Misteri Gadis Pemikat

Misteri Gadis Pemikat
Tanpa ekspresi


__ADS_3

"Bolehkah aku meminta secangkir kopi, sebelum pergi?" Tanyanya pada Irna, pria itu berdiri di depannya tanpa melepaskan senyuman manis dari bibirnya.


"Ah iya silahkan duduk, saya akan ke dapur sebentar." Melangkah menuju ke dapur, Jermy mengikutinya dari belakang.


Irna segera menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap pada pria di belakang punggungnya.


"Aku hanya ingin pergi ke kamar mandi." Jermy menunjuk kamar mandi, dia melihat Irna menahan nafasnya.


"Apakah aku menakutimu?" Tanyanya lagi lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Tidak, tidak sama sekali." Mengambil sedikit air dan mulai menyalakan kompor.


Dia berdiri di sebelah kompor, menunggu air mendidih. Pandangan mata Irna kosong, gadis itu sedang memikirkan sesuatu.


"Kenapa aku tiba-tiba membawa pria masuk ke dalam rumahku? aku tinggal sendirian."


"Dan dia pria yang sudah berkeluarga, bagaimana jika istrinya tahu hal ini? aku bahkan tidak akan bisa membela diriku.. aku yang mengijinkan dia masuk ke dalam rumahku."


"Lalu dia sudah menolongku, masa aku langsung mengusirnya keluar? ah sudahlah pusing sekali memikirkanya!" Bisiknya sambil menggelengkan kepalanya.


Jermy keluar dari dalam kamar mandi, melihat Irna sejenak sambil tersenyum, lalu duduk di kursi meja makan.


Irna selesai menyeduh kopi, meletakkannya di depannya, dia sendiri duduk agak jauh darinya.


Jermy menikmati kopinya sambil tersenyum melihat Irna sengaja menjaga jarak dengannya.


"Apa yang dipikirkan gadis itu tentangku, kenapa dia menjauh seperti itu?" Bisiknya dalam hati.


Irna bingung ingin bicara mengenai hal apa dengan Jermy. Dia baru mengenalnya hari ini.


"Apa aku sudah melakukan kesalahan?" Tanya Jermy kemudian karena Irna mendiamkan dirinya sejak tadi.


"Tidak sama sekali, saya yang minta maaf karena tidak tahu apa yang harus saya katakan pada anda untuk memulai percakapan."


"Siapa namamu?" Tanyanya pada Irna. Baru kali ini Irna ditanyai mengenai namanya.


Hampir seluruh penduduk London tahu dan mengenal seorang Irna Damayanti arsitektur ternama, dan menikah dengan putra satu-satunya keluarga Derrose.


Yang sebelumnya terlibat begitu banyak skandal dan hampir setiap hari wajahnya terpampang di halaman depan surat kabar juga televisi.


"Nama saya.."


"Irna Damayanti." Belum sempat menyelesaikan kata-katanya Jermy sudah menyahutnya.


Pria itu kembali terkekeh melihat Irna masuk dalam jebakan pertanyaan yang sengaja dilemparkannya.


Irna yang selalu menyita perhatian publik, siapa yang tidak kenal dengan gadis manis dan selalu tampil anggun itu.


"Anda sengaja mengerjaiku." Gerutu Irna cemberut mulai menunjukkan sifat aslinya.


"Hahahaha, apa kamu marah sekarang? seharusnya sudah sangat terlambat." Gumam Jermy masih terus menertawakan Irna.


"Sejak kapan anda tahu aku Irna Damayanti?" Tanyanya lagi sedikit penasaran.


"Sekitar dua tahun lalu, ketika kamu masih tinggal di London." Terangnya pada Irna.


"Dan pertemuan tadi?" Tanya Irna lagi mulai bersungut-sungut, karena dikerjai habis-habisan oleh Jermy.


"Tadi setengah alami dan setengahnya lagi sengaja." Jelasnya masih terus terkekeh.


"Aku sedang membeli baju untuk putriku, dan tidak sengaja bertemu denganmu. Aku dengan sengaja pura-pura tidak mengenalimu."


"Mengenai perpisahan dirimu dengan Fredian aku benar-benar tidak tahu." Jelasnya lagi sambil menghirup kopinya.


Wajah Jermy masih terlihat sangat santai, tidak terlihat sesuatu yang mencurigakan dari pria itu.


