
"Ini ma kuncinya!" Alfred menyodorkan kunci mobil pada Irna, karena gadis itu datang entah dari mana tiba-tiba saja sudah berada di sana.
Irna hanya tersenyum lalu dalam satu detik sudah tidak ada di dalam mobil Alfred.
"Astaga! Mama!" Alfred menepuk keningnya sendiri melihat ulah ibunya itu.
Sampai di Reshort Irna muncul di dalam kamar hotel. Dia sendiri terkejut kenapa salah masuk kamar.
"Aku yakin memikirkan Fredian, tapi kenapa malah salah masuk? dan berada di kamar hotel tamu?!" Gerutunya sambil berjalan mengendap-endap keluar dari kamar tersebut.
Saat sedang berada di tengah ruangan, Irna melihat sekitarnya.
"Kamar ini luas sekali, sepertinya ini di atas kamar VIP." Bisiknya lirih masih melayangkan pandangan ke sekitarnya.
Irna tidak pernah melihat fasilitas kamar Reshort milik suaminya. Dia hanya datang dan pergi ke ruangan kerja Fredian.
Saat melangkah melalui tempat tidur di sebelahnya tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang punggungnya.
"Maaf! saya tidak tahu ini kamar tamu, saya benar-benar minta maaf." Dengan mata terpejam serentetan kata-kata meluncur begitu saja keluar dari bibirnya.
Gadis itu lupa belum melepaskan jas dokternya.
"Bagaimana mungkin dokter Kaila bisa salah masuk ke dalam kamar hotel?" Bisiknya di telinga Irna.
"Aneh sekali! kenapa aku tidak bisa berkata-kata dengan lancar saat dekat dengan pria asing ini! juga aromanya tidak terdeteksi olehku! bahkan aku tidak bisa mengenalinya dia vampir atau manusia. Jangan-jangan pria ini berada jauh di atas levelku!" Gumam Irna dalam hatinya.
Irna segera berbalik menatap wajah pria yang sedang memeluknya saat ini.
"Fredian?! kamu?!" Irna mengerjapkan matanya berkali-kali menatap suaminya.
Fredian terlihat sangat berbeda dari biasanya. Lebih tampan, lebih menawan, dan lebih dingin.
"Apakah kamu tidak mengenali suamimu sendiri?" Tanyanya tanpa ekspresi apapun masih memeluk pinggangnya.
Irna menyentuh dadanya, jemarinya bermain pada kancing baju Fredian. Setelan lengan panjang warna hitam membalut tubuh atletis suaminya itu. Fredian menggenggam jemari tangan Irna dan menghentikan aksi gadis itu.
"Apa ini? pria ini bahkan menyingkirkan tanganku?" Irna buru-buru melepaskan pelukan Fredian dari pinggangnya, gadis itu perlahan melangkah mundur menjauh darinya.
Fredian menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya menatap wajah terkejut terukir jelas pada wajah gadis yang berstatus sebagai istrinya itu.
Fredian bahkan membersihkan bajunya dari bekas jemari Irna dengan sapu tangan lalu membuangnya ke tempat sampah.
Semakin tercekat Irna melihat perilaku suaminya yang lain dari biasanya itu. Gadis itu menatap wajah suaminya dengan tatapan dingin lalu berbalik dan melangkah menuju pintu.
Hentakan langkah kakinya terdengar nyaring berdenting bersama gelang kaki yang masih berada di pergelangan kaki gadis itu.
Pintu yang sudah dibuka dengan jemari lentik gadis itu tiba-tiba menutup kembali dan terkunci.
"Braaakkkk! clakkk!"
Irna menoleh kembali ke arah Fredian, pria itu menggerakkan tangannya.
"Ternyata dia benar-benar sudah tidak mengenaliku lagi?! begitu kuatkah aura vampir yang menguasai jiwa dan tubuhnya? karena sangat kuat maka sengaja disegel di dalam tubuhnya!" Bisik Irna di dalam hatinya.
Irna segera menjentikkan jarinya dan hendak menghilang dari hadapan pria itu. Tapi tiba-tiba kakinya ditarik dari bawah.
"Braaakkkk!" Tubuh rampingnya jatuh terjembab di atas lantai. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Apa yang dia inginkan sebenarnya? pria ini sangat menakutkan, organ dalamku terluka hanya dengan sekali hempas." Gumamnya lirih.
