
"Tidak lama, cuma tiga jam." Ujar Rian menahan senyumnya.
Rian bahagia merasakan kebersamaan mereka. Dia terlalu bahagia dan tidak tahu badai apa yang akan menantinya di depan sana.
Yang dia rasakan saat ini hanyalah kebahagiaan bersama dengan gadis yang dia cintai. Gadis yang bahkan tidak melabuhkan hatinya untuk dirinya. Dia tetap bertahan dengan cinta sepihak.
Dia tahu akan terluka karena ulahnya, dia tahu akan tercabik. Tapi pria itu tetap tersenyum dan tegak berdiri di sampingnya. Mempertahankan cintanya.
"Dasar pria mesum! tiga jaaaaam??? cuma tigaaa jaaammmm???!!! beraninya begitu sama orang lagi tidur!" Gerutu Irna kesal melangkah tertatih-tatih ke kamar mandi kakinya masih sangat sakit sekali.
Rian dengan sengaja menggoda Irna, dia menikmati wajah masam dan kemarahan gadis itu. Segalanya terasa indah dan menyenangkan baginya.
"Brak!" Kamar mandi terbuka, Irna masih berendam di dalam air hangat.
Dia sangat terkejut melihat Rian membawa sendok sayur berdiri di tengah pintu.
Pria itu sengaja membuka pintu kamar mandinya. Entah apa lagi yang akan dilakukan Rian.
"Apa, apa yang kamu lakukan?!" Tanya Irna sambil menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
Dia begitu ketakutan melihat wajah Rian, pria itu sedang menatap tubuhnya yang tanpa pakaian sama sekali.
"Apa yang dia coba lakukan sekarang? kenapa dia membuka pintu kamar mandi dan melihatku seperti itu? apa maksudnya dia begitu?" Bisik Irna dalam hatinya tidak mengerti mengapa Rian berdiri di sana.
Walaupun dia suaminya tapi tetap saja dia baru mengenalnya. Dan tidak begitu dekat dengannya.
Pria itu membuka pintu hanya untuk berteriak padanya.
"Memangnya aku tidak berani, melakukan hal itu ketika kamu sedang terbangun?? dan itu, apa yang kamu tutupi? bagaian mana dari dirimu, yang aku belum pernah melihat atau menyentuhnya??" Tanya Rian sambil mengacungkan sendok sayur ke arah Irna.
Irna merasa sangat geram mendengar Rian berterus terang mengatakan hal itu padanya. Irna mendengus kesal sekali.
Hingga dia tidak dapat menahan emosinya dan bergegas. Irna tiba-tiba berdiri, gadis itu berjalan ke arah Rian.
"Oh, ya?! bagaian mana yang belum kamu sentuh?! Duak!" Dengan kesal Irna melempar gayung ke muka Rian hingga membuat hidungnya sedikit memar.
"Akh sakit sekali. Kenapa kamu melemparkan gayung pada mukaku? apa kamu mau bertanggung jawab jika muka tampanku ini cacat?!" Ujar Rian mengusap hidung berjalan kembali ke dapur.
"Triiing!" Suara panggilan telepon.
"Iya ada apa?" Tanya Irna tanpa memelankan suaranya.
"Kenapa kamu tidak pulang?" Tanya seorang pria dari seberang dengan nada tinggi.
Dia adalah pria yang sedang melakukan pertunangan pura-pura dengannya. Pria yang selalu marah-marah tidak jelas karena penolakan darinya.
Dion Anggara yang selalu ingin mendapatkan apapun yang dia mau. Dan kini mendapatkan penolakan bertubi-tubi alangkah serasa hancur martabatnya yang selalu tampil sebagai seorang playboy.
"Aku kemarin kan sudah berpamitan padamu kalau aku akan pulang ke rumahku." Ujar Irna tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Irna coba kamu cicipi ini!" Teriak Rian tiba-tiba dari dapur.
Dia sengaja berteriak kencang karena mendengar Irna menerima telepon dari seorang pria, dia tahu dari nada ketus istrinya itu ketika sedang berbicara dalam telepon.
Rian tersenyum-senyum melihat Irna menoleh ke arahnya sambil menunjuk kedua bola matanya dengan ujung jarinya.
