Reynaldi melihat pria itu dengan sangat cermat.
Kemudian berbisik pada dirinya sendiri.
"Aku sangat kasihan sekali, pasti Irna akan sibuk menyingkirkan pria itu lagi! ha ha ha konyol sekali." Ujarnya sambil menahan gelak tawa.
Pria itu sengaja duduk di kursi bersebelahan dengan Irna. Irna malah melihat ke arah lain dan tidak memperdulikannya sama sekali.
"Aku minta maaf karena mengejutkanmu dengan pesan-pesanku." Ujar pria itu sambil tersenyum sangat menawan.
"Tapi sayangnya saya tidak terkejut sama sekali." Tandas Irna pendek.
"Saya juga minta maaf sudah meneleponmu berkali-kali karena saya tidak bisa menahan kerinduan yang mendalam." Ujarnya lagi.
"Dari mana asal rindu itu? kenal saja tidak! tiba-tiba bilang rindu?! yang benar saja!" Gerutu Irna terang-terangan tanpa peduli Jody mendengar atau tidak.
Irna masih terus meneguk air minum yang berada di tangannya. Sambil terkekeh geli mendengar ungkapan perasaan pria di sebelahnya.
"Aku jatuh cinta padamu!" Ujar Jody Wiranata pada akhirnya.
"Tapi aku tidak." Tandas Irna lagi sambil melempar senyum santai, membuat wajah Jody mendadak berubah merah.
"Bahkan saat dia tersenyum menolakku, senyumnya begitu sangat manis dan membuat dadaku berdebar kencang." Gumamnya dalam hati.
Jody tersenyum terus mengamati wajah cantik di sebelahnya. Irna terus menolak tapi pria itu terus tersenyum seolah-olah bukan sedang ditolak. Tapi dari wajahnya tersirat kebahagiaan yang luar biasa.
"Hai! apa anda mendengarku?" Tanya Irna kemudian melihat pria itu menatapnya tanpa berkedip.
"Iya ada apa?" Tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Apa anda terus mengikutiku belakangan ini?" Tanya Irna padanya dan pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
Bersambung...