Irna berusaha bangkit, gadis itu merangkak mundur di lantai, karena pria itu mendekat ke arahnya. Pria yang dia kenal sebagai suaminya itu berjongkok di hadapannya.
Dia menyentuh darah yang mengalir dari ujung bibir Irna dengan jarinya, lalu menjilatnya.
"Darah pemikat! pantas saja aku bertekuk lutut dan tergila-gila padamu saat pertama kali bertemu dengan gadis biasa sepertimu!" Dengusnya sambil meremas geram dagu Irna dengan tangan kanannya.
"Plllaaakkk!" Irna menepis tangan Fredian dari dagunya.
"Cukup! Siapa yang merayu dan memikatmu!? dasar keterlaluan! aku tidak pernah sekalipun berusaha menarikmu ke sisiku! dan apa kamu bilang tadi? darah pemikat?!"
"Tentang darah itu aku tidak tahu sama sekali! dasar vampir brengsek! kamu sudah meniduriku dan merengek minta menikah denganku kembali berapa kali???!"
"Sekarang kamu malah menyalahkanku?! Braaakk! braak! braak!" Dengan geram Irna memukuli tubuh Fredian dengan tas yang dibawanya.
Pria itu diam saja dipukuli olehnya sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangannya.
Irna menghentikan aksinya dan berjongkok di hadapan Fredian, karena pria itu terus menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Irna memegang kedua pipinya dan melihat wajah suaminya itu.
"Fred? apa kamu baik-baik saja?" Irna mengguncang bahu Fredian.
"Dia sangat kuat tadi kenapa sekarang mendadak pingsan setelah aku pukul dengan tasku?" Irna menyeret tubuhnya naik ke atas tempat tidur.
"Bagaimana caranya aku membangunkannya?" Irna kebingungan sambil menggigit ujung ibu jarinya masih terus menatap wajah Fredian.
"Triiing! triiiing!" Ponsel Irna berdering nyaring dari dalam tasnya. Irna beranjak berdiri mengambil tasnya yang masih tergeletak di lantai.
"Halo ada apa?" Tanyanya pada Dark.
"Dokter, mayat tadi pagi sudah saya cek. Pelaku yang melakukannya sepertinya seorang wanita yang menaruh dendam pada pria tersebut." Ujarnya melalui ponselnya.
"Langsung kamu laporkan saja pada komisaris Alfred. Aku tadi sudah menemuinya di lokasi saat mayat ditemukan." Ujarnya lalu menutup teleponnya.
Pandangan matanya beralih menatap wajah Fredian yang masih menutup matanya. Irna berjalan mendekat ke arahnya.
Gadis itu menyentuh dahinya untuk memastikan suhu tubuhnya.
"Dingin sekali!"
"Apakah aku harus menghangatkan tubuhnya? tapi bagaimana caranya? tubuhku sendiri juga seperti es!" Keluhnya kesal.
Irna mengambil selimut dan menyelimutinya rapat-rapat. Tubuh Fredian sekarang seperti tubuh mayat hidup.
"Apa dia akan terbangun saat aku menciumnya? apa aku coba saja! tapi jika dia mengataiku wanita perayu dan tidak tahu malu! temperamen pria ini mendadak berubah buruk sekali! sangat menyebalkan sekali!" Gerutu Irna kebingungan antara iya dan tidak.
Pada akhirnya dia memilih untuk berjongkok dan mencium bibirnya.
Fredian tiba-tiba membuka matanya dan meraih kepala Irna, menahannya dalam pagutan bibirnya.
"Eeemmm!" Irna bergumam tidak jelas saat tubuhnya dihempaskan dengan satu tarikan olehnya ke atas tempat tidur di bawah tubuh Fredian.
"Apa pria ini benar-benar akan melakukannya?! atau dia akan merencah tubuhku karena dendam? mendengar nafasnya yang memburu sepertinya dia akan menghabisiku!" Seribu tanya bermain-main di dalam benak Irna.
"Sial! dia kasar sekali!" Setelah satu jam dan berhasil lepas dari cengkeraman Fredian. Irna berjalan tertatih-tatih sambil memegangi lututnya.
Fredian tersenyum puas menatap ke arahnya sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya.
"Kamu benar-benar gadis perayu! apakah kamu masih mengelak dan berani menyangkalnya? kamu bahkan menciumku saat aku sedang tertidur." Ujarnya membuat Irna terperanjat dan semakin kesal.