"Dia bersama seorang pria?!" Geram Dion dalam hatinya.
Dia selalu bersama dengan pria lain, tapi dia selalu enggan bersama denganku. Dia selalu sengaja menghindar dariku. Seperti menghindari sesuatu yang akan membuatnya kotor dan hina.
"Orang tuaku mengadakan acara makan malam hari ini, aku harap kamu bisa datang sesuai janjimu!" Dion akhirnya mengakhiri panggilan dengan kesal.
Orang tua Dion memang telah membuat sebuah acara, itu adalah sebuah pesta megah dari kalangan elite. Dan pertemuan besar para pemimpin perusahaan terbesar. Dalam setiap acara seperti itu tentu akan di hadiri oleh para pembesar dalam dunia bisnis.
Tapi anehnya pesta kali ini tidak melibatkan Fredian dan Rian, padahal mereka berdua terhitung masuk sebagai dua orang pembesar dalam perekonomian tingkat tertinggi, juga termasuk pembisnis yang sukses.
Fredian di bidang bisnis Reshort yang telah memiliki lebih dari lima puluh Resort dan hampir di setiap negara berdiri lebih dari sepuluh anak cabang. Dan juga bisnis perhotelan yang tak terhitung jumlahnya.
Dan Rian yang selalu memimpin berbagai pusat penelitian mengenai vaksin dan ahli di bidang kesehatan. Dia ahli di bidang bedah, dan operasi lainnya. Dia pendiri klinik dan rumah sakit di dalam berbagai negara.
Dan karena itulah Fredian mengambil Rian Aditama sebagai dokter pribadinya, selain menguasai segala bidang pengobatan dia juga sangat ahli di bidang vaksinnya.
Hanya dengan sekali lihat dia akan cepat sekali menangkap hal yang tersulit bahkan tidak diketahui oleh dokter pada umumnya.
Dan Rian merupakan satu-satunya pewaris Group NGM yang tidak hanya berbisnis di bidang pengobatan dan kesehatan. Tapi juga mencakup perdagangan antara negara, memiliki banyak sekali perusahaan yang tidak terhitung jumlahnya.
__ADS_1
"Dasar Rian! dia tidak bisa tenang sedikit! sengaja berteriak untuk menunjukan kita tinggal bersama!" Ujar Irna berbisik sembari berpakaian.
"Apa yang kamu gumamkan baru saja?" Tanya Rian sambil melirik dengan ujung matanya ke arah Irna.
"Tidak ada, aku hanya sedang bicara pada diriku sendiri." Ujar Irna singkat, gadis itu tidak ingin berdebat dengan orang yang memiliki status sebagai suaminya itu.
Dia lebih memilih diam dari pada mengambil masalah dan akan berujung dengan pertikaian di antara mereka berdua.
Ada kalanya diam dan mengalah adalah hal yang terbaik dan harus dipilihnya tanpa berfikir dua kali.
Irna mulai mengenal Rian, dia adalah pria yang terkenal dingin di kalangan wanita. Tapi dia selalu bersikap baik dan lembut saat berada di sisinya.
Dan itu adalah sisi lain dari sosok Rian Aditama yang hanya ditunjukkan kepadanya seorang. Pria yang begitu pengertian dan setia, bahkan setelah gadis itu nyata menghianatinya dia tetap mempertahankan keyakinannya bahwa Irna akan bisa terus bersamanya.
Banyak sebagian orang menganggap hal itu di luar batas kewajaran. Bagaimana mungkin seorang yang sudah menjadi suami tapi tetap memaafkan istrinya yang telah berbuat hal yang begitu menyakitkan hati dan menodai kesucian cinta dari sakralnya nilai pernikahan?
Pendapatnya sebagai seorang Rian Aditama, karena dalam proses pernikahannya dengan Irna melalui jalan pertukaran yang tentu saja sudah sangat keliru dan salah.
Cinta yang memaksakan cinta. Cinta yang menyatakan dirinya sebagai seorang suami dengan mengambil milik orang yang saling mencintai.
Dia tahu kesalahan besar itu, dan dia memilih untuk tetap berjalan di atas duri yang dia tanam dengan tangannya melalui pengorbanan dirinya dan hatinya.