Rian ada di depan rumah Irna, karena melihat pintu depan terbuka dia langsung masuk ke dalam rumahnya seperti biasanya.


Rian menarik dasinya, dan mulai melepaskan jas kerjanya menggantungnya di kamar depan.


Pria itu berjalan menuju ke dapur, dia terkejut melihat pria asing sedang duduk berbicara dengan Irna memunggungi dirinya.


"Oh ada tamu rupanya?" Sapanya sambil ikut duduk nimbrung di antara mereka berdua. Irna mengusap wajahnya sedikit merasa tidak nyaman melihat kedatangan Rian, karena mereka berdua tidak memiliki ikatan pernikahan.


Selain itu Jermy Erlando juga masih berada di sana, entah apa yang akan dipikirkan oleh pria itu ketika melihat Rian dengan sangat santai melepas jasnya, masuk ke dalam kamarnya seolah-olah dia adalah suaminya Irna.


"Ah dia dokterku." Jelas Irna sambil menggigit ibu jarinya menunggu reaksi yang akan muncul dari sosok Jermy.


"Dia mantan pacarmu, dia juga pria gila yang mengungkapkan perasaannya padamu saat pernikahan Fredian dengan Clarisa." Jelasnya kembali menghirup kopinya mengulum senyum.


"Apa kalian sedang berbaikan sekarang? membuka lembaran baru bersama? hahahaha!" Ujarnya kembali terpingkal-pingkal menatap wajah Rian yang merasa tertohok tanpa ampun.


"Aku tidak akan menjelaskan padamu, pasti juga akan percuma." Jelas Irna lagi sambil tersenyum garing.


"Melihat pria ini datang ke rumah seorang gadis yang tinggal seorang diri selarut ini. Menurutmu apakah penjelasan dari dirimu itu masuk akal?" Pertanyaan Jermy membuat Irna terperanjat juga kehilangan kata-kata.


Gadis itu terdiam dan tidak bisa membantah lagi. Memang benar, dia selalu bersama Rian selama ini.

__ADS_1


Dan walaupun mereka tidak melakukan apapun namun tinggal di atap yang sama walaupun hanya untuk beberapa hari juga tidak bisa dianggap wajar.


Dan perasaan pria itu tetap sama seperti sebelumnya, walaupun tidak membabi buta seperti saat mereka masih terikat hubungan suami istri.


"Ya anggap saja perkataanmu benar, aku tinggal bersama pria yaitu Rian Aditama. Lagi pula akan percuma saja memberikan penjelasan padamu." Gerutu Irna kesal.


"Oke, aku akan kembali ke hotel, kalian lanjutkan saja kebersamaan kalian." Pria itu berjalan menuju beranda rumah Irna. Lalu mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah tersebut.


"Oh kamu sudah membeli perlengkapan bayi? kenapa tidak mengajakku pergi?" Tanyanya lagi sambil memeriksa barang di sebelahnya.


"Yang tadi sore bilang masih meeting siapa?" Balik bertanya sambil mendelik.


"Hahahaha aku sudah pikun sekarang." Kelakar Rian sambil menata barang memasukkan ke dalam lemari.


Pria itu selalu rajin, dan menata seluruh ruangan rumah Irna seolah itu adalah tempat tinggalnya sendiri.


"Itu dia yang membayar semuanya." Tutur Irna membuat pria itu menghentikan pekerjaannya, dan mendekat ke arahnya.


"Apa kamu lupa membawa dompetmu, lalu memintanya untuk membayar belanjaanmu?"


Tanya Rian dengan wajah heran. Dia tahu sifat Irna yang tidak pernah meminta bantuan pada orang lain untuk keperluan yang sangat pribadi, apalagi dengan orang yang baru dia temui.


"Tidak seperti itu, dia minta sedikit bantuan. Kami tidak sengaja bertemu, dan dia melihatku sedang hamil besar."


"Dia tidak tega membiarkan aku pulang sendirian, jadi mengantarku pulang ke rumah."


Jelas Irna sambil menatap wajah Rian. Tidak ada ekspresi marah, atau cemburu. Juga tidak ada ekspresi senang.


***


"Woi! kok malah melamun?" Tanya Fredian sambil menyentuh pipinya dengan kedua telapak tangannya.


Irna hampir lupa jika mereka berdua masih berada di studio membicarakan kontrak kerja dengan perusahaan berlian milik Jermy Erlando.