"Kau! astaga! pria macam apa dia sekarang?! Kenapa dia terlahir kembali menjadi sosok yang sangat menyebalkan sekali!" Gerutunya sambil membenahi kembali pakaiannya.
"Syuuuussh! bruk!" Irna melayang dan jatuh kembali ke dalam pelukan hangat Fredian karena isyarat dari jari telunjuk pria itu.
"Apa ini?! kamu bilang aku wanita perayu! lepaskan aku! dasar kurang ajar!" Irna bersungut-sungut karena Fredian menahannya dalam pelukannya.
"Sepertinya akan sulit untuk kabur dariku!" Ujarnya dengan wajah dingin sambil mencium helaian rambut Irna.
"Aku kapan kabur darimu? kamu itu suamiku! kamu tidak ingat aku ini istrimu?!" Teriaknya di telinga Fredian.
Fredian mengorek telinganya karena Irna memekakkan pendengarannya.
"Apa kamu selalu berteriak seperti ini padaku selama ini?!" Tanyanya dengan wajah polos tidak merasa bersalah sama sekali.
"Iya! aku selalu berteriak kencang seperti ini! karena kamu pria menyebalkan setengah mati! dan aku selalu memukulmu setiap hari seperti ini! braak! bruuuk! braak! karena kamu sangat menyebalkan!" Menimpukkan tasnya kembali pada dada bidangnya.
"Ini pakai pakaianmu!" Irna melemparkan baju lengan panjang hitam ke muka Fredian.
"Dasar pria dingin sialan!" Irna terus menggerutu di sepanjang jalan menuju lobby Reshort.
Saat melalui lobby dia melihat Rian dan Arvina menunggu di sana.
"Hai kalian!" Irna melambaikan tangannya saat melihat mereka berdua. Tidak lama kemudian Fredian melangkah mendekat, dia berdiri di belakang punggung Irna.
Saat pria itu terlalu dekat dengannya Irna segera mendorongnya agak menjauh agar memberi jarak dengan dirinya.
Saat melihat sekilas ke arah Fredian pria itu tersenyum manis menatap ke arah Rian dan Arvina. Irna mendelik menatap tidak percaya dengan penglihatannya barusan.
"Apa ini? apa kepalanya terbentur dinding? dia bisa tersenyum semanis itu pada mereka berdua?! jangan-jangan pria licik ini sengaja pura-pura dingin padaku?!" Gumamnya tiba-tiba.
Rian terkekeh-kekeh mendengar ucapan Irna barusan.
"Ah kalian baru tiba dari Jerman?" Irna menarik tangan Arvina agar dia duduk bersebelahan dengannya.
"Hem." Arvina tersenyum melihat Irna begitu memperhatikan dirinya.
__ADS_1
"Ada masalah apa? tiba-tiba kalian berdua kemari?" Tanya Fredian sambil menatap wajah Rian dan Arvina bergantian.
"Tidak ada, aku pikir terjadi sesuatu padamu. Resepsionis NGM tadi pagi bilang kalian ke sana semalam." Ujar Rian sambil menatap Irna dan Fredian bergantian.
"Hahahaha! iya dia semalam pingsan, aku ketakutan dan membawanya ke NGM. Tapi aku segera mengguyur kepalanya dengan air dingin dia langsung terbangun!" Kelakar Irna asal-asalan.
Mereka bertiga terkejut melihat Irna kembali normal seperti sebelum berubah menjadi vampir. Gadis itu berceloteh seperti biasanya.
Rian dan Arvina hanya bisa terbengong menatap dirinya. Fredian malah bersiul-siul menatap ke arah lain tidak melihat ke arah Irna sama sekali.
"Kenapa? apa ada yang salah denganku? kalian bertiga merencanakannya sesuatu padaku?" Tanya Irna penuh curiga, kemudian pandangan matanya kembali terjatuh pada wajah Fredian yang mengabaikan dirinya.
"Duak!" Irna menyodok perut Fredian dengan siku kirinya yang sejak tadi mengacuhkannya.
"Akh! sakit sekali!" Gumamnya sambil memegangi perutnya.
"Aku rasa kalian baik-baik saja, baiklah kami akan pamit untuk kembali." Rian tersenyum sambil memapah Arvina.
Arvina lebih terlihat separuh usia lebih tua dari Rian. Tapi melihat kebahagiaan terpancar dari wajah Arvina, Irna merasa sangat senang.
"Hati-hati di jalan!" Irna melambaikan tangannya ke arah mereka berdua.