Irna satu-satunya gadis yang menarik hatinya, dia rela jika harus berdarah-darah melaluinya demi menyambut cintanya yang tidak bisa terfikirkan secara ilmiah dan di luar logika pada umumnya itu.
Tentu setiap orang ingin memiliki kekasih secara utuh, dan sifat yang di miliki kebanyakan orang pada umumnya ini tidak tahu kapan akan mencuat menjadi pisau yang sewaktu-waktu akan merajam ketulusan di dalam hatinya.
Dan ketika pisau itu mulai muncul dan mencabik-cabik hatinya saat itulah kata perpisahan yang tidak ingin dia nyatakan kepada gadisnya akan keluar begitu saja.
Perpisahan yang tidak bisa dia hindarkan dan itu sangat membuatnya takut kehilangan gadis itu. Gadis yang satu-satunya menguasai hati dan pikirannya.
Gadis yang menjadi magnet, mampu membuat dirinya tunduk tanpa syarat membuat dirinya jatuh dan terluka tanpa sadar.
Irna adalah sosok yang membuat seorang Rian Aditama jatuh luluh memberikan sepenuh hatinya padanya, pria dingin itu terombang-ambing dalam lautan asmara yang tidak tahu ke mana harus berlabuh setelah masuk berlayar.
Mungkin saja kapalnya akan hancur terbentur bebatuan yang ada di pesisir pantai, atau bisa saja hanyut ke dasar samudera cintanya dan menenggelamkan dirinya bersamanya.
Yang dia nikmati adalah keindahan senja dan keindahan fajar dimana senyuman Irna Damayanti terbit di sana.
Irna duduk di meja makan menatap wajah
Rian, pria itu dengan santai menyeruput kopinya.
Irna mendesah, berkali-kali menghela nafas panjang.
"Aku akan ke kantor hari ini, kamu mau ikut denganku? nanti aku gendong kalau tidak bisa jalan.." Ujar Rian membuka kata kembali mengulum senyum.
"Kau! akh! tapi aku tidak ingat sama sekali kita tadi betul melakukan itu...!" Irna kembali cemberut.
"Kalau begitu kita mulai untuk mengingat kembali.." Berdiri mendekat ke arah Irna.
"Akh, tidak, bisa-bisa aku akan merangkak ke kantor jika kamu kembali melakukannya!" Ujar Irna segera bersiap memakai sepatunya.
Irna masih berjalan tertatih-tatih, kedua kakinya gemetar.
"Aku antar sekalian.." Tawar Rian menahan senyum melihat langkah kaki Irna. Beberapa detik kemudian mengangkat tubuh Irna ke dalam mobil.
"Diiin! Diiin!" Bunyi klakson mobil, mobil merah berhenti di depan rumah Irna.
Irna masih berada di atas gendongan Rian.
"Wah, bagus sekali, pagi-pagi sudah main gendong-gendongan!" Ujar Dion menatap Rian dengan marah.
"Rian.. turunkan aku.." Pinta Irna pada suaminya. Rian pun menurunkan tubuh Irna.
Rian melepaskan kacamata hitam, menahan marah sambil berkacak pinggang.
"Hal penting apa yang membawamu kemari?" Tanya Irna pada Dion memecah suasana tegang antara mereka bertiga.
"Tentu saja aku mau mengantar calon Istriku ke kantor." Ujar Dion dengan sangat pedenya.
"Dia Istriku, aku yang akan mengantarkan dia ke kantor!" Teriak Rian pada Dion tak mau kalah.
"Irna, kamu dengar sendiri bukan? pria ini terang-terangan menghinaku di depan kamu!" Suara Dion pelan mengadu pada Irna.
Irna bergidik mendengar Dion merajuk.
__ADS_1
"Sejak kapan pria ini jadi lebay begini?! bukan sifatnya sama sekali.." Pikir Irna dalam hatinya.
"Aha ha ha ha, kalian ini sedang apa sih? berhentilah bertengkar aku berangkat naik taxi saja daaaahhh!" Irna menghentikan taxi kemudian masuk ke dalam mobil.
Rian juga naik ke dalam mobilnya meninggalkan Dion mematung di sana.