"Ah iya, maaf aku tadi mengabaikanmu." Gadis itu tersenyum lalu meneguk minuman ringan di depannya.


"Apakah kamu senggang hari ini?" Tanyanya pada Fredian, yang sejak tadi siang menemaninya di studio.


"Banyak berkas di atas meja kerjaku, tapi aku merasa hawatir saat mendengar ada suara pria di sekitarmu."


"Ah iya, Jermy?" Tanya Irna sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Apa kamu bilang? coba ulangi sekali lagi?"


Fredian langsung berdiri sambil memegang tengkuk Irna dengan kedua tangannya membenamkan kepala gadis itu di atas meja.


"Tidak akan! ayo jawab dulu!"


"Jermy, itu kami pernah bertemu sebentar sekitar tiga tahun lalu di Jerman." Jelasnya pada Fredian. Lalu barulah pria itu melepaskan genggaman pada tengkuknya.


"Apa yang terjadi di antara kalian?" Tanyanya dengan nada serius.


"Tidak ada, kami hanya bicara saja. Tidak lebih, tidak ada yang spesial untuk diceritakan." Jawab Irna santai.


"Aku akan pulang ke rumah, kamu pasti akan balik ke kantor bukan?" Berdiri meraih tas berjalan menuju mobilnya.


"Hem" Mengikuti Irna dari belakang.


"Loh mana mobilmu?" Tanyanya terkejut tidak melihat mobil Fredian di tempat parkir.


"Aku tinggalkan di kantor, aku tadi naik taksi kemari."


Menggenggam tangan Irna menggesekkan kepalanya dengan manja di lengan gadis itu.


"Lalu? sekarang mau naik taksi lagi?" Tanya Irna sambil tersenyum menjauhkan kepala Fredian dari lengannya.


"Antarkan aku?" Rajuknya kembali menyandarkan kepalanya.


Fredian merebut kunci dari tangan Irna dan duduk di kursi belakang kemudi.


"Naiklah Nyonya Fredian, saya siap mengantarkan anda keliling London!" Seloroh Fredian sambil bergaya khas pelayan yang bekerja di rumahnya.


"Hahahaha! apa-apaan sih? sudah ayo menuju ke Reshort. Aku juga harus segera pulang untuk mempelajari berkas kontrak tadi."


Ujar gadis itu sambil tersenyum melihat wajah konyol Fredian.


Fredian membalas senyuman Irna, tangan kirinya menggenggam jemari lentik milik Irna dan mengecupnya dengan lembut.


Fajar mulai menutup sinarnya dengan kelambu malam, nampak sinar oranye menghiasi langit di ufuk barat menemani perjalanan mereka berdua menuju Reshort Fredian.


Bayangan hitam berkelebat secepat kilat melintas di depan mobil mereka berdua. Irna menangkap wajah menyeramkan, mata tanpa pupil itu saat mahluk itu sedang terbang melayang.


"Apa itu? apakah malam ini lagi?" Tanya Fredian dengan wajah mendadak khawatir.


"Entahlah, sejak kecelakaan bersama Rian seminggu lalu baru kali ini mereka menyapa lagi." Jelas Irna pada Fredian.


"Hari ini tinggalah di Reshort bersamaku, aku tidak akan membiarkan kamu pulang sendirian ke rumah."

__ADS_1


Semakin erat menggenggam tangan Irna seakan-akan dia akan kehilangan gadis itu.


"Aku tidak akan mati secepat itu, mana mungkin aku menyerah pada mereka!" Ujar Irna mencoba menenangkan hati Fredian.


Dia tahu Fredian selalu khawatir dengan keadaan dirinya, dan sudah sering Fredian menyaksikan mahluk itu dengan sangat brutal memangsa darahnya tanpa ampun.


"Aku tidak peduli, pokoknya kamu tidak boleh pergi hari ini. Temani aku!" Fredian tidak ingin dibantah lagi.


Pria itu masuk ke dalam halaman Reshortnya, dan memarkirkan mobilnya. Irna turun dari mobil, dia mengambil tasnya dan berjalan mengikuti Fredian.


Mereka berdua berjalan menuju lobby Reshort, seorang pria bertubuh tinggi atletis melemparkan senyum manis pada Fredian.


"Astaga! pria itu? bagaimana mungkin dia tiba-tiba berada di sini?!" Gumam Irna perlahan.