Setelah melihat mereka berdua pergi mengendarai mobilnya, Irna sendiri bergegas pergi menuju parkiran.
"Kamu mau kemana? sudah hampir malam begini?" Tanya Fredian sambil melihat ke arah langit yang sudah hampir gelap.
"Kamu bertanya padaku?" Tanyanya sambil menunjuk dadanya sendiri berbalik menatap Fredian.
Pria itu tidak segera menjawabnya malah berbalik pergi menuju ruangan kerjanya.
"Apakah dia benar-benar sudah senewen?! kelakuan konyolnya membuat kepalaku pusing sekali!" Gerutu Irna lagi.
Irna melangkah keluar dari Reshort dan menghentikan sebuah taksi di tepi jalan. Gadis itu menuju ke rumah sakit tempatnya bekerja.
"Daripada bersama dengan pria yang sangat terasa asing itu! lebih baik aku tidur di rumah sakit!" Bisiknya di dalam hatinya.
"Kenapa tiba-tiba suami manisku berubah menjadi pria gila yang tidak bisa aku kenali lagi! jika saja Wilson tidak melepas segelnya!" Irna terus bergumam sepanjang jalan.
Saat tiba di rumah sakit Irna melihat dark masih duduk di kursi ruang kerjanya.
"Dokter Kaila? aku kira anda tidak akan kembali kemari." Ujarnya sambil melirik Wilson yang berbaring di kursi panjang sebelahnya.
"Kenapa pria mesum ini tidur di sini? Braaak!" Irna sengaja melemparkan tasnya di atas wajah Wilson.
"Siapa yang berani menimpuk mukaku?!" Teriaknya kencang, setelah melihat Irna dia segera membatalkan niatnya untuk marah-marah.
"Kamu kenapa tiba-tiba kembali ke sini?" Tanyanya seolah-olah ruang kerja Irna adalah tempat tinggalnya.
"Apa kamu sudah tidak waras? ini ruangan kerjaku! seharusnya aku yang bertanya padamu kenapa kamu tidur di sini? apa pendapatan vampir belakangan ini turun drastis?!! dan sampai harus mengungsi tidur!"
Ujarnya sambil meraih berkas di atas meja kerjanya tanpa menoleh ke arah Wilson.
"Aku sampai bingung kenapa kamu terlihat sangat manis dan imut di usia lima tahun? tapi sekarang berubah jadi sangat menyebalkan!" Gerutu Wilson sambil bangkit duduk dari sofa.
"Baguslah! dengan begitu kamu akan tahu sifat buruk asliku dan berhenti menggangguku." Ujarnya enteng tanpa beban sama sekali.
"Apa kamu masih menyalahkanku karena aku yang mengirimkan mahluk itu untuk mendatangi dirimu?" Tanyanya lagi sambil berjalan menuju ke arahnya.
"Kamu bahkan membuat hidupku berantakan dan terus berlari kesana-kemari! kamu masih berani bertanya bahwa, apakah aku masih menyalahkanmu?!" Ujarnya sambil tersenyum sadis.
"Salahkan Welrent! dia yang telah membuat situasi ini! dia yang telah menjauhkanku darimu!" Ujarnya lagi sambil berdiri di sebelahnya.
Irna segera melangkah menjauhi Wilson. Melihat situasi itu Dark Wilson segera melangkah keluar dari dalam ruangan kerja Irna.
"Kamu terus melemparkan segalanya pada Fredian! apa kamu tidak punya rasa malu sama sekali?" Gadis itu menggelengkan kepalanya berkali-kali sambil meletakkan berkasnya di atas meja kemudian mengehempaskan diri di kursi ruang kerjanya.
"Braak!" Wilson menggebrak meja kerja Irna membuat gadis itu melompat karena terkejut.
"Kenapa kamu terus menerus memujinya! sekarang dia tidak ada bedanya denganku! bukankah kamu sudah melihat dirinya yang sebenarnya hari ini?!"
Protesnya tanpa henti seakan-akan dia sedang terintimidasi oleh perlakuan Irna terhadapnya selama ini.
"Ya dia memang menunjukkan sisi dirinya yang sebenarnya, tapi dia sudah menikah denganku jadi apakah ada yang berbeda dari sebelumnya?" Tanya Irna pura-pura bodoh.
Padahal dia sendiri menghindari sikap aneh Fredian dan berencana untuk tidur di rumah sakit sekarang.
Bersambung...
__ADS_1