***
Sampai di kantor banyak petugas dari kepolisian berada di sana menyelidiki kasus pembunuhan. Dan para pengawal Fredian menjaga ketat agar para wartawan tidak memaksa masuk ke dalam kantor Irna.
Fredian sedari pagi sudah menunggu kedatangan Irna, membawa beberapa berkas di tangannya.
"Kamu sudah datang.." Sapa Fredian sambil tersenyum
"Iya.." Ujar Irna melangkah dengan tertatih-tatih.
"Kakimu kenapa?" Tanya Fredian membuat Irna sedikit terkejut.
"Ah agak kram sejak tadi bangun tidur" Ujar Irna berbohong.
Fredian terdiam mendengar jawaban Irna, dia tahu mantan istrinya itu sedang berbohong padanya.
"Apa itu?" Tunjuk gadis itu pada berkas yang berada di tangan Fredian.
Kemudian Fredian menyerahkannya tanpa berkata apapun.
Irna menyadari perubahan sikap pria yang mencintainya sekaligus kekasih masa kecilnya itu kemudian berkata.
"Jika kamu di tanya seseorang, namun jawaban jujurmu akan sangat melukai hatinya, apakah kamu akan memilih untuk berbohong?!" Tanya Irna tiba-tiba.
"Aku tidak pernah berbohong padamu, karena kamu sudah tahu segalanya tanpa bertanya padaku!" Ujar Fredian sedikit marah.
Dion masuk ke dalam kantor Irna, duduk di samping mereka berdua.
"Ngapain kamu nimbrung di sini?! kantor kamu bangkrut?!" Ujar Fredian tambah kesal melihat Dion muncul tanpa diundang.
"Aku tunangan Irna, jadi apa masalahnya aku duduk di sini?" Tanya Dion tanpa rasa bersalah sama sekali.
Irna mengernyitkan keningnya, firasatnya akan ada adu jotos di antara mereka berdua.
Jika Rian masih bisa bersikap sedikit santai walaupun hatinya mendidih.
Namun Fredian sisi kekanakan dan tanpa pikir panjang akan langsung mukul tanpa peduli lagi. Dion juga tak mau menyerah dengan apa yang sudah ada dalam genggamannya.
Benar saja Fredian sudah menarik kerah kemeja milik Dion dengan tangan kanannya.
"Hentikan!" Teriak Irna tidak sabar.
"Berhentilah bersikap kekanak-kanakan! mana berkasnya tadi? akan aku tinjau segera, setelah selesai aku antar ke Reshort" Mengambil berkas di meja, melangkah ke ruangannya segera meninjaunya.
"Kami itu sedang meeting, kamu gak bisa bedain kencan dan meeting!?" Teriak Fredian pada Dion kehabisan rasa sabarnya.
"Bagaimana dengan semalam? bukankah kalian berdua bersama sepanjang malam?" Tanya Dion dengan menggertakan giginya.
"Kami meeting juga semalam, lalu aku mengantarkan dia pulang!" Teriak Fredian melangkah keluar.
Dion masuk ke dalam ruangan Irna. Irna melihatnya sekilas, kemudian kembali mencermati berkasnya.
"Irna..." Duduk di depan Irna.
"Hem.." Jawab Irna cuek.
"Aku kemari untuk mengantarkan gaun ini" Dion meletakkan kotak hitam di atas meja.
"Kamu begitu mengacuhkan aku, kamu pasti sangat membenciku.." Ujar Dion melangkah keluar ruangan meninggalkan Irna.
Irna memutar otak memandang punggung Dion yang telah pergi dari ruangannya.
"Sejak kapan Dion yang cuek begitu jadi lembek dan peduli dengan perasaannya???"
"Apakah perasaan seseorang bisa berubah begitu saja selang sehari??!"
"Karakter seseorang tidak mungkin bisa berubah, kalau perasaan mungkin bisa berubah seiring waktu karena beberapa hal datang silih berganti"
"Satu hal yang bisa membuat seseorang dari keras kepala, menang sendiri, menjadi lembut, satu hal yang merubah seseorang begitu cepat dalam waktu singkat adalah rasa dalam hatinya, yaitu cinta..."
__ADS_1
"What!! tunggu-tunggu! Dion, menyukaiku???" Menunjuk ke punggung pria yang baru saja lenyap dari pandangannya.
bersambung...