Fredian yang mendengar gumaman Irna sedikit terkejut.


"Kenapa dia bergumam begitu? dia menyebut pria itu??" Bisik Fredian di dalam hatinya.


"Hai? apa yang membawamu kemari?" Sapa Fredian dengan senyuman termanis melihat rekan bisnisnya itu.


"Bisakah kita bicara di dalam?" Tanyanya pada pemilik Reshort tersebut.


Dia melihat sekilas wajah Irna, gadis itu segera memakai kacamata hitamnya, dan sengaja berpaling ke arah lain pura-pura lupa ingatan.


"Oke, mari." Fredian membawa pria itu masuk ke dalam kantornya.


Irna duduk di lobi Reshort, dia tidak ingin ikut campur dalam urusan bisnis Fredian. Gadis itu membaca kembali kesepakatan kerjasama dengan perusahaan berlian milik Jermy Erlando.


"Aku ingin memesan ruangan di tepi kolam renang, untuk meeting." Ujarnya kemudian.


"Meeting untuk berapa orang?" Tanya Fredian lagi sambil mengambil catatan.


Karena Jermy adalah rekan kerjanya yang spesial dia melayaninya secara langsung.


"Dua orang." Ujarnya santai sambil tersenyum melihat wajah sedikit terkejut pria di depannya.


"Apakah dia sedang mencemburuiku? haha lihat wajahnya lucu sekali." Bisik Jermy dalam hatinya.


"Oke, kapan akan dilaksanakan acara meetingnya?" Tanyanya lagi.


"Setelah kontrak kerja di tanda tangani, selama satu sampai tiga hari ini.


"Tapi jika kontraknya batal, bisa langsung di cancel saja aku tetap akan membayar biaya sewanya selama tiga hari ini." Jelasnya lagi sambil tersenyum.


"Oke aku akan permisi dulu sekarang, masih ada meeting lagi di perusahaan." Menepuk bahu Fredian dan berjalan keluar dari kantornya.


Jermy melangkah santai menuju loby Reshort, matanya menangkap gadis cantik yang sedang duduk menikmatinya jus apel.


Di pangkuan gadis itu ada berkas yang masih ditekuni olehnya. Irna masih terus membaca pasal-pasal yang tertera di sana.


Jermy tahu itu adalah berkas yang dibawakan oleh sekretaris dari perusahaan miliknya.


"Boleh saya duduk di sini?" Tanyanya membuat Irna terkejut.


"Uhk! byuuuuur!" Jus apel dalam mulutnya muncrat pada wajah pria yang sedang menundukkan kepalanya bersikap hormat padanya.


"Kamu dendam padaku?" Tanyanya sambil mengusap wajahnya yang kotor dengan sapu tangan miliknya.


Kemudian juga melepaskan jasnya, yang belepotan air jus muntahan Irna.


"Astaga! maafkan aku. Biarkan aku yang mencucinya." Irna merebut jas Jermy dengan wajah salah tingkah karena tiba-tiba membuat masalah.


"Segera tanda tangani kontraknya, maka aku akan menganggap kamu tidak dendam padaku."


Pria itu berlalu sambil tersenyum menatap wajah Irna melongo tidak jelas di depannya.


"Sial! semoga tidak terjadi hal buruk setelah ini.." Gumamnya sambil meremas berkas di tangannya.


Fredian melihat kejadian itu sejak awal dari kejauhan, dia melangkah mendekat pada mantan istrinya itu.


"Apa itu?" Pura-pura tidak tahu menunjuk jas pria di genggaman tangan Irna.


"Ini punya Jermy, aku tidak sengaja mengotorinya tadi."


"Jadi aku bermaksud untuk mencucinya kemudian mengembalikan padanya." Jelas Irna padanya tanpa menutupi hal apapun.


Fredian tanpa berkata-kata lagi, mengambil tas Irna, lalu menarik lengan Irna menuju ke dalam ruangannya.


"Ada apa?" Tanyanya ketika mereka berdua sudah sampai di dalam ruangan kerjanya.


Tanpa ba-bi-bu Fredian meraih kepalanya dan mencium bibirnya. Mereka berdua berpagutan sekitar lima menit.


Irna menghentikan tangan Fredian yang siap membuka kancing bajunya.


"Kamu menolakku?" Bisiknya di telinga Irna.


Irna melihat wajah penuh kerinduan itu, lalu tersenyum sambil mengecup pipinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2